Yuk!Brbagi Kasih dg Donor Darah|JOGJA|pk09-12|Sabtu,03/01/15|di AKC Joglosemar|info:081805844014

donor darah 3 Jan 14

Yuk!Brbagi Kasih dg Donor Darah|JOGJA|pk09-12|Sabtu,03/01/15|di AKC Joglosemar|info:081805844014

Berbagi Kesadaran Lewat Pawai Hidup Kebersamaan di Jogja

Nilai Universal Dalam Setiap Agama

“Mereka harus mengenal nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Mereka harus menghormati para tokoh dari semua agama, setiap agama. Kasih Sayang, Kebenaran, Kejujuran, Kesetiakawanan, Kebersamaan, Kedamaian, Kebajikan, dan nilai-nilai lain yang bersifat universal ada dalam setiap agama. Nilai-nilai ini yang mesti ditonjolkan supaya kita bisa menumbuhkembangkan kesetiakawanan sosial di dalam diri generasi penerus. ‘Bumi Pertiwi Indonesia adalah Ibuku – Dunia adalah rumahku,’ inilah slogan yang dapat menjamin kejayaan negeri kita tercinta.”  (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Semua Foto: Sumber FB Prabu Dennaga

https://www.facebook.com/prabu.dennaga/media_set?set=a.10151698830233611.1073741837.544843610&type=1

1 peserta pawai di kerindangan sumber prabu denaga

Hari Bhakti Ibu Pertiwi

Tanggal 1 September 2013 adalah the 9th Mother Earth Day. Acara Peringatan Hari Bhakti Ibu Pertiwi yang kesembilan diadakan di Kota Yogyakarta. Anand Ashram sebagai Penyelenggara Acara Pawai memilih cara Pawai, agar masyarakat memahami kebersamaan secara visual. Kehidupan sehari-hari putra-putri bangsa perlu dimaknai dengan nilai-nilai universal yang ada dalam setiap suku bangsa, agama dan negara. Dimulai dengan menghayati kedamaian di dalam diri, mencintai sesama dan lingkungan, menuju hidup dalam kebersamaan secara global.

Foto para fotografer profesional sampai pengguna Kamera HP amatiran meramaikan broadcasting, menyebarkan ke seluruh keluarga, teman-teman dan para sahabat di media alternatif Facebook dan Twitter, Blog dan lain-lainnya. Bukan sekedar broadcasting foto tetapi broadcasting semangat hidup kebersamaan.

2 prabu dennaga solo 1006341_10151698859988611_44068501_n

Partisipasi Media Online dan Media Cetak

Semua Media di Kota Yogyakarta ikut berpartisipasi dengan berbagi berita, beberapa di antaranya:

  1. Pawai Budaya, Gunakan Pakaian Bekas oleh Radar Jogja
  2. Kekerasan Bukan Penyelesai Perbedaan oleh Kedaulatan Rakyat versi Cetak
  3. Pawai Hari Bhakti Ibu Pertiwi Di Yogyakarta oleh RRI Jogja
  4. Hari Bakti Ibu Pertiwi  Menggugah Rasa Kebersamaan Masyarakat oleh Koran Sindo
  5. Pawai Hidup Dalam Kebersamaan, Ajang Pendidikan Karakter oleh KR online
  6. Pawai Hari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi Jadi Inspirasi oleh Sorot Jogja
  7. Pawai Budaya Gunakan Pakaian Bekas oleh Radar Jogja

3 prabu dennaga 1237909_10151698860973611_865494361_n

Sumbangsih Partisipasi Para Peserta Pawai, Panitia dan Masyarakat Pemirsa Pawai

Para peserta pawai ikut berpartisipasi dengan dana sendiri, semangat kebersamaan ini perlu kita gaungkan bersama. Berapa pun nilai tenaga dan dana yang dikeluarkan akan tercatat sebagai sumbangsih bagi Ibu Pertiwi. Ibu Pertiwi tidak akan tinggal diam dan akan membalas pada waktu yang tepat.

Teman-teman Panitia Hari Bhakti Ibu Pertiwi tak kenal lelah mengimplementasikan nilai-nilai kebersamaan yang diperoleh di Anand Ashram. Berbagi kesadaran yang nyata dan bermanfaat bagi bangsa.

Masyarakat Jogja yang menunggu pawai dipinggir jalan, berdesak-desakan di kerindangan pohon di antara Alun-Alun Utara dan Pura Pakualaman.

