Konflik Ego dan Kedamaian Transpersonal dari Ki Ageng Suryomentaram, Maslow ke Anand Krishna

 

 

Hidup dikendalikan oleh panca indera atau mengendalikan panca indera?

“Dasharatha adalah Ayahmu! Ia memiliki dasha atau ‘sepuluh’ ratha, atau kereta perang di bawah perintahnya. Yang dimaksud di sini adalah kereta-kereta dari indera serta organ-organ indera Anda sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Inilah potensi Anda. Anda bisa memerintah mereka. Anda bisa mengendalikan mereka. Dengan membiarkan diri Anda terkendalikan oleh mereka, maka sesungguhnya Anda tidak menggunakan potensi Anda sama sekali.” Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Kramadangsa” pemikiran Ki Ageng Suryomentaram

Sejak masih bayi, kita mencatat apa saja yang berhubungan dengan diri kita. Ki Ageng mengatakan tugas juru catat itu seperti  tanaman yang hanya bisa mencatat, tidak bisa bergerak bebas. Di luar diri otak mencatat dengan bantuan panca indera sedangkan di dalam diri otak mencatat dengan rasa (organ-organ panca indera yang berkaitan dengan pikiran). Catatan yang jumlahnya berjuta-juta tersebut seperti hidupnya hewan. Hewan bisa bergerak mencari makan sendiri. Makanan catatan tersebut berupa perhatian, bila diperhatikan catatan berkembang subur, bila tidak dberi perhatian catatan akan mati.

Menurut Ki Ageng, setelah catatan itu cukup banyak maka “Kramadangsa” (nama kita sendiri, misalnya Triwidodo) lahir. Kita menganggap diri kita dilengkapi dengan catatan (1)harta milikku, (2)kehormatanku, (3)kekuasaanku, (4)keluargaku, (5)bangsaku, (6)golonganku, (7)jenisku, (8)pengetahuanku, (9)kebatinanku, (10)keahlianku, (11)rasa hidupku. Kita hidup dalam dimensi ketiga, bisa bergerak bebas mencari makan sendiri dan menggunakan pikiran dan rasa. Catatan-catatan inilah asal mula ego.

Catatan-catatan/informasi itu bersifat seperti hewan, bila diganggu marah. Sedangkan Kramadangsa/diri kita sebagai manusia sebelum bertindak atau marah bisa berpikir dahulu. Itulah bedanya hewan yang “fight or flight”, bertarung atau ngacir, sedangkan manusia berpikir dulu sebelum bertindak. Apabila diri kita terlalu terobsesi tentang kekuasaan/jabatan, maka untuk memperoleh peningkatan ‘catatan  jabatan” kita bisa menggunakan segala cara untuk memperoleh jabatan, mengabaikan ‘catatan kehormatan’, ‘rasa hidup’ dan ‘kepentingan bangsa’. Artinya pikiran kita kurang jernih.

Peran seorang ketua partai politik yang ingin menjadi menjadi anggota legislatif, atau kepala daerah atau pun kepala negara bisa menumbuhkan konflik dengan peran’catatan kebatinan’ (hati nurani) dan ‘kepentingan bangsa’. Peran seorang dari  jenis lelaki yang sedang mendekati wanita cantik bisa menimbulkan konflik dengan peran catatan kehornatan dan keluarga.

 

Manusia Universal atau Transpersonal

Abraham Maslow menggunakan piramida kebutuhan manusia untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang selalu berkembang. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Kebutuhan fisik adalah kebutuhan terendah. Kebutuhan berikutnya adalah rasa aman, seperti kebutuhan rumah, kesehatan di hari tua, dapat menyekolahkan putra-putrinya dan lain-lain. Setelah itu ada kebutuhan sosial untuk berhubungan dengan orang lain. Kemudian baru kebutuhan harga diri, agar dirinya dalam pergaulan sosial bisa dihargai. Dan akhirnya adalah  kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan untuk melaksanakan karya nyata di tengah masyarakat. Sebetulnya Maslow di hari tuanya paham bahwa itu semua merupakan kebutuhan personal dan menambahkan kebutuhan transpersonal manusia, akan tetapi kebutuhan yang terakhir tersebut kurang dapat dipahami orang dan kurang terekspose.

