Bangkitlah Bali demi keutuhan NKRI

Dialog Interaktif Bali TV – Program Acara Ajeg Bali

1 Agustus 2006

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=36:dialog-interaktif-bali-tv-program-acara-ajeg-bali-qbangkitlah-bali-demi-keutuhan-nkriq&catid=19&Itemid=55

Moderator: Bali sebagai Pewaris Budaya yang masih tersisa, akhir2 ini kata-kata ini sering kita dengar dan ini menjadi harapan kita semua. Bagaimana menurut Bapak?

Anand Krishna: Saya yakin Budaya Nusantara tidak akan pernah mati, tapi di sana-sini tenggelam di tengah-tengah budaya asing, tetapi di Bali ini masih utuh masih hidup walaupun kadang2 kita melihat sedikit sekarat dan ini adalah harapan bagi Budaya Nusantara dan harus diangkat oleh Bali sendiri.

Moderator: Kira2 yang harus memulainya Siapa yang bisa mengangkat ini?

Anand Krishna: Kita sendiri pak, karena bila kita melihat para pemerintah kita sibuk dan dibuat sibuk dengan sekian banyak persoalan, dan para pendidik kita para budayawan kita memiliki agenda masing-masing. Yang tadi barusan saya bicarakan off air Seperti apa yang bapak katakan betul sekali dulu kita ingin melayani dulu baru mendapat kekuasaan sekarang ingin berkuasa dulu. Sekarangg mau tidak mau kita harus memulai dengan diri sendiri.

Saya melihat budaya itu dalam konteks yang lebih luas Seorang seniman harus berbudaya, seorang politisi harus berbudaya seorang ekonom seorang pedagang di pasar harus berbudaya budaya bukan sekerdar seni tetapi budaya melunakkan hati kita membuat kita lembut sehingga kita bisa melihat duduk perkara seperti apa dan berpikir jernih tidak langsung main hakim tidak langsung bersikeras tidak langsung memaksakan kehendak.

Moderator: Bagaimana peran bali dalam keutuhan NKRI?

Anand Krishna: Sesungguhnya sudah terbukti ketika Bali di Bom dua kali dan masyarakat tidak reaktif.dan kalau kita melihat kita mewarisi budaya yang sama dengan India di bom juga tapi tidak reaktif. Bahkan ada masyarakat India mengatakan kalau Istrael dapat menyerang Hisbulalh karena hanya beberapa warga negaranya disandera kenapa India tidak menyerang Pakistan karena sudah ratusan orang yang sudah mati di Bom oleh Pakistan. Dan terbukti bahwa para pembom ini mendapat pendidikan dari Pakistan.Tetapi India tidak reaktif ini budaya yang sama.

Kita tidak mengimport budaya itu dari India tidak. Kita memiliki budaya yang mirif dan sama budaya itu adalah dari wilayah peradaban yang luas sekali dari Gandhahar hingga ke Australia seluruh wilayah peradaban ini memiliki budaya yang sama. Seperti yang dikatakan oleh Swami Vivekananda kalau saya tidak bisa menghormati agama2 lain maka saya belum beragama Hindu belum orang Hindu. Budaya ini yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia. Baca lebih lanjut

Iklan

Ujian Nasional dan Karakter Pemimpin

Di muat @ Radar Jogja 23 Mei 2011.

http://www.facebook.com/notes.php?id=1587940362#!/mcdishadi

Oleh : Anand Krishna*

Ketika Ki Hajar Dewantara (1889-1959) menggagas pembangunan jiwa manusia lewat pengembangan daya cipta, karsa dan karya yang inheren – sudah ada di dalam diri setiap orang – istilah-istilah asing seperti Intellectual Quotient, Emotional Quotient dan lain sebagainya belum dikenal.

Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional “kita”, terinspirasi oleh kearifan lokal “kita” sendiri. Sayang, beribu-ribu kali sayang, bahwa “kita” pula yang kemudian meninggalkan kearifan tersebut, dan malah berkiblat pada kearifan impor yang belum tentu seratus persen cocok untuk kita.

Nilai Lokal – Nilai Impor

Tidak ada salahnya mengadopsi nilai-nilai luhur dari luar, dari Barat, dari Arab, dari Cina, dari India – dari mana saja. Sebagaimana tidak ada salahnya kita menghormati ayah atau ibu seorang sahabat. Tidak ada salahnya kita memanggil mereka “Bapak” atau “Ibu”. Namun, salah besar – dan itu yang terjadi saat ini – jika kita melupakan ayah dan ibu kandung kita sendiri, dan mengagung-agungkan orangtua sahabat “saja”.

Mari kita membaca ulang pemikiran Dewantara sebagaimana dikumpulkan dalam dua jilid antologi dengan judul “Pendidikan” dan “Kebudayaan”. Benang merah yang kita temukan dalam kedua antologi tersebut adalah nilai-luhur:

“Kebersamaan”

Bung Karno menerjemahkan nilai tersebut sebagai semangat “gotong-royong”. One for all, and all for one – satu untuk semua, dan semua untuk satu. Sesungguhnya sistem RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, atau sistem Banjar di Bali – semuanya berlandaskan pada nilai luhur kebersamaan tersebut.

Dan, itu pula yang menjadi tujuan pendidikan – mengembangkan dan melestarikan nilai “kebersamaan”. Makan bubur bersama, dan makan nasi bersama. Ikut merasakan suka dan suka sesama anak bangsa, bahkan sesama manusia, sesama makhluk hidup.

Jadi, “Education is not preparation for life; education is life itself” (John Dewey, 1859-1952). Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, tetapi hidup itu sendiri. Kehidupan itu sendiri…. Kiranya demikian maksud John Dewey, seorang pendidik reformis, filosof, dan psikolog asal Amerika Serikat yang hidup sezaman dengan Dewantara.

Pertanyaannya:

Apakah Tujuan Pendidikan itu Tercapai?

Jika pendidikan adalah hidup itu sendiri – maka semestinya ia menjadi lifelong process – proses seumur hidup. Dan, tidak berhenti pada tingkat S-1, S-2, S-3, atau bahkan S-7, atau entah S keberapa lagi.

Pun demikian dengan gagasan Dewantara tentang pemberdayaan cipta, karsa, dan karya, atau, mind, heart and body/physic – pikiran, perasaan, dan perbuatan. Proses pemberdayaan tersebut tidak bisa, dan tidak boleh berhenti. Ia mesti menjadi proses yang berjalan sepanjang hidup.

Lalu, apa arti ijazah yang kita peroleh dari sekolah, universitas, atau nilai hasil ujian nasional? Apakah semuanya itu menyemangati kita untuk “belajar terus” – atau justru mematikan, menghentikan proses pembelajaran?

Seorang tokoh spiritual asal India, Sathya Sai (1926-2011) mengingatkan supaya ijazah kita tidak menjadi “begging bowl” untuk “mengemis pekerjaan”. Tujuan pendidikan, menurut sang spiritualis, adalah karakter. Baca lebih lanjut

Gandhi dan Bung Karno

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=238248&actmenu=39

Anand Krishna

29/04/2011 19:08:08

Gandhi sering mengatakan bahwa hidupnya adalah pesannya. Dan, jika kita mempelajari hidupnya maka kita temukan 3 mutiara pesannya inti ajarannya:

Satyagraha, Swadeshi, Ahimsa, Satyagraha. Terdiri dari dua kata ‘Satya berarti ‘kebenaran’, dan Agraha berarti ‘permintaan’. Namun, agraha bukan sekadar permintaan biasa. Ia adalah ‘permintaan demi dan bagi kebenaran, kebajikan dan keadilan’. Ia adalah ‘permintaan tanpa kompromi’ karena kebenaran tidak perlu berkompromi.

Dalam bahasa Bung Karno Sang Arsitek Negara Modern Republik Indonesia –  ini adalah  “Tekad yang Bulat”. Tekad yang bulat seperti juga Satyagraha – muncul dari keyakinan yang kuat dan tak tergoyahkan pada sesuatu.

Slogan Bung Karno ‘Sekali Merdeka’ Tetap Merdeka’ adalah hasil dan wujud dari Tekad yang Bulat – Tekad yang Kuat.

Satyagraha Gandhi tidak lain dan tidak beda dari ‘Tekad yang Bulat’ Sukarno. Beda bahasa, beda ungkapan, beda idiom  tapi intinya sama. Artinya sama.

Dalam bahasa para leluhur kita, ini adalah ‘Ichhaa Shakti’  Will Power  Kehendak yang kuat. Tanpa ‘will power’  kita tidak mampu berbuat sesuatu yang luar biasa.

Bung Karno mengatakan bahwa bisa saja kita membangun jembatan-jembatan kecil yang tidak berarti –  tapi tidak bisa membangun pencakar langit tanpa tekad, tanpa kehendak yang kuat.

Satyagraha dan kebulatan tekad bersumber dari  Swadeshi  (Produk) negeri sendiri. Demikian arti umum swadeshi. Tapi, lebih dari itu, swadeshi juga berarti kemampuan diri sendiri.

Dalam bahasa Bung Karno  inilah Berdikari  atau berdiri di atas kaki sendiri. Atau, menjadi diri sendiri  mandiri. Apa artinya? Berarti, mengenal potensi diri – dan memberdayakan diri (Self-empowerment). Dalam bahasa leluhur kita  disebut ‘Gyana Shakti’  The Power of Knowledge, Intelligence, and Wisdom.

Mengenal diri berarti mengenal potensi diri dan sekaligus memberdayakan diri dan menambah apa yang kurang. Jadi, bukan sekadar mengenal diri secara pasif “Oh, bagaimanapun juga kita kan orang biasa”. Tidak. Mengenal diri berarti merealisasikan potensi diri sepenuhnya. Gandhi pun manusia biasa – Sukarno pun manusia biasa. Apa yang mereka capai – kita pun dapat mencapainya. Kenapa tidak?

Untuk itu  alat yang disarankan dan dipakai oleh Gandhi adalah  Ahimsa  berarti, Tanpa kekerasan.

Apa yang menjadi dasar dari azas ini? Bung Karno pernah menjelaskan kepada putranya, Guntur, yang saat itu masih remaja, ‘Tat Tvam Asi’. Dasarnya adalah bahwa, Aku adalah Kamu dan Kamu adalah Aku.

Adakah sesuatu yang membedakan manusia dari manusia? Kita sama-sama manusia – tinggal di planet Bumi yang sama. Di bawah langit yang sama pula. ‘One Earth, One Sky, One Humankind’ Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia.

Jangankan pada sesama manusia  kekerasan yang kita lakukan terhadap sesama makhluk hidup pun berdampak pada diri kita sendiri.

Kita memburu burung-burung tak bersalah. Mereka mati – ulat-ulat yang biasa menjadi makanan mereka bertumbuh, dan beranak-pinak secara bebas. Kemudian menjadi wabah dan menyerang ladang kita, bahkan badan kita.

Ahimsa berarti Loving, Caring, and Sharing –  Saling kasih-mengasihi, saling peduli dan saling berbagi.

Inilah ‘Gotong Royong’ dalam bahasa Bung Karno. Tanpa azas gotong royong – one for all, all for one –  satu untuk semua, dan semua untuk satu – kita menjadi manusia-manusia picik, berpikiran sempit, dan hanya mementingkan diri saja.

Dalam bahasa para leluhur, inilah Kriya Shakti atau The Power of Action. Berarti, bukan sekadar konsep atau filsafat, tetapi sesuatu yang bisa diaplikasikan. Sesuatu, yang justru mesti dipraktikkan.

Tiga mantra ini, Satyagraha, Swadeshi, dan Ahimsa,  Tekad yang Bulat, Berdikari, dan Gotong Royong merupakan aji yang dapat menyelamatkan bangsa kita.

Dan bukan sekadar bangsa kita  tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia. Tiga Mantra inilah Penyelamat Dunia. Inilah Mesias, inilah Mahatma yang ditunggu-tunggu oleh dunia.

Untuk itu, kita mesti mulai mengaplikasikan mantra-mantra ini dalam hidup kita sendiri. Ya, mengaplikasikan! Mantra-mantra ini bukan untuk diucap, dan diulangi seperti burung beo. Mantra-mantra ini mesti dihidupi, dilakoni, dipraktikkan.

Yakinlah Anda pun bisa menjadi Gandhi atau Bung Karno jika bertekad bulat, meyakini kemampuan diri, dan bahu-membahu saling membantu. Bukan saja Indonesia Baru tapi Dunia Baru ada di depan mata. Jadilah penyambung, kontributor bagi dunia baru itu. Jadilah warga dunia baru itu. Anda bisa! q – o. (2842-2011).

*) Anand Krishna,  pemerhati masalah, sosial, humanis, dan penulis

lebih dari 140 buku.

Testimony tulisan tangan Anand Krishna yang melakukan mogok makan demi negeri yang dicintainya

Perhatikan jiwa besar Pak Anand yang rela berkorban demi negeri yang dicintai beliau…….. Mohon disebarkan…….

http://freeanandkrishna.com/index.php?id=strike2eat

Wahai para pecinta kehineekaan di Indonesia. Rumah-rumah tetangga satu per satu mulai terbakar….. Sekarang memang rumah kita tidak bermasalah, tetapi ada tendency hanya tinggal waktu saja….. Mari beramai-ramai memadamkan api kebencian dan kekerasan yang membakar negeri…… Itu adalah salah satu tanggung jawab pada negeri kita……

Kematian Sebuah Refleksi II

oleh Waskito Giri Sasongko pada 11 Oktober 2010 jam 20:10.(sebuah telaah sangat-sangat awal secara antropologis)

http://www.facebook.com/#!/notes/waskito-giri-sasongko/kematian-sebuah-refleksi-ii/458695942520

“Kulo nderek belangsungkawa sedane embah nggeh, dik…O-nggeh, matursembah nuwun, pangestunipun Gusti Alloh, mas… Pripun ceritane embah, dik? Kok, sajak ndadak sanget nggeh…kulo mireng kabar bilih embah gerah, ketingale sawek tigang dinten kepungkur nggeh, dik? Kulo dereng sempet niliki, eh alah koq malah empun seda….lha embah gerah menapa nggeh, dik? Sasat mboten nganggem gerah, mas…namun kados tiyang masuk angin…sedane kemawon sajak kados tiyang sare…sasampune embah melingi sedaya, ninggal pesen tumrap sedaya, teras embah pamitan kepengin sare. Teras let  mboten danggu, makles sedo….sajak sedane sekeco nika lho, mas…monggo kulo aturi mersani embah, nak ketingal sajak sedane mawon kanti mesem. O-alhammdulillah, dik…syukur, syukur…sedane embah mugi ketampi Gusti, dik. Nggeh, pangestune lan dongane nggeh, mas…”

Demikianlah tertegun saya mendengar obrolan ini, obrolan ringan dalam suatu layatan embah teman di sebuah dusun kecil yang jauh dari kegaduhan riuh rendah pembudayaan modernitas. Saya terkesan, bahkan sejenak pukau dan sekaligus gusar diri sebenarnya. “Ini kematian tapi bukan layaknya kematian” gumanku. Seolah-olah sama sekali tidak terbersit kemuraman dalam kisah kematian embah teman ini. Dan selalu saja tema kematian senantiasa tak pernah luput dalam menginterupsi kesadaran saya, dan saya yang malah menjadi muram. Kesadaran saya, ibarat sebuah tanggul yang bocor di sana-sini sehingga airnya tiba-tiba menyeruak keluar dari retakan-retakan dindingnya itu, tiba-tiba saja saya rasakan ribuan desiran serabut halus ketakutan menyergap memenuhi ruang batin sehingga sejenak memaksa diri saya mengjangkah keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari: “Ya, bagaimana dengan kematianku nanti? Akankah, saya sanggup sesahaja alur runut embah teman saya itu? Ataukah, saya akan menyusuri jalan lazim yang biasa ditempuh orang modern saat ini, yakni tersungkur tak sadarkan diri lebih dulu dalam beberapa hari, minggu, atau bahkan bulan, kemudian tanpa pernah tersadar lagi lalu menghembuskan nafas?” Baca lebih lanjut

