Semangat Anak Muda Jogja Membangkitkan Kebijaksanaan Klasik Niti Sastra bagi Manusia Indonesia Masa Kini

1 mendengarkan presentasi

Presentasi Peserta

 

Hari Jadi Anand Ashram ke 25

Memasuki Hari Jadi Anand Ashram yang ke-25, pada tanggal 14 Januari 2015, One Earth Integral Education Foundation (OEIEF), salah satu sayap Yayasan Anand Ashram bekerjasama dengan Cafe Buku, Taman Bacaan Bende Mataram dan Koperasi Global Anand Krishna mengadakan acara Parade Resensi Buku Budaya, NITISASTRA.

 

Pentingnya Membaca Buku

Menurut Dr. Suriastini, Direktur OEIEF kegiatan yang dilakukan pada tanggal 10 Januari 2015 di Cafe Buku yang berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman acara ini berkaitan dengan upaya membangkitkan semangat generasi muda untuk membaca buku. Paling tidak ada 20 manfaat dari membaca buku, diantaranya: meningkatkan kemampuan otak; meningkatkan kemampuan analisa; meningkatkan konsentrasi; menurunkan stress; menumbuhkan kemampuan menulis; mendukung kemapuan berbicara di muka umum; serta sarana refleksi dan pengembangan diri.

Buku (Krishna, Anand. (2008). Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) dipilih sebagai benih kesadaran yang perlu ditanamkan kembali kepada generasi muda untuk menghargai Warisan Klasik Leluhur yang masih relevan hingga kini.

1 foto bersama peserta dg Direktur OEIF Pak Bram, Pak Tri dan staf OEIEF

Foto Bersama

Membentengi diri agar tidak terjebak dalam budaya materialisme

Dr. Sayoga, Ketua Yayasan Anand Ashram berpesan perlunya kita menggali dan menerapkan kebijaksanaan dari khazanah Musantara sebagai upaya nyatamembentengi diri agar tidak terjebak dalam budaya materialisme. Para pemuda perlu memperhatikan pemberdayaan diri, kesehatan mental, emosional dan jiwa agar tercipta kedamaian hati, cinta kasih terhadap sesama di dalam masyarakat, bangsa dan antar bangsa, sehingga tercipta keselarasan global. Buku Niti Sastra merupakan sumber kebijaksaan klasik yang masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan Manusia Indonesia masa kini.

 

Pandangan Anak Muda Jogja terhadap Niti Sastra

Persepsi setiap orang pasti dipengaruhi oleh pandangan hidup mereka, yang terpengaruh oleh sifat  genetik bawaan, lingkungan keluarga, pendidikan dan pengalaman yang diperolehnya sampai dengan saat ini.

Ke 16 (enam belas) peserta yang terdiri dari para pelajar SMA Jogja, paling tidak sudah mewakili sebagian anak muda yang hidup pada masa kini di Jogja. Kita perlu angkat topi kepada wakil generasi muda Jogja yang dalam waktu singkat telah memahami isi buku Niti Sastra. Sinopsis dan presentasi mereka luar biasa.

Setelah membaca beberapa kali buku Niti Sastra, semua peserta menilai bahwa kebijaksaan klasik yang dibuat di zaman Majapahit ini masih relevan hingga kini. Peristiwa yang terjadi di panggung negara kita tidak jauh berbeda dengan pada saat Niti Sastra ditulis. Ternyata dibalik kemajuan yang nampak nyata, perilaku manusia Indonesia tidak banyak berubah dibanding 5 abad yang lalu.

Semua peserta menghargai upaya Bapak Anand Krishna menulis buku Nitisastra dalam bahasa populer sehingga lebih mudah dicerna oleh mereka. Ada beberapa yang pernah membaca Niti Sastra ke Perpustakaan tetapi sulit mencerna. Mungkin hanya Mbak Savitri, salah satu Juri yang juga pengamat dan pelaku budaya Jogja yang dapat memahami bahasa klasik.

Diakui oleh seorang peserta bahwa sebagian teman-teman sebayanya hanya senang membaca hal yang ringan-ringan. Akan tetapi seandainya saja mereka mau membaca buku Niti Sastra ini, teman-temannya akan berubah menjadi lebih bertanggung jawab terhadap keadaan negara kita.

Menurut para peserta, acara presentasi membuat para peserta lebih mendalami buku Niti Sastra dan bagaimana memilih kalimat-kalimat yang akan diungkapkan sebagai presentasi di muka umum. Presentasi semua peserta menjadi sangat menarik dan membangkitkan semangat, karena mereka semua mengutip pesan para Founding Fathers ataupun Nasehat Luhur dalam buku tersebut. Masalah bagaimana menjadi pemimpin yang baik, diungkapkan oleh sebagian besar peserta dengan penuh semangat.

Kegiatan semacam ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka untuk membaca buku secara benar, membuat catatan dan mengungkapkan atau berbagi/sharing kepada masyarakat umum.

Sepenggal parade resensi buku budaya ini telah memberi sharing nyata terhadap pendidikan generasi muda di negara kita walau dalam lingkup yang masih sangat kecil.

 

Kesan Para Juri

Ada 3 Juri bagi kegiatan parade resensi buku budaya ini yaitu Pak Bram Antareja, Mbak Savitri dan Pak Tri.

