Pengantar Blog Kisah Spiritual Yang Tak Lekang Zaman

abhimanyu dikeroyok Korawa sumber www quora com

“Sejarah adalah kata-kata tertulis. Dan kata-kata yang tertulis selalu subyektif. Ia tidak bisa memisahkan dirinya dari subyektifitas sang penulis. Seorang penulis, siapa pun penulis tersebut, tidak bisa sepenuhnya memisahkan dirinya dari conditioning mentalnya. Sebaliknya, mitos tidaklah bergantung pada kata-kata yang tertulis semata. Mitos merangkul sejarah tertulis sekaligus legenda maupun cerita-cerita rakyat yang tidak tertulis. Selain itu, mitos juga terbuka pada setiap penambahan, insight, apa saja. Mitos seperti Wikipedia, sebuah ensiklopedia yang terbuka.” Terjemahan Bebas dari Kutipan buku The Hanuman Factor (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Cukup banyak terkumpul kisah-kisah dari Blog https://triwidodo.wordpress.com/. Kisah-kisah tersebut dicoba dikemas ulang dengan sudut pandangan khusus bahwa kisah-kisah tersebut terjadi dalam diri kita. Diri kita adalah pemeran dari semua peran yang ada dalam kisah tersebut. Semua pandangan ke dalam diri tersebut diilhami oleh pandangan Bapak Anand Krishna yang telah mengubah hidup banyak orang menjadi lebih bermakna.

 

Ada kisah Bharatayuda, Ramayana, Srimad Bhagavatam, Kisah-kisah yang tertera pada Candi-Candi di Indonesia, Legenda-Legenda Daerah, Kisah-kisah Dewi Lalitha dan lain-lain yang mungkin berkembang nantinya.

 

Kisah-kisah yang diketengahkan untuk menggugah rasa, diharapkan dapat meningkatkan kesadaraan kita semua. Kami kutip pandangan Bapak Anand Krishna tentang Alam Rasa: “Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa… dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan baca di http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

Salam!

Situs Artikel Terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013

Paparan Sunda Dan Temuan Piramida Di Garut Jawa Barat

VIVAnews – Riset patahan aktif di Jawa Barat untuk mempelajari bencana di zaman purba berujung pada penemuan mengejutkan: keganjilan berupa struktur piramida di Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat. Diperkirakan besar dan usianya melampaui Piramida Giza di Mesir — yang diyakini sebagai makam Firaun, Dinasti keempat Mesir, Khufu, yang dibangun selama lebih dari 20 tahun pada kurun waktu sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.

Kini, misteri piramida di Garut, Jawa Barat diharapkan akan segera terkuak. Anggota Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Iwan Sumule mengatakan, sejumlah peneliti dan arkeolog asing telah menawarkan bantuan dalam proses eskavasi. “Termasuk dari Prancis, Amerika Serikat, dan Belanda menyatakan minat untuk membantu eskavasi,” kata dia saat dihubungi VIVAnews, Selasa 29 November 2011.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil survei, didukung sejumlah data, termasuk hasil foto IFSAR — lima meter di atas permukaan tanah, nyata ditemukan adanya struktur piramida yang adalah buatan manusia. “Semua aspek sudah diteliti, termasuk carbon dating. Di Gunung Sadahurip itu menunjukkan umur batuan 10.000 tahun lebih. Artinya kalau Piramida Giza di Mesir berusia sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, kita (Garut) 10.000 tahun,” tambah dia. “Hasil tes karbon tak bisa ditipu.” Besarnya pun melampaui piramida di Mesir. Menurut Iwan, tinggi piramida Garut diperkirakan 200 meter. “Makanya kami perkirakan, lebih tinggi dan lebih tua tiga kali lipat dari Piramida Giza di Mesir.”

Pernyataan di atas dikutip dari……. http://nasional.vivanews.com/news/read/268167-asing-berniat-ungkap-misteri-piramida-garut

Dalam salah satu Materi Program “Ancient Indonesian History and Culture” (http://history.oneearthcollege.com/) dari One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/) disampaikan bahwa Prof. Stephen Oppenheimer,  dan pakar lainnya menyampaikan bahwa…… “Indocina dan Pulau-pulau Indonesia sampai ke Kalimantan dan Bali, dulu terhubung daratan dengan Benua Asia dalam suatu paparan bernama Paparan Sunda, seperti juga yang di Palawan, Filipina.”…….. Hindia — yaitu, India and Indonesia — adalah lokasi sebenarnya dari dua Atlantis, yang dikenang dengan nama Atlantis dan Lemuria baik oleh Atlantologists  maupun Occultists. Walaupun sering dibesar-besarkan maupun disalahartikan, kedua Atlantis tersebut sesungguhnya sangat nyata, dan meninggalkan jejak keberadaan yang tidak terbantahkan di bekas peradabannya.

