Membongkar Sejarah Ajaran Salafi Wahabi

Sumber:

http://oase.kompas.com/read/2011/04/04/23354339/Membongkar.Sejarah.Ajaran.Salafi.Wahabi

Judul Buku: Sejarah  Berdarah Sekte Salafi Wahabi Penulis: Syaikh Idahram Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta Terbit: Maret 2011 Tebal: 276 Halaman Peresensi: Nurcholish

Radikalisme sesungguhnya banyak menjangkiti berbagai agama dan aliran-aliran sosial, politik, budaya dan ekonomi di dunia ini. tetapi pada masa pasca perang dingin, yang menjadi fokus penggunjingan di dunia ialah apa yang diistrilahkan dengan “radikalisme islam”. Isu sentral dalam penggunjingan ini adalah munculnya berbagai gerakan “islam” yang menggunkan berbagai bentuk kekerasan dalam rangka memperjuangkan dan mendirikan “negara Islam”.

Hakikat Islam sebagai agama peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam, mulai meretas. Islam yang nampak kepermukaan bukanlah islam sebagai agama universal dan menginginkan adanya peramaian dunia, akan tetapi islam ekstrimis yang identik dengan kekerasan (terorisme). Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi; Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama` yang ditulis oleh Syaikh Idahram ini, menunjukkan bagaimana kelompok islam Wahabiyah turut andil adanya kekerasan yang akhir-akhir ini marak terjadi. Baca lebih lanjut

Setiap Individu Mesti “Membayar” Sendiri Perbuatannya

Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

Bagaimana dunia dan masyarakat mengikat kita dengan kebatilan ciptaan mereka lewat penafsiran yang salah terhadap ayat-ayat suci – menjadi jelas ketika kita membaca Luqman ayat 33, bahwasanya kelak “di sana” seorang ayah tidak bisa membantu anaknya, dan seorang anak tidak dapat membantu ayahnya. Masing-masing mesti memberi pertanggungan jawab atas perbuatannya. Jadi tidak benar bisa orang tua membuat onar, anak yang dijatuhi hukuman, atau jika anak berbuat jahat/salah maka ortu mesti menanggungnya. Di dunia ini demikian, dan di akhirat pun sama. Setiap individu mesti “membayar” sendiri.

Saya pernah bertemu dengan seorang pengarang, sastrawan yang luar biasa. Awalnya ia seorang spiritualis, kemudian ia beralih jalur atas keinginan ortunya supaya mereka tidak kena azab oleh karenanya. Sikap ini dia ambil karena memang dia belum yakin sepenuhnya, dan tidak melihat spiritualitas sebagai akhir/tujuan/intisari setiap agama, dan sama sekali tidak bertentangan dengan agama mana pun jua.

Orang-orang yang kurang imannya ini pula yang mempersoalkan apakah mbah Marijan seorang muslim yang saleh atau penganut kejawen. Seolah kejawen bertentangan dengan agama. Tapi, ya seperti itulah pemahaman umum dan seperti itu pula yang selalu menciptakan konflik. Ortu kita pun sudah “termakan” oleh pandangan seperti itu. Kemudian terdorong oleh pemahaman keliru mereka ingin mengendalikan kita. Celakanya jika sifat ini menular ke kita dan kita meneruskannya dengan cara mengendalikan hidup anak-anak kita, sehingga terciptalah lingkaran setan kuasa-menguasai. Dimana tidak ada lagi kebebasan.

Ajaran agama, semua agama, sangat mulia. Namun jika disampaikan dengan cara yang salah, maka seperti susu murni dalam wadah yang kotor, akhirnya tercemar juga dan tidak dapat dikonsumsi lagi. Ajaran agama membebaskan sehingga kita menjadi bebas untuk berhamba kepada Allah. Agama tidak memperbudak kita. Adalah masyarakat dan para calo surga dan pejagal jahanam yang telah memperbudak kita. Proklamasikan kemerdekaanmu, sekarang dan saat ini juga. Salam!

Luqman ayat 33: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.

