Catatan Akhir Tahun 2014: Selalu Ingat Tuhan, Berkarya Tanpa Pamrih dan Berbagi Berkah

happy new year 2015

Happy New Year di Anand Krishna Center Joglosemar, Jogja (foto Mas Tunggul)

 

Melihat layar lewat Skype

Belasan orang memandang layar besar yang dihubungkan dengan kabel ke laptop yang sudah terkoneksi lewat Skype. Dan terpampanglah gambar Anand Asram Ubud, Anand Ashram Sunter di Hall Anand Krishna Center Joglosemar, Jogja. Semua orang berteriak bahagia, inilah adalah ungkapan spontan yang membahagiakan dan membangkitkan semangat di akhir tahun 2014.

Kala Bapak Anand Krishna muncul dan menyapa di layar, hati semua orang berbunga-bunga, inilah saat yang ditunggu di penghujung tahun 2014 ini.

Diawali dengan agnihotra, chanting, bhajan, makan bihun bersama dan dilanjutkan mendengarkan kisah Shri Sai Satcharita semua orang menunggu detik-detik yang berbahagia lewat koneksi dengan Anand Ashram Ubud.

Sebuah momen yang perlu dirayakan untuk mengakhiri tahun 2014. Terima kasih kepada semua teman-teman yang mempersiapkan sehingga acara ini terlaksana. Terima kasih Bapak Anand Krishna yang telah berbagi kasih dengan teman-teman di Bali, Jakartaa dan Jogjakarta.

 

Ingat Tuhan, Berkarya Tanpa Pamrih dan Berbagi Berkah

Kitab suci yang tebal dari penganut Sikh ( dan menurut pencatat bisa diperluas dengan seluruh kitab yang disucikan) hanya memuat 3 kata: Selalu Ingat Tuhan; Selalu bekerja keras sekuat tenaga tanpa pamrih; dan Selalu berbagi berkah.

Pernyataan Bapak Anand Krishna ini menghunjam dalam dalam diri.

  1. Selalu Ingat Tuhan.
  2. Berkarya Tanpa Pamrih
  3. Berbagi Berkah.

 

Sudahkah dalam satu tahun 2014 kita semua melaksanakan hal tersebut? Siapkah di tahun Baru 2015 kita melakukan hal tersebut!

Kalau hanya memikirkan kepentingan keluarga, kepentingan “family”, semua hewan pun sudah melakukan hal yang sama. Sebagai manusia kita berkarya mestinya bukan hanya untuk kepentingan keluarga, akaan tetapi untuk kepentingan umum, kepentingan umat manusia dan bahkan bagi seluruh makhluk.

Atithi Devo Bhava, tamu yang tidak diundang adalah Tuhan. Sudahkah kita melakukan hal demikian? Tamu yang datang dengan pemberitahuan lebih dahulu adalah “family”.

Bapak Anand Krishna menyampaikan tidak ada seorang tamu pun yang datang ke rumah orang tuanya yang pulang tanpa minum atau makan sesuatu. Ibu beliau selau menjamu semua tamu.

Pak Anand juga menyampaikan kisah Shirdi Baba yang berjanji akan berkunjung ke rumah seseorang pengikutnya. Sang pengikut telah mempersiapkan hidangan untuk Sang Guru yang akan mengunjunginya. Jam 12 tepat sesuai sesuai rencana, Shirdi Baba belum datang juga. 10 menit kemudian datang seorang peminta-minta. Dan sang tuan rumah menolaknya, “Guru saya akan datang, tunggulah setelah datang dan kau akan saya berikan hidangan!”

Ditunggu sampai jam 4 sore Sang Guru tidak datang juga. Dan, temannya menghadap Shirdi Baba dan menanyakan mengapa beliau tidak hadir ke rumah sahabatnya. Dia menyampaikan bahwa sang tuan rumah dan para sahabat sudah menunggu. Shirdi Baba berkata, “Saya sudah datang dan kalian tidak mengenaliku!.”

Atithi Devo Bhava, sang peminta-minta yang datang setelah jam 12 seharusnya dianggap Tuhan yang datang, tetapi sang tuan rumah dan para sahabatnya belum bisa mempraktekkan nasehat tersebut.

Kisah tersebut menyentuh hati nurani terdalam, apa yang sudah kita lakukan selama ini. Adakah nasehat yang sudah dihayati dipraktekkan dalam kehidupan nyata?

Bahkan apabila kita tidak memiliki sesuatu apa pun, kita masih bisa memberikan sebuah senyuman. Bapak Anand Krishna juga berkisah bahwa Giam lo ong, Sang Yama  itu ibarat tulang foto yang tidak tahu kapan mengambil gambar, menjepret kita. Saat menjepret itulah napas yang kita tarik dihembuskan untuk yang terakhir kalinya. Mengapa kita tidak selalu senyum sehingga saat dijepret kita dalam keadaan tersenyum? Hehehe bila kita selfie dengan tongsis, kita bisa mempersiapkan diri saat kita diambil gambarnya, akan tetapi Sang Yama tidak tunduk pada keinginan kita!

 

Perjalanan Kembali ke Solo dan Perjalanan Kehidupan

Pulang dari Center di Jogja, saya istri dan Mas Rahmad mengendarai kendaraan pelan-pelan, karena banyak sekali sepeda motor dan mobil berlalu lalang pada dini hari setelah Pk. 00 tersebut.

Saya mengendarai sendiri, karena teman yang biasa menyetir Solo-Jogja pp sedang sakit. Di sepanjang jalan, kita melihat kembang api sekali-sekali menghiasi langit. Suara knalpot motor meraung-raung dan beberapa anak muda tanpa helm menarik perhatian pengendara lainnya.

Sampai di dekat kompleks Candi Prambanan jalan menjadi macet, mungkin lebih dari setengah jam. Sudahkah mereka yang memenuhi jalan di tahun baru tersebut selalu mengingat Tuhan! Apa yang dipikir oleh mereka? Ada pasangan muda yang naik motor membawa bayi mereka menyelinap kerumunan mobil dan motor. Apakah ini juga tindakan ingat Tuhan? Apakah mereka yang merayakan akhir tahun ini melakukan tanpa pamrih? Ataukah hanya menyenangkan keinginan panca indra serta pikiran dan perasaan?

Mungkin mereka juga telah berbagi berkah kepada tukang penjual terompet dan kepada stasiunSPBU dengan membeli bahan bakar. Mungkin mereka telah berbagi berkah dengan membeli kembang api yang mahal dan tidur di hotel berbintang. Untuk kepentingan pribadi, family atau untuk kemanusiaan?

Hidup  adalah sebuah perjalanan. Seperti perjalanan dari Solo ke jogja dan kembali lagi ke Solo. Sudahkah sepanjang perjalanan kehidupan kita lalui dengan melakukan tindakan: “Selalu ingat Tuhan, Bekerja keras tanpa pamrih pribadi, dan berbagi berkah yang diberikan kepada kita?

Semoga!

Seks? Mencintai Gusti Pangeran Melampaui Seks? Kisah Para Brahmachari dalam Ramayana

hanuman lakshamana Rama Sita sumber devotionalimages blogspot com

Ilustrasi Hanuman dan Lakshmana bersama Rama dan Sita sumber: devotionalimages blogspot com

Brahmacharya atau Hidup dalam Kesadaran Tuhan

Brahmacharya biasanya diterjemahkan sebagai hidup selibat. Ada juga yang menterjemahkannya sebagai ‘tidak memanjakan indera-indera kenikmatan’.  Definisi ini mungkin lebih cocok untuk para pendeta dan pertapa peminta-minta. Namun Brahmacharya bukanlah hanya dimaksudkan untuk mereka saja. Siapapun bisa melakukannya. Seharusnya malah semua orang melakukannya. Brahma sering diterjemahkan sebagai Tuhan, walaupun sesungguhnya maksudnya adalah aham sejati, ‘diri’ sejati. Acharya adalah ‘orang yang melakukannya’, para praktisioner. Karenanya Brahmacharya mengacu pada penerapan ketuhanan dalam kehidupan. Brahmacarya berarti hidup dalam kesadaran Tuhan. Tidak masalah apakan anda sudah mengambil sumpah selibat atau tidak, satu yang sudah jelas. Anda tidak bisa lagi terlalu bermanja-manja dengan kenikmatan duniawi. Kenikmatan semacam itu jadi tidak berarti saat anda mencapai kenikmatan kesadaran tinggi yang lebih tinggi.” (Krishna, Anand. (2009). One Earth One Sky One Humankind, Celebration of Unity of Diversity. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa sebenarnya Sri Rama, Gusti yang mewujud di dunia bisa bersabda, “Rahwana kau mati, Sita kau kembali!” dan kisah Ramayana akan selesai begitu singkat. Para Guru Suci mengatakan bahwa Ramayana merupakan sebuah drama untuk menunjukkan kepada dunia adanya pengabdian Hanuman. Secara fisik dia berwujud kera, akan tetapi berkat pengabdian dan dedikasinya kepada Sri Rama dan misi Sri Rama maka ia diteladani sebagai bhakta tulen, seorang panembah sejati.

