kearifan lokal

Damai, Rahmat dan Berkah untuk kita semua,

Spiritual tergantung dari hubungan pribadi kita kepada Yang Maha Kuasa, sedangkan budaya terkait dengan akar yang dalam dari segala tindakan kita dalam kehidupan yang sesuai dengan jati diri kita.

Ada contoh dari Acara Ritual di Keraton Surakarta untuk menanak nasi yang diperuntukkan ”Jumenengan”, acara besar di Keraton. Nasi dimasak menggunakan ”Dandang” (alat memasak nasi) Kyai Sedudho. Segala macam beras dimasak, berasnya harus diperoleh dengan cara ditumbuk dengan ”lesung” (alat tumbuk padi tradisional). Yang menyalakan api ”Sinuwun” (Raja), dengan menggunakan”merang” (jerami). Selama menanak nasi, Dzikir ”La illa ha Illalah” berkumandang terus menerus tidak boleh berhenti. Ini adalah penerapan budaya sekaligus agama. Vibrasi dzikir, mantra yang ditujukan kepada nasi mempunyai pengaruh yang luar biasa. Menumbuk padi memakai lesung menimbulkan irama yang akan mempengaruhi beras. ”Lesung” dan ”alu”(alat penumbuk padi) adalah simbol yoni dan lingga. Semuanya kembali kepada alam. Segala hal ritual mempunyai benang merah dengan faktual.

Anggapan bahwa peninggalan nenek moyang yang kebetulan beragama lain dengan agama yang dianut mayoritas pada saat ini sehingga memandangnya hanya sebagai komoditi pariwisata adalah kurang bijaksana. Masih banyak pengetahuan yang dapat kita gali, bukan tentang agamanya tetapi ilmu pengetahuan yang mendasarinya. Kita lupa bagian-bagian dari candi masing-masing mempunyai makna. Kita lupa para Visvakarma leluhur kita yang menetapkan sebuah bangunan bukan sekedar bangunan, tetapi mempunyai makna yang dalam. Bagi yang mempelajari ”feng shui” bagaimana meletakkan bangunan di pusat-pusat energi yang akan mempunyai pengaruh yang luar biasa. Candi bukan sekedar tempat pemujaaan, tetapi merupakan sebuah Mandala. Haruskah ilmu-ilmu ini musnah karena ketidaktahuan kita?

Terima kasih sahabatku para pembaca. Semoga berkenan membuka tulisan dalam Kategori Kearifan Lokal. Damai, rahmat dan berkah selalu.

 

Desember 2007,

Triwidodo

27 Tanggapan

  1. pak triwidodo yth,
    salam,
    saya sependapat bahwa sesuatu yang dibangun oleh leluhur kita baik itu berupa bangunan fisik (candi, dsb) atau non fisik (ritual, dsb) tentu kaya akan makna atau ada falsafahnya, multidimensional dan tidak sembarangan begitu saja. teman teman arsitek dan antropologis telah banyak menguak makna di balik itu semua. ada yang menyimak dan banyak yang tidak.
    yang mampu menyimak tentu faham betul bahwa banyak manfaat yang dapat diperoleh dari keberadaan bangunan itu sehingga ada keinginan untuk melestarikannya. namun yang tidak mampu menyimak maka sikapnya akan sebaliknya.
    ada pula yang mampu menyimak sebagian saja. mereka dapat terjebak ke dalam kegiatan yang bersifat bid’ah atau musyrik. ini, saya rasa, yang menjadi kekhawatiran para ulama sehingga mereka merasa wajib mengingatkan. tugas pak triwidodo adalah mencerahkan semua orang agar mereka mampu memandang bangunan itu dari semua dimensi, agar bangunan itu terlihat serasi dalam keanekaragaman kehidupan manusia dan agar semua umat manusia merasa memilikinya.
    salam,
    dh

  2. Terima kasih sahabatku,
    Kita lahir membawa sifat genetik. Orang tua, lingkungan, pendidikan, pengalaman membentuk kerangka pemikiran kita. Apa yang kita anggap benar, adalah benar menurut kerangka pemikiran kita. Yang masih berkembang terus. Dulu Galileo mengatakan Bumi beredar mengelilingi Matahari, dan waktu itu dia dianggap kufur. sekarang tidak lagi. Dulu air dianggap benda mati, sekarang Dr. Masaru Emoto membuktikan bahawa air mempunyai kesadaran, membentuk kristal yang indah ketika didoain ataupun mendengar lagu indah. Semoga yang masih berkembang jangan dibakukan, ke depan masih akan ada pengetahuan yang menjawab.