Atraksi di akhir pawai juga sangat meriah, para peserta pawai yang sebagian berupa sisawa-siswa sekolah unjuk kebolehan dengan tepuk-sorak para penonton yang memenuhi Pura Pakualaman.

4 prabu dennaga 536829_10151698863363611_865054802_n

5 prabu dennaga 1233551_10151698879003611_1071924553_n

Artikel Terkait

Situs artikel terkait

https://triwidodo.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Simbolisasi dalam Ritual Slametan

Melihat Kearifan Lokal Berdasar Pandangan Anand Krishna

buku fengshui awreness

Sebagian masyarakat melakukan ritual karena meniru apa yang telah dilakukan banyak orang sebelumnya. Mereka melakukan ritual tanpa memahami spirit atau jiwa di balik ritual-ritual itu. Dan karena tidak memahaminya maka begitu ada yang mengatakan hal tersebut sebagai syirik, mereka pun langsung meninggalkan ritual tersebut. Padahal sebuah ritual bila dipahami dengan benar dapat meningkatkan kesadaran kita. Ritual hanyalah sarana untuk meningkatkan kesadaran.

 

Simbolisasi Pada Kehidupan Manusia

Manusia hidup di tengah hutan lebat simbol. Di mana-mana ada simbol. Dari logo perusahaan hingga merek kendaraan dan nomor penerbangan, semuanya menggunakan simbol. Kadang, simbol juga bisa berupa angka atau warna. Sesungguhnya hidup kita pun bisa “menjadi” simbol. Seorang pemersatu seperti Gajah Mada menjadi simbol persatuan. Para pelaku aksi terorisme menjadi simbol kejahatan. Gandhi menjadi simbol Ahimsa, tanpa kekerasan. Mother Theresa menjadi simbol pengabdian. Muhammad menjadi simbol iman dan keberanian. Buddha menjadi simbol kedamaian. Masih banyak simbol-simbol lain. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol……. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern”, Anand Krishna, One Earth Media, 2005.

Kita akan melihat beberapa simbolisasi pada ritual slametan. Pada waktu acara slametan, sejumlah orang duduk melingkar bersila di atas tikar, berdoa bersama, dan di tengah lingkaran terletak nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Setelah doa bersama selesai dilakukan, dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama.

 

Makna Spiritual Bentuk Geometris

Saat kita melihat matahari atau bulan yang bulat, gunung yang berbentuk segitiga lancip di atas, bintang yang bersinar, nyala api yang menyala ke atas, kita memahami adanya bentuk geometri di alam semesta. Tanpa kita sadari kita, telah ada interaksi antara bentuk-bentuk geometri dan diri kita. Itulah sebabnya para leluhur kita membuat tempat pemujaan dengan bentuk geometri tertentu untuk membangkitkan rasa terdalam dalam diri manusia. Pada saat ini kita pun sudah terbiasa melihat bentuk geometris kubah masjid, bangunan gereja, vihara ataupun pura.

Lingkaran adalah geometri yang secara tradisional dianggap mewakili Tuhan. Sebelum alam semesta diciptakan tidak ada yang lain kecuali Tuhan, bahkan tidak waktu dan ruang. Keliling lingkaran adalah batas segala yang ada. Lingkaran juga memperlihatkan bentuk simetri dilihat dari arah mana saja. Titik adalah lingkaran juga tetapi sangat kecil. Sumber https://triwidodo.wordpress.com/2012/01/31/makna-spiritual-bentuk-geometris-dari-candi-candi-dan-tempat-tempat-ibadah-di-indonesia/

 

Lingkaran Kehidupan

Bulan yang bulat mengedari bumi membentuk jejak berbentuk lingkaran, demikian pula bumi mengelilingi matahari menuruti rute berbentuk lingkaran. Semua roda kendaraan berbentuk lingkaran. Siklus kehidupanpun dapat digambarkan sebagai lingkaran dimana setelah titik akhir akan kembali ke titik awal. Air di laut menguap membentuk awan yang akhirnya turun menjadi hujan. Air hujan yang berkumpul di bumi lewat sungai-sungai akan mengalir menuju laut, sehingga terjadi siklus hidrologi. Biji mangga berkembang menjadi pohon yang berbunga, berbuah yang mempunyai biji dan bijinya akan menjadi pohon mangga lagi, yang kembali akan berbunga, berbuah, berbiji dan seterusnya. Kupu-kupu bertelur, telurnya menjadi ulat, yang kemudian menjadi kepompong dan bermetamorphose menjadi kupu-kupu yang akhirnya bertelur lagi. Sperma dan ovum bertemu menjadi bayi yang kemudian menjadi manusia dewasa. Manusia dewasa berhubungan dengan pasangannya, dimana sperma akan bertemu ovum dan menghasilkan bayi lagi. Pengalaman mangga, kupu-kupu dan manusia selama hidup akan mempengaruhi generasi berikutnya.  Sebuah siklus kehidupan dan evolusinya. Baca lebih lanjut

