Ketiadaan Nurani Bangsa Dalam Zaman Pestapora Para Raksasa

Di atas kereta Argo Dwipangga Jurusan Jakarta Solo, sepasang suami istri sedang bercengkerama. Rona kesedihan nampak pada wajah mereka, mereka tidak bisa menerima keadaan yang menimpa Guru, tokoh idola pemersatu bangsa, pemandu batin dalam kehidupan mereka, yang sedang mengalami ketidakadilan di ibukota. Tugas dinas suami dan menengok anak telah mereka selesaikan. Dan sebelum kembali ke daerah mereka sempat menemui sahabat-sahabat mereka yang setia menunggui Guru mereka yang sedang dirawat di rumah sakit.

Sang Suami: Isteriku, kita baru saja menginjak bulan keempat tahun 2010, dan masih terngiang-ngiang pesan Guru di akhir tahun 2009. Tahun ini adalah tahun introspeksi ke dalam diri. Bukan kebetulan bila tahun 2009 diakhiri dengan meninggalnya Bapak Pluralitas, Gus Dur. Bukan kebetulan juga bila tahun 2010 diawali dengan hari Jum’at. Menurut bahasa Jawi Kuno hari Jum’at adalah hari Sukro. Harinya Sukracharya, gurunya para Asura, gurunya para Raksasa. Sukracharya mempunyai tugas yang sangat berat karena harus mendidik para raksasa yang mengabaikan nurani dalam memenuhi hasrat keserakahannya. Bukan kebetulan pula, bila tahun 2010 adalah Tahun Macan, yang menggambarkan kondisi kehidupan yang mirip hutan rimba belantara di mana hukum rimba masih saja dilakukan di sana-sini.

Sang Isteri: Dunia ini memang sering memperlakukan para tokoh dengan tidak adil. Almarhum Michael Jackson adalah salah satu korban yang parah dari sikap mass media yang berprinsip “a bad news is a good news”. Selama bertahun-tahun, sang legenda menderita dalam penghinaan atas kasus “pelecehan seksual” terhadap anak-anak, yang tidak pernah terbukti kebenarannya! Bahkan sesaat setelah kematian sang legenda, anak yang dilecehkan tersebut mengaku bahwa ia hanya disuruh oleh orang tuanya untuk membuat keterangan palsu! Baca lebih lanjut

Iklan

Banyak Jalan Satu Tujuan

Pulang dari Kota Solo menuju Kota Semarang, sepasang isteri seakan mendapat energi baru, rasa segar membuat sang suami mengemudikan kendaraannya tanpa istirahat di jalan. Sang isteri bernyanyi pelan-pelan….. Jalan berbeda tapi menuju Satu……. Banyak jalan satu tujuan, jalan menuju Tuhan.

Sang Suami: Isteriku, kalau kita membaca sejarah dunia, kita akan menemukan semua lembar sejarah selalu bersimbah darah. Perdamaian tidak pernah menang melawan kekerasan kecuali beberapa interval singkat. Lebih dari 3.000 konflik berdarah, pertempuran dan perang selama 2000 tahun sejarah dunia. Dan sampai saat ini dunia masih dilanda perang.Tidak satu benuapun yang bersih dari konflik. Perdamaian selalu menjadi sebuah kemewahan.

Sang Isteri: Berarti umat manusia tidak pernah belajar terhadap sejarah mengapa umat manusia selalu melakukan kekerasan.

Sang Suami: Kekerasan adalah sebuah kualitas bawaan yang buruk yang kita warisi dari sebuah rantai evolusi yang panjang. Bukan hanya evolusi ala Darwin tetapi lebih pada evolusi minat kemanusiaan dan evolusi intelegensianya, evolusi seninya, evolusi sejarah dan evolusi ilmu pengetahuannya. Ada sebuah jenis “kelemahan” yang mendasar yang dicampur dengan “rasa takut”-yang membuat kita melakukan kekerasan. Mengapa kita merasa seakan-akan seluruh beban untuk mempertahankan agama berada pada pundak kita? Mengapa kita mencemaskan keberadaan agama kita, keyakinan kita?…………. Karena konsep “saya” dan “milik saya” lah yang  menyebabkan semua masalah kita. Kesadaran tentang konsep “saya” dan “milik saya” itulah yang pertama-tama harus diubah……… Baca lebih lanjut

Antara Latihan Pengikisan Ego dan Pengkultusan Seseorang, Pandangan Esoteris

Dalam perjalanan dari Semarang menuju Solo, seorang pengemudi setengah baya dua kali istirahat “take a nap” di bawah pohon-pohon yang rindang di tepi jalan, untuk mengembalikan kesegarannya. Kemudian sambil pelan-pelan mengemudi, sang pengemudi bersama isterinya meneruskan pembicaraan mereka tentang keserakahan manusia. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang menarik dan lalu lintas yang ramai tidak lagi menjadi perhatian mereka.

Sang Isteri: Kita melihat peperangan di atas dunia ini tidak pernah berhenti. Konon 5.000-an  tahun yang lalu ada perang Bharatayuda, sebelumnya 10.000-an tahun yang lalu ada perang antara balatentara Sri Rama melawan Balatentara Rahwana. Sebelumnya lagi, sebelum-sebelumnya lagi selalu saja ada perang dan sampai saat ini pun tak pernah berhenti. Mungkin sebab awalnya adalah bahwa dalam diri manusia juga selalu ada perang sehingga tidak pernah ada kedamaian dalam diri. Peperangan tersebut pada hakikatnya dilandasi oleh ego dan kecemburuan. Baca lebih lanjut

“Aji Mumpung”, Berbagai Peraturan Pembendung Dan Peningkatan Kesadaran

Sepasang suami istri setengah baya kali ini berbagi rasa tentang buku Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2004.

Sang isteri: Dalam MSN News disampaikan bahwa menurut survey Konsultan Political & Economic Risk Consultancy (PERC), Indonesia termasuk negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi. Indeks korupsi Indonesia mencapai 9,07 dari skala 10 yang ditetapkan survei. Cukup mengkhawatirkan karena nilainya lebih besar dari 8,32 yang merupakan penilaian tahun 2009. Apakah ini ada hubungannya dengan kebiasaan bangsa kita untuk menggunakan “aji mumpung”, memanfaatkan peluang selagi ada kesempatan?

Sang Suami: Kesempatan tidak pernah datang dua kali, dan peribahasa tersebut diimplementasikan secara negatif. Mumpung ada mahasiswi mengalami permasalahan keluarga, sebuah kelompok sakit hati mendapatkan amunisi untuk menjatuhkan seorang tokoh nasional berjiwa kebangsaan. Mumpung jadi pengacara, ada order khusus  serta jaminan suaranya akan diblow-up mass media, maka tanpa dasar hukum yang kuat dia berani mendiskreditkan seorang tokoh yang memperjuangkan kebhinekaan. Aji mumpung diartikan sebagai “menggunakan peluang yang ada untuk keuntungan diri sendiri”. Aji mumpung menggunakan wewenang, kekayaan, kepandaian, garis keturunan, jalur politik dan segala kelebihan yang dimiliki untuk menguntungkan diri sendiri. Baca lebih lanjut

Melihat Anak-Anak Bangsa Tidak Peduli Rasa

Malam telah larut dan sepasang suami istri setengah baya masih bercengkerama, berbagi rasa.

Sang Isteri: Hidup sebagai anak remaja zaman sekarang tidak mudah. Saya melihat anak bungsu kita yang masih sekolah SBI, konon Sekolah Bertaraf Internasional nampak sangat sibuk. Hampir tak ada waktu tersisa untuk bermain kecuali download film dan lagu di depan lap top dan seminggu sekali main futsal. Mata pelajaran di sekolah begitu banyak, semua guru memberikan tugas yang serius, karena ingin memberikan yang terbaik. Dia pun masih harus mengambil les tambahan agar mata pelajaran utama tak tertinggal. Sepanjang hari kepada anak kita hanya dijejalkan pengetahuan untuk mengembangkan otak kiri. Perlu perjuangan berat untuk  membangkitkan “rasa”-nya.