Sewaktu bertemu Rama, Sugriva menunjukkan beberapa perhiasan wanita yang dijatuhkan untuk memberi tanda ke arah mana dia dibawa terbang Rahwana. Rama melihat gelang, kalung dan anting-anting dan yakin bahwa itu adalah milik Sita. Lakshmana diminta Rama melihatnya dan Lakshmana hanya mengenali gelang kaki Sita. Ketika ditanya Rama, Lakshmana menjawab bahwa selama ini dia hanya melihat kaki Sita. Yang dipikirkan hanyalah Rama dan dia sangat menghormati Rama dan istrinya. Rama sangat berbahagia mendengar jawaban Lakshmana. Ekagrata, one-pointedness yang pantas diteladani manusia dari Lakshmana.

 

Hanuman, Bhakta Sri Rama

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Pada saat awal bertemu Sri Rama dan Lakshmana, Hanuman melihat aura yang terpancar dari mereka berdua yang membuatnya terpesona. Hanuman bertanya, “Apakah Paduka penyebab utama dari dunia ini yang mewujud sebagai manusia untuk menjembatani antara duniawi dan ilahi?” Rama dan Lakshmana kemudian membuka jatidiri mereka. Hanuman segera bersujud kepada Sri Rama dan berkata, “Paduka, meskipun hamba banyak kesalahan mohon pelayan ini tidak dibuang dan dilupakan oleh Paduka!” Setelah itu Hanuman hanya berfokus pada Sri Rama, yang dipikir Hanuman hanya Sri Rama dan tidak terlintas sedikitpun pikiran tentang seks.

 

Kalung Sita

Dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan sebuah legenda tentang kepulangan Sri Rama dan Sita ke Ayodhya. Ibu Sita memberikan hadiah kalung permata kepada Hanuman. Hanuman langsung menggigit batu-batu permata tersebut. Lakshmana naik pitam dan bertanya mengapa Hanuman tidak menghargai hadiah dari Ibu Sita? Hanuman menjawab bahwa dia sedang mencoba membaui aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut. Sri Rama mendekat dan bertanya apakah Hanuman menemukan aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut? Hanuman mengatakan bahwa aroma Sri Rama tidak terdapat dalam batu-batu permata tersebut.

Lakshmana berang dan bertanya bahwa apakah Hanuman berpikir bahwa kalung pemberian Ibu Sita itu tidak ada harganya karena tidak ada aroma Sri Rama? Hanuman menjawab bahkan tubuhnya pun tidak berharga bila tidak memiliki aroma Sri Rama. Rama kemudian memberikan perintah agar Hanuman menunjukkan bahwa tubuhnya beraroma Sri Rama. Hanuman segera menyobek dadanya sendiri dan tepat di tengah-tengah dadanya terdapat gambar Sri Rama dan aroma kasturi kesukaan Sri Rama tersebar ke seluruh penjuru.

 

Lakshmana, Membhaktikan Hidupnya bagi Sri Rama

“Bagi seorang sanyasi, Brahmacharya adalah langkah awal. Tanpa pengendalian diri seorang sanyasi tidak mampu menjalankan perannya sebagai pengabdi, sebagai pelayan. Dan jika ia tidak mampu melayani tanpa pilih kasih, tidak mampu mengabdi tanpa pamrih, untuk apa menjadi sanyasi? Jika Anda ingin tetap menjalankan brahmacharya, sebaiknya menyisihkan setidaknya 2 x 45 menit setiap hari untuk latihan yoga asana  yang dapat membantu Anda mengendalikan keinginan seks. Selain itu pola makan pun mesti diperbaiki. Pure vegetarian diet, puasa sekali atau dua kali setiap minggu, dan menghindari karbohidrat yang berlebihan, semua itu akan membantu Anda. Bacaan Anda, tontonan Anda, semuanya mesti diatur kembali supaya menunjang kehidupan Anda sebagai brahmachari. Mereka yang tidak memperoleh pelajaran brahmacharya di usia dini memang harus bekerja lebih keras. Tapi Anda bisa. Anda pasti berhasil. Fokus!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Meskipun dikisahkan sebagai Grhastha, perumahtangga, Lakshmana adalah seorang Brahmachari ideal. Selama 14 tahun mendampingi Sri Rama, yang terpikirkan oleh Lakshmana hanyalah Sri Rama dan misi Sri Rama. Rama berkata bahwa Meghanada putra Rahwana adalah Komandan Raksasa yang tak terkalahkan di tiga dunia, bahkan Indra pun dikalahkan sehingga dia dikenal sebagai Indrajit. Hanya Lakshmana yang dapat mengalahkan Indrajit yang dapat menghilang dan mempunyai ilmu sihir. Dan kemenangan itu diperoleh karena kemurnian Lakshmana.

 

Diuji Sri Rama

“Walaupun tidak kawin, jika seseorang memikirkan seks melulu, maka energinya sudah pasti tersedot ke bawah. Sama saja. Jadi urusannya bukanlah kawin atau tidak kawin, urusannya adalah ‘seks secara berlebihan’, termasuk ‘memikirkan’ seks melulu. Mengapa saya mesti menjelaskan hal ini secara panjang lebar? Karena sebagai sanyasi Anda mesti memahami fenomena ini. Jangan sampai merasa sudah ‘beres’ hanya karena membujang. Paramhansa Yogananda mengingatkan bahwa sperma yang keluar dalam satu kali ejakulasi adalah sepadan dengan satu quart darah (kurang lebih 0.94 liter, hampir 1 liter). Lalu bagaimana jika tidak terjadi ejakulasi? Bagimana jika seorang hanya memikirkan seks saja? Energinya tetap tersedot ke bawah. Paramhansa Yogananda mewanti-wanti kaum pria. Karena alasan itu (berkurangnya darah setiap kali ejakulasi), dan keinginan seks seorang pria yang memang lebih kuat, maka perjalanan spiritual baginya tidak semudah bagi seorang perempuan.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ada suatu kisah yang disampaikan seorang Guru bahwa pada suatu hari Sri Rama menguji Lakshmana. Sita sedang tidur di pangkuan Sri Rama dan dia membisiki Lakshmana untuk menggantikannya karena dia mempunyai kepentingan mendesak dan tidak ingin membangunkan Sita. Lakshmana patuh dan membiarkan Sita tidur di pangkuannya. Setelah pergi Sri Rama segera datang kembali mewujud sebagai burung beo dan memperhatikan tingkah laku Lakshmana.

Lakshmana yang berdekatan dengan seorang wanita jelita tercantik di dunia ternyata menutup mata dan membaca japa, Sumitra… Sumitra… Sumitra. Rupanya Lakshmana membayangkan bahwa yang tidur di pangkuannya adalah Sumitra, ibunya.

 

Brahmacharya

Brahmachari berarti ia yang Berperilaku seperti Brahma atau Pencipta. Perhatikan ciptaannya, tidak ada sesuatu yang terulang. Dua helai daun dari satu pohon yang sama pun tidak persis sama. Penciptaan, pemeliharaan, Dan Pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendakNya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendakNya. Sebab itu remaja yang mengolah dirinya disebut Brahmachari berperilaku seperti Brahma atau sang pencipta. Kemudian gelar yang diperolehnya juga sudah tepat: Srajanahaar, sang pencipta—ia ibarat cahaya atau sinar matahari yang tengah berbagi kehidupan dengan sesama makhluk hidup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Selama enam tahun pertama seorang anak belajar menggunakan fisiknya, inderanya, menggerakkan otot-ototnya, menyesuaikan setiap gerakan dengan keinginannya. Awalnya ia mesti diajari supaya tidak ngompol dan buang air di toilet, di tempat yang sudah tersedia untuk keperluan itu. Itulah pelajaran awal pengendalian diri. Pengendalian fisik, indra, dan gerakan otot adalah proses pembelajaran awal menuju brahmacharya. Jadi brahmacharya bukan sesuatu yang aneh, kuno, kolot, atau terkait dengan salau satu kepercayaan. Brahmacharya adalah bagian dari kehidupan manusia. Tanpa pengendalian diri, sulit membedakan manusia dari hewan. Selama enam tahun pertama ini, seorang anak belum bisa mengendalikan emosinya. Jika mau menangis, ia akan menangis. Ia tidak memperhatikan waktu dan tempat. Mau berteriak, berteriak saja. Mau tertawa, tertawa saja.