Menurut Ki Ageng apabila aku merasa menginginkan jabatan dan kemudian berpikir bagaimana caranya memperoleh jabatan, maka aku sedang menempuh ukuran ketiga yaitu Kramadangsa, ego. Apabila pada waktu mencari jabatan aku berpikir, jabatan itu apa? Apakah jabatan itu abadi? Apakah aku akan mencari jabatan dengan mengabaikan hati nurani dan mengorbankan persatuan kebangsaan? Kemudian aku sadar bahwa aku bukanlah kumpulan catatan/informasi  tentang jabatanku, kebatinan/hati nuraniku, bangsaku, maka kesadaran naik aku adalah saksi dari catatan/informasi . Dengan melampaui aku sebagai kumpulan catatan/ informasi maka menurut Ki Ageng kita sudah mulai menempuh sebagai Manusia Universal.

Anand Krishna mengatakan bahwa sistem pendidikan yang berfokus pada diri pribadi itu perlu diperbaiki. Beliau mengingatkan,

“Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan” – ini adalah kaidah utama dari semua agama dan kitab suci yang merupakan intisari dari psikologi spiritual transpersonal.”

“Memperdulikan sesama!” Kalimat bijak ini adalah sebuah panggilan terhadap kesadaran kita dari kesadaran personal menuju kesadaran transpersonal.

Lihat gambar kebutuhan Maslow

hirarki-kebutuhan-maslow

lapisan kesadaran manusia

Gambar Lapisan Kesadaran Manusia sumber: https://triwidodo.wordpress.com/2012/06/07/dari-hirarki-kebutuhan-manusia-menuju-hirarki-kesadaran-manusia/

Perjalanan kehidupan

“Perjalanan hidup kita bukanlah merupakan ziarah atau perjalanan suci dari kepalsuan menuju kebenaran, tetapi dari ‘kebenaran bernilai rendah’ menuju kepada ‘kebenaran bernilai tinggi’. Semuanya benar. Tidak ada sesuatu yang tidak benar. Hyang Maha Benar tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak benar. Namun, apa yang benar bagi Anda saat ini belum tentu benar bagi saya saat ini juga. Besok-besok bisa menjadi benar.” (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

“Perjalanan spiritual, dimulai dari ‘aku’ yang terbatas menuju ‘kita’ yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari ‘kita’ menuju ‘Dia’ Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.” (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Tertarik? Silakan ikut program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Renungan Bhagavatam: Dhenukasura, Melepaskan Diri Dari Perbudakan Hawa Nafsu

Raja Parikesit masih termenung memikirkan kisah Krishna kecil yang mewujud sebagai para anak gembala, para anak sapi, pakaian dan peralatan para anak gembala. Sang Raja teringat Upanishad yang menyampaikan bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu, mestinya bukan hanya kala itu Sri Krishna mewujud menjadi banyak hal. Bukankah segala sesuatu di alam ini pada hakekatnya adalah proyeksi dari Tuhan? Mata batin Raja Parikesit dapat merasakan bahwa apa pun yang nampak olehnya, semuanya adalah proyeksi Tuhan dan dia wajib melayani semuanya sebaik-baiknya……..