Kebenaran Akan Selalu Berjaya

http://www.facebook.com/#!/notes/sigit-suryono/kebenaran-akan-selalu-berjaya/414708835830

Hari ini jam 10:40

Oleh Sigit Suryono

Dalam setiap jaman selalu ada insan-insan cemerlang yang merubah dunia dengan pandangan dan paradigma baru. Seorang manusia baru, seorang pemberani yang telah keluar dari penjara pengkondisian lingkungan akibat peradaban yang telah usang. Para nabi, mesiah, buddha dan avatar adalah para pribadi unggul yang sepenuh hati telah mendedikasikan hidupnya demi nilai-nilai kemanusiaan. Keberadaan mereka merupakan kunci bagi adanya perubahan yang signifikan dalam pemahaman kesadaran manusia dalam tiap masanya.Dengan berbekal keyakinan, pengetahuan dan kekuatan yang dimilikinya mereka menorehkan namanya dalam daftar nama-nama orang paling dikenang sepanjang masa.

Perubahan adalah hukum alam yang paling mendasar, ia tidak mengenal kata berhenti. Tidak ada istilah selesai dalam setiap momentnya, akan terus terjadi penyempurnaan-penyempurnaan. Namun demikian tema yang di usung akan tetap sama, tema tentang cinta tentang kasih dalam bingkai kesadaran. Dalam ranah kemanusiaan yang utuh tanpa embel-embel. Baca lebih lanjut

Eksistensi “Agama Asli Indonesia” Dan Perkembangannya Dari Masa Ke Masa

http://www.facebook.com/#!/notes/dullnaif-skeptyo/faith-eksistensi-agama-asli-indonesia-dan-perkembangannya-dari-masa-ke-masa-/378637844662

ditulis di Facebook oleh Dullnaif Skeptyo

 Hari ini jam 3:40

Oleh: K.P. Sena Adiningrat

*) Disampaikan dalam Sidang Mahkamah Konstitusi dalam rangka Permohonan Uji Materi Undang-undang Nomor 1/PNPS/ 1965, di Jakarta, 23 Maret 2010.

I. Pendahuluan

Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan dan Penyalahgunaan/ Penodaan Agama − terlepas dari maksud untuk menjaga dan melindungi keluhuran nilai-nilai agama − kenyataannya jelas-jelas mengandung diskriminasi terhadap agama-agama tidak resmi, khususnya penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa.

Penjelasan Pasal 1 undang-undang ini jelas hanya memprioritaskan 6 agama yang diakui pemerintah, sekaligus mendapat bantuan dan perlindungan, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Kongfusius. Sedangkan agama-agama lain, misalnya Yahudi, Sarazustrian, Shinto, Thaoism, sekalipun tidak dilarang tetapi terkesan dinomor duakan, seperti tampak pada rumusan “…dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundang-undangan lainnya”.

Ada lagi penjelasan Undang-undang ini yang jelas-jelas merendahkan eksistensi aliran kepercayaan yang berbunyi: Terhadap badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalur-kan kearah pandangan yang sehat dan ke arah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ungkapan ini jelas-jelas menempatkan para penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa seolah-olah mereka menjadi “objek binaan”, karena karena pandangannya tidak sehat dan tidak mengarah kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Baca lebih lanjut