Bencana Dan Penderitaan Adalah Kesalahan Perbuatan Kita Sendiri

oleh Marhento Wintolo pada 31 Oktober 2010 jam 20:42.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150300202900445#!/note.php?note_id=10150316054605445

Dijelaskan dalam surat An-Naziat ayat 34-35 bahwa musibah/bencana dan penderitaan yang kita alami oleh karenanya, senantiasa untuk mengingatkan kita akan perbuatan-perbuatan kita.

Ini yang tidak pernah kita lakukan. Kita tidak mau bertanggungjawab atas perbuatan kita, maka kita selalu mencari pembenaran dan kambing hitam. Ada yang menyalahkan orang lain seperti dagelan-dagelan dalam acara teve, “semua ini terjadi karena makin maraknya maksiat.” Dia tidak mau bilang, “karena makin maraknya kemunafikan”. Karena jika ia mengatakan demikian, maka ia pun menempatkan dirinya dalam golongan yang sama, karena dirinya pun tidak kurang munafik.

Ada yang menyalahkan alam, “semuanya ini kodrati, siapa yang bisa menghindari bencana alam seperti Tsunami dan lain sebagainya? Ada pula yang menjadikan Allah sebagai kambing hitam, “semuanya terjadi atas kehendak-Nya.”

Kita tidak mau bertanggung jawab atas ulah kita sendiri. Inilah yang disebut kufr, menutup diri terhadap dirinya sendiri, terhadap suara hati nuraninya sendiri. Anehnya, setelah mencari -cari pembenaran seperti itu pun kita masih mengklaim, “saya beriman”.

Iman yang tak rela, tidak ikhlas. Iman yang tidak islami karena tidak berserah diri. Dalam hal ini berserah diri juga berarti menyerah dan mengakui perbuatannya. Berserah diri juga berarti bertaubah dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Sungguh tiada kedamaian tanpa penyesalan atas perbuatan yang menyengsarakan, dan perjanjian serta kesungguhan hati untuk tidak lagi mengulangi perbuatan yang merugikan diri kita sendiri. Musibah/bencana adalah kesempatan yang diberi Gusti supaya kita menyadari perbuatan kita di masa lalu dan terbebaskan dari penderitaan di masa depan dengan memperbaiki perbuatan di masa kini. Puji Tuhan atas kesempatan ini. Salam Syukur!

An-Naziat ayat 34: Maka apabila malapetaka yang sangat besar telah datang.

An-Naziat ayat 35: Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya.

Jika Manusia Memahami Tauhid, Tiada Namanya Kehendak Bebas Manusia

oleh Marhento Wintolo pada 29 Oktober 2010 jam 8:35.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150300202900445#!/note.php?note_id=10150313968175445

Al-Ambiyaa ayat 25 dan 29 adalah intisari pengetahuan sejati, “tiada Tuhan selain Aku”. Dan, pandangan yang keliru adalah, “Ada Tuhan, tapi aku juga memiliki kebebasan atas diriku”. Pandangan pertama menciptakan transpersonal psyche, jiwa yang tidak terbatas. Jiwa yang merangkul. Pandangan kedua menciptakan limited ego. Karena, jika aku memiliki kebebasan untuk melakukan segala sesuatu, maka orang lain pun punya.

Celakanya, kita tidak rela. Mau kita hanyalah diri kita saja yang memiliki kebebasan seperti itu, orang lain tidak boleh dan tidak bisa memiliki kebebasan yang sama. Alhasil terjadilah konflik. Pandangan pertama tidak bisa menciptakan konflik, karena tidak ada dualitas. Mau berkonflik dengan siapa? Lawannya mana? Bukankah semuanya adalah percikan dari Nur Ilahi yang sama?

Sufi Nanak berkata, “segala sesuatu berasal dari nur yang sama, siapa baik, dan siapa pula jahat – aku tak bisa berkata.” Pandangan pertama tidak menghakimi, dan tidak pula berkata bila ia tidak menghakimi. Istilah itu sudah tidak eksis baginya. Kita yang masih menganut paham dualitas menciptakan istilah menghakimi, dan tidak menghakimi. Kemudian kita menempatkan diri dalam kelompok yang tidak-menghakimi sesuai dengan pemahaman kita yang jelas subjektif. Dan, “menghakimi” orang lain, kemudian menempatkannya dalam kelompok yang menghakimi, lagi-lagi sesuai dengan pemahaman kita. Betapa gusarnya kita ketika orang lain tidak mau mendengar “nasihat” kita? Dan, betapa senangnya bila orang lain mau mendengar.

