“As Love dwells in every heart, so does Sufi” (Shah Abdul Latief dari Sindhi)

Cited from “Sufi solutions to world’s problem”, (Krishna, Anand. (2008). Sufi Solutions to World’s Problem, Anand Krishna Global Cooperation) page 21 in English dilengkapi dengan terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia

buku Sufi-Solutions-500x500

Cover Buku Sufi Solutions

For Sindhi Sufi Shah Abdul Latief Bhittai (1689-1752) Love and Sufi are synonymous. As Love dwells in every heart, so does Sufi. It is the life force in all beings. Listen to him:

“As breath  pervades everywhere, so Sufis live in every heart”

 

Shah Latief was a Muslim, born in a very respectable Muslim family – yet he was all praise for Nangas or the naked Sindhi Yogis and their practices. He had no political motive behind this, for Sindh was predominantly Muslim. Through his fine poetry and songs, he tried to raise the consciousness of the masses by being provocative at times:

 

Infidel nor Muslims be,

Heaven and hell are not for thee,

Sufis one who says,

“O beloved, make me Thine.”

One is the truth, and one is our Beloved,

Why then fight over names?

 

Once a group of people approached him, “Tell us, O Latief, what are you? Shiah or Sunni? These, as we all know are the two mainstreams in Islam.

Latief asked them back: “Is there anything between the two?”

Someone from the group replied, “Nothing, latief. There is nothing between  the two.”

“Yes, yes, yes, ‘that’ I am… that ‘nothing’ I am.”

Either “Nothing” or “Everything”, “Non-Existance” or “Existence” either Nirvana of Buddhas or Moksha of Rishis….

Indeed without a Sufi Approach one can hardly understand the meaning La illaha, literally meaning “No God”, and Ila Allah, meaning “but” or “only God” – The God, No God, Only God; No God, But God; No God, The God.

 

Terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia

 

Untuk Sufi dari Sindhi Shah Abdul Latief Bhittai (1689-1752) Cinta dan Sufi adalah sama. Seperti Cinta yang bersemayam di setiap hati, demikian pula Sufi. Ini adalah daya hidup dalam semua makhluk. Dengarkan dia:

“Seperti napas yang tersebar di mana-mana, demikian pula sufi bersemayam di setiap hati”

Shah Latief adalah seorang Muslim, lahir di sebuah keluarga Muslim yang sangat terhormat – namun dia memuji para Nangas atau Yogi telanjang dari Sindhidan kehidupan mereka. Dia tidak punya motif politik di balik ini, karena di Sindh adalah mayoritas Muslim. Melalui puisi dan lagu-lagu, ia mencoba untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan cara provokatif:

 

Bukan Kafir atau Muslim,

Surga dan neraka bukan bagimu,

Sufi mengatakan, O Kekasih, buatlah saya milik-Mu.

Dia adalah kebenaran, Dia adalah Kekasihku,

Mengapa kemudian bertengkar memperebutkan nama?

 

Suatu kali sekelompok orang mendekatinya, “Beritahu kami, O Latief, Anda itu Syiah atau Sunni?”  Seperti kita ketahui ini adalah dua golongan utama dalam Islam.

 

Latief balik menanya mereka: “Apakah ada sesuatu di antara keduanya?”

 

Salah seorang dari kelompok itu menjawab, “Tidak ada, latief. ‘Tidak ada’ di antara keduanya. ”

 

“Ya, ya, ya, ‘itulah’ saya … Yang ‘tidak ada’ itu aku.”

 

Entah “Tidak” atau “Segalanya”, “Non-Keberadaan” atau “Keberadaan” baik Nirvana dari Buddha atau Moksha dari Resi ….