Pak Bram Antareja dari Radio Prambors dan Delta FM Jogja adalah dedengkot fotografi di Indonesia tempat para mahasiswa fotografi “ngangsu kawruh” tentang foto. Pandangannya yang holistik dan sangat dalam saat menyikapi kehidupan terungkap dari komentar-komentarnya yang menyentuh. Beliau adalah salah satu seniman yang bertanggung jawab dan selalu berbagi pandangan positif yang membangkitkan semangat bangsa. Di tengah media yang berbagi kecemasan dan negativitas, setiap hari beliau menulis status di twitter hal-hal yang membangkitkan semangat hidup. Foto-fotonya di Instagram dan Face Book selalu di-“likes’ oleh banyak orang. Baginya yang penting moment foto, jepret, merenungkan caption dan foto itu akan mempunyai value.

Mbak Savitri, adalah pengamat dan pelaku  berbagai acara budaya di Jogja. Komunitas seniman dikenalnya dengan baik karena suaminya adalah dosen seni di Solo. Buku-buku Sastra sudah dihayati olehnya, dan dia telah membaca Buku Niti Sastra dalam bahasa Jawa yang kini masih tersimpan di Perpustakaan Pakualaman. Sebagai generasi muda, Mbak Savitri lebih bisa memahami jiwa para anak muda.

Pak Tri, adalah anggota Anand Ashram yang suka menulis di Face Book dan Blog, terutama yang berkaitan dengan kisah-kisah spiritual dan buku-buku Bapak Anand Krishna. Pak Tri sangat mencintai buku-buku Anand Krishna, sehingga ungkapan-ungkapan penting dari buku yang biasanya diberi highlight, di stabilo, ditulis dan dikumpulkannya. Semua buku-buku Bapak Anand Krishna selalu dibacanya berulang-ulang seperti membaca surat seorang kekasih.

Pengamat kehidupan Bram Antareja, Pengamat Budaya Jogja Mbak Savitri, serta Pecinta Buku Anand Krishna Pak Tri kiranya cocok sebagai tim juri Parade Resensi Budaya Niti Sastra ini.

Dalam #InnerJourney di sebutkan bahwa walau mengawali tindakan meniti ke dalam diri dari titik yang berbeda-beda pada akhirnya mereka semua tidak mungkin bila tidak bertemu, karena tujuannya hanya satu.

Oleh karena itu tidak ada yang aneh, bila dalam menilai ketiga aspek: kesesuaian dengan isi buku; tatabahasa; dan presentasi, hasil ke-3 Juri tidak jauh berbeda dan bisa dikatakan mendekati sama.

Oleh karena itu ditetapkan:

Juara 1 adalah Ayyasi Izaz Almas, SMA N 1 Bantul

Juara 2 adalah Novembria Shindi Pawestri, SMA 6 Yogyakarta

Juara 3 adalah Via Alfian Ika Agustina, SMA 11 Yogyakarta

1 para juara dan para Juri

Para Juara berfoto bersama dengan para Juri

Menanam Benih Kesadaran

Mungkin dalam diri setiap peserta sudah ada genetika bawaan dari para nenek-moyang mereka di Zaman Majapahit yang terbawa hingga kini, sehingga Niti Sastra bukan hal yang “asing” bagi mereka.

Bagaimana pun semua peserta Parade Resensi Budaya Niti Sastra sudah membaca buku Niti Sastra dengan cermat. Dan, benih-benih kesadaran yang ditanamkan kembali dalam buku tersebut akan dapat memberdayakan diri mereka. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat, agar benih kesadaran ini berkembang menjadi pohon yang kuat dan berbuah.

Semoga semua peserta Parade Resensi Budaya Niti Sastra, dikemudian hari dapat berkembang menjadi manusia-manusia bijak yang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terima kasih One Earth Integral Education Foundation (OEIEF), terima kasih Anand Ashram.

1 kak Mira

foto 11

1 Mbak Savitri

1 Pak Bram Antareja

1 nbernyanyi bersama

Iklan

Interfaith: A Live in experience!

“Kita tidak bisa menerima ‘apa adanya’. Kita selalu membandingkan dengan ‘apa yang sudah ada’ dalam referensi kita. Kesalahpahaman, pertikaian dan perang antar agama semuanya terjadi karena itu. Yang memiliki referensi Yesus akan membandingkan kehidupan dan perilaku Muhammad dengan Yesus. Sudah jelas, tidak cocok. Muhammad adalah Muhammad, Yesus adalah Yesus. Begitu pula mereka yang memiliki referensi Veda, lalu membandingkannya dengan Dhammapada atau sebaliknya. Subconscious mind membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya.” (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Toleransi beragama dan kesetaraan muncul dari sebuah “pemahaman jiwa” bahwa kita ini “pada dasarnya” satu. Tanpa adanya “pemahaman jiwa” ini, toleransi beragama dan persamaan hanya akan menjadi utopia, hanya gagasan belaka.

Cobalah “Interfaith, a Life in Experience” 16-18 Mei 2014 di One Earth Retret Ciawi.

 

Flyer-Blue-1

Berbagi Cinta, Peduli Warga Korban Banjir di Kabupaten Pati Bumi Minatani

Reporter Danar Wijayanto

Foto teman-teman Joglosemar

7 duduk hening memperhatikan nafas perut sebelum therapy for free anxiety

Kecamatan Juwana merupakan salah satu dari 21 kecamatan di Kabupaten Pati (Bumi Minatani) yang paling parah menderita banjir pada bulan Januari 2014.