 

Para sufi juga bersaksi bahwa tak ada Yang Lain kecuali Allah. Einstein pun berkata bahwa semua materi pada hakikatnya adalah energi, yang ada hanya energi. Dia adalah Energi Agung. Dalam buku “Shri Sai Sacharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 disampaikan wejangan seorang Sadguru untuk melampaui dualitas……… Makanan yang kauberikan kepada anjing itu telah Kuterima. Anjing itupun wujud-Ku, sebagaimana hewan-hewan lain. Ia yang melihat-Ku dalam setiap makhluk adalah kekasih-Ku. Sebab itu lampauilah dualitas yang disebabkan oleh rupa dan nama. Layanilah setiap makhluk hidup, sebagaimana kau melayani anjing itu, karena Aku berada di mana-mana, di dalam diri setiap makhluk. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap makhluk inilah non-dualitas. Inilah inti pesan setiap Guru Sejati. Kitab-kitab suci pun mengajarkan kita hal yang sama. Tiada sesuatu yang beda antara ajaran-ajaran yang tertulis dan apa yang disampaikan oleh para Sadguru………..

 

Raja Parikesit tergugah dari renungannya, kala Resi Sukhabrahma datang, duduk di depannya dan melanjutkan kisahnya………

Kala Krishna mencapai usia enam tahun Krishna dan Balarama sudah dipercaya untuk menggembala sapi, mereka tidak menggembalakan anak sapi lagi.  Krishna, Balarama dan teman-teman  sebayanya setiap hari menggembalakan sapi ke bukit Govardhana yang banyak rumputnya. Kemudian mereka bermain-main di tepi hutan. Kali ini Balarama agak capek dan tidur-tiduran di bawah pohon. Krishna memijit-mijit betis Balarama. Dan beberapa temannya melepaskan lelah di dekat mereka dan beberapa masih tetap bermain di hutan.

Sebuah lingkungan kehidupan yang berbahagia. Tanaman dan hewan banyak memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya sebagai cadangan sewaktu tanaman sedang tidak berbunga. Kelebihannya dipersembahkan kepada manusia. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia lebih mementingkan dirinya sendiri.

 

Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan………. Alam tidak selalu “memperoleh”. Ia lebih banyak memberi. Apa sebenarnya perolehan alam? Apa yang dapat kita berikan padanya? Barangkali “perhatian” – itu saja. Lalu, apakah kita selalu memperhatikan alam? Tidak juga. Malah lebih sering mengabaikannya, tidak memperhatikannya. Kendati demikian, ia tidak kecewa. Ia tetap menjalankan tugas serta kewajibannya sebagai “pemberi”. Segala perolehan kita sesungguhnya datang dari alam, atau setidaknya “lewat” alam……….

 

Pada waktu itu, Sridharma, Subala dan Stoka, 3 orang anak gembala yang sedang bermain mendekati Krishna dan Balarama. Mereka berkata, “Wahai Krishna dan Balarama, tidakkah kau membaui harum buah-buahan yang terbawa oleh angin ke tempat ini? Mereka berasal dari Hutan Talavana. Hutan Talavana penuh pohon buah-buahan, akan tetapi hutan tersebut dijaga oleh Dhenukasura, Asura berwujud keledai dan gerombolannya. Mereka tidak makan dan menikmati buah-buahan yang ada di hutan tersebut, akan tetapi mereka menjaganya dengan ketat. Bahkan para binatang pun tidak berani memasuki  wilayah hutan tersebut. Wahai Krishna dan Balarama, tolonglah kami untuk mendapatkan buah-buahan dari hutan tersebut. Bila kalian menemani, kami berani mengambilnya.” Baca lebih lanjut

Kualifikasi Pencari Jatidiri, Renungan Kesembilan Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Suamiku kita pernah membicarakan bagaimana menjadi murid berdasar buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran untuk Berkesadaran”. Seorang “murid” adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Mari kita membicarakan bagaimana kualifikasi murid yang perlu dimiliki untuk mencapai tujuan “kesadaran tertinggi” tersebut.