“Ia mulai belajar mengendalikan emosinya dalam masa enam tahun berikutnya. Masa inilah yang biasa disebut golden years, di mana lapisan-lapisan mental/emosionalnya mulai berkembang. Ia terinspirasi oleh cerita-cerita yang didengarnya, dibacanya; oleh acara-acara di televisi; oleh pelajaran di sekolah; oleh keadaan di rumah, di lingkungan sekitarnya; dan oleh pergaulannya. Demikianlah mulai terbentuk karakter seorang anak, berdasarkan faktor-faktor di atas, mana yang lebih dominan. Kekacauan yang terjadi saat ini, banyak pejabat tinggi yang semestinya melayani masyarakat malah menyusahkan masyarakat, para pengusaha nakal yang tidak peduli dengan keadaan bangsa dan Negara, para profesional yang lupa kode etik profesinya, semuanya disebabkan oleh pendidikan yang salah selama 12 tahun awal.

“Selanjutnya, padas usia 13 tahun ke atas ketika ia memasuki usia puber, ia mulai memberontak. Ia ingin mencoba segala hal yang baru. Ia ingin menguji kekuatan mental, emosional, dan kehendaknya. Jika dilarang melakukan sesuatu, ia malah tertantang untuk mencobanya. Banyak perokok berat mulai merokok pada usia ini. Demikian pula korban alcohol. Sebab itu, amat penting sebelum memasuki usia puber seorang anak belajar untuk mengendalikan emosi dan pikirannya. Jika hal itu tidak terjadi, usia puber hanyalah pertanda bencana.

“Kemudian, sekitar usia 19 tahun seorang remaja menentukan sendiri jalur hidupnya. Ia tidak mau diintervensi. Lagi-lagi, tanpa pengedalian diri, dan tanpa arahan yang tepat, seorang remaja tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak bertanggung jawab, dan hanya mementingkan diri.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diilhami oleh Buku Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual.

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151382463028899&set=a.10150718394503899.454510.382009333898&type=1&theater

 

Situs artikel terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Kecenderungan Manusia dan Hikmah Ramayana dalam Kehidupan Kita

ramayana-Trail

Ilustrasi Ramayana sumber: www ramdas org

Sifat Tenang-Satvika, Rajas-Agresif, Tamas-Malas-malasan

“Alam ini memiliki tiga sifat utama: sifat tenang, sifat agresif, dan sifat malas-malasan. Ketiga sifat inilah yang mengikat manusia dengan badannya. Di antara ketiga sifat tersebut, sifat pertama membawakan ketenangan, namun tetap mengikat manusia dengan cara menimbulkan keinginan untuk memperoleh kebahagiaan dan pengetahuan. Sifat kedua menimbulkan nafsu dan mengikat manusia dengan menimbulkan keinginan untuk bekerja. Sifat ketiga terciptakan oleh kebodohan dan membelenggu diri manusia dengan cara menimbulkan keterikatan pada tidur berkelebihan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Sifat pertama mengikat manusia dengan kebahagiaan; sifat kedua dengan pekerjaan; dan sifat ketiga dengan ketidakpedulian.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) BG 14: 5-9

 

Melampaui Tiga Guna

Apakah Sri Rama merasa sangat menderita dalam kisah Ramayana? Jelas tidak. Ini adalah permainan, Leela Sri Rama. Apa yang dapat membahagiakanNya? Apa yang dapat membuatNya menderita? Dengan kehendakNya Dia menciptakan segalanya. Sri Rama melakukan peran dalam panggung sandiwara duniawi Ramayana untuk menunjukkan “Guna”, sifat utama manusia dan bagaimana melampauinya.

“Sifat pertama melahirkan kebijakan; sifat kedua ketamakan; sifat ketiga kesesatan, ketidakpedulian, dan kebodohan. Mereka yang memiliki sifat pertama mengalami perkembangan. Mereka yang memiliki sifat kedua berada di tengah-tengah. Mereka yang memiliki sifat ketiga hanya mengalami kemerosotan. Ia yang melihat ketiga sifat tersebut berasal dari alam dan menyadari bahwa ‘sang Aku’ melampaui sifat-sifat tersebut, akan menyatu dengan ‘Aku’. Ia yang btelah melampaui sifat-sifat ini terbebaskan dari segala macam duka yang disebabkan oleh kelahiran, kematian, kemusnahan, dan mencapai kesadaran ‘SangAku’ yang langgeng, abadi. Arjuna bertanya: Bagaimana ciri-ciri seseorang yang telah melampaui ketiga sifat tersebut? Bagaimana perilakunya dan bagaimana ia dapat melampaui sifat-sifat tersebut? Mohon dijelaskan Krishna. Krishna menjawab: Ia yang tidak membenci sesuatu, dan tidak pula merindukan sesuatu. Ia yang tetap teguh dan tidak tergoyahkan oleh sifat-sifat alami. Ia yang menganggap sama suka dan duka, emas dan batu, dan lain sebagainya. Ia yang tidak terpengaruh oleh cacian dan pujian dan sama terhadap kawan dan lawan. Ialah yang telah melampauiketiga sifat alam itu. Ia yang menjadikan hidupnya sebagai pengabdian dalam kasih dan untuk kasih – Ialah yang telah melampaui ketiga sifat alam dan layak untuk menyatu dengan ‘Sang Aku’. Ketahuilah bahwa ‘Akulah Yang Teringgi, Yang Langgeng dan Abadi’ dan tidak dapat dijelaskan, namun menyebabkan Kebahagiaan Sejati yang tak terbandingkan.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) BG 14: 17-27

 

Hikmah Ramayana

Dalam Sandeha Nivarini Sai Baba menyampaikan bahwa kita lahir di “maya”, dibesarkan di “maya”, dan misi manusia adalah untuk melampaui “maya”. Sifat utama manusia atau Guna tidak dapat diekspresikan tanpa adanya indera, oleh karena itu kita lahir dengan indera, dibesarkan dalam  indera, kita harus menguasai indera.

Ibarat layar bioskop. Kita bisa melihat gambar-gambar yang silih berganti di layar, dan itulah “maya” kita hidup dalam berbagai gambar di layar. Bagaimana pun semua gambar yang membuat kita merasa susah dan senang hanya bersifat sementara. Sementara ini, kita belum melampaui gambar-gambar yang sementara di layar untuk melihat layar berbingkai yang permanen.

Sri Rama, lahir sebagai putra Dasharatha, sepuluh kereta yang merupakan kereta-kereta dari indera serta organ-organ indera. Dasharatha adalah lambang dari diri kita. Ibu kita, atau tiga permaisuri Dasharatha mewakili ketiga Guna, sifat utama manusia. Kausalya adalah sathvaguna, sifat tenang. Kaikeyi adalah rajoguna, sifat agresif. Sedangkan Sumitra adalah Tamoguna, sifat bermalas-malasan. Kaikeyi yang agresif mudah terhasut Manthara, pembantunya, sehingga menginginkan Bharata, putranya untuk menggantikan Dasharatha, sebagai raja Ayodhya. Ketika Bharata pergi, sang ibu membersihkan jalan bagi putranya menuju tahta dengan cara mengusir Rama, Sita istri Rama, dan Lakshmana ke hutan. Dasharatha walau dengan penuh kesedihan terpaksa mengikuti kecenderungan agresif dari Kaikeyi.