  3. makasih atas informasinya dan saya mengutip, sebagian tex untuk tugas skripsi saya, mohon maap jika tidak berkenan dihati bapak

  4. Mas Musa, silahkan. semoga bermanfaat.

  5. pak tri yth
    syeh siti jenar pun dalam mendirikan padepokan atau membuka desa waktu itu selalu mempertimbangkan mandala-mandala,dengan mengorbankan tetesan darahnya yang dialirkan dari lengan yang digores.
    terima kasih

  6. Terima kasih Pak Bambang Pur. Setuju. Menurut kami pribadi, Budaya lahir dari kebutuhan suatu masyarakat di suatu tempat. Budaya asing baik bagi orang asing di tempat kelahirannya. Budaya mereka merupakan jawaban atas kebutuhan mereka dalam bermasyarakat. Budaya kita merupakan jawaban atas persoalan-persoalan yang kita hadapi. Persoalan mereka adalah persoalan mereka, persoalan kita adalah persoalan kita. Bila seorang asing datang dan menetap di negeri kita, dia harus menyesuaikan diri dengan budaya kita. Kita tidak perlu menyesuaikan diri dengan budaya mereka. Dia tidak perlu mengajar budaya kepada kita. Kita sudah berbudaya.

  7. Saya percaya banget bahwa kita punya ‘kekayaan’ yang amat besar. Sebelum prof Emoto menulis tentang air yang ‘punya jiwa’, bangsa kita toh telah membubuhkan doa dalam air yang diberikan kepada orang sakit. Itu satu misal.

    Sayangnya, kami (atau kita kalau saya boleh memasukkan Bapak dalam lingkar pembahasaan) sering terpesona pada yang hingar bingar karena promosi (yang amat piawai dikelola dunia barat dan kita yang berkiblat barat) tapi lupa pada pesona hening yang lahir, dipelihara, dikembangkan dan disempurnakan sedemikian baik dan luhur dan ada di our own backyard.

    Moga-moga kesadaran ini yang saya harap akan ditopang, salah satunya, oleh blog Bapak akan menyerap dan menyesap ke dalam insan-insan Nusantara tercinta ini.

  8. Terima kasih mas Frans,
    Yang telah mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang berkebudayaan tinggi, dan kembali kepada budaya kita sendiri adalah jalan terbaik. Budaya pun menyukai mereka yang peduli kepadanya. Jiran, tetangga yang memperhatikannya, lebih disukainya dari pada rumah asalnya yang telah mengabaikannya. Sudah saatnya kita semua bersuara, kembali ke budaya asal kita.

  9. ya, marilah kita pulang,
    kembali ke kempung halaman kita, kembali ke bumi pertiwi.
    kembali ke INDONESIA.

  10. Terima kasih mas Indrayana,
    Sudah saatnya kita menghayati budaya kita dan mengemasnya dalam selera pop, demikian saran Guru agar tidak terbatas pada kalangan tertentu saja.

  11. keren banget tulisannya pak Tri,..salute buat pak Tri dan bu Tri

    Salam Hormat senantiasa
    chicha

  12. Terima kasih mbak Chica dan mas Hadi, mari kita teruskan bhakti kita kepada Bunda Pertiwi.

  13. Kalau bicara masalah ‘kearifan lokal’, nampaknya inilah beban ‘batin’ yang sangat berat untuk dikaji lebih lanjut. Tetapi, saya kira tidak semua ‘kearifan lokal’ itu pun, mutlak harus kita terima. Karena ada juga bebrapa hal yang perlu dikaji dengan seksama. Salah satu contoh, disaat ‘gerebeekan syawalan’ atau mauludan khususnya di kraton, maka saya tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya saudara kita berebut gerebeekan ini, bahkan yang sudah terjatuh dijalanan pun tetap diperebutkan.

    Apakah kita tidak menemukan cara bagaimana yang cukup arif dalam menyalurkan ‘gerebbeka’ ini?. Tak heran, tatkala pembagian zakat di Pasuruan baru-baru ini, terjadi kondisi yang memprihatinkan dan memilukan hati kita yang melihatnya!

    Mohon maaf dan semoga bermanfaat.