Sang Suami: Baik istriku, mari kita buka buku “Shri Sai Satcharita” yang membicarakan perihal tersebut. Dalam buku tersebut disampaikan…….. Tidak setiap orang memiliki keinginan untuk mencari jatidiri, menemukan Keilahian di dalam diri, atau memperoleh Brahma-Gyaan. Diantara mereka yang berkeinginan pun hanyalah sedikit saja yang sungguh-sungguh berusaha. Dan, di antara mereka yang berusaha, hanyalah segelintir yang akhirnya berhasil. Ibarat berjalan di atas mata pisau, seperti itulah perjalanan ini, hanyalah seorang pemberani yang dapat menempuhnya. Kemudian, dijelaskan kualifikasi para pencari yang berani……… Kualifikasi Pertama adalah “Mumuksha”, atau ‘keinginan yang sangat kuat’ untuk meraih kebebasan dari segala macam keterikatan. Tanpa keinginan yang kuat, seorang pencari tak akan sungguh-sungguh mencari. Ia tidak menggunakan seluruh tangannya. Dan, ia tak akan bertahan hingga tujuannya tercapai. Seorang pencari sejati tidak lagi menginginkan sesuatu yang lain di luar apa yang sedang dicarinya………

Sang Istri: Kualifikasi Kedua adalah “Virakti”, atau ‘rasa muak’ terhadap kenikmatan indera di dunia dan disurga. Seorang pencari yang merasa sudah muak dengan kenikmatan duniawi, tapi masih mengharapkan kenikmatan surgawi, bukanlah pencari sejati. Ia belum betul-betul muak. Seorang pencari muak dengan segala macam pujian dan penghargaan duniawi, dan tidak tertarik pada pahala surgawi. Hanyalah seorang pencari seperti itu yang akan menemukan apa yang sedang dicarinya……. Baca lebih lanjut

Menjadi Murid, Renungan Kedelapan Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Kita berdua pernah membaca arsip di dunia maya mengenai komentar seorang Guru kala seseorang bertanya lewat email apakah Sang Guru berkenan menerimanya sebagai murid. Sang Guru berkomentar di dunia maya, pertanyaannya bukan apakah sang guru berkenan menerima murid, pertanyaan yang benar adalah apakah seseorang mau menjadi murid. Kata murid berasal dari bahasa Persia kuno. Kata asalnya adalah murad. Murad berarti seseorang yang pikirannya sepenuhnya tertuju untuk manunggal dengan Gusti. Itulah arti murad. Sehingga pertanyaannya apakah ada seorang murid? Apabila ya, Sang Guru dengan senang hati akan menerima perannya sebagai Murshid atau Guru.

Sang Suami: Dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran untuk Berkesadaran” disampaikan puisi dari Shri Chaitanya Mahaprabhu yang terjemahannya sebagai berikut………… Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kukehendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam setiap masa kehidupanku……….. Baca lebih lanjut

Guru Menurunkan Tingkat Kesadaran Agar Dapat Berkomunikasi Dengan Murid, Renungan Keempat Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri agar esensi dari buku-buku tersebut dapat mereka resapi.

Sang Suami: Istriku, dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan bahwa……. Jenderal Douglas MacArthur pernah berkata, orang menjadi tua karena meninggalkan idealnya  atau tidak lagi berupaya untuk mencapainya. Usia hanyalah meyebabkan keriput pada kulit, tanpa daya tarik atau kehendak yang kuat jiwamu berkeriput. Kau adalah semuda imanmu, dan setua keraguanmu; semuda rasa percaya dirimu, dan setua rasa takutmu; semuda harapanmu, dan setua keputusasaanmu. Di tengah setiap hati atau jiwa atau psike, adalah ruang perekam atau arsip. Selama ia menerima pesan-pesan nan indah, penuh harapan, keceriaan, dan semangat, selama itu pula kau masih berusia muda. Ketika hati atau jiwa atau psikismu tertutup oleh salju pesimisme dan sinisisme, maka saat itulah kau menjadi tua. Kemudian, seperti kata para penyair, kau melentur dan lenyap…… Kini Orang Tua dan Teman-Teman telah memberkahi kita bahwa jiwa kita akan selalu muda, maka mulai saat ini kita tidak akan membahasakan diri kita sebagai orang tua setengah baya lagi. Dulu berpegang kultur Jawa, kita memanggil mereka yang lebih muda dari kita sebagai Mas dan Mbak, panggilan anak kita terhadap mereka. Mulai saat ini kita akan lebih sering memanggil mereka Boss, agar jiwa kita tetap muda. Semoga Teman-Teman kita, semoga Boss-Boss maklum……