Kalender Jawa dan Pengaruh Rasi Perbintangan Terhadap Manusia

Melihat Kearifan Lokal Berdasar Pandangan Anand Krishna

buku spiritual-astrology

Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup. (Catatan: “Sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup, dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena tambahan-tambahan” yang kita lakukan-a.k). (*Menurut pandangan Anand Krishna peradaban Sindhu terhampar dari Sungai Sindhu di India sampai Astraleya, Australia yang pada zaman dahulu masih merupakan satu Continent. Sindhu, Shin, Chin, Shintu, Hindu, Hindia, Indo mempunyai kaitan-TW). Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010.

 

Dasar Pembuatan Kalender

Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan matahari (kalender solar) dan gerakan bulan (kalender lunar). Ada juga kalender yang tidak berdasarkan gerakan benda langit dan hanya berupa penghitungan matematis seperti Kalender Pawukon. Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung  berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bulan mengelilingi bumi dengan rentang waktu 1 bulan. Tahun dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bumi mengelilingi matahari dengan rentang waktu 1 tahun. Kalender solar mempunyai rentang waktu 365.242819 hari untuk setiap putaran, yang dibulatkan menjadi 365 ¼ hari, sehingga dalam 1 tahun ada 365 hari dan setiap empat tahun ada tahun kabisat yang berumur 366 hari. Kalender lunar mempunyai rentang waktu 354.36707 hari yang dibulatkan dalam Kalender Jawa menjadi 354 3/8, sehingga 1 tahun Jawa ada 354 hari dan dalam 8 tahunan (windu) ada 3 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Dalam perkiraan Kalender Hijriah 1 tahun dibulatkan menjadi 354 11/30 yang artinya dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Kalender Gregorian (Kalender Tahun Masehi yang dipakai secara internasional) dan Kalender Jawa dihitung berdasarkan matematis, sedangkan Kalender Hijriyah dan Kalender China menggunakan cara astronomis dengan melihat posisi bulan.

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pasar yang terdiri dari 5 hari pasaran. Menurut Wikipedia, pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan lunar dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka kalender berdasarkan rasi bintang yang berpengaruh pada musim tanam yang disebut sebagai Pranata Mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV dan digunakan secara resmi. Contohnya adalah rasi bintang Waluku (Orion) sebagai tanda musim tanam. Sebenarnya Pranata Mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Sultan Agung. Oleh Sri Paduka Mangkunagara IV tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender solar.

 

Pengaruh Konstelasi Perbintangan Terhadap Manusia

Semua Rasi Bintang akan mempunyai pengaruh terhadap manusia. Nenek moyang kita mempercayai, bahwa tidak ada hari-hari penting seperti kelahiran, perkawinan dan kematian secara kebetulan. Setiap kejadian pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengaruh bulan, pengaruh matahari dan pengaruh planet lainnya. Candra, atau Soma adalah penguasa Bulan, dan leluhur kita menamakan hari yang dipengaruhi bulan sebagai Soma, Senin, Monday, hari yang dipengaruhi “moon”, “manas”. Selasa dipengaruhi oleh planet Mars, leluhur kita menyebutnya Bintang Anggara. Rabu dipengaruhi oleh planet Mercurius, yang dalam bahasa Jawi Kuno hari Rabu disebut Budha, Planet Mercurius. Kamis dipengaruhi oleh planet planet Yupiter, penguasanya Brihaspati, guru para dewa, leluhur kita menyebutnya Respati. Jum’at dipengaruhi oleh planet Venus, penguasanya adalah Sukracharya, leluhur kita menyebut hari Jum’at sebagai Sukra. Saptu dipengaruhi oleh planet Saturnus, sehingga disebut Saturday, leluhur kita menyebutnya Tumpak atau Saniscara (Dewa Sani, Putera Dewa Surya, Matahari). Sedangkan Minggu dipengaruhi oleh Matahari, Surya, Ra, sehingga harinya disebut Sunday, para leluhur kita menyebut Radite. Selain Kalender Solar (berdasar matahari), leluhur kita juga memperhitungkan Kalender Lunar (berdasar bulan) dan ada 5 hari pasar Legi, Paing, Pon Wage, Kliwon. Baca lebih lanjut

