Seks? Melampaui Insting Seks? Kisah Resi Suka putra Vyasa, Guru Parikshit

sukadeva menyampaikan Srimad Bhagavatam sumber www harekrsna com

Ilustrasi Sukadeva menyampaikan Srimad Bhagavatam sumber www harekrsna com

Senggama dengan Semesta

“Seks sebagaimana dipahami dan dilakukan saat ini hanya memboroskan energi. Kenikmatan yang dirasakan hanya bertahan beberapa saat saja. Tidak lama kemudian, Anda lapar lagi, haus lagi, mencari lagi. Dan ketika ketertarikan terhadap pasangan Anda memudar, Anda mengejar pemicu baru. Seks tidak pernah memuaskan. Entah dengan predikat Tantra, atau polos tanpa predikat, tanpa atribut, tanpa dupa dan lilin. Kembali pada seks yang tidak pernah memuaskan. Alasannya seks tidak memenuhi kebutuhan jiwa. Jiwa membutuhkan senggama agung dengan semesta, bukan passion, bukan birahi, tetapi compassion, kasih.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam bahasa Sansekerta burung beo juga dikenal sebagai burung Suka. Ketika buah yang sudah masak dipotong oleh paruh burung Suka, rasa manis ditingkatkan. Demikian pula buah Veda yang sudah matang yang keluar dari ‘paruh’ Sukadeva bertambah manis. Seperti burung Suka yang menambah manis buah yang masak, maka Sukadeva mempunyai kemampuan untuk menyajikan  Srimad Bhagavatam lebih menarik daripada yang dituturkan oleh Resi Vyasa. Dikatakan Sukadeva putra Vyasa berfokus pada pelayanan dan sudah melampaui insting seks.

 

Kelahiran Sukadeva

Srimad Bhagavatam dibawa oleh Resi Narada diberikan kepada Resi Vyasa. Resi Vyasa menyampaikannya kepada Sukadeva, putranya. Sukadeva menyampaikan kepada Raja Parikshit seminggu sebelum sang raja meninggal dunia. Sukadeva sudah bebas dari segala keterikatan sejak dalam rahim ibunya. Dia tidak mengalaami pelatihan setelah kelahirannya. Sebagai jiwa sempurna, Sukadeva tidak perlu menjalani evolusi spiritual. Sukadeva telah menyampaikan Srimad Bhagavatam bagi jiwa-jiwa yang mendambakan kebebasan dari segala keterikatan.

Dikisahkan bahwa Shiva sedang menyampaikan Srimad Bhagavatam kepada Parvati. Dan, Parvati sendiri tidak begitu perhatian dan bahkan mulai tertidur. Seekor burung beo yang berada di dekat Shiva mendengarkan dengan penuh seksama. Shiva sadar Parvati belum fokus mendengarkannya dan hanya burung kakatua yang mendengarkan dengan penuh seksama. Shiva cemas burung beo tersebut hanya menghapalnya tanpa makna yang seakan-akan mengejek dirinya. Oleh karena itu Shiva mengejar sang burung untuk mengakhiri hidupnya. Sang burung ketakutan dan segera terbang dikejar Shiva. Sang burung terbang ke Ashram Vyasa dan masuk ke mulut Vatika istri Vyasa. Selama enam belas tahun burung beo tersebut tinggal dalam rahim Vatika sebelum lahir dengan nama Sukadeva.

 

 

Vyasa, Ayahanda Sukadeva Masih Membedakan Jenis Kelamin

Sukadeva sudah tidak mempunyai pikiran tentang seks. Sukadeva tidak menikah dan mengembara dengan bertelanjang bulat. Pada suatu saat ayahnya, Resi Vyasa penulis Mahabharata dan Srimad Bhagavatam mengejar Suka yang berjalan di tepi kolam yang banyak gadis sedang mandi tanpa memakai baju. Saat Vyasa akan lewat, para gadis segera terburu-buru memakai baju dan ini membuat heran Vyasa.

“Aku sudah tua, sudah tidak layak melakukan seks dan juga mengenakan pakaian resi. Mengapa kalian cemas dan buru-buru memakai baju? Mengapa kalian tenang saja bertelanjang saat Suka lewat?”