 

Sesungguhnya, tanpa Pendekatan Sufi seseorang tidak dapat memahami arti La illaha, yang secara harfiah berarti “Tidak ada Tuhan”, dan Ila Allah, yang berarti “tetapi” atau “hanya Tuhan” – Allah. Tidak ada Tuhan, Hanya Tuhan; Tidak ada Tuhan, Tapi Tuhan; Tidak ada Tuhan, Tuhan.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2008). Sufi Solutions to World’s Problem, Anand Krishna Global Cooperation) halaman 21

Semangat Anak Muda Jogja Membangkitkan Kebijaksanaan Klasik Niti Sastra bagi Manusia Indonesia Masa Kini

1 mendengarkan presentasi

Presentasi Peserta

 

Hari Jadi Anand Ashram ke 25

Memasuki Hari Jadi Anand Ashram yang ke-25, pada tanggal 14 Januari 2015, One Earth Integral Education Foundation (OEIEF), salah satu sayap Yayasan Anand Ashram bekerjasama dengan Cafe Buku, Taman Bacaan Bende Mataram dan Koperasi Global Anand Krishna mengadakan acara Parade Resensi Buku Budaya, NITISASTRA.

 

Pentingnya Membaca Buku

Menurut Dr. Suriastini, Direktur OEIEF kegiatan yang dilakukan pada tanggal 10 Januari 2015 di Cafe Buku yang berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman acara ini berkaitan dengan upaya membangkitkan semangat generasi muda untuk membaca buku. Paling tidak ada 20 manfaat dari membaca buku, diantaranya: meningkatkan kemampuan otak; meningkatkan kemampuan analisa; meningkatkan konsentrasi; menurunkan stress; menumbuhkan kemampuan menulis; mendukung kemapuan berbicara di muka umum; serta sarana refleksi dan pengembangan diri.

Buku (Krishna, Anand. (2008). Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) dipilih sebagai benih kesadaran yang perlu ditanamkan kembali kepada generasi muda untuk menghargai Warisan Klasik Leluhur yang masih relevan hingga kini.

1 foto bersama peserta dg Direktur OEIF Pak Bram, Pak Tri dan staf OEIEF

Foto Bersama

Membentengi diri agar tidak terjebak dalam budaya materialisme

Dr. Sayoga, Ketua Yayasan Anand Ashram berpesan perlunya kita menggali dan menerapkan kebijaksanaan dari khazanah Musantara sebagai upaya nyatamembentengi diri agar tidak terjebak dalam budaya materialisme. Para pemuda perlu memperhatikan pemberdayaan diri, kesehatan mental, emosional dan jiwa agar tercipta kedamaian hati, cinta kasih terhadap sesama di dalam masyarakat, bangsa dan antar bangsa, sehingga tercipta keselarasan global. Buku Niti Sastra merupakan sumber kebijaksaan klasik yang masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan Manusia Indonesia masa kini.

 

Pandangan Anak Muda Jogja terhadap Niti Sastra

Persepsi setiap orang pasti dipengaruhi oleh pandangan hidup mereka, yang terpengaruh oleh sifat  genetik bawaan, lingkungan keluarga, pendidikan dan pengalaman yang diperolehnya sampai dengan saat ini.

Ke 16 (enam belas) peserta yang terdiri dari para pelajar SMA Jogja, paling tidak sudah mewakili sebagian anak muda yang hidup pada masa kini di Jogja. Kita perlu angkat topi kepada wakil generasi muda Jogja yang dalam waktu singkat telah memahami isi buku Niti Sastra. Sinopsis dan presentasi mereka luar biasa.

Setelah membaca beberapa kali buku Niti Sastra, semua peserta menilai bahwa kebijaksaan klasik yang dibuat di zaman Majapahit ini masih relevan hingga kini. Peristiwa yang terjadi di panggung negara kita tidak jauh berbeda dengan pada saat Niti Sastra ditulis. Ternyata dibalik kemajuan yang nampak nyata, perilaku manusia Indonesia tidak banyak berubah dibanding 5 abad yang lalu.

Semua peserta menghargai upaya Bapak Anand Krishna menulis buku Nitisastra dalam bahasa populer sehingga lebih mudah dicerna oleh mereka. Ada beberapa yang pernah membaca Niti Sastra ke Perpustakaan tetapi sulit mencerna. Mungkin hanya Mbak Savitri, salah satu Juri yang juga pengamat dan pelaku budaya Jogja yang dapat memahami bahasa klasik.

Diakui oleh seorang peserta bahwa sebagian teman-teman sebayanya hanya senang membaca hal yang ringan-ringan. Akan tetapi seandainya saja mereka mau membaca buku Niti Sastra ini, teman-temannya akan berubah menjadi lebih bertanggung jawab terhadap keadaan negara kita.

Menurut para peserta, acara presentasi membuat para peserta lebih mendalami buku Niti Sastra dan bagaimana memilih kalimat-kalimat yang akan diungkapkan sebagai presentasi di muka umum. Presentasi semua peserta menjadi sangat menarik dan membangkitkan semangat, karena mereka semua mengutip pesan para Founding Fathers ataupun Nasehat Luhur dalam buku tersebut. Masalah bagaimana menjadi pemimpin yang baik, diungkapkan oleh sebagian besar peserta dengan penuh semangat.

Kegiatan semacam ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka untuk membaca buku secara benar, membuat catatan dan mengungkapkan atau berbagi/sharing kepada masyarakat umum.

Sepenggal parade resensi buku budaya ini telah memberi sharing nyata terhadap pendidikan generasi muda di negara kita walau dalam lingkup yang masih sangat kecil.

 

Kesan Para Juri

Ada 3 Juri bagi kegiatan parade resensi buku budaya ini yaitu Pak Bram Antareja, Mbak Savitri dan Pak Tri.

Pak Bram Antareja dari Radio Prambors dan Delta FM Jogja adalah dedengkot fotografi di Indonesia tempat para mahasiswa fotografi “ngangsu kawruh” tentang foto. Pandangannya yang holistik dan sangat dalam saat menyikapi kehidupan terungkap dari komentar-komentarnya yang menyentuh. Beliau adalah salah satu seniman yang bertanggung jawab dan selalu berbagi pandangan positif yang membangkitkan semangat bangsa. Di tengah media yang berbagi kecemasan dan negativitas, setiap hari beliau menulis status di twitter hal-hal yang membangkitkan semangat hidup. Foto-fotonya di Instagram dan Face Book selalu di-“likes’ oleh banyak orang. Baginya yang penting moment foto, jepret, merenungkan caption dan foto itu akan mempunyai value.

Mbak Savitri, adalah pengamat dan pelaku  berbagai acara budaya di Jogja. Komunitas seniman dikenalnya dengan baik karena suaminya adalah dosen seni di Solo. Buku-buku Sastra sudah dihayati olehnya, dan dia telah membaca Buku Niti Sastra dalam bahasa Jawa yang kini masih tersimpan di Perpustakaan Pakualaman. Sebagai generasi muda, Mbak Savitri lebih bisa memahami jiwa para anak muda.

Pak Tri, adalah anggota Anand Ashram yang suka menulis di Face Book dan Blog, terutama yang berkaitan dengan kisah-kisah spiritual dan buku-buku Bapak Anand Krishna. Pak Tri sangat mencintai buku-buku Anand Krishna, sehingga ungkapan-ungkapan penting dari buku yang biasanya diberi highlight, di stabilo, ditulis dan dikumpulkannya. Semua buku-buku Bapak Anand Krishna selalu dibacanya berulang-ulang seperti membaca surat seorang kekasih.

Pengamat kehidupan Bram Antareja, Pengamat Budaya Jogja Mbak Savitri, serta Pecinta Buku Anand Krishna Pak Tri kiranya cocok sebagai tim juri Parade Resensi Budaya Niti Sastra ini.

Dalam #InnerJourney di sebutkan bahwa walau mengawali tindakan meniti ke dalam diri dari titik yang berbeda-beda pada akhirnya mereka semua tidak mungkin bila tidak bertemu, karena tujuannya hanya satu.

Oleh karena itu tidak ada yang aneh, bila dalam menilai ketiga aspek: kesesuaian dengan isi buku; tatabahasa; dan presentasi, hasil ke-3 Juri tidak jauh berbeda dan bisa dikatakan mendekati sama.