Prof. Stephen Oppenheimer (Ahli Genetika/ Peneliti DNA Inggris, 1947 – ) menyampaikan…….. “Sepertinya sayalah yang pertama berpendapat bahwa Asia Tenggara merupakan cikal bakal unsur-unsur peradaban Barat… Tumbuhnya peradaban kuno di Timur Tengah berakar dari tenggelamnya pantai-pantai Asia Tenggara… Apa yang tersisa sekarang dari Asia Tenggara hanya dapat selintas mengindikasikan Eden yang pernah ada.” Baca lebih lanjut

“Aji Tekad”, Memaknai Kembali Nasehat RMP Sosro Kartono Renungan Keenambelas

Nasehat RM Panji Sosro Kartono sedang dibicarakan oleh sepasang suami istri. Buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Nasehat atau buku dapat digunakan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Gusti. Asalkan nasehat atau buku tersebut tidak dijadikan sekedar textbook atau referensi, tetapi dijadikan workbook untuk dilakoni.

Sang Istri: Renungan “Eyang” Sosro Kartono keenambelas……… “Ajinipun inggih mboten sanes naming aji tekad, ilmunipun ilmu pasrah, rapalipun adiling Gusti”……. Jimatnya tidak lain hanya jimat tekad, ilmunya ilmu pasrah, japa atau zikirnya adalah keadilan Tuhan………

Sang Suami: “Eyang” Sosro Kartono memberi nasehat untuk berkarya dengan modal tekad yang  sepenuh hati, kemudian menerima apa pun hasilnya, serta yakin tentang adanya keadilan Tuhan, adanya hukum alam. Dalam buku “Bagimu Ibu Pertiwi, Realisasi Nilai-Nilai Luhur Bhagavad Gita Demi Kebangkitan Jiwa Indonesia” disampaikan…….. Bekerjalah dengan sepenuh hati, gunakan segenap energimu, jangan menyisakan sedikitpun untuk memikirkan hal-hal lain. Karena setiap aksi menghasilkan reaksi yang setimpal. Bukan sekedar reaksi, tetapi reaksi setimpal. Ini Hukum Fisika, Hukum Alam. Saat bekerja, bila ngelamun  memikirkan hasil, maka energi yang kau gunakan akan bercabang, untuk bekerja dan untuk berpikir, ngelamun atau apa pun istilahnya. Kau akan menggunakan 50 persen saja dari energimu, hasil yang kau peroleh pun setengah-setengah……… Dalam buku “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri” disampaikan…….. Lakukan tugas dan pekerjaan dengan baik. Tidak perlu memikirkan hasil akhir. Janganlah terikat dengan hasil. Keterikatan seperti itu malah memboroskan energi. Kebaikan sudah pasti menghasilkan  kebaikan. Percayailah hukum fisika, Hukum Alam, Hukum Karma ini.Berilah Keberadaan kesempatan untuk turut mengurusi diri Anda. Anda berkarya dengan baik, dan Ia menentukan hasilnya sesuai hukum alam yang berlaku. Percayailah kebijakan-Nya. Janganlah menyangsikan kearifan alam……… Baca lebih lanjut

“Non Violence”, Memaknai Kembali Nasehat RMP Sosro Kartono Renungan Kelimabelas

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan renungan kelimabelas dari Nasehat RM Panji Sosro Kartono. Sebagai referensi mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna.

Sang Istri: Renungan “Eyang” Sosro Kartono kelimabelas…… “Anglurug, tanpo bolo, tanpo gaman; Ambedah, tanpo perang tanpo pedang; Menang , tanpo mejahi tanpo nyakiti; Wenang, tanpo ngrusak ayu, tanpo ngrusak adil; Yen unggul, sujud bekti marang sesami”……… Menyerang, tanpa balantentara, tanpa senjata. Menerobos, tanpa perang , tanpa pedang. Menang , tanpa membunuh, tanpa menyakiti. Berkuasa, tidak merusak kebaikan, tidak merusak keadilan. Jika unggul, sujud berbakti kepada sesama manusia…….