 

Yayasan Anand Ashram bersama Apotik Srikandi Babarsari Jogja dan Puskesmas Juwana

pada hari Minggu 16 Februari 2014 melakukan kegiatan PPSTK (Pusat Pemulihan Stress dan Trauma Keliling) di Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana yang berjarak lebih kurang 15 km sebelah timur kota Pati. PPSTK merupakan wadah pelayanan kesehatan baik fisik maupun mental bagi warga korban bencana alam. Berawal dari pelayanan warga korban gempa Bantul 2006, PPSTK merupakan salah satu bentuk pelayanan masyarakat dari Yayasan Anand Ashram dengan melakukan Pelayanan Medis, Terapi untuk Menghilangkan Kecemasan (TherFA – Therapy for Free Anxiety), Terapi Ceria pada Anak dan Terapi Relaksasi bagi warga korban bencana.

 

Menurut seorang petugas BABINSA, Bintara Pembina Desa, Bapak Solikul Hadi yang ikut memantau banjir di Kecamatan Juwana hanya ada 2 desa yang benar-benar tidak terkena dampak banjir Januari tahun 2014. Banjir bulan Januari 2014 adalah banjir paling parah, jalan di muka Balai Desa terendam banjir sehingga batas jalan dan saluran pembuangan besar di tepi jalan tidak nampak, bahkan ruang PAUD terendam hingga 20 cm. Rumah warga terendam sekitar 1 betis orang dewasa. Banjir terjadi kurang lebih dua minggu, merupakan banjir terlama dan terparah dalam 50 tahun ini.

 

 

Tim PPSTK berangkat dari Jogja Sabtu 15 Februari 2014 pukul 8 pagi dan berjalan dengan kecepatan rendah melewati jalan penuh abu gunung Kelud dengan pandangan mata yang terbatas Jogja-Solo menuju Purwodadi. Setelah pertigaan Waduk Kedungombo, debu sudah menipis akan tetapi ganti kondisi jalan yang termasuk parah sehingga kendaraan tetap berjalan pelan. Sampai daerah Sukolilo sekitar 20 km dari Pati jalan kabupaten sudah lumayan baik akan tetapi kendaraan tetap berjalan pelan sekali karena terhambat rombongan acara haul warga setempat. Sampai Pati disambut hujan deras dan kemudian sekitar pukul 4 sore beberapa teman melakukan survey ke lokasi. Masuk lokasi dipandu Pak Lurah yang naik sepeda motor dan kendaraan melewati jalan kampung sempit yang terendam air sepanjang beberapa ratus meter dengan kedalaman sekitar 30 cm.

 

Acara PPSTK pada hari Minggu 16 Februari dimulai pukul 8 pagi hingga pukul 12 siang memperoleh sambutan hangat dari warga sekitar.

 

Tercatat ada 119 warga memperoleh pelayanan medis oleh Dr. Djoko selaku Koordinator PPSTK, dibantu 2 orang petugas Puskesmas setempat yang telah mengenal warga dan pemberian obat oleh Sister Rina, anggota tim PPSTK yang tinggal di Pati. Pelayanan yang dilakukan di Balai Desa dipenuhi warga yang duduk menunggu panggilan untuk dicheck tekanan darahnya oleh petugas Puskesmas setempat dan Dokter PPSTK Djoko Pramono yang asli kelahiran Pati.

 

Terapi Relaksasi dengan koordinator Sister Rahma melakukan terapi terhadap 44 warga. Sebelum Terapi CeriaAnak-anak selesai Sister Rahma dan Bu Rosita tak sempat beristirahat karena banyaknya warga perempuan yang antri minta diterapi. Warga berterima kasih usai merasakan manfaat terapi dan beberapa memanggil keluarganya agar ikut mencicipi terapi.

 

11 anak-anak warga didampingi beberapa ibu anak-anak tersebut mengikuti dengan ceria kegiatan yang di bawah koordinator Kak Ganjar. Terapi Ceria bagi anak-anak warga ini melatih anak-anak bernafas dengan benar dengan analogi balon, membuang sampah, mencuci tangan dengan sabun disisipi dengan latihan yoga misalnya dalam bentuk latihan postur pohon.

 

Pada pukul 10 kegiatan Pelayanan Medis, Terapi Relaksasi dihentikan agar seluruh warga yang hadir mengikuti Terapi untuk Menghilangkan Kecemasan yang dipandu Pak Triwidodo dibantu Brother Erwin. Sambil duduk warga memperhatikan latihan yang dilakukan peraga Kak Ganjar dan Mbak Renti. Melihat wajah yang damai dan lega setelah melakukan terapi ini, nyata bahwa terapi ini sangat bermanfaat bagi warga yang rumahnya telah terendam selama 2 minggu.

Bahkan istri pak Solikul Hadi (BABINSA) sempat mencucurkan air mata secara spontan sewaktu mengikuti terapi ini.Tanya jawab usai terapi berjalan seru dan warga berterima kasih dan merasa enteng dan bersemangat untuk menghadapi kehidupan nyata sehari-hari

 

Seperti PPSTK sebelumnya di Kebonharjo Semarang, para pemuka masyarakat mengatakan masih ada warga di Kecamatan yang sama memerlukan kegiatan yang sama.