Dalam rimba kehidupan, Jiwa atau Sita terperangkap oleh Ego, Rahwana. Untuk memperoleh kembali jiwa yang terperangkap oleh ego, maka Sri Rama, dalam perjalanan kegelisahan bertemu dengan kera kembar perkasa, Subali yang melambangkan keputusasaan dan saudaranya Sugriva yang melambangkan viveka, kemampuan memilah, diskriminasi. Dengan bantuan Hanuman atau Keberanian Sri Rama memilih Sugriva melenyapkan keputusasaan. Berapa banyak manusia yang kala menghadapi permasalahan yang berat, jatuh dalam keputusasaan dan menyerah? Dengan bantuan Sugriva, viveka, diskriminasi dan pasukannya yang penuh semangat, kekuatan dan ketabahan yang diwakili oleh Jambavan, Anggada dan para wanara lainnya serta rasa bhakti Hanuman, Sri Rama membuat Setubandha, jembatan untuk menyeberangi samudera ilusi atau maya. Setelah dapat menyeberangi maya, maka Sri Rama mengalahkan sifat Tamas yang dilambangkan oleh Kumbhakarna dan kemudian sifat Rajas yang diwakili oleh Rahwana. Dan, setelah itu Sri Rama menobatkan sifat Satvika, Vibhisana sebagai raja. Persatuan antara Sita dan Rama adalah Ananda, kebahagiaan abadi.

Ramayana terjadi dalam setiap orang, apakah orang tersebut masih dalam tahap tergoda oleh kijang kencana dunia, ataukah dia sedang menghadapi keputusasaan, mungkin juga dia sudah menjadi bhakta, panembah sudah bertemu Hanuman, sehingga sudah siap untuk menyeberangi samudera ilusi untuk mengalahkan sifat agresif, bermalas-malas dan berteman dengan kecenderungan yang tenang, seimbang. Demikian piawainya Resi Walmiki menguasai ilmu duniawi dan spiritual, sehingga bisa menggambarkan karakter para pelaku dengan sifat utama yang sesuai dengannya.

 

Mempraktekkan Pemahaman dalam Kehidupan Sehari-hari  

“Pengetahuan sedikit, asal dipraktekkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang ‘nganggur’, yang tidak dipraktekkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Jangan “mengoleksi pengetahuan”. Anda boleh menimbun ratusan, bahkan ribuan ‘ton’ pengetahuan. Apa gunanya? ‘Sekilo’ yang digunakan jauh lebih bermakna … Kepalamu, otakmu jangan dijadikan perpustakaan. Pengetahuan hendaknya dipraktekkan, tidak hanya ditimbun terus. Anda hanya membebani otak anda.” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pemahaman kisah Ramayana perlu dipraktekkan dalam keseharian. Menurut Sai Baba dalam Sandeha Nivarini, kita memiliki Veda, Sastra, Purana dan Ithihasa. Kita diberi nasehat untuk mengambil hikmahnya, mematuhi jalan yang diajarkan, mengumpulkan pengalaman, memahami makna dan pesan para bijak, mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, menganggap Paramatma sebagai Guru dan melakukan Sadhana dengan cinta yang tak tergoyahkan. Dia akan muncul memberikan petunjuk. Dia mungkin juga memberkati sebagai akibat dari praktek Sadhana, sehingga kita bisa bertemu Sadguru.

“Shankara sangat berhati-hati dalam hal penggunaan kata. Yang disebut obat mujarab untuk membebaskan diri dari penyakit ketidaksadaran bukanlah ‘Kesadaran akan Sang Aku Sejati’, tetapi ‘senantiasa memelihara kesadaran akan Sang Aku Sejati’. Bahkan istilah Sanskerta yang digunakan adalah Nirantara Abhyastaa. Nirantara berarti senantiasa, setiap saat—continuously, without a break. Dan Abhyastaa bukan semata-mata ‘memelihara’, tetapi juga ‘melakoni’, mempraktekkan. ‘Kesadaran akan Sang Aku Sejati’ mudah diperoleh. Siapa saja bisa memperolehnya. Yang sulit adalah ‘pemeliharaan’ kesadaran itu. Lebih sulit lagi, ‘melakoninya’ di dalam hidup sehari-hari. But if you succed to do that, bila Anda berhasil memelihara dan melakoninya, maka: Terbebaskanlah dirimu dari ketidaksadaran, dari kegelisahan, dari kecemasan, dari kebingungan, kebimbangan dan keraguan yang disebabkan oleh ketidaksadaran.” (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Sifat Feminin Energi Dalam Diri dan Festival Navaratri

Navratri Durga artikel 1 sumber dussehrawishes 2013

Ilustrasi Celebrate Navrati sumber Dussehrawishes in

Kali Maha Shakti

“Dewi Kali adalah personifikasi dari kekuasaan Ilahi yang menguasai Kala, Sang Waktu. Shiva atau Sang Kala, berada di bawah kakinya. Tidak hanya waktu, ia juga melampaui Ruang. Karena, Waktu dan Ruang tidak dapat dipisahkan. Sebab itu Kali adalah personifikasi Ilahi yang Tertinggi. Ia adalah Maha Shakti, The Supreme Energy. Tidak ada kekuatan yang lebih tinggi darinya. Ia memiliki banyak nama, banyak sebutan. Bahkan, sesungguhnya setiap nama dan setiap sebutan yang ada di jagat raya ini Menunjuk kepadanya.” (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

 

Penghormatan terhadap Penguasa Alam Semesta sebagai Ibu

Bunda Alam Semesta, dalam lingkup yang lebih kecil Bunda Bumi atau Ibu Pertiwi adalah personifikasi alam dalam wujud seorang ibu. Bila sewaktu masih bayi, makan dan minum kita disediakan oleh ibu, maka sampai dewasa pun apa yang kita makan dan minum disediakan oleh Bunda Bumi. Rumah dan kendaraan yang kita gunakan sumbernya berasal dari Bunda Bumi. Bahkan mereka yang bepergian ke bulan membawa oksigen, air, makanan dan menggunakan pesawat luar angkasa yang semua bahannya berasal dari Bunda Bumi.

Pada zaman dahulu, leluhur kita menghormati Bunda Alam semesta yang dikaitkan dengan kesuburan tanah dan karunia pertanian. Pada Candi Jago di Jawa Timur ada arca Bhrkuti Tara. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah ada arca Durga. Pada Candi Kalasan di Yogyakarta ada arca Tara. Sejak dulu masyarakat menghormati Dewi Sri. Masyarakat kita mengenal istilah Ibu Kota, Ibu Jari, Ibu Pertiwi, Sel Induk dan sebagainya. Setelah kejatuhan Majapahit, Dewi Durga yang dipuja Raja Erlangga mulai dijelek-jelekkan dengan kisah-kisah tambahan seperti Calon Arang  pemuja Bathari Durga yang jahat. Selanjutnya, Dewi Durga diungkapkan sebagai Bathari Durga yang jahat seperti dalam kisah Sudamala yang merupakan relief tambahan pada Candi Sukuh. Ratu Selatan pun dijelekkan namanya menjadi Siluman Ratu Kidul tempat orang mencari kekayaan dengan cara tidak halal. Adalah tidak mudah mengembalikan masyarakat untuk menghormati Ilahi dalam wujud feminin. Hanya mereka yang sadar, yang penuh kasih, yang tidak angkuh, yang tidak bias gender yang diberkati sifat feminin dalam diri.

 

Candi Bunda Ilahi

Istilah Candi dari Candika adalah nama Bunda Ilahi sebagaimana dimaksud dalam Kisah Dewi Mahatmyam. Silakan baca:

http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/04/perang-batin-tak-kunjung-usai-kisah-shumbha-nishumbha-dalam-devi-mahatmyam-598280.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/27/menaklukkan-rasa-angkuh-dalam-diri-kisah-chanda-munda-dalam-devi-mahatmyam-596249.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/21/menaklukkan-nafsu-agresif-dengan-seribu-wujud-kisah-mahishasura-pada-candi-prambanan–594528.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/16/menaklukkan-kejahatan-dalam-diri-kisah-madhu-dan-kaitabha-dalam-devi-mahatmyam-592958.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/10/pengantar-kisah-devi-mahatmyam-dalam-markandeya-purana-591239.html

Sejak zaman dahulu, masyarakat memuja Durga, Lakshmi dan Sarasvati sebagai wujud Bunda Ilahi yang mewakili tiga jenis potensi dalam diri manusia. Shakti adalah energi, bahkan ShIva tanpa I (energi) adalah Shava yang berarti jasad. Tanpa energi bahkan dewa pun tidak bisa bergerak.

“X adalah energi Feminin, yang menggerakkan kita. Seorang laki-laki tidak akan tercipta tanpa X, dia tidak bisa hidup hanya dengan kombinasi Y-Y. Sedangkan perempuan bisa hidup tanpa Y, dia bisa  hidup hanya dengan kombinasi X-X. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. (Krishna, Anand. (2009). The Gospel Of Obama. Koperasi Global Anand Krishna bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram)

 

Potensi Bunda Ilahi dalam Diri

Ada 3 potensi dalam diri manusia yang dilambangkan dengan 3 shakti. Energi feminin dalam diri dilambangkan dengan: Icchaashakti atau Lakshmi, Gyaanshakti atau Sarasvati dan Kriyashakti atau Durga.

Iccha Shakti atau The Power of Firm Will, Kekuatan Niat, Tekad yang Bulat. Gyaan Shakti atau The Power of Expansive Wisdom, Kekuatan Kebijaksanaan yang Meluas dan Meliputi Segalanya. Kebijaksaan yang memperluas wawasan kita. Sesuatu yang mempersempit wawasan bukanlah kebijaksanaan. Itu adalah pengetahuan belaka. Kriya Shakti atau The Power of Right and Effective Action, Kekuatan Tindakan yang Tepat dan Efektif, Berguna.” (Krishna, Anand. (2009). Total Success Meraih Keberhasilan Sejati. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ketika manusia melupakan Ilahi dan terobsesi untuk menikmati manfaat alam, ia menjadi seperti Rahvana yang membawa kehancuran bagi diri sendiri. Untuk selalu mengingat keilahian, seseorang perlu memiliki kemurnian hati, diwakili oleh jantung yang merupakan wujud kesejahteraan atau Lakshmi.  Dia juga perlu melengkapi diri dengan kemurnian dalam ucapan, yang merupakan wujud kebijaksanaan atau Sarasvati. Dia perlu menyempurnakan dengan kemurnian dalam tindakan yang diwakili oleh Parvati. Ketiga kemurnian ini dalam vedanta disebut sebagai Tripurasundari.

Sejak dahulu, manusia menggambarkan potensi halus dalam diri mereka dengan gambaran Lakshmi, Sarasvati dan Parvati. Hubungan antara materi dan yang lebih halus perlu dipahami. Obat bagi kehidupan manusia terkandung di dalam diri. Patut disayangkan bahwa manusia melupakan kekuatan dalam diri dan tertarik terhadap bentuk fisik yang berada di luar diri.

 

Kisah Devi Mahatmyam sebagai latar belakang Festival Navaratri

Ketiga aspek Dewi Durga dapat langsung dipetakan kepada tiga atribut makhluk hidup yaitu Satvik, Rajas dan Tamas. Ketiga sifat satvik, rajas dan tamas harus dikendalikan dan dilampaui.

Madhu-Kaitabha merupakan wujud kasar dari karakter rendah (asura) manusia, ego palsu yang membuat orang lupa akan jatidirinya. Mempercayai ego palsu termasuk kemalasan untuk berupaya menemukan jatidiri (Sifat Tamas). Madhu Kaithaba muncul kala Kesadaran Vishnu di dalam diri sedang tidur.

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) asura dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Mahishasura merupakan kejahatan yang bersifat dinamis (Sifat Rajas).

Shumbha dan Nishumbha adalah asura dengan jenis jauh lebih halus, dia adalah raja, sangat kaya, sangat berbudaya, tetapi sangat angkuh. Dia memiliki dominasi atas semua  kebaikan dan ia memiliki seluruh kekayaan dunia. Segala sesuatu yang diinginkan, semua yang terbaik dimiliki oleh dia yang tak terkalahkan dan dia memerintah sejumlah besar panglima. Salah satu panglimanya adalah kejahatan yang disebut Rakthabija yang disamakan dengan karakter jahat yang disebabkan genetik bawaan manusia. Setelah terjadi transformasi dengan mengubah karakter maka kehancuran terakhir dari Shumbha dan Nishumbha baru mungkin terlaksana. Ego yang halus adalah penghalang terakhir hubungan antara manusia dengan Tuhan. Selama masih ada ego masih terjadi dualitas dalam diri.

 

Navaratri

Arti harafiahnya adalah sembilan malam (prakteknya bisa lebih panjang, bisa lebih pendek). Dalam waktu tersebut manusia melakukan penghormatan terhadap Energi Feminin dalam Diri, yang dilambangkan dengan Durga, Laksmi dan Sarasvati. Sesuai dengan ilmu pengetahuan maka energi adalah kekal, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, selalu eksis.

Seorang bayi menghormati ibunya yang baginya merupakan segala-galanya, demikian juga manusia menganggap Bunda Ilahi sebagai kekuatan Ilahi yang menghidupinya.

Manusia yakin bahwa kekuatan energi matahari menyebabkan beberapa perubahan pada alam. Awal Musim Semi dan Awal Musim Gugur adalah waktu penting terjadinya perubahan alam. Manusia perlu berterima kasih kepada Energi yang memelihara keseimbangan bumi. Karena perubahan alam, maka tubuh dan pikiran manusia juga mengalami perubahan. Manusia perlu menghormati perubahan alam ini untuk menjaga keseimbangan fisik dan mentalnya.

Puasa Navaratri dilakukan 7-9 hari sebagai penghormatan terhadap energi feminin dalam diri. Kecenderungan manusia adalah terjebak dalam pola tertentu. Pola makan tertentu sebenarnya adalah tanda disiplin dari diri, akan tetapi pola yang membelenggu juga merupakan kelemahan. Saat terlibat dalam makanan kita sering lupa bahwa seharusnya kita makan untuk hidup dan bukan sebaliknya. Tubuh mempunyai kapasitas tertentu, akan tetapi indra kita selalu craving, sangat butuh untuk dipenuhi. Puasa memberi kesempatan pada tubuh untuk keluar dari pola lama yang membelenggu dan memberi arah yang baru.

Menghormati Durga, energi feminin dalam diri dipercayai akan memberikan keberuntungan, kesejahteraan, pengetahuan dan kekuatan ampuh untuk menyeberangi samudera rintangan kehidupan.

 

Situs artikel terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Konflik Antar Agama di Indonesia Sebagai Akibat Programming Sejak Kecil

buku iching-500x500

Melihat Kebenaran dari Satu Sisi

“Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau Buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja.” (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Seluruh pertikaian, termasuk (mungkin harus dikatakan ‘lebih-lebih’) pertikaian berdasar agama terjadi hanya karena perbedaan conditioning itu. Kita lupa bahwa di balik kondisi-kondisi tersebut ada Langit Mahaluas yang tak terbagi oleh awan conditioning – Langit Kebenaran Yang Satu Adanya. Pertikaian terjadi karena kegagalan kita melihat Langit Kebenaran. Kita memperhatikan awan melulu. (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Program Kebenaran yang Diberikan Secara Repetitif Intensif Sejak Kecil

Seorang anak lahir membawa genetik bawaan dari orang tuanya, kemudian mendapatkan pengetahuan kebenaran dari orang tua, pendidikan dan lingkungan. Kebenaran dari anak tersebut adalah kebenaran menurut kerangka yang diberikan kepada dirinya. Beda negara, beda pendidikan, beda lingkungan akan menyebabkan perbedaan pemahaman kebenaran. Dengan pemahaman tersebut maka kita bisa mengapresiasi kebenaran sebagaimana yang dipahami oleh orang lain.

Seingat kami sewaktu tahun 60-an, saat kami masih Sekolah Dasar di Solo, perbedaan keyakinan tersebut tidak mempengaruhi pergaulan di masyarakat. Teman-teman kami ada yang orang tuanya berasal dari Muhammadiyah, NU, Katholik, Protestan, Kelenteng, Pangestu tetapi itu tidak mempengaruhi hubungan pergaulan. Pada waktu itu toleransi bersifat nyata, sesuai dengan budaya kita. Pertanyaannya, mengapa intoleransi semakin banyak terjadi di masyarakat masa kini? Apakah program kebenaraan yang diberikan lebih keras dibanding zaman dulu? Apakah anak-anak kita sudah dijejali program kebencian terhadap mereka yang berbeda keyakinan secara repetitif intensif?