Para gadis menjawab, “Wahai Bapa Resi yang terhormat, Suka putra Bapa tidak tahu mana pria dan mana wanita, sedangkan Bapa Resi tetap membedakan jenis kelamin antara pria atau wanita. Kami dapat merasakannya!”

 

Insting Seksual

“Seks adalah insting dasar kedua setelah pertahanan diri. Sebab itu, sekali-kali jika merasa tergoda, tidak perlu menyalahkan diri. Tidak perlu menghakimi atau menghukum diri. Sifat dari godaan itu mesti dipahami dan tidak ditindaklanjuti menjadi suatu kegiatan, itu saja. Intinya: Sadarilah godaan itu sebagai godaan, dan biarkanlah lewat dengan sendirinya. Jangan diteruskan menjadi suatu kegiatan. Saat merasa tergoda, Anda mesti bersikap tenang, pindahkan fokus Anda pada Tuhan, pada tujuan Anda menjadi seorang sanyasi. Maka, tidak lama kemudian, energi yang menggoda itu, energi yang hendak menyeret kesadaran Anda ke bawah itu, akan berpindah haluan dan mengalir ke atas lagi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Svami Sivananda menulis yang terjemahan bebasnya, “ Anda mungkin menjadi tua, rambut Anda berubah abu-abu, tetapi pikiran Anda masih berkaitan dengan seks. Mungkin Anda sudah tidak mempunyai kemampuan berhubungan seks karena telah mendekati pikun, akan tetapi pikiran belum lepas dari seks. Mengidamkan seks adalah benih nyata untuk lahir kembali.”

“Bahkan seorang pria buta yang tidak kawin dan belum melihat wajah seorang wanita pun mempunyai dorongan seksual yang kuat. Mengapa? Hal ini disebabkan karena kekuatan samskara atau impresi kelahiran sebelumnya yang tertanam dalam pikiran bawah sadar. Apa pun yang Anda pikir, Anda lakukan semuanya dicetak atau tak terhapuskan impresinya dalam pikiran bawah sadar. Impresi ini hanya dapat dibakar atau dilenyapkan oleh fajar kesadaran Atman atau Diri Agung.”

“Dari dasar samskara, impresi kelahiran sebelumnya dan vasana, kecenderungan perilaku dalam pikiran muncul kalpana, imaginasi melalui Smriti atau memori. Kemudian datang keterikatan. Seiring dengan imaginasi muncul emosi dan dorongan. Kemudian datang iritasi seksual – craving and burning, keinginan kuat dan gelora api dalam pikiran dan seluruh tubuh. Seperti bahan bakar atau uap yang menggerakkan mesin, insting dan dorongan menggerakkan tubuh ini. Insting adalah penggerak utama dari semua kegiatan manusia. Mereka memberikan dorongan bagi tubuh dan menggerakkan indra untuk bertindak. Insting menciptakan kebiasaan. Dorongan insting memasok energi penggerak kegiatan mental. Mereka membentuk kehidupan manusia.”

 

Seks, Kebutuhan Dasar  Manusia atau Kebutuhan Dasar Raga Manusia?

“Para psikologi menyimpulkan bahwa makan, minum, tidur dan seks adalah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Empat hal itu disebut basic instincts. Para yogi, para resi, para pujangga berpendirian: ‘Tidak, itu bukanlah kebutuhan dasar ‘manusia’. Itu merupakan kebutuhan dasar raga manusia, fisik manusia, badan manusia. Dan, sesungguhnya bukan saja manusia – itu merupakan kebutuhan dasar fisik semua makhluk hidup.’ Aku merenungkan kata-kata itu. Aku bertanya kepada diri sendiri: ‘Apakah aku dapat hidup dengan makan, minum, tidur dan seks saja?’ Kudengar jawabannya dari seorang pujangga dari Timur Tengah yang pernah berkunjung ke wilayah kita, Isa Sang Masiha: ‘Tidak…… Sekedar roti saja tidak cukup. Manusia membutuhkan sesuatu yang lain demi keberlangsungan hidupnya.’ Banyak roti, banyak gandum di gudang Paman Sam. Adakah semua itu membahagiakan dirinya? Seorang Osama dapat mengganggu dan merusak kebahagiaannya dengan begitu mudah. ‘Apa arti harta yang kau timbun, jika kau kehilangan jiwamu?’ Seorang Penyair bertanya lewat syairnya. Kehilangan jiwa? Apakah kita sudah memiliki Kesadaran Jiwa, sehingga dapat merasakan hilangnya jiwa – atau hilangnya kesadaran itu? Siapakah aku? Untuk apa aku berada di dunia ini? Aku datang dari mana? Mau pergi ke mana? Jika pertanyaan-pertanyaan semacam ini belum jua menghantui kita – maka jelas kesadaran kita masih berada pada tingkat yang paling rendah. Pada tingkat dimana makan, minum, tidur dan seks adalah kebenaran. Dan, tidak ada kebenaran lain di luar itu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Platonic Love  Antara Suami-Istri