1 kompasiana

Warga memenuhi Balai Desa Growonglor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati menunggu terapi medis

 

4 kompasiana

Terapi Medis

 

2 kompasiana

Pemberian obat

 

3 kompasiana

Terapi rileksasi

 

5 terapi relaksasi

Terapi Relaksasi

 

6 terapi ceria

Menekankan value kebersihan dan kesehatan dengan belajar mencuci tangan dengan sabun

 

6 postur pohon anak-anak warga korban banjir Juana bersama kak Ayiek

Postur Pohon menjadi favorit anak-anak warga korban banjir.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Penjelasan Manfaat Latihan Therapy For Free Anxiety bagi warga korban bencana

 

8 PPSTK Anand Ashram dari Joglosemar Bro Tunggul diwakili His Son

Program Pemulihan Stres dan Trauma Pasca Bencana Letusan Gunung Kelud 2014

Reporter Ahmad Syukri

Foto Michael cs

gambar tambahan PPSTK lengkap

Datang dari berbagai kota, Yogyakarta, Solo, Semarang, Magelang, Pati, Tulung Agung, Surabaya, Jember, Blitar dan Kediri, para anggota Tim PPSTK (Pusat Pemulihan Stres & Trauma Keliling) yang berada di bawah naungan Yayasan Anand Ashram(berafiliasi dengan PBB) beserta sayap sayap kegiatannya, OEIEF(One Earth Integral Education Foundation), One Earth College for Higher Learning , Foradoksi BIP (Forum Pengajar Dokter Psikolog bagi Ibu Pertiwi), Forum Kebangkitan Jiwa, dan NIM( National Integration Movement) telah bekerja sama dengan para guru dan pengasuh Sekolah Alam (TK-Play Grup) Ramadhani Kediri, Aliansi Remaja Kediri (Areri), Psikologi  STAIN Kediri, Apotik Srikandi Babarsari Yogyakarta,  Perangkat desa Puncu dan beberapa guru SDN Puncu 2 melaksanakan program Pemulihan Stress dan Trauma Keliling di Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri yang terletak di lereng Gunung Kelud.

 

Pada awalnya lokasi dipilih untuk kegiatan adalah di Balai Desa Puncu yang sedang direhabilitasi, karena hampir semua gentengnya berlubang dan plafon nya hancur. Namun Tim Survey pada sore hari sebelumnya menetapkan lokasi PPSTK digelar di SD Puncu 2 yang terletak di samping Balai Desa agar acara tidak terganggu bila datang bantuan untuk desa sewaktu-waktu. Kondisi bangunan sekolah sendiri masih sangat memprihatinkan, karena rusak dan masih dalam perbaikan.

 

Pagi hari Minggu tanggal 23 Maret 2014, dua ruangan kelas dipersiapkan oleh tim gabungan menjadi tempat Pemeriksaan dan Pengobatan Medis, Terapi Relaksasi dan Terapi untuk Menghilangkan Kecemasan (TherFA – Therapy for Free Anxiety), dengan menepikan bangku-bangku ke pinggir ruangan dan menyiapkan segala peralatan yang diperlukan.

 

Kegiatan dimulai pukul 08.15  hingga pukul 12.00 dengan agenda Pemeriksaan & pengobatan gratis, Terapi Releksasi untuk remaja dan dewasa, Terapi Ceria untuk anak-anak. Serta TherFA (Therapy for Free Anxiety- Terapi Membebaskan diri dari rasa Cemas) – terapi yang menjadi ciri khas dan utama untuk membantu korban bencana  untuk melepaskam dari rasa cemas, takut, khawatir dan trauma – pukul 10.00 sampai pukul 11.00.

 

 

 

Pelayanan pengobatan diberikan kepada 100-an pasien dewasa dan anak anak oleh dr .Djoko Pramono dari Yayasan Anand Ashram dibantu oleh 6 rekan dari Aliansi Remaja Kediri( ARERI) mulai dari pendaftaran pasien, melakukan pengukuran tekanan darah dan membantu membagikan obat. Dari sebagian besar pasien dewasa mengeluh pusing, nyeri kepala dan susah tidur karena mereka masih trauma pada saat kejadian banyak yang tidak sempat mengungsi pada saat hujan batu yang merusakkan genting serta plafon rumah mereka bahkan ada yang sampai atapnya roboh tidak kuat menyangga hujan batu yang terjadi. Apalagi ada issue akan terjadi banjir lahar bila hujan terus turun. Sebagian besar pasien dirujuk untuk melakukan Terapi Relaksasi dan TherFA untuk menghilangkan kecemasan serta trauma saat erupsi Kelud terjadi.

 

 

 

Pelayanan Terapi Relaksasi yang diatur oleh Erwin sebagai ketua Tim melayani sekita 40-an orang, baik tua,  muda maupun anak-anak. Bahkan termasuk ibu berusia 100 tahun  yang masih kuat berjalan dari rumahnya untuk mendapatkan terapi.

 

 

 

Sesi TherFa(Therapy for Free Anxiety) – yang diikuti oleh lebih kurang 30-an orang dan dipandu oleh Triwidodo – membuat banyak wajah tampak lega. Beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak merasa lega setelah bisa menangis dan terbebaskan dari rasa cemas, takut, khawatir yang menghantui mereka setiap hari. Teringat waktu mereka berkumpul di Balai Desa dan SD sambil bersembunyi di bawah meja. Dihujani batu-batu membara yang menghancurkan genteng dan merusak plafon. Mereka hanya bisa berlindung tanpa bisa berbuat banyak.