  14. Alam semesta ini mempunyai 3 sifat dasar, satwik, tenang, rajas, agresif dan tamas, cuek, malas. Setiap makhluk mempunyai sifat dasar, kodrat kombinasi dari ketiga sifat tersebut. Keserakahan termasuk dalam sifat agresif. Kebutuhan manusia berkembang dari kebutuhan pangan, sandang, papan, eksistensi diri dan spiritual. Dari mulai fisik ke arah mental, emosional sampai spiritual. Berebut zakat dengan fokus fisik, berebut gerebek dengan fokus keyakinan dan sebagian hura-hura, sampai berebut mencium Hajar Aswad, semuanya termasuk sifat agresif. Para pemuka agama dan para spiritualis yang berpikir siang malam bagaimana metode yang baik demi kebaikan dan keselamatan manusia juga termasuk agresif. Kita dilahirkan mempunyai sifat genetik bawaan dengan kombinasi ketiga sifat tersebut. Bedanya manusia dengan makhluk lainnya, manusia dapat memperbaiki sifatnya, bahkan bagi orang suci dapat melampaui ketiga sifat tersebut. Terima kasih

  15. ah…membuka web ini…saya hanya bisa….ah…

  16. Terima kasih Mas Hadi, sugeng rawuh di pondok renungan kami.

  17. Setiap suku bahkan setiap pribadi manusia sejak lahir telah memiliki budaya. Namun yang sering kita banggakan justru budaya orang lain bahkan budaya luar negeri yg notabene budaya modern. Suku jawa, Sunda, Batak, Dayak dll sebenarnya sudah memiliki budaya bahkan agama.

    Agama yang kita anut sekarang banyak yang mengatakan adalah agama import yang dibawa oleh misionaris mauupun wali. Mengapa kita tidak memeluk agama (Budaya yang berkembang) kita sendiri dan bagaimana kita menyebarkan budaya kita keluar negeri agar mereka memeluk budaya (agama) kita. Misalnya agama kejawen.

  18. mohon maaf pak Tri,

    jika diperkenankan sy mau ikut gabung, karena beberapa tulisannya yang sdh sy baca serasa ada keselarasan dgn apa yg sesunguhnya sdg sy cari, mdh2n dpt menambah perbendaharan sampai nantinya ketemu sedulur papat dan lima pancer.

    terima kasih.

  19. kearifan lokal.tetep ia memiliki nilai2 yg adi luhung.kearifan dan nilai2 adi luhung inilah yg harus terus kita warisi.

  20. Shalam…..
    saya sepaham dengan bapak tri…
    senang rasa nya jika teman2 saya merasakan hal serupa….
    mudah2an pemuda-pemudi Indonesia mengenal kearifan lokal…
    Aku Bangga Jadi Orang Indonesia…..

    • Terima kasih Bos Agung Firmansyah…… Bangkitlah putra-putri Ibu Pertiwi….
      Aku Bangga Jadi Orang Indonesia __/\__

  21. salam…
    kearifan lokal perlu untuk dimaknai dan diturunkan kepada generasi muda sehingga mampu menjadi pola hidup tanpa pamrih.
    seperti bapak sampaikan diatas dalam mendirikan suatu candi (bangunan) kita perlu mempelajari “feng Shui” (China) atau “Asta Kosala-Kosali” (Bali) sehingga bangunan yg dihasilkan memberikan makna,nyaman.
    begitu juga budaya orang Bali yg memberikan / menyelimuti kain pada batang pohon, sehingga orang yg berniat menebangnya akan berpikir akibatnya. sebenarnya itu adalah makna dari pelestraian lingkungan (istilah skrg Go Green). Begitu pula dengan konsep Tri Hita Karana untuk menjaga keseimbangan lingkungan dimana kita hidup.
    dan ketika ada budaya menghaturkan sesajen buah, perlu dipahami itu sebuah ajaran leluhur kita untuk hidup 4 sehat dan 5 sempurna.
    Mari kita turunkan budaya dan maknanya ke anak cucu kita..
    Damai sll pak tri & keluarga.. dan untuk kita semua…

  22. Anak bangsa kita terlalu percaya dengan orang luar dan investor luar atau investor dalam negeri yang serakah, sehingga bumi kita sudah mulai gersang dan sungai, danau dan rawa tercemar limbah kejahatan manusia. Pemerintah tidak mau tau tentang kondisi masyarakatnya. Semua lahan dikuasai orang asing, investor dalam negeri yang serakah dan masyarakat sudah tersingkir. Siapa yang mau menolong orang tersingikir. Apakah pemerintah, Tuhan, PBB atau setan. Alam tidak bersahabat dengan manusia. Oleh karena tubuhnya dicabik-cabik dan dikuasai manusia yang kejam.
    Dulu ladang berpintah dituduh oleh pemerintah merusak hutan, sekarang disebut kearifan lokal. Pemerintah apa negeri kita yang tercinta ini. Dasar Edaaaaaaan.

  23. Saya di jakarta masih menerapkan setiap hari menghaturkan banten saiban setelah selesai memasak didapur, gumatat gumitit, tempat nasi dll, Ini tradisi di Bali dari dulu sampai sekarang. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: