Antara “Reward and Punishment” dan Membangkitkan Kesadaran, Belajar pada “the Hanuman Factor”

 

Kakek kami pernah berkata bahwa budaya kita lebih sering memakai kata-kata “hati-hati” dari pada “pikir-pikir”. Pikiran kita merupakan gudang arsip atas pengetahuan dan pengalaman kita sebelumnya, dia tidak bisa menyampaikan alternatif solusi yang lain. Pikiran hanya memproses keputusan yang paling menguntungkan ego kita. Di sisi lain “hati” lebih dekat dengan rasa, lebih holistik. Lebih penuh kasih. Solusi yang dihasilkan hati lebih manusiawi. Pikiran yang angkuh bisa menolak Tuhan, tetapi tidak demikian hati hamba yang beriman yang lemah-lembut dan tenang. Tuhan bersemayam di sana. Dan, Tuhan itu Tidak Terbatas. Diri yang disemayami Tuhan dilindungi Ketidakterbatasan.

Kelemahan pikiran

Pikiran kita merupakan gudang arsip atas pengetahuan dan pengalaman kita sebelumnya. Setiap arsip paling tidak mempunyai tiga dimensi, yakni dimensi visual yang pernah ia lihat, dimensi auditory yang pernah ia dengar dan dimensi kinestetik yang pernah ia rasakan. Artinya semua pengalaman hidup kita simpan, dan arsipnya berada pada pikiran yang sering disebut pikiran bawah sadar. Kemudian semua arsip tersebut dapat diputar ulang secara visual, auditory dan kinestetik layaknya sebuah dokumen.

Akan tetapi pikiran mempunyai kelemahan, mempunyai keterbatasan pengalaman, keterbatasan ilmu pengetahuan, sehingga keputusan pikiran belum sempurna. Bahkan, keyakinan yang bersemayam dalam alam pikiran manusia pun tidaklah permanen, seperti keyakinan agama dan ideologi pun masih bisa berubah bila mendapatkan pemicu yang selaras. Sebagian orang yang merasa beriman sering hanya berupa sebuah conditioning bawah sadar saja. Karena dikondisikan atau dipengaruhi suatu pemahaman tertentu secara berulang-ulang maka pengkondisian atau doktrin tersebut masuk menjadi keyakinan dalam bawah sadarnya. Baca lebih lanjut

Perlindungan Hanuman Sang Pengawal Gerbang “Gateless Gate”, Belajar dari the Hanuman Factor

 

Seorang saudara pernah memberi burung beserta sangkarnya kepada anak bungsu kami yang pada waktu itu masih sekolah TK. Tak berapa lama, burung tersebut lepas dari sangkar dan terbang ke angkasa luas. Si burung sudah terbiasa dijatah makan dan minum setiap hari akan tetapi dia menyadari jati dirinya yang bebas dan tidak menyukai keadaan terkurung dalam sangkar sempit. Kami menasehati anak kami, “Apakah kamu suka bila kamu dikurung dalam kamar indah, diberi makan dan minum yang lezat, tetapi tidak boleh keluar kamar?” Saat duduk di Sekolah Dasar, anak kami sempat berkunjung ke Taman Safari Cisarua, dan dia melihat para binatang merasa bebas dan nyaman dalam “kurungan” besar seluas taman tersebut. “Comfort zone” telah melalaikan para binatang di Taman Safari tentang jati dirinya, apakah kita para manusia juga terjebak dalam comfort zone, dan melupakan jati diri kita?

Mencari Perlindungan Kepada Hanuman

Berikut ini kami terjemahkan secara bebas dari buku *1 the Hanuman Factor halaman 116-117

Burung-burung yang terkurung dalam sangkar, pada awalnya mencoba membebaskan diri. Selang beberapa waktu mereka menerima nasibnya dan menikmatinya. Para burung tidak menyadari bahwa kenyamanan artificial yang mereka rasakan ditukar dengan harga kebebasan mereka. Keadaan kita tidak jauh berbeda. Kurungan kita lebih luas. Bergerak ke sekeliling kita telah memberi rasa kebebasan yang salah. Kita seperti para binatang yang berada di Taman Safari. Kita telah berpikir taman sebagai hutan alami.

Profesionalitas, afiliasi politik dan keagamaan secara bersama telah membentuk comfort zone, zona kenyamanan kita. Ini adalah kurungan di mana kita terjebak. Dan kita telah terkurung begitu lama, sehingga kita telah terbiasa dengannya. Kita begitu terbiasa bergerak sekeliling dalam pagar pembatas, sehingga merasa bebas. Cobalah bergerak dalam satu arah, fokuskan pandangan matamu sejauh yang dapat kamu lihat, kamu akan melihat pagar pembatas dan Hanuman menunggumu di sana. Berdiri di luar pagar adalah Hanuman atau kesadaran dan kebebasanmu. Itulah takdirmu. Loncatlah, pagarnya tidak tinggi-tinggi amat, mengapa takut? Hanuman atau kesadaranmu akan melindungimu dan memandumu setiap langkah. Baca lebih lanjut

Dan… Yang Merasa Tidak Bersalah pun Terkena Bencana, Belajar dari the Hanuman Factor

Sewaktu masih sekolah dasar, dua orang teman sekelas kami pernah berkelahi, duel satu melawan satu di lapangan sekitar 200 m dari halaman sekolah. Seluruh murid laki-laki melihat tontonan seru yang dilakukan pada saat istirahat. Akhirnya salah satu kalah dan bilang “embek” seperti kambing dan tontonan selesai. Saat masuk kelas pak guru sudah siap di depan pintu dan setiap murid laki-laki dipukul pantatnya dengan penggaris besar. Pada waktu itu kami sekelas merasa bersalah dan takut kepada Pak Guru. Mungkin kejadian itu akan berbeda kalaun terjadi pada saat ini. Mungkin ada yang lapor polisi bahwa dia tidak bersalah tetapi dihukum pak guru. Buku *1 the Hanuman Factor membahas mengapa Hanuman memberi pelajaran kepada penduduk Alengka yang merasa tidak bersalah.

Mengapa Hanuman menghukum masyarakat yang merasa tidak bersalah?

Banyak yang mempertanyakan, mengapa sebagai duta ilahi, Hanuman membakar atap penduduk Alengka yang tidak ada kaitannya dengan perbuatan Raja Rahwana? Perlu dijelaskan bahwa Raja Alengka menculik istri Sri Rama, dan sekilas tidak ada hubungannya dengan masyarakat sipil Alengka.

Akan tetapi, walau bagaimana pun masyarakat lah yang memilih pemimpin mereka. Masyarakat lah yang memilih peraturan perundang-undangan. Masyarakat juga yang telah memilih perwakilan mereka untuk duduk di parlemen. Sehingga dalam memilih pemimpin diktator pun masyarakat ikut terlibat. Konon pada saat itu Kerajaan Alengka mengalami masa keemasan. Masyarakat Alengka sangat sejahtera. Pemerintah tidak menarik pajak dari rakyatnya, pendapatan pemerintah dari perdagangan rempah-rempah sudah memadai untuk menjalankan pemerintahan. *1 the Hanuman Factor Baca lebih lanjut

Pendengar Yang Bersemangat, Belajar Dari Hanuman

Mendiang kakek kami pernah memberi nasehat agar kami membedakan antara “krungu” atau mendengar dan “ngrungokake” atau mendengarkan. Mendengarkan bersifat aktif, lebih terfokus dan hasilnya menjadi lebih baik. Dalam perjalanan kehidupan, kami mendapatkan pemahaman bahwa walaupun sama-sama mendengarkan dengan fokus, hasilnya juga tergantung macam semangatnya. Ada yang bersemangat mendengarkan untuk mencari pembenaran bagi hasrat keinginannya dan ada pula yang bersemangat untuk menerima secara utuh, dan hasilnya berbeda. Dalam buku *1 the Hanuman Factor, Hanuman menjadi pendengar yang bersemangat berdasar “trust” terhadap Sang Pembicara, Sri Rama. Sebuah cara mendengar yang lebih dalam lagi. Luar biasa!