Isi Pasal 197 KUHAP

Pasal 197

 

(1)Surat putusan pemidanaan memuat:

 

  1. kepala putusan yang dituliskan berbunyi : “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”;
  2. nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan terdakwa;
  3. dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan;
  4. pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa,
  5. tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan;
  6. pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa;
  7. hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis hakim kecuali perkara diperiksa oleh hakim tunggal;
  8. pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan;
  9. ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti;
  10. keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan di mana Ietaknya kepalsuan itu, jika terdapat surat otentik dianggap palsu;
  11. perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan;
  12. hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang memutus dan nama panitera;

 

 

(2) Tidak dipenuhinya ketentuan dalam ayat (1) huruf a, b, c, d, e, f, h, j, k dan I pasal inii mengakibatkan putusan batal demi hukum.

 

(3) Putusan dilaksanakan dengan segera menurut ketentuan dalam undang-undang ini.

Hirarki Kebutuhan Maslow Dan Karma Capitalism dari Personal Menuju Transpersonal

Dalam Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow) disampaikan bahwa Abraham Maslow menggunakan piramida hirarki kebutuhan dalam memvisualisasi gagasannya. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

Kebutuhan fisiologi ditempatkan pada tingkat yang paling bawah. Kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi bisa membuat manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Sebaliknya, jika kebutuhan dasar ini relatif sudah tercukupi, muncullah kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (safety needs).

Kebutuhan Rasa Aman (safety needs) berhubungan dengan jaminan keamanan, stabilitas, perlindungan, struktur, keteraturan, situasi yang bisa diperkirakan, bebas dari rasa takut dan cemas dan sebagainya. Sama halnya dengan basic needs, kalau safety needs ini terlalu lama dan terlalu banyak tidak terpenuhi, maka pandangan seseorang tentang dunianya bisa terpengaruh dan pada gilirannya pun perilakunya akan cenderung ke arah yang makin negatif.

Kebutuhan Sosial (social needs) adalah kebutuhan ketiga setelah kebutuhan dasar dan rasa aman relatif dipenuhi. Setiap orang ingin mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain. Setiap orang ingin setia kawan dan butuh kesetiakawanan. Setiap orang pun ingin mempunyai kelompoknya sendiri, ingin punya “akar” dalam masyarakat. Setiap orang butuh menjadi bagian dalam sebuah keluarga, sebuah kampung, suatu marga, dan lain-lain. Setiap orang yang tidak mempunyai keluarga akan merasa sebatang kara. Kondisi seperti ini akan menurunkan harga diri orang yang bersangkutan.

Kebutuhan Harga Diri (esteem needs) muncul bila kebutuhan sosial relatif sudah terpenuhi. Ada dua macam kebutuhan akan harga diri. Pertama, adalah kebutuhan-kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian. Sedangkan yang kedua adalah kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi dari orang lain. Orang-orang yang terpenuhi kebutuhan harga dirinya akan tampil sebagai orang yang percaya diri, tidak tergantung pada orang lain dan selalu siap untuk berkembang terus untuk selanjutnya meraih kebutuhan yang tertinggi yaitu aktualisasi diri (self actualization).

Kebutuhan Aktualisasi Diri (self actualization) merupakan puncak dari hirarki kebutuhan oleh Maslow. Kebutuhan untuk mencapai potensi penuh seseorang sebagai makhluk hidup manusia di dunia, yang menyangkut keadilan, kebijaksanaan, kebajikan, dan kreativitas.

Dalam tahun-tahun berikutnya, Maslow menambahkan tingkat keenam dari hirarki kebutuhan, yaitu Kebutuhan Transendensi atau Transpersonal. Hal ini sebagai pengakuan atas realitas yang melampaui semua dari lima tingkat pertama termasuk tahap kelima Aktualisasi Diri. Sangat menarik bahwa lima kebutuhan Maslow telah dikenal secara luas, tetapi sangat sedikit yang mengetahui tentang tingkat keenam. Mengapa? Salah satunya adalah karena kelima hirarki Maslow berhubungan dengan ego. Walaupun sudah meningkat kualitasnya, tetapi semua kebutuhan tersebut masih berada dalam wilayah ego, sehingga mudah dipahami dan dilakoni. Sedangkan pada hirarki keenam tingkat  kesadaran sudah meningkat dan yang dipikir dan dilakoni bukan hanya kepentingan pribadi, tetapi kepentingan keseluruhan.