Tauhid bebas dari penghakiman, tapi ketika berada di tengah keramaian dunia, tetaplah mesti memilah, tentunya “tanpa menghakimi”. Yang nyaman dan menyenangkan itu tidak jahat, dan yang mulia tidak perlu diberi label “yang maha baik”. Pilihlah yang memuliakan tanpa menghakimi bahwa yang menyenangkan dan menyamankan itu jelek. Pekerjaan di dunia ini tidak melulu memuliakan, jelas lebih banyak yang menyenangkan/menyamankan. Buang air besar itu apa? Memuliakan atau menyamankan? Bagi manusia pekerjaan tersebut sekedar menyamankan (relief), bagi cacing yang hidup dari najis, itu memuliakan, menghidupinya. Salam Kesadaran Memilah

Al-Ambiyaa ayat 25: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Al-Ambiyaa ayat 29: Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.

Ilm Adalah Kebijakan Dalam Bergaul

oleh Marhento Wintolo pada 08 November 2010 jam 9:07.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150321832085445#!/note.php?note_id=10150323616925445

 

Segala kenikmatan dunia adalah untuk dinikmati dan disyukuri, karena semuanya adalah pemberian Gusti Allah. Termasuk kawan, kerabat, bahkan anak-anak kita, dan bukanlah sekedar benda-benda yang jelas selalu berpindah tangan. Al Mumtahanah ayat 3 menjelaskan bahwa semuanya itu tidak dapat membantu kita, yang dapat membantu adalah hasil perbuatan kita sendiri. Perbuatan inilah yang mesti adil atau fair.

Ayat 7 bahkan berharap semoga kita bisa memilah antara mereka yang betul-betul ingin mencelakakan kita dan mereka yang hanya ikut-ikutan saja. Walau berada dalam satu kelompok, kita mesti bersikap adil terhadap mereka yang hanya ikut-ikutan karena kebodohan mereka. Mereka itu justru mesti disayangi. Inilah tuntutan kesadaran dan keadilan, fairness. Pada saat yang sama tidak perlu juga berteman dengan orang-orang yang memang berniat untuk mencelakakan kita.

Ayat 9 dan seterusnya menjelaskan dua macam serangan yang mesti kita hadapi secara gigih, yaitu, serangan terhadap fisik (mengusir/merampas) dan terhadap mental/emosional (iman) kita. Tidak perlu membalas lemparan batu dengan batu. Hindari mereka yang hendak mengubah imanmu. Tidak perlu mengadakan hubungan persahabatan, apalagi mengawini mereka. Lagi-lagi pengertian iman di sini bukanlah sebatas isian kolom di KTP, atau identitas luaran, tapi keyakinan yang muncul dalam diri sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalaman kita sendiri tentang Ilahi. Ini yang disebut Ilm atau pengetahuan sejati, knowingness.

Al-Qur’an berulang-ulang mengingatkan kita supaya berhati-hati terhadap pergaulan. Apa yang dapat kita peroleh dari mereka yang hatinya tertutup? Kasihani, tapi hindari mereka. Tidak perlu di-“gaul”-i. Qur’an Karim membuat kita sangat rendah hati, tidak takabur. Hendaknya kita tidak membenarkan kelemahan kita ingin menjadi pahlawan dan dianggap selalu benar dengan pergaulan tanpa kendali atas nama percaya diri. percaya diri berarti pengendalian diri, bukan pelepasan kendali. Ingat pada akhirnya apa yang kita “kerjakan” itulah yang penting, dan bukanlah yang kita khayalkan, pikirkan, sekedar rasakan atau ucapkan. Selamat Berkarya secara Adil!

Al Mumtahanah ayat 3: Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Al Mumtahanah ayat 7: Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.    

Al Mumtahanah ayat 9: Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Jadikan Hidup Sebagai Ibadah

Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150300202900445#!/note.php?note_id=10150314877190445

 

Berdoa sambil bekerja adalah biasa. An Nuur ayat  36/7 mengajak kita untuk berbuat sesuatu yang luar biasa, yaitu bekerja dengan semangat berdoa. Segalanya menjadi persembahan. Seluruh hidup berubah menjadi ibadah. Di rumah, pagi dan sore berzikir: dan ketika berdagang pun tak lupa shalat, tak lupa zakat, tak lupa mengingat-Nya di mana-mana. Ini adalah pekerjaan purna-waktu. Ini bukanlah sekedar sembahyang berapa waktu. Ini adalah persembahan hidup itu sendiri.