Sang Istri: Seorang guru TK harus menurunkan tingkat kemampuan ilmiahnya untuk secara sederhana mengajari murid-muridnya. Tetapi walau berkomunikasi dengan anak didiknya menggunakan bahasa kanak-kanak, sang guru tidak melupakan tingkat kemampuan intelektualnya. Begitu ke luar dari ruang belajar murid-muridnya, sang guru kembali menjadi seseorang dengan tingkat intelektual yang sebenarnya…….. Seorang pilot pesawat di angkasa juga harus menurunkan pesawatnya di bandara untuk menjemput penumpang yang akan dibawanya terbang ke angkasa.

Sang Suami: Demikian pula dengan seorang Satguru. Dia harus menurunkan tingkat kesadarannya agar dapat berkomunikasi dan meningkatkan kesadaran para muridnya. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Seorang Satguru tidak pernah menempatkan diri di atas panggung yang sangat tinggi, sehingga kita tidak dapat menggapai Beliau. Dengan menunjukkan sisi kemanusiannya, Sang Guru Sejati hendak meyakinkan kita, Lihat, aku pun manusia biasa seperti dirimu. Jika, aku bisa mengalami  peningkatan kesadaran, penjernihan pikiran, dan pemurnian rasa, maka, kau pun bisa. Pasti!………

Sang Istri: Seorang Satguru telah menemukan Jati Diri. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Jati Diri sesungguhnya adalah Kesadaran Murni. Kesadaran yang utuh, tidak terbagi. Kesadaran yang satu adanya. Kesadaran yang bercahaya, karena cahaya itu merupakan sifatnya. Cahaya yang tidak mengenal perpisahan dan perbedaan. Turun sedikit dari Tingkat Kesadaran Murni, kita akan melihat perpisahan, pembagian dan perbedaan. Setinggi-tingginya kesadaran kita, jika masih satu anak tangga saja di bawah Kesadaran Murni, kita masih berada pada tingkat kesadaran rendah. Apa yang kita anggap Superconsciousness atau Kesadaran Supra, Kesadaran Tinggi, masih satu anak tangga di bawah Kesadaran Murni. Karena itu, berada pada tingkat Kesadaran Supra pun, kita masih akan melihat perbedaan……… Baca lebih lanjut

Percaya Penuh Pada Guru, Renungan Ketiga Tentang Berguru

Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak menghilangkan esensi.

Sang Istri: Suamiku, saya pernah membaca Guru-Bhakti Yoga yang ditulis oleh Swami Sivananda. Guru-Bhakti Yoga dilakukan dengan cara penyerahan total dari diri kepada Sadguru, di antaranya dengan hasrat yang kuat untuk melakoni Guru-Bhakti Yoga; keyakinan mutlak pada pikiran, ucapan dan tindakan Guru; melakukan penghormatan dengan rendah hati dan mengulang-ulang nama Guru; kepatuhan sempurna untuk melaksanakan instruksi Guru; melayani  Guru tanpa pamrih…… Mereka yang percaya kepada Utusan Ilahi, Pembawa Pesan Suci telah melaksanakan itu, walaupun para “Guru” tersebut sudah wafat ribuan tahun yang lalu. Swami Sivananda berbicara mengenai penyerahan total pada Guru yang masih hidup.