Pengulangan secara repetitif intensif membuat sesuatu menjadi nyata. “Adolf Hitler menulis dalam otobiografinya bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan adalah metode hypnosis. Apa yang diulangi secara terus-menerus itu akan terukir pada dirimu. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup. (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual Hypnotherapy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Contoh nyata dari pengulangan secara repetitif intensif yang berhasil adalah pemasangan iklan. “Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu. Hitler: Adalah pengulangan yang membedakan kebenaran dari kepalsuan. (Sering kali) kepalsuan yang diulangi secara terus-menerus diterima sebagai kebenaran. Manusia bisa mempercayai apa saja. Ia bisa percaya pada kepalsuan. Ia bisa dibohongi dengan sangat mudah… ia dapat mempercayai apa saja yang diulangi secara terus-menerus!” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual Hypnotherapy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebebasan Beragama dalam UUD 45

UUD 45 pasal 28 dan 29 menjamin kebebasan beragama.

Pasal 28 E: Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaannya, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Pasal 29: Negara berdasar atas ketuhanan Yang Maha Esa.Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Ayat-Ayat Yang Menghormati Keyakinan Lain

Pada zaman dahulu, belum zamannya komputer, akan tetapi para pemuka agama dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menghormati keyakinan orang lain. Beberapa ayat di bawah ini pada saat ini sering diberi pengertian tambahan yang membuat kita kurang rasa toleransi terhadap keyakinan lain.

Sesungguhnya orang-orang mumin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:62)

Sesungguhnya orang-orang mumin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 5:69)

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS.5:48)

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. QS.3:113.

Bukan Masalah Agama tetapi Masalah Programming

“Masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia. Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran , maka kepercayaan pun harus ditingkatkan. Seorang anak kecil mempercayai ibunya. Menjelang usia remaja, ia mulai mempercayai para sahabatnya, pacarnya. Kalau sudah bekerja, ia akan mulai mempercayai rekan kerjanya. Bersama usia dan pengalaman hidup , kepercayaan dia pun berkembang terus. Ia bahkan mulai mempercayai berita di koran. Ia akan mempercayai siaran radio dan televisi. Kepercayaan yang berkembang terus ini sangat indah. Kepercayaan yang berkembang terus itu membuktikan bahwa kesadaran anda sedang meningkat. Sampai pada suatu ketika, anda akan mempercayai Keberadaan. Pada saat itu, kepercayaan anda baru bisa disebut “spiritual”…… (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kepatuhan Buta terhadap Programming

“Kepatuhan buta terhadap programming dapat membuat manusia menjadi mesin, persis seperti robot, membuat kita menjadi komputer. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, ucapan, pikiran, perasaan dalam diri kita. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, kita hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan kita pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada kita.” (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Sejak lahir, kita berhadapan dengan kepercayaan. Bukan pendidikan tetapi kepercayaan. Bukan pula pendidikan tentang kepercayaan-kepercayaan tetapi dogma dan doktrin dengan salah satu kepercayaan yang sudah baku. Sudah tidak ada tawar menawar lagi. Sejak lahir, seorang anak sudah diberi cap agama tertentu. la tidak diberi kesempatan untuk memilih dan harus menerima apa yang sudah ditentukan oleh kedua orangtuanya baginya. Hak pilih kita sudah dirampas sejak kelahiran. Generasi Robot. Sudah di-set, di-program, dan dikendalikan oleh remote control yang berada di tangan masyarakat. Robot tidak membutuhkan rasa percaya diri. Cukuplah ia berserah diri pada pemegang kendalinya. Bahkan ia tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya bergerak hanya bila digerakkan oleh sang pengendali. Kita hidup sebagai budak dari dogma, doktrin, kepercayaan, lembaga, institusi, atau kepentingan lain dari masyarakat tertentu. Kita tidak merdeka, belum merdeka. Kita tidak memahami arti kebebasan” ……. “Manusia tidak diciptakan atau tercipta untuk menjadi robot. la pun tidak lahir untuk menciptakan robot-robot manusia dan tidak berhak mengubah manusia menjadi robot yang dapat di-set dan di-program. Sebagian besar Generasi Robot bahkan tidak sadar bahwa kemanusiaan dalam diri mereka sudah mati. Kemanusiaan mereka sudah dirampas sejak lahir. Kita telah menjadi korban dari kepentingan-kepentingan pribadi orang tua kita yang seharusnya memfasilitasi untuk berkembang dan tidak mengerdilkan jiwa kita supaya mengikuti kehendak mereka. Celakanya, orangtua kita pun demikian. Mereka pun adalah korban dari sistem yang sama. Ujung-ujungnya bukan mereka pula yang memegang kendali tetapi sebuah sistem yaitu masyarakat bersama institusi-institusi buatannya yang memegang kendali. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sulit membawa perubahan total, drastis, dan sekaligus bagi seluruh umat manusia.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bahaya Programming yang Memecah-belah NKRI

Kebiasaan menerima kebenaran instan tanpa diolah lebih dulu sangat berbahaya. “Kebiasaan menerima ‘kebenaran siap-saji’ dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat ‘disetel’, dapat ‘diprogram’, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya……… Ini yang dilakukan oleh ‘para otak teroris’. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka’. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap satu-satunya kebenaran.” (Krishna, Anand. (2005). Dari Sari’at Menuju Mohabbat. Jakarta: One Earth Media)

Dari kecil, anak-anak kita diracuni dengan pandangan-pandangan yang mengkotak-kotakkan jiwa mereka, “Kau Muslim, kau Hindu, kau Buddhis, kau Kristen, kau Katolik – Kau Cina, kau Bombay, kau Melayu, kau Sunda – kau ini, kau itu.” Bibit perpecahan ini harus dimusnahkan dengan penuh kesadaran. Semoga semakin banyak anak-anak bangsa yang sadar. Disusun oleh TW.

Indonesia Gawat Darurat karena Fundamentalisme, Sebuah Pandangan Internasional

Anand krishna last man standing www.humanitad.org

Sumber: http://www.humanitad.org/

 

Ulasan Video Youtube: “Anand Krishna: Last Man Standing” (A Film by Humanitad)

Peringatan Gus Dur di tahun 2004

“Pada tahun 2004 saya ketemu Gus Dur yang menyatakan bahwa Indonesia di ambang keadaan gawat darurat karena sedang digiring ke arah fundamentalisme. Prediksi Gusdur memang tepat, setelah melihat kejadian-kejadian Indonesia di tahun-tahun belakangan.” Demikian pernyataan Sacha Stone, Pendiri Humanitad dalam video “Anand Krishna: Last Man Standing” (A Film by Humanitad) http://www.youtube.com/watch?v=anjGKzTtvio. Video berdurasi 37 menit sudah dilihat lebih dari 35.000 pemirsa internasional sejak diupload pada bulan Mei 2013. Sedangkan yang dilengkapi subtitle Indonesia  http://www.youtube.com/watch?v=8JglZ_0-s5E&feature=share sudah dilihat lebih dari 360 pemirsa seminggu setelah diupload di youtube pada tanggal 5 Juni 2013.

Sacha Stone adalah pendiri Humanitad. Humanitad adalah organisasi netral, nirlaba internasional yang didedikasikan untuk menyatukan bangsa, agama dan budaya. Organisasi berfungsi sebagai fasilitator untuk pertukaran ide untuk melayani perbaikan manusia dan lingkungan.

 

Tanggapan Video Yang Memerlukan Perenungan Bersama Sebuah Bangsa

Berikut adalah contoh beberapa tanggapan dari sekitar lima puluhan tanggapan dari pemirsa luar negeri tentang video tersebut:

Tells it like it is. The Indonesian justice system is completely corrupted and out of control. This man should never have seen a day inside a prison, yet in a cell he remains, regardless of having been acquitted by the Indonesian supreme court. (Demikianlah kenyataannya. Sistem Peradilan Indonesia benar-benar rusak dan tidak terkontrol. Seharusnya orang ini tidak layak dipenjara, namun tetap dimasukkan penjara, terlepas dari pengabulan kasasi oleh Mahkamah Agung Indonesia).

Look around in all the countrys this is happing everywhere!! there are the people that force there will on others through LIES / MANIPULATION / BRIBERY / BLACKMAIL !!! then there are people that are for freedom / peace / truth / love of all mankind that people jest follow because of who they are and what they stand for and therefor the ones in power will do anything to distroy them !! (Lihatlah sekeliling di semua negara, hal ini terjadi dimana-mana. Ada orang-orang yang memaksakan kemauan terhadap orang lain melalui kebohongan/manipulasi/suap/pemerasan! Kemudian ada orang yang menyuarakan kebebasan/perdamaian/kebenaran/cinta terhadap seluruh umat manusia, orang mengikuti apa yang dia perjuangkan. Oleh karenanya mereka yang mempunyai kekuasaan melakukan apa pun untuk menghancurkan mereka).