Oleh karena itu ditetapkan:

Juara 1 adalah Ayyasi Izaz Almas, SMA N 1 Bantul

Juara 2 adalah Novembria Shindi Pawestri, SMA 6 Yogyakarta

Juara 3 adalah Via Alfian Ika Agustina, SMA 11 Yogyakarta

1 para juara dan para Juri

Para Juara berfoto bersama dengan para Juri

Menanam Benih Kesadaran

Mungkin dalam diri setiap peserta sudah ada genetika bawaan dari para nenek-moyang mereka di Zaman Majapahit yang terbawa hingga kini, sehingga Niti Sastra bukan hal yang “asing” bagi mereka.

Bagaimana pun semua peserta Parade Resensi Budaya Niti Sastra sudah membaca buku Niti Sastra dengan cermat. Dan, benih-benih kesadaran yang ditanamkan kembali dalam buku tersebut akan dapat memberdayakan diri mereka. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat, agar benih kesadaran ini berkembang menjadi pohon yang kuat dan berbuah.

Semoga semua peserta Parade Resensi Budaya Niti Sastra, dikemudian hari dapat berkembang menjadi manusia-manusia bijak yang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terima kasih One Earth Integral Education Foundation (OEIEF), terima kasih Anand Ashram.

1 kak Mira

foto 11

1 Mbak Savitri

1 Pak Bram Antareja

1 nbernyanyi bersama

Catatan Akhir Tahun 2014: Selalu Ingat Tuhan, Berkarya Tanpa Pamrih dan Berbagi Berkah

happy new year 2015

Happy New Year di Anand Krishna Center Joglosemar, Jogja (foto Mas Tunggul)

 

Melihat layar lewat Skype

Belasan orang memandang layar besar yang dihubungkan dengan kabel ke laptop yang sudah terkoneksi lewat Skype. Dan terpampanglah gambar Anand Asram Ubud, Anand Ashram Sunter di Hall Anand Krishna Center Joglosemar, Jogja. Semua orang berteriak bahagia, inilah adalah ungkapan spontan yang membahagiakan dan membangkitkan semangat di akhir tahun 2014.

Kala Bapak Anand Krishna muncul dan menyapa di layar, hati semua orang berbunga-bunga, inilah saat yang ditunggu di penghujung tahun 2014 ini.

Diawali dengan agnihotra, chanting, bhajan, makan bihun bersama dan dilanjutkan mendengarkan kisah Shri Sai Satcharita semua orang menunggu detik-detik yang berbahagia lewat koneksi dengan Anand Ashram Ubud.

Sebuah momen yang perlu dirayakan untuk mengakhiri tahun 2014. Terima kasih kepada semua teman-teman yang mempersiapkan sehingga acara ini terlaksana. Terima kasih Bapak Anand Krishna yang telah berbagi kasih dengan teman-teman di Bali, Jakartaa dan Jogjakarta.

 

Ingat Tuhan, Berkarya Tanpa Pamrih dan Berbagi Berkah

Kitab suci yang tebal dari penganut Sikh ( dan menurut pencatat bisa diperluas dengan seluruh kitab yang disucikan) hanya memuat 3 kata: Selalu Ingat Tuhan; Selalu bekerja keras sekuat tenaga tanpa pamrih; dan Selalu berbagi berkah.

Pernyataan Bapak Anand Krishna ini menghunjam dalam dalam diri.

  1. Selalu Ingat Tuhan.
  2. Berkarya Tanpa Pamrih
  3. Berbagi Berkah.

 

Sudahkah dalam satu tahun 2014 kita semua melaksanakan hal tersebut? Siapkah di tahun Baru 2015 kita melakukan hal tersebut!

Kalau hanya memikirkan kepentingan keluarga, kepentingan “family”, semua hewan pun sudah melakukan hal yang sama. Sebagai manusia kita berkarya mestinya bukan hanya untuk kepentingan keluarga, akaan tetapi untuk kepentingan umum, kepentingan umat manusia dan bahkan bagi seluruh makhluk.

Atithi Devo Bhava, tamu yang tidak diundang adalah Tuhan. Sudahkah kita melakukan hal demikian? Tamu yang datang dengan pemberitahuan lebih dahulu adalah “family”.