Sang Suami: Untuk memahami Guru-Bhakti Yoga kita perlu membuka khazanah leluhur tentang manembah. Para leluhur kita menembah kepada mereka yang dianggap sebagai utusan Gusti yang membimbing mereka seperti orang tua dan guru spiritual. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa………. Terpengaruh oleh budaya asing yang selalu memisahkan materi dan spiritual, seolah keduanya adalah dua entitas yang berbeda, maka kita pun menciptakan kaidah-kaidah tentang apa dan siapa saja yang boleh disembah. Padahal di dalam budaya kita ada tradisi sungkem kepada orangtua, dan siapa saja yang kita pertuakan. Maka tidaklah heran bila kita juga bersungkem pada seorang guru spiritual yang tidak hanya kita hormati, tapi kita anggap sebagai berkah dari Hyang Widhi, dari Hyang menentukan Segalanya……… Dalam buku “Shri Sai Satcharita”tersebut juga disampaikan 3 hal yang perlu dipersembahkan kepada Guru……. Pertama, adalah tidak cukup bila seseorang panembah hanya menghaturkan sembah sujud kepada seorang Sadguru yang memiliki pengetahuan sejati. Ia mesti berserah diri sepenuhnya. Kedua, sekedar bertanya kepada Guru tidak cukup. Seorang panembah mesti bertanya dengan tujuan dan niat yang jelas. Adapun tujuan seorang panembah adalah pengembangan batin dan kebebasan mutlak. Ia tidak bertanya untuk sekedar mencari tahu, menjebak, atau mencari kesalahan dari jawaban seorang Guru. Ketiga, seva bukanlah sekedar “melayani”. Seorang pelayan masih memiliki kebebasan untuk melayani atau tidak melayani. Seorang panembah telah berserah diri sepenuhnya, maka raga dia bukanlah milik dia lagi. Raga dia adalah milik Sang Guru. Raga itu ada hanyalah untuk melayani Sang Guru. Jika sudah berkesadaran seperti itu, maka pastilah dia memperoleh pengetahuan sejati dari Sadguru…… Baca lebih lanjut

Guru Sebagai Jembatan Antara Manusia dan Gusti, Renungan Kedua Tentang Berguru

Sepasang suami istri setengah baya sedang belajar bagaimana cara berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pemahaman pengetahuan menjadi tidak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Buku tidak dibaca tetapi dipelajari. Paathi-to learn, sebuah proses seumur hidup dari lahir sampai mati.

Sang Istri: Semua orang bijak, para suci, para guru dunia telah berguru sebelumnya. Bahkan Sri Rama dan Sri Krishna pun patuh pada Guru mereka. Mereka bukan hanya mencari Guru untuk menambah ilmu seperti yang terjadi di pendidikan formal. Mereka membuka diri, pasrah, manembah terhadap Sang Guru. Mereka tidak menganggap diri mereka sudah bijak dan tidak menganggap bahwa Guru diperlukan hanya untuk melengkapi pengetahuan mereka. Mereka “bisa rumangsa ora rumangsa bisa”, mereka bisa menyadari diri, bukan merasa diri sudah bisa.

Sang Suami: Berbicara tentang kesadaran, maka hal yang utama adalah pengendalian pikiran. Selama ego masih ada, maka pikiran lah yang menjadi penguasa diri. dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan………. Inilah satu-satunya cara untuk menafikan ego. Tidak ada cara lain. Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita semata-mata untuk membantu kita tidak menjadi egois. Guru bagaikan katalisator, “perantara yang ada dan tidak ada”. Ia bagaikan  awan yang “menyebabkan” keteduhan untuk sejenak dan berlalu. Awan “tidak memberi” keteduhan, ia “tidak membuat” teduh: ia “menyebabkan” terjadinya teduh. Itulah Guru. Bagi Maria, kesadaran identik dengan Guru. Bagi dia, pencerahan identik dengan Yesus yang dicintainya. Di balik kejadian itu ia tidak melihat andil dirinya sama sekali. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memperoleh pencerahan itu. Apa yang terjadi atas dirinya semata-mata karena “berkah”, karena rahmat, karena anugerah Sang Guru! Kelak, Nanak pun mengatakan hal yang sama. Bertahun-tahun setelah kejadian: Ik Omkaar, Sadguru Prasaad – Hyang Tunggal Itu kutemui berkat rahmat Guruku! Baca lebih lanjut