Sang Suami: Pengalaman “Eyang” Sosro Kartono melanglang buana selama 17 tahun di Eropa setelah lulus dari Universitas Leiden Belanda, termasuk pengalaman sebagai wartawan The New York Herald Tribune memperluas wawasan internasional beliau. Dengan meng-kolaborasi-kan wawasan internasional dengan kearifan lokal, maka beliau merumuskan perlunya non violence, tanpa kekerasan sebagi solusi perdamaian dunia. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan…….. Cara kita menangani setiap persoalan harus bijak. Cara kita melayani hidup harus bijak. Dan nilai kebijakan tertinggi adalah : “Aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun mesiti bahagia. Berarti, aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.” Komitmen kita terhadap non violence atau non injury, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti dengan sengaja adalah kebijaksanaan……. Dalam buku “Bagimu Ibu Pertiwi, Realisasi Nilai-Nilai Luhur Bhagavad Gita Demi Kebangkitan Jiwa Indonesia” disampaikan……. Janganlah kau melakukan kekerasan, tetapi jangan pula membiarkan kekerasan terjadi pada dirimu. Itu bukan Non Violence, itu bukan Ahimsa. Menolak kekerasan berarti menolak segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan yang ditujukan kepadamu….. Baca lebih lanjut

“Angluhuraken Bongso”, Memaknai Kembali Nasehat RMP Sosro Kartono Renungan Keempatbelas

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan nasehat dari RMP Sosro Kartono. Mereka sudah sampai renungan keempatbelas. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai alat pengulas. Bagi mereka buku-buku tersebut membuat kesadaran mereka lebih meluas. Mereka juga mengungkapkan ingatan mereka tentang beberapa artikel di internet yang selaras.

Sang Istri: Renungan “Eyang” Sosro Kartono keempatbelas……… “Angluhuraken bongso kito tegesipun anjebar winih budi jawi, gampilaken margining bongso ngupadosi papan panggesangan”…….. Meluhurkan bangsa kita berarti menyebar benih budi luhur, memudahkan bangsa mencari mencari nafkah……

Sang Suami: “Eyang” Sosro Kartono memberi nasehat, bahwa untuk meluhurkan bangsa, kita harus menanam benih-benih keluhuran budi kepada setiap anak bangsa guna mencapai kesejahteraan bangsa. Mengenai menyebar benih keluhuran budi, di dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan……… Pelajaran Budi Pekerti di Sekolah. Nilai-nilai luhur budaya, nilai-nilai universal keagamaan yang mesti diajarkan di sekolah. Inilah pelajaran Budi Pekerti yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Tidak perlu memisahkan anak-anak kita karena agama. Cerita-cerita dari semua agama yang bersifat mendidik dan universal patut diceritakan kepada semua anak. Mereka harus mengenal nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Mereka harus menghormati para tokoh dari semua agama, setiap agama. Kasih Sayang, Kebenaran, Kejujuran, Kesetiakawanan, Kebersamaan, Kedamaian, Kebajikan, dan nilai-nilai lain yang bersifat universal ada dalam setiap agama. Nilai-nilai ini yang mesti ditonjolkan supaya kita bisa menumbuhkembangkan kesetiakawanan sosial di dalam diri generasi penerus………

Sang Istri: Benar suamiku, saat kita menerjemahkan nilai-nilai keagamaan, atau esensi keagamaan seluruh putra-putri bangsa bisa bertemu. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……… Apapun agamamu, dan apapun agamaku, “keagamaan” kita sama. Esensi atau nilai-nilai luhur yang terdapat dalam semua agama sama, yaitu Kasih, Kedamaian, Kebenaran, dan Kebajikan. Ketika kau menerjemahkan nilai-nilai itu dalam keseharian hidupmu, dan ketika aku menerjemahkannya dalam hidupku – maka kita bertemu!…….. Baca lebih lanjut

“Sinau Bongso lan Ngudi Kamanungsan”, Memaknai Kembali Nasehat RMP Sosro Kartono Renungan Ketigabelas

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan renungan ketigabelas dari nasehat-nasehat RM Panji Sosro Kartono. Mereka memanggil Beliau sebagai “Eyang” agar terasa lebih menjiwai. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Buku-buku tersebut telah membuat mereka membuka diri, sehingga hidup mereka terasa lebih berarti. Beberapa artikel dalam internet juga menjadi bahan tambahan untuk melengkapi.

Sang Istri: Renungan “Eyang” Sosro Kartono ketigabelas……… “Sinau boso tegesipun sinau bongso; Sinau melu susah melu sakit tegesipun sinau ngudi roso lan batos, sinau ngudi kamanungsan”…….. “Belajar bahasa artinya belajar bangsa; Belajar ikut susah ikut sakit artinya belajar memperoleh rasa dan batin, belajar memperoleh kemanusiaan”……….

Sang Suami: “Eyang” Sosro Kartono memberi nasehat tentang belajar bahasa yang mempengaruhi perilaku bangsa serta belajar rasa penderitaan untuk memperoleh kemanusiaan. Prof Amrin Saragih, PhD, MA berpendapat…….. Bahasa berperan utama dalam pembentukan pengalaman atau pemahaman seseorang tentang alam semesta.  Dengan pembentukan pengalaman dan pemahaman ini bahasa telah berperan dalam pembentukan karakter seseorang atau suatu bangsa……. Dengan sistem semantik atau arti, leksikogramar atau tatabahasa, dan ekspresi, bahasa telah membingkai atau mengungkung seseorang untuk berpikir, merasakan sesuatu, bersikap atau bertindak, dan berkeyakinan terhadap sesuatu. Dengan kata lain, bahasa telah membingkai kognisi, emosi, sikap, dan unsur spritual seseorang dalam memahami alam semesta……. Itulah sebabnya para suci sering memakai bahasa lain untuk menjelaskan maksud suatu istilah dengan kata yang lebih tepat misalnya memakai bahasa Sanskerta.