Bapak Anand Krishna menyampaikan tidak ada seorang tamu pun yang datang ke rumah orang tuanya yang pulang tanpa minum atau makan sesuatu. Ibu beliau selau menjamu semua tamu.

Pak Anand juga menyampaikan kisah Shirdi Baba yang berjanji akan berkunjung ke rumah seseorang pengikutnya. Sang pengikut telah mempersiapkan hidangan untuk Sang Guru yang akan mengunjunginya. Jam 12 tepat sesuai sesuai rencana, Shirdi Baba belum datang juga. 10 menit kemudian datang seorang peminta-minta. Dan sang tuan rumah menolaknya, “Guru saya akan datang, tunggulah setelah datang dan kau akan saya berikan hidangan!”

Ditunggu sampai jam 4 sore Sang Guru tidak datang juga. Dan, temannya menghadap Shirdi Baba dan menanyakan mengapa beliau tidak hadir ke rumah sahabatnya. Dia menyampaikan bahwa sang tuan rumah dan para sahabat sudah menunggu. Shirdi Baba berkata, “Saya sudah datang dan kalian tidak mengenaliku!.”

Atithi Devo Bhava, sang peminta-minta yang datang setelah jam 12 seharusnya dianggap Tuhan yang datang, tetapi sang tuan rumah dan para sahabatnya belum bisa mempraktekkan nasehat tersebut.

Kisah tersebut menyentuh hati nurani terdalam, apa yang sudah kita lakukan selama ini. Adakah nasehat yang sudah dihayati dipraktekkan dalam kehidupan nyata?

Bahkan apabila kita tidak memiliki sesuatu apa pun, kita masih bisa memberikan sebuah senyuman. Bapak Anand Krishna juga berkisah bahwa Giam lo ong, Sang Yama  itu ibarat tulang foto yang tidak tahu kapan mengambil gambar, menjepret kita. Saat menjepret itulah napas yang kita tarik dihembuskan untuk yang terakhir kalinya. Mengapa kita tidak selalu senyum sehingga saat dijepret kita dalam keadaan tersenyum? Hehehe bila kita selfie dengan tongsis, kita bisa mempersiapkan diri saat kita diambil gambarnya, akan tetapi Sang Yama tidak tunduk pada keinginan kita!

 

Perjalanan Kembali ke Solo dan Perjalanan Kehidupan

Pulang dari Center di Jogja, saya istri dan Mas Rahmad mengendarai kendaraan pelan-pelan, karena banyak sekali sepeda motor dan mobil berlalu lalang pada dini hari setelah Pk. 00 tersebut.

Saya mengendarai sendiri, karena teman yang biasa menyetir Solo-Jogja pp sedang sakit. Di sepanjang jalan, kita melihat kembang api sekali-sekali menghiasi langit. Suara knalpot motor meraung-raung dan beberapa anak muda tanpa helm menarik perhatian pengendara lainnya.

Sampai di dekat kompleks Candi Prambanan jalan menjadi macet, mungkin lebih dari setengah jam. Sudahkah mereka yang memenuhi jalan di tahun baru tersebut selalu mengingat Tuhan! Apa yang dipikir oleh mereka? Ada pasangan muda yang naik motor membawa bayi mereka menyelinap kerumunan mobil dan motor. Apakah ini juga tindakan ingat Tuhan? Apakah mereka yang merayakan akhir tahun ini melakukan tanpa pamrih? Ataukah hanya menyenangkan keinginan panca indra serta pikiran dan perasaan?

Mungkin mereka juga telah berbagi berkah kepada tukang penjual terompet dan kepada stasiunSPBU dengan membeli bahan bakar. Mungkin mereka telah berbagi berkah dengan membeli kembang api yang mahal dan tidur di hotel berbintang. Untuk kepentingan pribadi, family atau untuk kemanusiaan?

Hidup  adalah sebuah perjalanan. Seperti perjalanan dari Solo ke jogja dan kembali lagi ke Solo. Sudahkah sepanjang perjalanan kehidupan kita lalui dengan melakukan tindakan: “Selalu ingat Tuhan, Bekerja keras tanpa pamrih pribadi, dan berbagi berkah yang diberikan kepada kita?