 

 

 

Di halaman sekolah dari pk.08.00 sampai dengan pk.10.00 berlangsung  Program Pesta Ceria Anak dipandu oleh Mira, Lily, Atik, Ardi dan Ayiek yang berjalan meriah, diikuti lebih dari 100 anak dari SDN Puncu 2. Mereka menyanyi bersama, menirukan berbagai  model tawa, permainan-permainan kocak yang mengundang gelak tawa. Pada program Pesta Ceria Anak tersebut diselipkan pemberian value pendidikan karakter. Anak-anak juga diajarkan beberapa gerakan yoga untuk membantu anak –anak memulihkan kecerian serta melepaskan rasa takut dan cemas yang mereka rasakan.

 

 

 

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama TIM PPSTK dan penyerahan kenang-kenangan buku “Think on These Things karya Anand Krishna serta kaos “ Aku Bangga Jadi Orang Indonesia”  kepada pihak Sekolah dan rekan-rekan Aliansi Remaja Kediri.

 

 

 

“Semangat selfless service atau berkarya tanpa pamrih pribadi, dan volunteerism atau jiwa kerelawanan bukanlah sesuatu yang baru bagi kita. Semangat gotong-royong  ini adalah bagian dari budaya kita, budaya nusantara. Demikian ditulis Anand Krishna dalam bukunya “Karma Yoga bagi Orang Modern, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru.

 

“Berkarya Tanpa Pamrih Pribadi memberikan kebahagiaan tersendiri”, demikian kometar Sunarno dan istri, Pengasuh dari Sekolah Alam Ramadhani. Dan mereka bersyukur memperoleh kesempatan istimewa ini untuk turut berkontribusi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dr Djoko memeriksa pasien, kebanyakan sakit radang pernapasan

 

2 PPSTK G. Kelud Terapi Relaksasi jpg

Terapi Relaksasi

 

9 Terapi Ceria jpg

Pesta Ceria Anak-Anak

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Relawan Aliansi Remaja Kediri( ARERI) melakukan pendaftaran pasien, dan melakukan pengukuran tekanan darah

 

setelah therfa

Menangis karena lega usai Terapi penghilang Kecemasan-Therfa

 

DP ppstk rev.1

Mengatasi Kebobrokan Moral Bangsa lewat Meditasi

Kebobrokan Moral Bangsa Semakin Memprihatinkan

Baru saja masyarakat disuguhi drama pemalsuan vonis Hakim Agung, kali ini muncul siaran langsung episode baru seorang hakim tertangkap tangan menerima suap oleh KPK. Nampaknya pemeran utama KPK harus kerja keras, kejar tayang berbagai episode yang membutuhkan stamina yang prima. Mengapa hukum yang dipilih sebagai highlight, karena sampai saat ini sesuai perundang-undangan putusan seorang hakim tidak bisa diganggu gugat. Seperti putusan Tuhan. Walau jelas banyak oknum yang jauh dari Tuhan dan sangat sulit menemukan Hakim sekaliber Albertina Ho di tumpukan para hakim yang bersedia menggadaikan hati nuraninya.

Tindakan main hakim sendiri terhadap preman yang kita baca di media menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap peradilan formal merosot drastis. Bukti nyata dapat dilihat dari beberapa pernyataan warga masyarakat yang malah mendukung tindakan main hakim sendiri tersebut. Mereka yang kontra, yang mengutuk tindakan main hakim sendiri berpedoman pada peraturan hukum yang berlaku. Sedangkan masyarakat yang pro, yang mendukung tindakan main hakim sendiri berpedoman bahwa hukum sudah tidak dapat menjamin rasa keadilan lagi. Pengadilan yang berlarut-larut dan gampang masuk angin di tengah perjalanan membuat jenuh sebagian masyarakat. Sebagian suara pembaca bahkan menuduh para pejabat dan anggota DPR yang mengutuk aksi hakim sendiri karena mereka takut perlakuan serupa terhadap mereka. Mereka benar berdasar hukum formal dan berbagai dukungan pengacara yang ahli berkilah, akan tetapi masyarakat sudah jenuh terhadap hukum formal yang jauh dari rasa keadilan.

Pengaruh Lingkungan Jahat terhadap Karakter Warga

Mengapa moral bangsa semakin bobrok? Apakah kebobrokan moral yang berkecamuk di tengah masyarakat semakin merusak masa depan generasi muda penerus bangsa sehingga mereka akan menjadi semakin bobrok? Kita dapat merenungkan Eksperimen Penjara Stanford untuk menyadari  bahwa lingkungan yang buruk akan mempengaruhi karakter masyarakat.

Pada tahun 1971, seorang psikolog Philip Zimbardo dan rekan-rekannya mengadakan eksperimen tentang pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia. Mereka mendirikan simulasi penjara di ruang bawah tanah Universitas. 24 mahasiswa dipilih secara acak untuk memainkan peran sebagai sipir dan narapidana. Para peserta dipilih dari 70 orang relawan yang tidak mempunyai latar belakang kriminal, sehat medis dan psikologis. Tentu saja para relawan mereka mendapat imbalan $15 per hari. Dalam simulasi tersebut para narapidana berada seharian penuh dalam penjara sedangkan para sipir dilakukan pergantian setiap 8 jam. Peneliti memasang kamera tersembunyi dan mikrofon untuk memantau apa yang mereka lakukan. Simulasi yang direncanakan selama 2 minggu ini dihentikan setelah berjalan 6 hari. Ternyataa para sipir menjadi semakin agresif dan kasar sedangkan para narapidana menunjukkan tanda pasif dan cemas yang ekstrim.