Fokus

Seekor kelelawar ditempatkan di sebuah ruangan yang gelap gulita dan pada satu sudut ruangan ditempatkan seekor lalat. Begitu lalat terbang, kelelawar bergerak langsung menangkap lalat tersebut.

Kemudian dalam kamar tersebut diletakkan beberapa ulat bulu dan ditutup selembar koran. Ternyata saat kelelawar dimasukkan ruangan dia juga langsung terbang menuju koran dan mengangkatnya untuk menangkap ulat bulu tersebut.

Selanjutnya kelelawar tersebut dimasukkan dalam lorong gelap dengan banyak sekat dan tiap sekat hanya diberi satu lubang sebesar tubuh kelelawar dengan posisi berbeda. Pada ujung yang lain ditempatkan sekelompok kupu-kupu. Sangat menakjubkan, begitu cepatnya kelelawar menangkap kupu-kupu mangsanya. Demikianlah kekuatan fokus kelelawar dalam mendengarkan sesuatu yang menjadi perhatiannya. Baca lebih lanjut

Dari Topeng Monyet ke Wanara Hanuman, Perjuangan Melampaui Insting Hewani Menuju Ilahi

Seorang sahabat berkata bahwa 90% orang tidak menyenangi pekerjaannya, sehingga hasil yang dicapainya tidak maksimal dan juga tidak membahagiakannya. Seseorang yang mencintai pekerjaannya tidak pernah merasa capai dalam bekerja, dia selalu kreatif, dinamis dan selalu dalam keadaan berbahagia ketika bekerja. Hanuman bukan hanya mencintai pekerjaannya, melainkan dia mencintai semua tindakannya yang dilakukannya sepanjang waktu. Fokusnya hanya satu menyenangkan Sri Rama (yang bermakna Dia Yang Berada Di Mana-Mana), dan tindakan itu selalu menyenangkannya sehingga Hanuman bertindak dinamis, kreatif, bijak, kuat , cepat dan penuh semangat. Tulisan ini dilhami buku *1 the Hanuman Factor

Antara Manusia dan Kera

Studi genetika terhadap DNA memperkuat kesimpulan mengenai kemiripan molekuler antara manusia dan simpanse. Diantara 16.000 posisi nukleotida dalam molekul, hanya sekitar 1.400 (8,8%) yang berbeda, antara manusia dan simpanse.

Ilmu pengetahuan manusia telah bekembang pesat secara luar biasa. Menurut kantor berita AFP tahun 2009, para ilmuwan di Jepang berhasil mengembangbiakkan transgenik primata pertama di dunia yang bisa mengembangbiakkan kera yang nampak berpijar kehijauan kulitnya. Bisa dikatakan bahwa manusia sudah bisa menciptakan seekor kera.

Disamping kecanggihan manusia, ternyata sifat kehewanian kera juga masih bertahan dalam diri manusia. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa “kera-kera yang lebih sempurna” sudah dapat menciptakan kera. Dan karena masih mempunyai sifat “kekeraan” dalam dirinya, maka tindakan “kera yang lebih sempurna” itu pun bisa membahayakan diri mereka sendiri.

Dengan mengadakan introspeksi ke dalam diri, dapat disadari bahwa “kekeraan” atau insting hewani manusia belum banyak berubah, kecuali kualitas hewaninya saja yang meningkat.

Dilihat dari sudut pandang biologis, kebutuhan dasar manusia dan hewan amat mirip dan kebutuhan dasar tersebut biasa sebagai disebut sebagai insting hewani. Pertama, kebutuhan makan untuk mengatasi lapar dimana perbedaannya hanyalah bahwa manusia makanannya sudah dimasak sedangkan hewan makanannya masih mentah. Kedua, kebutuhan seks untuk mengatasi gejolak nafsu, dimana perbedaannya hanyalah bahwa manusia membutuhkan surat nikah dan pengakuan masyarakat sedangkan hewan sekadar naluri suka sama suka. Ketiga, kebutuhan tidur untuk mengatasi mengantuk, dimana manusia memilih tidur di rumah yang bagus sedangkan hewan di lubang dan goa dan pepohonan. Keempat, kebutuhan akan rasa nyaman untuk mengatasi rasa takut atau khawatir, binatang bisa berbuat kekerasan bahkan membunuh sedangkan manusia pun kadang masih demikian. Baca lebih lanjut

Babak Akhir Perjalanan Batin Dewi Sinta

 

  • Keheningan bukanlah ketiadaan kebisingan, melainkan ketiadaan pikiran.