Sang Suami: Saya ingat almarhum kakek saya yang penggemar berat Pujangga Sri Mangkunagara IV yang selalu menekankan bahwa pengetahuan tertinggi tidak bertujuan untuk  mencerdaskan otak kita. Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan “rasa” dalam diri kita. Rasa sinonim dengan batin…… Kembangkan rasa dulu. Jangan bersikeras untuk membuat putra-putri cerdas. Kecerdasan tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat mereka manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan  kemasyarakatan kita. Dan ………………. mereka yang dididik tanpa mengembangkan rasa, rasanya saat ini  sudah menjadi elit bangsa. Mungkin saja pencapaian dalam bidang materi relatif sangat banyak, akan tetapi itu hanya berupa kenyamanan hidup, bukan kebahagiaan hidup. Baca lebih lanjut

Mencermati Dasamuka Yang Merajalela Di tengah Bangsa

Malam telah larut dan sepasang suami istri sedang membahas buku I Ching Bagi Orang Modern, AK, terbitan Gramedia tahun 2002.

Sang Istri: I Ching adalah sebuah nyanyian, sebuah lagu yang terdiri dari 64 nada. Dan yang disampaikan dalam buku ini adalah nyanyian versi Tao, bukan versi ramalan yang telah terkenal di tengah masyarakat. Setiap nada adalah satu karakter, satu huruf China ditambah sepatah dua patah kata. Sangat indah! Saat kubuka secara acak kubaca huruf ke 18, “KU” atau “Membusuk” dengan tambahan kata: Di Tengah angin kencang dan badai topan, orang bijak menjaga dirinya dan membantu orang lain.

Sang Suami: Ya,saya ingat kalau tidak salah interpretasinya adalah: Jangan membiarkan pengetahuan dan keahlian anda membusuk. Gunakan demi peningkatan kesadaran diri, juga untuk membantu dan melayani orang lain. Keahlian dan ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan dalam hidup sehari-hari, tidak dimanfaatkan untuk kesadaran diri akan membusuk. Akan mengeluarkan bau tidak sedap. Baca lebih lanjut

Memaknai Identitas Diri, Bagiku Guruku Bagimu Keyakinanmu

Sepulang dari tugas luar kota, setelah makan malam seorang suami bercengkerama dengan istrinya.

Sang Suami: Dalam perjalanan pulang, melalui HP saya membaca komentar-komentar masyarakat tentang para wakil rakyatnya di FB dan di warta digital. Masyarakat sudah jenuh melihat perilaku para wakil rakyatnya yang tidak malu bertindak memalukan. Barusan saya berpikir bahwa dalam diri seseorang ada kumpulan catatan informasi yang dikumpulkannya sejak kecil. Seseorang mempunyai banyak catatan tentang peran dirinya dan sesama peran diri tersebut sering bertabrakan. Misalnya peran orang bijak, peran orang bermoral, peran wakil rakyat dengan peran anggota fraksi yang harus diutamakannya saling bertabrakan. Kemudian peran kepala keluarga dan peran seorang bapak yang baik sering bertabrakan dengan peran sebagai laki-laki kala bertemu wanita cantik. Nikah siri memberi jalan keluar dari peran yang bertabrakan, akan tetapi akhirnya akan muncul peran lain yang bertabrakan juga. Hal tersebut, bukan solusi hanya sebuah pembenaran tindakan dilihat dari kacamata psikologi. Selama kita memberi identitas diri sebagai kumpulan catatan, atau kumpulan informasi maka kita tidak akan hidup tenang. Kita harus meningkatkan kesadaran dengan memaknai identitas diri bukan hanya sebagai kumpulan catatan yang disebut ego.

Sang Istri: Seorang mahasiswi menjelek-jelekkan seorang tokoh yang tadinya dianggap sebagai Gurunya. Peran dia sebagai murid, peran dia sebagai anak, peran dia sebagai kelompok orang yang mau menjatuhkan sang tokoh, semua peran di dalam dirinya bertengkar mencari yang nomer satu. Dalam diri seseorang ada benih kebijakan, ada benih kehewanian, ada benih keraguan atau kebingungan yang sebetulnya bersama suara nurani harus dimanfaatkan untuk mengembangkan benih kebijakan dan mengendalikan dan melembutkan benih kehewanian dalam diri. Tindakan memilih teman dan lingkungan sangat berpengaruh. Dalam lingkungan yang pengin menang sendiri, pengin memuaskan keserakahan pribadi, pengin menjatuhkan seseorang dengan segala cara, benih kehewanian dikembangkan dan benih kebijakan dipinggirkan. Baca lebih lanjut