Hanya sedikit orang yang bisa bebas dari pengaruh lingkungan kata Zimbardo dalam bukunya “The Lucifer Effect”. The Lucifer Effect memberikan penjelasan tentang bagaimana seorang baik-baik bisa menjadi pelaku kejahatan. Bukan hanya genetik dan karakter bawaan, akan tetapi lingkungan menjadi katalisator  dalam kejahatan. Bila bangsa kita tidak melakukan upaya perbaikan moral, maka jelas semakin lama kebobrokan moral akan semakin menjadi-jadi.

Hidup Di Tengah Masyarakat Tanpa Terpengaruh Masyarakat

Leluhur kita memberi nasehat: “Jadilah teratai yang berbunga indah di tengah lumpur dunia, tidak terpengaruh lingkungan! Daun teratai tidak memiliki keterikatan, berbagai debu yang menempel akan jatuh sendiri karena tetesan embun. Bunga teratai hanya melihat matahari kesadaran, akarnya boleh terendam lumpur akan tetapi tubuh dan bunganya tidak tersentuh kekotoran.” Baca lebih lanjut

Berapa Guru Yang Masih Kita Miliki? Tanya Kaisar Hirohito Sesaat Setelah Jepang Kalah Perang

Membangun Bangsa Lewat Bhakti Para Guru

Kekalahan dalam perang dunia II memporak-porandakan Jepang. Banyak petinggi negara yang melakukan hara-kiri, bunuh diri. Mereka malu. Kekalahan itu sangat memalukan bagi mereka. pemerintah Jepang harus melakukan inventarisasi terhadap aset dan sumber daya yang mereka miliki. Sementara yang terpikir oleh Kaisar Jepang hanya satu. “Berapa guru yang masih kita miliki? Hebat, demikianlah cara berpikir seorang negarawan. Kekurangan sumberdaya manusia hanya bisa dipenuhi oleh para guru. Tanpa guru – masyarakat dan seluruh tatanan kemasyarakatan akan hancur-lebur. *Dikutip dari buku “Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin, Mengajar Tanpa Dihajar Stress, Berkarja Tanpa Beban Stress”, Anand Krishna Bersama Para Pelatih Program, PT. One Earth Media, 2005.

mtds magelang 1 11 maret 2013

 

mtds magelang 2 11 maret 2013

 

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151522079848545&set=a.10151522077208545.1073741826.537083544&type=1&theater

 

Program Mengajar Tanpa Dihajar Stress

Demikian pula yang disampaikan dr. Stephanus Hardiyanto dalam acara Mengajar Tanpa Dihajar Stress (MTDS) kepada para guru dan beberapa pengurus Yayasan Sekolah Nasional 3 Bahasa Bhakti Tunas Harapan Magelang pada tanggal 11 Maret 2013 di Magelang. Program tersebut merupakan kerjasama antara sayap-sayap Anand Ashram: Forum Kebangkitan Jiwa dan Anand Krishna Center Joglosemar dengan Yayasan Sekolah Nasional 3 Bahasa Bhakti Tunas Harapan Magelang.

Ada 5 sesi latihan dalam program MTDS tersebut:

  1. Sesi Pertama Situasi & Solusi Bagi Para Guru dan Latihan Dasar Nafas Perut: oleh dr. Stephanus Hardiyanto.
  2. Sesi Kedua Memberdaya Diri Dengan Kasih/SELo (Self Empowerment with Love) oleh Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng.
  3. Sesi ketiga Membudayakan Emosi/SpECT (Speedy Emotion Culturing Techniques) oleh Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng.
  4. Sesi Keempat Membebaskan Diri Dari Kecemasan/TherFA (Therapy to Free Anxiety) oleh dr. Djoko Pramono, C.Ht.
  5. Sesi Kelima Peregangan untuk Rileksasi/SRT (Stretch to Relax Technique)

Bertindak sebagai Koordinator lapangan Lily, MC adalah Mira, grup musik Atik,Novi,Nurhayati, Ganjar, Ardi. Dokumentasi Tunggul, perlengkapan Ulum, Andre, operator komputer Adrian, lain-lain Rosita.

Dr. Stephanus Hardiyanto menyampaikan pengalamannya sebagai dokter dalam menghadapi pasien yang cemas dan ketakutan. Mengapa latihan dilakukan dengan mata tertutup dan napas perut? Karena dengan mata tertutup dan napas yang pelan hormon melatonin dan endomorphin akan keluar yang akan menyebabkan tubuh menjadi rileks. Untuk menenangkan langsung terhadap pikiran itu sulit, akan tetapi dengan melakukan pengaturan napas, detak jantung akan tenang dan gelombang otak akan tenang.

 

Latihan Self Empowerment with Love

Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng menyampaikan bahwa pada saat mata tertutup energi yang terbiasa keluar lewat mata sebesar 70% sekarang terkumpul. Karena itu biasanya otak menjadi lebih liar ingin memikir apa saja. Dengan mengatur napas, napas akan tenang dan otak tenang kembali dan kita dapat menggunakan energi yang terkumpul untuk memberdayakan diri.