Karena berada dalam wilayah ego, maka dalam pemenuhan kebutuhannya manusia mudah terjebak ke dalam sifat-sifat negatif dari ego. Ketika kebutuhannya selalu terpenuhi bisa muncul keangkuhan dan juga keterikatan terhadap kebutuhan tersebut. Dan dari keterikatan bisa meningkat kepada keserakahan, yang hanya memikirkan diri sendiri dan mengabaikan pemenuhan kebutuhan orang lain. “Capitalism” tumbuh subur dalam masyarakat yang “ego-based”. Pada saat ini sudah disadari kelemahan-kelemahan sistem kapitalis dan masyarakat mulai mengubah prinsip “capitalism” menjadi “karma capitalism” Baca lebih lanjut

Renungan Kebangsaan: Akhir Kisah Sri Krishna Dan Pandawa Dalam Mahabharata

Dalam kitab Mahabharata dikisahkan tentang beberapa kutukan dari orang yang merasa dianiaya, dan demikian pula dalam kitab Srimad Bhagavatam. Rupanya sang penulis, Bhagawan Abyasa memberikan peringatan agar manusia berhati-hati dalam menapaki kehidupan, karena bisa saja orang teraniaya oleh tindakan kita dan hukum sebab-akibat akan mengejar kita. Dikisahkan bahwa Dewi Gendari mengutuk Sri Krishna, mengapa membiarkan perang Bharatayuda terjadi dan tidak membuat skenario agar para Korawa sadar dan tidak semakin berlarut-larut berkubang dalam perbuatan adharma sehingga perang Bharatayuda tidak terjadi. Perang Bharatayuda tidak memberi keuntungan bagi Korawa dan Pandawa. Korawa punah, di pihak Pandawa juga tinggal Pandawa sendiri yang sudah tua-tua dan seorang cucu Pandawa yang selamat yaitu Parikesit. Konon Dewi Gendari yang kehilangan semua putranya, mengutuk agar kejadian serupa terjadi pada Dinasti Yadawa. Bagaimana pun ada banyak faktor yang mempengaruhi terlaksananya sebuah kutukan dan faktor utama adalah Hukum Alam dan Ridha Ilahi, Kehendak Hyang Widhi. Dan, perang Bharatayuda memang bukan merupakan kemenangan mutlak Pandawa, tetapi kemenangan mutlak dharma mengalahkan adharma.

Setelah perang Bharatayuda, Dinasti Yadawa mengalami masa jaya selama 36 tahun dibawah kepemimpinan Sri Krishna, Sang Wisnu yang mewujud di dunia untuk menegakkan dharma dan mengalahkan adharma yang merajalela. Kala sebuah bangsa atau seorang manusia mengalami penderitaan, maka semangatnya bangkit untuk berjuang melepaskan diri dari kesengsaraan. Akan tetapi kala, sudah tidak ada tantangan, hidup terasa nyaman, sebuah bangsa atau seorang manusia sering lalai dan terbuai oleh kenyamanan dan kenikmatan pancaindera. Demikianlah, setelah perang Bharatayuda dinasti Yadawa menjadi sombong, arogan dan gemar berpesta pora.

Ada perbedaan kehidupan Sri Krishna sewaktu kecil di Brindavan dan sesudah menjadi raja dinasti Yadawa di Dwaraka. Para Gopi dan Gopal, para penggembala di Brindavan merasa bahwa mereka adalah milik Sri Krishna, mereka tidak mempunyai kesenangan pribadi kecuali menyenangkan Sri Krishna. Sedangkan bagi dinasti Yadawa, Sri Krishna adalah milik mereka, mereka memuaskan kesenangan mereka sendiri, yang penting dilindungi Sri Krishna. Para Gopi dan Gopal sudah dapat mengendalikan sifat hewani mereka, sedangkan dinasti Yadawa tidak dapat mengendalikan sifat hewani mereka. Para Gopi dan Gopal yakin bahwa yang bisa membahagiakan manusia adalah kasih, sedangkan dinasti Yadawa masih yakin kenyamanan dunialah yang akan membahagiakan mereka. Baca lebih lanjut