Sukadeva melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga sejak lahir. Hanuman, Lakshmana, Bhisma memutuskan tidak kawin agar lebih terfokus pada pelayanan. Mungkinkah seorang Grhastha, perumah-tangga melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga?

“Sanyas bukanlah pilihan hidup untuk semua orang. Sanyas adalah pilihan hidup buat mereka yang betul-betul sudah memutuskan untuk melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga. Untuk melayani Tuhan yang bersemayam dalam tiap diri setiap makhluk. Buat mayoritas, jalan hidup ‘beranak cucu dan bertambah’ itulah yang tepat. Itulah pola hidup, jalan hidup, buat mayoritas. Sesungguhnya mayoritas tidak bisa tidak menjalani hidup demikian. Alam mendorong mereka untuk beranakcucu dan bertambah. Kemudian bersama-sama pula Anda dapat mengurangi frekuensi hubungan seks, dan lebih banyak menggunakan energy Anda untuk hal-hal yang bernilai lebih tinggi. Inilah yang disebut Platonic Love. Sekarang platonic love diartikan sebagai hubungan cinta yang tidak melibatkan fisik. Tidak demikian. Plato tidak mengatakan demikian. Plato tidak menyarankan agar nafsu birahi ditekan atau dikekang. Ia menyarankan pengendalian diri secara berangsur, secara perlahan, tetapi pasti, hingga suatu ketika hubungan seks tidak memiliki arti lagi. Anda tidak menginginkannya lagi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Vasudewa dan Devaki orang tua Sri Krishna

Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain. Bahasa Buddha lain. Bahasa Yesus lain. Bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya berbeda-beda. *1 Atma Bodha

Membersihkan adharma

Raja Parikesit, berterima kasih atas kisah-kisah Resi Shuka tentang leluhur para Pandawa. Dan, kemudian mohon sang resi menceritakan tentang Sri Krishna Sang Avatara Agung dan Balarama yang konon adalah wujud dari Ananta, Sesha yang selalu bersama Narayana.

Resi Shuka baru saja berpikir tentang Vasudeva dan Devaki dan pikiran Resi Shuka terfokus pada Narayana yang telah mengambil suatu wujud untuk membersihkan racun yang sedang mencekik dunia. Air mata sang resi mengalir, mengingat kebesaran Narayana.

 Bila sebelumnya sang resi berkisah tentang dinasti Purawa atau Korawa, keturunan Puru putra Yayati, maka kisah dinasti Yadawa, keturunan Yadu putra Yayati telah menggetarkannya. Baca lebih lanjut

Kisah Rantideva Sang Pemberi Agung

Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasih tidak? Pendidikan agama di sekolah dasar mengembangkan rasa kasih atau justru menciptakan jurang pemisah berdasarkan agama? Mengikuti talk-show dan perdebatan di televisi berkembang rasa kasih atau justru rasa tegang, rasa benci? Profesi atau pekerjaan saya menunjang pengembangan rasa kasih atau tidak? Begitu pula dengan persahabatan saya, pergaulan saya, lingkungan saya….. Sebaliknya, bila dengan melihat kayu salib, atau kaligrafi Allah dan Muhammad, atau patung Buddha dan Laotze dan Kuan Yin timbul rasa kasih di dalam diri seseorang, maka kritikan kita terhadapnya sungguh tidak bermakna. Daripada berpolitik dan menyebarkan kebencian, lebih baik duduk diam menghadapi kaligrafi atau patung. Setidaknya bisa menimbulkan rasa kasih di dalam diri kita. Orang menganggap Anda gila, ya biarlah. Itu anggapan mereka. Hormatilah anggapan mereka. Tidak perlu membela diri. Lha mereka belum bisa melihat sisi lain kebenaran, mau dipaksa bagaimana? But again, silahkan berpolitik dan berusaha dan ber-“apa saja” bila semua itu menunjang pengembangan rasa kasih di dalam diri. *1 Narada Bhakti Sutra

Kisah Resi Shuka tentang leluhur Parikesit

Raja Parikesit, menunggu kematian, dan dalam beberapa hari ke depan maut akan menjemput. Raja Parikesit bersyukur atas kisah-kisah Resi Shuka yang membawa kedamaian, sudah ratusan kisah didengarnya, semua kisah membuka dirinya, berbagai kisah tentang leluhur, tentang karma, tentang pertentangan antara para asura dengan para dewa. Kemudian para asura yang dalam masa kemudian mewujud dalam raja-raja dunia dan kebenaran yang diwujudkan dalam para ksatriya kekasih para dewa.

Raja Parikesit termenung, baru saja Resi Shuka bercerita yang tidak lagi membicarakan peperangan antara adharma dengan dharma, tetapi peperangan antara nafsu dan kasih yang ada dalam diri manusia. Namanya saja dongeng, tidak logis sehingga dapat melampaui mind dan harus dipahami dengan rasa bukan dengan pikiran. Baca lebih lanjut

Visvamitra, Shakuntala dan Dusyanta leluhur Parikesit

Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa… dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih! *1 Kidung Agung

Putri Resi Visvamitra

Shakuntala berbahagia melihat putranya yang nampak cerdas tampan dan berwibawa. Tetapi hatinya sedih mengingat ayah dari putranya tersebut telah berjanji menjemputnya, tetapi sampai putranya berusia enam tahun, belum juga menampakkan batang hidungnya. Ibu muda yang anggun dan sangat cantik ini menutup kedua matanya, mengatur napas dan dengan jernih mulai mengingat beberapa episode peristiwa yang telah dilaluinya.

Resi Kanwa, ayah angkatnya bercerita tentang Kausika ayahandanya yang juga bergelar Resi Visvamitra. Kausika adalah seorang raja besar yang pernah merasa tak berdaya karena dikalahkan resi Vasishta. Tekadnya begitu kuat sehingga dia meninggalkan istana dan bertapa bertahun-tahun. Demi peningkatan kesadaran, Kausika melepaskan kenyamanan dari harta, tahta, dan usia demi peningkatan kesadaran. Upayanya membawa hasil dan dia diberi gelar Rajarsi, raja resi oleh para dewa. Baca lebih lanjut

Kisah Raja Yayati leluhur Sri Krishna dan Parikesit

Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot. *1 Shambala 

Kegalauan hati Raja Yayati

Raja Yayati sedang gundah, kutukan Resi Sukra, bahwa dirinya akan mengalami ketuaan lebih cepat dari seharusnya mengagetkannya. Dengan berbagai alasan dirinya minta kutukan dicabut, tetapi hal tersebut tidak bisa ditarik kembali. Resi Sukra memberi jalan keluar,  putranya dapat mewakili kutukan tersebut.

Dua putranya dari istri Dewayani, Yadu dan Turwasu menolak. Dua dari tiga putranya dari istri Sarmishta, Druhyu dan Anu juga menolak. Tinggal satu putranya yang belum ditanyai kesediaannya untuk menggantikan dirinya menerima kutukan Resi Sukra.

Berbagai perasaan berkecamuk di benak Raja Yayati. Ternyata seorang raja yang perkasa di mata rakyat bahkan musuh-musuhnya, sejatinya tunduk di bawah bayang-bayang istri-istrinya. Bahkan kini dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa ketika para putranya menolak permintaannya. Kejadian tersebut melenyapkan keangkuhannya. Dirinya menjadi raja yang amat berkuasa, namun Gusti lah penguasa segalanya. Kejadian tersebut juga membuka mata batinnya, bahwa seorang arif bijaksana sebetulnya telah mengalahkan egonya. Dan mengalahkan ego itu terasa berat bagi seorang yang sedang berkuasa.