Kita merenung sejenak, apa yang dilakukan ibu-ibu dan bapak-bapak guru dan para pengurus yayasan adalah suatu tugas mulia. Berkarya bukan hanya untuk kepentingan pribadi akan tetapi mendidik putra-putri generasi penerus bangsa. Seorang guru yang hanya mengajar demi mencari nafkah, maka energinya kurang besar, asal nafkah terpenuhi sudah cukup. Akan tetapi seorang guru yang mengajar untuk mendidik putra-putri generasi penerus bangsa energinya akan besar sekali.

Mengajar adalah pekerjaan mulia, good karma. Semakin banyak tumpukan kebaikan, maka hidup kita mendatang akan semakin baik. Di zaman dahulu inilah yang disebut mereka yang berprofesi brahmana. Memberikan pengetahuan terhadap generasi penerus.

Bagaimana cara kita mencintai pekerjaan kita? Mencintai lingkungan pekerjaan kita? Lebih dari 2500 tahun yang lalu, Sang Buddha menyatakan bahwa kesehatan jasmani dan rohani seseorang ditentukan oleh minimal 4 faktor, yaitu: perbuatan (Kamma); pikiran (Citta); makanan (Ahara) keseimbangan lingkungan hidup (Utu). Bila seseorang sehat jasmani dan rohaninya maka dia akan mencintai pekerjaan dan lingkungan pekerjaannya.

Kemudian salah satu cara adalah melakukan afirmasi: afirmasi adalah otosugesti kepada pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar bagikan ladang dan otosugesti bagaikan menebar benih. Otak kita sangat luar biasa. Saat kita berniat melakukan sesuatu, otak telah merekam sebagi pekerjaan itu sendiri. Afirmasi memunculkan Kehendak di dalam diri untuk melakukan aktivitas sesuai maksud afirmasi. Kehendak tersebut mempunyai daya yang begitu besar agar kita segera bergerak, berpikir, berkarya dan mengatasi segala rintangan. Afirmasi perlu dilakukan dalam keadaan tenang, bila pikiran sedang bergejolak maka afirmasi kurang bermanfaat. Pada waktu getaran otak tenang, otak kita akan reseptif dan afirmasi akan memperbaiki diri kita dari dalam. Pada waktu otak sangat tenang maka dia akan sangat reseptif dan benih afirmasi akan ditebarkan pada lahan yang sudah siap menumbuhkannya. Kemudian sebaiknya afirmasi dilakukan secara repetitif intensif. Kala ibu/bapak Guru ke Alfa Mart untuk membeli pasta gigi, maka otak kita akan ingat iklan di televisi, atau di jalan atau di koran: pepsodent, close up atau sensodyne? Tanpa terasa saat kita melihat film/acara di TV dengan sangat fokus, artinya gelombang otak tenang, kemudian kita melihat iklan, maka  pesan dari iklan tersebut langsung membuat file di otak kita. Jadi afirmasi yang repetitif-intensif sangat penting. Baca lebih lanjut

Latihan Rutin Yoga? Very Powerful!

yoga pagi di pantai selatan

Kesalahan Fatal Akibat Pelaksanaan Latihan Yoga yang Salah

Anand Krishna: “Banyak orang yang melakukan yoga dengan sangat dinamis. Tidak ada salahnya juga. Akan tetapi otak perlu mencatat semua postur yoga dan ini membutuhkan gerakan yang lebih lambat.”

Penyiar Kali Ma dari Sonic Zen Radio (Perth): “itulah yang saya katakan bahwa kita perlu menyiapkan ruang antara agar tubuh dapat mencatat perubahan. Banyak pelaku yoga yang melakukan yoga dinamis dan tubuh mereka berakhir dengan cedera.”

Anand Krishna: “Tepat, banyak di antara mereka yang juga cedera mental. Gerakan yoga mengubah sikap mental kita, persepsi kita, mengubah semuanya. Para pelaku yoga yang benar akan menjadi responsif dan tidak reaktif.  Setelah Anda melakukan dengan lambat dan memberi kesempatan  tubuh untuk mencatatnya, Anda akan punya waktu untuk ‘pause sejenak’ dan berpikir apa yang sedang terjadi.”

Demikian terjemahaan bebas dari siaran Bapak Anand Krishna di Radio Spreaker tentang meditasi pada bulan Januari 2013.

 

Latar Belakang Penulis

Usia kami sudah hampir mencapai 59 tahun, akan tetapi kami bersama istri biasa pergi ke luar kota dengan mengendarai kendaraan sendiri. Paling tidak seminggu sekali kami melakukan perjalanan dari Solo ke Jogja dan dari Solo ke Semarang. Sejak usia 50 tahun kami ikut latihan meditasi di Anand Ashram. Sekali dalam seminggu kami latihan bersama Ananda’s Neo Stress Management di Anand Krishna Information Center Jalan Dworowati 33 Solo dan minimal sekali dalam seminggu ikut latihan Ananda’s Neo Kundalini Yoga di Anand Krishna Center Joglosemar Komplek Perumahan Dayu Permai P. 18 Jalan Kaliurang Km 8.5 Jogja. Dalam setahun entah berapa kali kami melakukan perjalanan ke luar kota tersebut disamping perjalanan ke Jakarta, Ciawi dan Ubud Bali. Semuanya berkaitan dengan kegiatan Anand Ashram dan urusan anak bungsu yang masih kuliah di Semarang.