 

Peristiwa Pemukulan Para Peserta AKKBB oleh FPI Pada 1 Juni 2008

Film dimulai dengan peristiwa 1 Juni 2008 saat AKKBB, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan melakukan aksi damai memperingati hari lahir Pancasila di Monas Jakarta. Sebelum acara dimulai AKKBB termasuk NIM, National Integration Movement diserang FPI. Seluruh peserta aksi damai dikejar-kejar dan dipukuli beramai-ramai oleh FPI. Nampak dalam film seorang memakai kaus Aku Cinta Indonesia dipukuli oleh sekelompok FPI. Kemudian Gus Dur meminta mereka yang membuat ulah ini harus ditangkap. Habib Rizieq dan Munarman akhirnya dipenjara selama 18 bulan. Dalam video tersebut juga disampaikan bahwa paling tidak terjadi  1062 pelanggaran serius atas kebebasan beragama antara tahun 2007-2011, termasuk pembunuhan dan pembakaran rumah ibadah.

Nampaknya Humanitad cukup jeli dalam membuat film, karena sejak peristiwa 1 Juni 2008 kemudian diikuti banyak peristiwa lainnya seperti Lia Eden 2009, Ahmadiyah Cikeusik 2011, Syiah Sampang 2012, GKI Yasmin sampai Anand Krishna. Nampaknya gerakan fundamentalisme yang merongrong persatuan Indonesia seperti yang dikhawatirkan oleh Gus Dur mulai menjadi kenyataan.

 

Mengapa Anand Krishna Menjadi Target? Baca lebih lanjut

Tarian Aceh Budaya Lokal Yang Dimusnahkan Pelan Pelan Atas Nama Hukum Syariah

tari

 

Sumber: liputan6.com

 

Tarian Adat Aceh Sarat Dengan Islam

“Untuk apa melarang perempuan dewasa menari sekalipun itu tarian adat, konser-konser band di Lapangan Sudirman (Lhokseumawe, Aceh Utara) itu kenapa tidak dilarang?” ujar Yusdedi Pakar Budaya Aceh yang juga koreografer seni tari tradisional Aceh di Lhokseumawe, Aceh Utara. Tarian adat Aceh sarat dengan Islam, Tarian Saman, Seudati, dan Ranub Lampuan bagian dari syiar Islam sejak zaman kerajaan dulu. Lewat seni tari itu, orang-orang terdahulu melakukan syiar Islam untuk memperbaiki akhlak manusia. Kearifan Lokal Budaya Aceh bisa hilang. Adat bak po teumeuruhom, adat dan Islam sudah menyatu di Aceh dan seharusnya dijaga oleh para pemimpin.

Demikian salah satu tanggapan yang diperoleh dari harian Aceh Post dan berikut dari beberapa media lain saat search Google di dunia maya menanggapi pernyataan pelarangan menari bagi perempuan dewasa. Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib menyatakan, “Perempuan menari tarian apa pun di depan laki-laki itu bertentangan dengan hukum syariah. Beda kalau yang menari itu anak-anak. Jika ingin menampil tarian adat saat penyambutan tamu maka akan lebih baik jika tarian itu dimainkan oleh anak-anak perempuan yang belum dewasa.” Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara menyatakan sangat setuju dan mendukung kebijakan yang dibuat oleh bupati Aceh Utara tersebut. Menurut MPU Aceh Utara, menari di depan orang banyak yang juga terdapat laki-laki bagi perempuan dewasa sama saja dengan maksiat.

 

Tanggapan Pelatih Tari Tentang Larangan Menari Bagi Perempuan Dewasa

Syeh Seudati dari Sanggar Jeumpa Puteh Aceh Utara, Syeh Yan Jeumpa menyebutkan seudati dan tari tradisional Aceh lainnya sangat terhormat.  Dari segi pakaian dan gerakan tarian, tidak ada yang melanggar syariat Islam. Larangan itu tidak tepat, sebaliknya mesti kita dorong generasi kita untuk merawat seni dan budaya Aceh jangan sampai hilang.

Pelatih tari Simeulue, Amsaruddin, menilai keterlibatan perempuan dalam seni tari sangat penting dan tidak melanggar norma. “Dalam dunia seni tari, yang menjadi bunganya adalah perempuan, jadi agak aneh jika seni tari tidak ada perempuan.”

 

Tanggapan Penari Tentang Larangan Menari Bagi Perempuan Dewasa

Dari search Google: Menjaga Seni Budaya pun kini dilarang, kita dapat merasakan kegalauan seorang penari Aceh. Aini, Alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, pada saat kuliah selalu menggunakan jilbab. Dan selama kuliah telah melanglang buana ke berbagai negara untuk memperkenalkan seni tari tradisional Aceh. Dia telah bergelut dengan seni tari sejak masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Kabupaten Aceh Utara. Saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, Aini juga bergabung dengan sanggar seni yang terdapat di IAIN Ar-Raniry. “Saya bingung, di mana salahnya tarian adat Aceh yang dimainkan oleh perempuan dewasa sehingga bupati melarang perempuan dewasa menari di depan umum? Tidak ada gerakan tarian adat Aceh yang erotis, pakaian adat Aceh juga sangat sopan, syair yang dibawa juga semuanya tentang nasehat, khususnya tentang syiar Islam.”

Sebagian besar tarian adat Aceh merupakan hasil ciptaan sejumlah ulama saat mengembangkan Islam di berbagai daerah di Aceh. Tari Saman misalnya berasal dari Kabupaten Gayo Lues yang dikembangkan oleh salah seorang ulama saat mengembangkan Islam di daerah Gayo Lues. Tarian Likok Pulo berasal dari pulau di Kabupaten Aceh Besar juga diciptakan oleh seorang ulama yang terdampar ke Pulau tersebut. Tari Seudati dari kata “syahadat” berasal dari pantai Timur Aceh yang juga diciptakan oleh ulama.

“Kami tidak meminta uang kepada pemerintah untuk menjaga warisan nenek moyang. Kami terus menari karena kami sadar hanya seperti itu seni budaya Aceh akan terus bertahan. Jika ulama zaman dulu membolehkan tarian ini dimainkan, bahkan mereka menciptakan tarian tersebut, kenapa malah sekarang dilarang karena alasan tidak sesuai dengan syariat Islam. Ini kan aneh. Kami menjaga seni budaya Aceh bukan untuk mencari uang. Kami tidak kaya dan tidak akan pernah kaya dengan menari tarian Aceh. Kami melakukan ini semua hanya untuk menjaga agar anak cucu kita kenal tarian nenek moyangnya.”

 

Memusnahkan Kesenian Adat Secara Pelan-Pelan

Tidak semua tari tradisional Aceh dapat dimainkan oleh anak-anak. Ada beberapa tarian Aceh jika dimainnya oleh anak-anak maka sangat berisiko anak-anak tersebut terluka. Dengan hanya anak-anak yang boleh menarikan tarian, maka tarian tersebut tidak akan lestari. Mungkin negeri tetangga justru akan melestarikan dan mengaku tarian tersebut berasal dari negerinya. Guru-guru hanya memberikan latihan sedangkan dia sendiri tidak boleh pentas. Akan terjadi degradasi tarian adat di Aceh.