Sang Istri: Persepsi terhadap keadaan sosial dan alam semesta satu bangsa dengan bangsa lain berbeda Satu bangsa berbeda akibat perbedaan bahasa…….. Bagi bangsa Indonesia jika seseorang belum makan nasi, dia mengganggap dia belum makan. Akibat pentingnya beras atau nasi dalam persepsi bangsa Indonesia, bangsa Indonesia mampu membuat gambaran yang rinci dan spesifik tentang beras atau nasi di dalam bahasa Indonesia dengan realisasi sejumlah kata mengenai makanan utama ini, seperti padi, beras, nasi, pulut, ketan, lontong, bubur, tapai, gabah, menir, dedak, jerami, tajin, intip. Sedangkan bahasa Inggris hanya memiliki satu kata untuk fenomena itu, yakni “rice”. Bagi bangsa Indonesia nama merupakan sesuatu yang sakral, karena nama saja sudah dianggap manusia. Identitas ini berbeda dengan pemahaman bangsa Inggris di mana bagi mereka nama adalah benda. Anak kecil di sana dapat saja memanggil nama seorang kakek hanya dengan menyebut namanya saja. Dalam bahasa Indonesia kita bertanya siapa namamu? Sedangkan dalam bahasa Inggris dikatakan what is your name? Apa namamu? Baca lebih lanjut

“Anyebar Pemandeng Angringkes Pemantheng”, Memaknai Kembali Nasehat RMP Sosro Kartono Renungan Keduabelas

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan renungan RM Panji Sosro Kartono kedua belas. Mereka menyadari bahwa kesadaran mereka terbatas sehingga mereka menggunakan pisau buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai alat pengupas.

Sang Istri: Renungan keduabelas “Eyang” Sosro Kartono……… “Anyebar pemandeng, tegesipun angringkes pemantheng; Ambuka netro, tegesipun anutup netro; Angukub kabeh, tegesipun anyandak siji”…….. “Membebaskan pandangan berarti mengakhiri fokus pada sesuatu; Membuka mata berarti menutup penglihatan; Merangkul semua berati memegang satu”.

Sang Suami: Pertama, “Eyang” Sosro Kartono sedang membicarakan sebuah kesadaran yang meluas yang telah melepaskan diri dari fokus atau keterikatan. Kedua, Beliau membicarakan tentang menutup mata sebagai gerbang utama panca indra dan membuka mata hati. Ketiga, Beliau membicarakan tentang kesadaran yang merangkul seluruh alam semesta dengan berpegang pada “Gusti dalam diri” atau mengembangkan kasih di dalam diri dan menyebarkannya ke seluruh alam semesta. Nasehat pertama tentang perluasan kesadaran, disebutkan ada beberapa tahapan dalam proses  meluaskan kesadaran. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan…….. Ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu : Prinsip Pertama: Kesadaran. Dan yang bisa menghasilkan kesadaran hanyalah “meditasi”. Meditasi berarti “mengurus diri”. Sebelum diri sendiri terurus, jangan mengurus orang lain. Dalam ajaran Sang Buddha, prinsip ini disebut Hinayana sesuatu yang mendasar sekali. Secara harfiah, Hinayana berarti “wahana kecil”. Dalam hal ini, harus diartikan sebagai “langkah awal”, yang paling utama. Prinsip Kedua: Kasih Sayang. Setelah melampaui mind lewat meditasi, baru berbagi rasa. Kasih sayang merupakan buah meditasi. Tanpa meditasi, kasih sayang tidak akan pernah tumbuh. Tanpa meditasi, yang tumbuh hanyalah napsu birahi, paling banter cinta. Seorang yang belum meditatif, belum kenal kasih. Ini yang disebut Mahayana kesadaran yang meluas. Secara harfiah, Mahayana berarti “wahana besar”. Saya mengartikannya sebagai “langkah yang lebih besar”. Prinsip Ketiga: Kebijakan. Dengan hati yang mengasihi, kita menjadi bijak dengan sendirinya. Sentuhan kasih membebaskan dari rasa benci, dengki dan iri. Ini yang disebut Vajrayana puncak kesadaran. Vajrayana berarti “wahana yang kukuh”, bagaikan senjata “Vajra”…….. Baca lebih lanjut