Latihan meditasi memang membuat kami lebih percaya diri, bisa menikmati hidup dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih tenang. Di rumah, kami melakukan tugas rumah sendiri, karena dari sejak kami nikah bisa dikatakan tidak pernah punya pembantu. Disamping melakukan tugas rumah kami latihan meditasi setiap hari dan juga aktif menulis di blog https://triwidodo.wordpress.com/ . Di blog ini tulisan kami sudah mencapai 1.087 artikel dengan pembaca blog rata-rata 150 orang per hari dengan total pembaca sampai saat ini sudah lebih dari 200 ribu pembaca.

Kami juga aktif menulis di kompasiana http://www.kompasiana.com/triwidodo . Di blog ini tulisan kami berjumlah 239 artikel dengan jumlah pembaca bervariasi antara 100- 400 pembaca per artikel dan pernah mencapai 4.279 pembaca untuk 1 artikel.

Untuk komunikasi dengan teman di dunia maya kami aktif menggunakan Facebook http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo dan juga di Twitter https://twitter.com/triwidodo3

Kami cocok dengan pandangan kehidupan Bapak Anand Krishna dan melengkapi perpustakaan keluarga dengan semua buku beliau.  Kami merasakan setelah melakukan latihan meditasi dengan rutin pemahamaan terhadap buku bacaan semakin lebih dalam.

 

Mengalami Bocor Ginjal

Kami sudah ikut latihan meditasi sejak 9 tahun yang lalu, sampai pada suatu saat kami mengantar istri yang sakit telinga ke seorang dokter THT tua. Di usianya yang 76 tahun, dokter mantan TNI dan berjiwa kebangsaan ini masih cerdas. Walau untuk menulis dengan tangan kanan sudah dibantu dengan dorongan tangan kirinya. Sambil ngobrol sang dokter berkomentar bahwa  senang mendengar kami sering latihan meditasi tetapi beliau mengingatkan bahwa tidak takut mati itu baik agar tidak cemas dalam hidup. Akan tetapi bila melihat panjang ikat pinggang yang dipakai, maka mereka yang mempunyai perut buncit jarang yang mencapai usia 65 tahun. Punya tubuh fisik juga harus dijaga. Dari obrolan tersebut kami check laboratorium dan ternyata semuanya sehat, kecuali ginjal sudah mulai bocor. Mungkin sewaktu muda bila kumat asam urat kami minum obat penghilang rasa sakit dan tidak melakukan pengaturan pola makan. Mulai saat bertemu dokter tua tersebut kami mulai menjaga makan, lebih sering vegetarian dengan mengurangi konsumsi telur.

Setelah itu kami paham bahwa tekanan darah harus dijaga tetap normal. Penurunan tekanan darah 5-6 mm Hg dapat mengurangi kemungkinan stroke sampai 40%. Juga pada waktu tekanaan darah normal, kerusakan organ tidak bertambah parah dan kemudian sedikit demi sedikit organ bisa diperbaiki. Kerusakaan organ terjadi dalam waktu lama dan karena kurang peka maka kita merasa sehat-sehat saja. Perbaikan organ juga akan memakan waktu yang tidak sebentar. Dalam beberapa minggu setelah pengobatan sang dokter tingkat kebocoran ginjal kami sudah berkurang banyak.

 

Melakukan Latihan Yoga dengan Rutin

Perubahan total terjadi dalam perjalanan hidup kami. Pada bulan Desember 2012, Bapak Anand Krishna di Anand Ashram Ubud  berbicara yang langsung mengena hati kami. Beliau menekankan bahwa bila seseorang masih saja berniat vegetarian tetapi sering gagal bisa dipastikan karena latihan yoganya tidak rutin. Beliau bahkan langsung terjun memberi latihan yoga sendiri. Yoga lain dengan aerobik. Yoga harus pelan dan sering “pause” sejenak memberi kesempatan tubuh mencatat kegiatan. Dengan yoga kita akan lebih peka. Demikian penjelasan Bapak Anand Krishna mengenai Latihan Ananda’s Kundalini Yoga. Silakan lihat ANANDA’s NEO KUNDALINI YOGA – Anand Ashram Foundation www.anandashram.asia/index.php?id…/kundaliniyoga

 

Bila seorang dokter umum akan memberi resep, maka dia akan bertanya kepada pasien apa yang dirasakaannya. Maka yang pertama kali memahami bagian tubuh mana yang sakit adalah diri kita sendiri. Untuk luka fisik gampang kelihatan, akan tetapi merasakan organ bagian dalam mana yang sakit kita sering keliru. Banyak orang orang yang kurang peka dan menyampaikan hal yang salah sehingga akibatnya diagnose sang dokter juga bisa salah. Bila kita terbiasa melakukan senam dengan sangat intensif, sering kita tidak merasa mantap bila intensitas latihan tidak ditingkatkan. Hal tersebut membuat kita tidak terlalu peka dengan perubahaan halus yang terjadi di dalam tubuh kita. Seperti halnya orang yang makan harus banyak dan bila sedikit belum merasa kenyang. Latihan yoga akan membuat kita lebih peka. Baca lebih lanjut