*1 Maranatha halaman 89

 

  • Hati yang tidak tergantung pada sesuatu di luar. Hati yang tidak berdoa untuk meminta, tetapi untuk mensyukuri. Hati yang tidak cengeng. Hati yang ceria; hati yang bersuka-cita; hati yang senantiasa menari dan menyanyi. Hati yang tengah merayakan hidup!

*2 Neo Psyhic Awareness halaman 27

 

  • “Hatimu tertutup, bukalah hatimu, biarlah angin segar memasuki ruang hatimu… biarlah hatimu berlembab…” Mereka yang memahami maksud bisikan dan membuka diri, menemukan cinta, menemukan kasih dalam keterbukaan itu.

*3 Ishq Ibadat halaman 4

 

  • Bukalah hatiku sehingga terdengar suara-Mu yang berasal dari dalam diriku juga. Selama ini yang terbuka hanyalah pikiran kita. Itu pun baru terbuka sedikit saja.

*4 Fiqr halaman 81

Di depan rombongan Sri Rama yang menemuinya, Dewi Sinta mengheningkan cipta. Semua yang hadir menunggu dengan penuh kesabaran.  Suasana damai menyelimuti semua insan. Beberapa saat  kemudian Dewi Sinta membuka matanya. Dirinya baru saja mengingat kala berada di pondok sederhana di kaki pegunungan yang indah. Terdengar bunyi burung bersahutan dilatarbelakangi gemericik suara aliran air Sungai Tamsa. Kemudian dia mengucapkan syair ungkapan perasaan dan semua yang hadir menyimak penuh perhatian… Baca lebih lanjut

Dharma Bhakti Teguh Para Garuda

Kata “manusia” atau “manushya” berasal dari dua suku kata, “manas” dan “ishya”. “Ishya” berarti Keberadaan. “Manas” berarti Pikiran. Apabila Keberadaan atau eksistensi bertemu dengan pikiran, maka lahirlah manusia.

Apabila manusia melepaskan dirinya dari pikiran, maka ia adalah Keberadaan atau Eksistensi. Keberadaan  + Pikiran = Manusia, sebaliknya Manusia Pikiran = Keberadaan. Energi dan apa yang kita sebut “materi” sama-sama merupakan bagian dari Keberadaan.

Elemen-elemen air, api, udara, tanah, dan lain sebagainya – semuanya merupakan bagian dari Keberadaan. Mengidentitaskan diri kita dengan energi berarti mengidentitaskan diri kita dengan salah satu unsur Keberadaan. *1 Kundalini Yoga 

Kelahiran Sang Garuda

Daksa memberikan putri-putrinya untuk dijadikan istri Resi Kasyapa. Pernikahannya dengan Diti menurunkan Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Perkawinannya dengan Aditi melahirkan Indra dan Vamana. Perkawinannya dengan Dewi Kadru melahirkan para ular dan para naga, sedangkan perkawinannya dengan Dewi Winata melahirkan Aruna dan Garuda. Dari satu kakek yang sama, para cucunya ada yang menjadi tokoh penegak dharma dan beberapa yang lain menjadi pemimpin golongan adharma.

Dewi Winata bersaing dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru melahirkan ribuan butir telur yang menjadi ular dan naga, di antaranya menjadi naga Varuna dan Vasuki. Dewi Winata hanya melahirkan dua butir telur, dan karena lama tidak menetas, yang satu butir dipecahnya sebelum waktunya menetas dan menjadi Burung Aruna yang cacat. Kesalahan tindakannya nantinya harus dibayar dengan menjadi budak beberapa masa. Tugas Dewi Winata adalah memelihara dan membesarkan putra kandung dengan suka cita, akan tetapi karena tindakannya, dia harus merawat ribuan putra ibu lain dengan terpaksa. Baca lebih lanjut