 

Mempersembahkan hidup “kita” kepada Hyang Maha Hidup, kepada Kehidupan itu sendiri. Berarti menafikan “kita”, menafikan “aku” dan “kamu”, dan menjadi bagian dari lautan kehidupan yang tunggal, di mana identitas kali, selokan, sungai tidak ada lagi. Hyang ada hanyalah laut. Jangan menganggap dagangmu, usahamu, pekerjaanmu, urusanmu lebih penting dari zikir, zakat, dan lain sebagainya. Jangan pula meninggalkan pekerjaanmu untuk menyepi di tengah hutan belukar. Berkaryalah, jadilah pemutar roda ekonomi, supaya roda itu tidak dikuasai mereka yang hanya bekerja demi kepentingan diri. Karena roda itu tidak pilih kasih, siapa yang bekerja keras memperoleh kesempatan untuk memutarnya.

 

Maka, beradalah di tengah dunia ini, dan bekerja keras sambil mempertahankan keheningan jiwamu, seolah kau sedang menyepi di tengah belantara. Para sufi menyebutnya “hening di tengah keramaian”. Sebaliknya ketika sedang beribadah, rasakan kesatuan dan persatuan dengan sesama makhluk hidup yang berada di tengah keramaian, rasakan suka dan duka mereka. Berbahagialah bersama mereka, dan hapuslah air mata mereka ketika mereka menderita. Inilah pesan cahaya “nuur” pagi ini. Salam Cahaya Suci Kesadaran Murni!

 

An Nuur ayat  36: Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.

An Nuur ayat  37: Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.

Perbedaan Frekuensi Keterikatan Terhadap Dunia

Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

Hubungan dengan Allahdan rasulNya berarti hubungan dengan dunia dari sudut pandang yang berbeda, di mana focus kita adalah energy, bukan materi, esesnsi dan bukan lagi fisik. Maka dijelaskan dalam al Mujaadilah ayat 22 bahwa mereka yang beriman tidak bisa lagi mencintai atau berhubungan mesra dengan mereka yang tidak beriman, walau yang tidak beriman itu adalah keluarganya sendiri.

Koq sombong banget? Tidak. Urusannya bukan sombong. Urusannya adalah frekuensi dimana kita berada, beda frekuensi kita tidak lagi menerima siaran “keterikatan” dengan keluarga atau siapa saja yang tidak berada di frekuensi yang sama. Kita tidak membenci mereka, karena untuk membenci pun kita mesti berada di frekuensi yang sama. Perkaranya bukan cinta atau benci, perkaranya “tidak nyambung” – no signal, beda gelombang. Dengan keluarga terdekat pun demikian. Apalagi dengan orang lain.

Sesungguhnya kalau sudah beda frekuensi, beda focus – keluarga atau bukan keluarga sama saja. Lalu bagaimana dengan kita yang mengaku sudah beriman, tapi begitu ketemu dengan orang yang bisa membuat jantung kita berdebar, gelombangnya langsung menurun. Sesungguhnya kita memang belum berada pada gelombang iman, baru tahu, belum mengenal rasul. Jika kita sudah mengenal, sudah menerima siaranNya, maka “turun frekuensi tidak akan terjadi”.

Sebab itu jika frekuensi rendah masih menggiurkan, maka lebih baik kita jujur dengan diri sendiri. Selama ini Rasul sudah bekerja keras supaya frekuensi kita naik. Adalah berkahnya sehingga kita masih dekat dengannya, walau sesungguhnya belum pantas. Lagi-lagi pilihan di tangan kita. Iman dan rasul adalah cara pandang, memandang dunia sebagai bayang-bayang. Kekafiran adalah upaya untuk menguasai bayan-bayang. Upaya itu tidak pernah berhasil, tinggal tunggu kapan saat kecewa “lagi” dan berpaling kepadaNya. Salam Kasih.

Surat Al-Mujaadilah ayat 22: Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.