Bagi suku Arab, keseragaman merupakan keutamaan yang didukung oleh alamnya. Mereka berada di tengah padang pasir yang sama dengan jumlah tanaman yang sangat terbatas. Cara pandang mereka terhadap kehidupan terbentuk oleh keterbatasan alam semacam itu. Kasusnya berbeda di sini. Filofosi kita, “Tampak Beda, Sesungguhnya Satu,” adalah hasil dari keberagaman sumber daya alam, kondisi geografis, dan budaya kita. Kembali ke awal tahun 1990-an ketika ilmuwan politik Samuel P Huntington mulai mengelaborasi teori sejarawan Bernard Lewis seputar Clash of Civilization atau benturan peradaban, banyak dari kita tak setuju dengannya. Barangkali, kita merasa istilah “civilization” atau peradaban terlalu provokatif. Yang dimaksud dengan peradaban sesungguhnya adalah “identitas agama dan budaya.” Perbenturan identitas macam inilah yang mereka ramalkan. Inilah yang terjadi saat ini. Aceh sedang terkoyak antara budaya lokalnya sendiri dan identitas keagamaannya. (Krishna, Anand. (2010). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Budaya Nusantara

Budaya Nusantara yang membentuk watak dasar, jiwa orang Indonesia, tak akan terkalahkan oleh pengaruh asing. Janganlah kau mengkhawatirkan hal itu. Jangan pula kau percaya bahwa sesuatu seperti itu akan terjadi. Budaya Asal kita sudah berusia lebih dari 5.000 tahun, sudah mapan, sudah memiliki bentuk khas Nusantara. Budaya-budaya asing yang saat ini mempengaruhi kita masih mencari bentuk, masih belum berakar. Lagi-lagi, silakan kau beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddhis, apa saja, kau adalah Orang Indonesia-Indonesia yang beradab, dan sudah berbudaya, ketika budaya-budaya yang kau kagumi saat ini masih belum lahir. (Krishna, Anand. (2005). Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog. One Earth Media)

Manusia Indonesia memiliki budaya sendiri, budaya asal yang sudah terekam pada DNA-nya. Sementara, para pakar agama sedang berjuang mati-matian memperkenalkan budaya asing. Entah itu budaya Arab, atau budaya India, atau budaya Barat atau budaya Cina. Selama upaya mereka sebatas “memperkenalkan”, oke-oke saja. Umumnya, mereka tidak berhenti disitu. Mereka berupaya untuk mencuci otak kita. Ya, otak saya dan otak anda, otak Manusia Indonesia! Ada upaya-upaya terorganisir untuk mengarabkan, mengindiakan, mencinakan, membaratkan otak kita. Saya pikir para pakar pun sama sekali tidak sadar bahwa upaya mereka selama ini telah menciptakan manusia-manusia berkepribadian ganda. Mayoritas Manusia Indonesia menderita konflik batin. Konflik antara agama dan budaya. Kita telah melupakan agama asal kita, budaya asal kita dan demikianlah jadinya. Banyak yang mengaku tidak menderita konflik batin. Padahal merekalah penderita paling parah. Begitu parah, sampai tidak sadar akan penderitaan. Mereka sudah terbiasa. Tidak sadar bahwa diri mereka sakit. Bahwa ada konflik dalam batin mereka. (Krishna, Anand. (2008). Sehat Dalam Sekejap, Medina. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Aceh Bagian Dari Kepribadian kami

Tinggal selama 4 tahun pada tahun 90-an di tanah rencong mempengaruhi kepribadian kami. Kami pernah tinggal di Sigli, Aceh Pidie kemudian pindah ke Banda Aceh sebelum pindah ke Bireuen, dulu termasuk Kabupaten Aceh Utara. Sebagai karyawan Proyek Irigasi Aceh Utara, maka kami berkesempatan melihat sungai, saluran irigasi, sawah dan kampung-kampung di Aceh Utara, bergaul dengan masyarakat dan tokoh-tokohnya.

Kami sering makan bersama keluarga  di warung makan makan mie Aceh, mie dengan tauge bumbu khas Aceh. Makan tidak di dalam warung akan tetapi di ruang terbuka di depan warung sambil menonton TV/Video yang diletakkan di depan warung. Kopi saring Aceh sangat khas, bukan kopi diletakkan di gelas dan diaduk, akan tetapi kopi diletakkan di atas saringan dan kemudian disiram air panas, dan air kopi tersebut ditampung di gelas. Walaupun kami tinggal di Sigli atau Bireuen, akan tetapi kami sering ke Banda Aceh. Makanan favorit kami adalah Nasi Goreng di lapangan Peunayong, nasi goreng yang cabainya digiling lembut, tak nampak bijinya sama sekali. Sayur nangka juga kegemaran keluarga kami. Kami paling suka nonton PM Toh, Pendongeng Hikayat Aceh.

Kadang kala kami berkunjung malam hari ke sahabat di kampung, rumahnya biasanya gelap, mungkin terbawa kebiasaan di zaman Belanda lampu sering dimatikan bila ada serangan udara. Kala kami mendatangi hajatan di kampung biasanya acara juga dilakukan malam hari setelah jam 10 malam. Konon terbiasa pada zaman pendudukan Belanda, para pemuda siang hari berada di hutan dan balik pada malam hari saat Tentara Belanda sedang di kota.

Ada filosofi pintu Aceh yang berpengaruh pada pribadi kami. Rumah Aceh itu adalah rumah panggung dengan tangga masuk berada di luar rumah, sedangkan pintu rumahnya tingginya sekitar 1.50 m. Saat masuk ke “rumah orang” harus pelan-pelan karena naik tangga tidak boleh terburu nafsu. Kemudian juga harus hati-hati, karena tangga sering kena hujan sehingga sering licin. Selanjutnya saat dibukakan tuan rumah kita harus menunduk karena atas pintu lebih rendah dari pada kita. Bila kita “masuk rumah” orang dengan kepala tengadah, maka kita kepala kita akan terbentur. Akan tetapi setelah kita masuk diterima tuan rumah, maka kita melihat ruangan sangat luas dan banyak sekali makanan berjumlah peuet ploh peuet (empat puluh empat macam).

 

Cinta Indonesia dan Satu Bumi Satu Langit Satu Umat Manusia

Ada suatu kejadian pada waktu sahur bulan di bulan puasa April 1991, dalam perjalanan dinas dari Bireuen ke Banda Aceh, kami tertembak di daerah perbatasan Kabupaten Aceh Utara dengan Kabupaten Pidie. Kami harus dibawa Ambulance dari Pidie ke Banda Aceh. Kondisi kami waktu itu sangat kritis, mungkin karena banyaknya darah yang keluar. Tekanan darah 0/60 mm Hg sehingga tempat tidur beroda tidak boleh didorong dan harus ditreatment lebih dulu. Sedikit gerak mungkin nyawa kami melayang. Kami harus menerima transfusi darah sebanyak 1.5 liter dari 8-9 teman-teman kami. Mungkin darah teman-teman dari berbagai daerah: Aceh, Sumatra Utara, Padang, Jawa telah bercampur dalam diri kami sehingga membuat kami lebih cinta terhadap Indonesia. Di Aceh kami tidak pernah mempermasalahkan suku dan ras, teman kami dari Aceh bangga bahwa Aceh adalah campuran dari Arab, China, Eropa dan Hindia, kulit para teman kami juga ada yang kuning, putih, sawo matang dan hitam.

Kebetulan kami juga pernah tinggal di Makassar, Luwu, Bengkulu, Aceh, Banten, Semarang dan Solo, sehingga rasa keindonesiaan kami semakin bertambah. Karena pekerjaan kami berkaitan dengan irigasi dan para petani, maka kami dapat merasakan bahwa para petani pada dasarnya sama, senang bila sawahnya memperoleh air dan tidak membeda-bedakan petugas berasal dari mana. Kemudian kami pernah mengikuti pendidikan S2 di Canada di universitas yang multi-culture, dan bepergian ke beberapa negara lain di Asia, Eropa dan Amerika, maka dalam diri kami terbentuk karakter untuk menghormati semua orang dari negara mana pun.

Pada prinsipnya kami berpendapat bahwa seseorang itu lahir dengan membawa karakter genetik bawaan dari orang tuanya. Setelah itu mendapatkan pengetahuan kebenaran lewat orang tua, pendidikan dan lingkungan. Sehingga pendapat seseorang tentang kebenaran itu bersifat relatif. Beda orang tua, beda pendidikan, beda lingkungan akan menyebabkan pandangan kebenaran yang berbeda. Ibarat komputer maka beda program yang dimasukkan, akan berbeda pula kebenaran yang dimilikinya. Kadang-kadang seseorang merasa tindakannya 100% benar, padahal mereka hanya memperoleh pengetahuan kebenaran tertentu secara repetitif intensif sejak kecil.

Dengan meditasi kita dapat melepaskan diri dari pengaruh conditioning yang telah mempengaruhi diri kita sehingga kita dapat menerima bahwa kita semua satu umat manusia. Hidup di satu bumi, berada di bawah satu langit, dan kita semua merupakan satu umat manusia. Disusun oleh TW