Tiba-tiba ingatannya melayang pada kejadian yang telah lampau. Semua akibat terjadi karena ada sebabnya. Sebab yang kait-mengkait, yang semakin menjauhkannya dari diri sejatinya. Dan semua itu terjadi karena dia selalu menggunakan mind dalam memutuskan pilihan tindakan. Baca lebih lanjut

Kesucian Air dan Hikayat Sungai Gangga

Master Sufi, Attar dari Nishapur pernah bercerita tentang Yesus: Para Murid mengeluh, “Rabbi, Master, Guru, mereka menghina Guru. Mereka menertawakan Guru. Mereka menolak Guru. Kok Guru tidak mencela mereka, malah mendoakan mereka? Aneh!” Yesus menjawab, “Tidak aneh. Temanku, sahabatku, aku hanya dapat memberikan apa yang aku miliki. Yang kumiliki hanyalah kasih, doa, dan itu pula yang dapat kuberikan kepada mereka. Mata uang yang ada dalam kantongku adalah mata uang kasih. Aku tidak memiliki mata uang lain. Yang dapat kupakai, yang dapat kugunakan, hanyalah mata uang kasih.” *1 Samudra Sufi

Tekad mendatangkan Dewi Gangga ke bumi

Bhagiratha merenung dalam-dalam, “Sejatinya manusia itu tergantung dari air, setiap hari minum air. Makanan pun mengandung air. Nasi dan lauk juga dihasilkan dari tanaman dan hewan yang hanya dapat hidup bila ada air. Membersihkan tubuh juga memakai air. Bahkan manusia juga berasal dari air ayah. Setelah berada dalam perut ibu berkembang menjadi janin yang hidup menyelam dalam air ketuban. Terima kasih Gusti yang mencukupi air bagi kehidupan makhluk hidup. Sudah beberapa generasi leluhurku ingin mendatangkan Dewi Gangga ke Bumi. Semoga kali ini, berkat rahmat Gusti, kami berhasil.” Baca lebih lanjut

Pengorbanan Sepenuh Hati Sunahsepa

Hubungan kita dengan sesama manusia menuntut kesabaran, dan hubungan kita dengan Tuhan menuntut keyakinan. Dua kata sederhana ini mengatur seluruh kehidupan manusia. Interaksi dengan dunia dan hubungan dengan Tuhan adalah dua urusan utama manusia. Tidak ada urusan lain. Sejak lahir sampai mati, inilah dua hal yang harus diurusi. Karena itu, kesabaran dan keyakinan dapat dijadikan landasan bagi dharma, bagi kewajiban dan tugas kita di dunia. *1 Life Workbook

Kegalauan hati Sunahsepa

Sunahsepa merenung panjang, di depannya duduk bersila Resi Kausika dan berada di sebelahnya Rohita, putra raja Harischandra, keduanya sedang bersamadhi. Aura kedamaian sang resi membuat rasa ketentraman merayapi dirinya.

Sunahsepa ingat, beberapa hari yang lalu dia bersama Rohita berjalan menuju istana dan melewati tempat pertapaan Resi Kausika. Melihat Resi Kausika, raja terkenal yang meninggalkan segala kenyamanan untuk bertapa mencari makna kehidupan hatinya terketuk. Rasa kepedihan, kegelisahan dan kebingungan yang meliputi dirinya seakan menemukan pintu gerbang penyelesaian. Dirinya langsung menjatuhkan kepalanya pada pangkuan sang resi dan menangis terisak-isak. Sang resi membuka matanya dan mengelus-elus kepalanya, “Anak muda, ceritakan apa yang terjadi, sekiranya aku dapat mengurangi penderitaanmu akan kubantu sepenuh hati.”

Dirinya kemudian menjelaskan, “Wahai bapa resi yang suci, kami berniat melakukan dharma. Tetapi selalu ada pertempuran sengit di dalam benak kami. Kami ini dapat disamakan dengan anak yatim piatu, ayah kami sayang dengan kakak sulung, sedangkan ibu kami sayang dengan adik bungsu. Diri kami sudah bersedia berkorban demi kemuliaan keluarga, hanya kadang terasa pedih, bahwa kami seakan-akan tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga mereka. Diri kami pun juga sering merasa sudah tidak dianggap lagi sebagai warga negara. Demi raja dan putra mahkota, kami akan mengorban nyawa, tetapi tak ada satu pun yang memikir diri kami yang akan melakukan pengorbanan. Mereka semua tidak peduli dengan kegalauan perasaan kami. Wahai bapa resi tolong kami”. Kemudian dirinya menceritakan masalah yang dihadapinya kepada Resi Kausika. Baca lebih lanjut