Semoga!

Perkawinan Sati Mahadeva, Teladan dari Seorang Panembah

sati kawin mahadeva sumber www metromasti com

Gambar Sati Mahadeva menikah sumber www metromasti com

Bhagavad Gita 4:24 : “Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Mempersembahkan hidupnya pada Mahadeva

Kisah Sati mencintai Mahadeva sejak kecil adalah sebuah pelajaran bagi manusia yang selalu minta harta benda, kekuasaan,  dan ketenaran dari Tuhan. Padahal kesemuanya itu tidak ada yang abadi, tidak sesuatu pun dapat membahagiakan manusia selamanya. Yang abadi adalah Dia, maka fokus manusia seharusnya bukanlah pada milik-Nya akan tetapi pada Dia Hyang Maha Memiliki. Inilah contoh yang diberikan Sati bahwa dia tidak tergoda oleh kemewahan istana orang-tuanya, tidak tergoda oleh kekuasaan yang dimilikinya sebagai putri seorang Prajapati, bahkan Sati tidak tertarik kepada para Raja dan Pangeran yang disodorkan ayahandanya sebagai calon suaaminya. Sati hanya mendambakan Shiva sang Mahadeva. Dalam kisah memang digambarkan bahwa Sati maupun Mahadeva berwujud manusia, akan tetapi itu adalah contoh bagaimana seorang manusia yang sungguh-sungguh sangat mencintai Gusti Pangeran.

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, Anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kuhendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai. Seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam Setiap masa kehidupanku.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Jalan yang dilakukan Sati adalah lewat persembahan. Tindakan Sati meninggalkan istana untuk hidup di pertapaan tempat pemujaan Shiva di tengah hutan adalah sebagai persembahan. Tidakan Puasa Sati, untuk mengurangi konsumsi makanannya juga dilakukannya sebagai persembahan. Bertahun-tahun Sati menjalani hal demikian dan dia selalu mengurangi konsumsi makanannya sehingga akhirnya dia hanya makan satu helai daun sehari.  Puasa digunakannya untuk mendekatkan diri pada Hyang Maha Kuasa.

 

Sati memberikan keteladana bagaimana menjadi ‘Murid’

“Seorang ‘Murid’, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki ‘murad’ atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud. Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiranNya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadariNya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiranNya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengan kesungguhan Sati, maka Shiva sang Mahadeva tergerak menemui Sati . Shiva menyelesaikan tapanya yang bahkan tidak tergerak saat dirayu Sang Kamadeva melalui gadis jelita Vasantha ciptaan Brahma. Vasantha sendiri adalah nama dari musim semi, musim yang membuat manusia berbahagia.

Shiva sang Mahadeva tergerak menyelesaikan tapanya dan menemui Sati yang telah mempersembahkan hidupnya kepadanya. Dikatakan bahwa Tuhan bersemayam dalam dada seorang panembahnya.

Saat Sati menyampaikan keinginan untuk menjadi istrinya, Mahadeva menyanggupinya dan berjanji akan segera meminangnya ke istana orang tuanya.

 

Shiva menikahi Sati

“Diriku ini Milik-Mu. Inilah penyerahan diri. Inilah keikhlasan dan kepasrahan diri yang sempurna. Tanpa embel-embel. Inilah cinta yang tak terbatas, dan tanpa syarat. Cinta seperti ini adalah suatu ‘kejadian’ yang jarang terjadi. Inilah kejadian yang ditunggu-tunggu oleh jiwa. Inilah kejadian yang dapat mengantar jiwa pada tahap evolusi berikutnya, tempat ia ‘menjadi’cinta. Tahap pertama adalah penyerahan diri: ‘Aku milik-Mu’. Inilah ‘kejadian’ awal. Saat kejadian ini, ego kita sudah knock out, flat on the ground. Ia sudah tidak berdiri tegak lagi. Ia sudah tidak berdaya. Diri-Mu adalah Milikku. Inilah langkah kedua setelah penyerahan diri. Setelah penyerahan diri, sekarang pernyataan kepemilikan diri. Aku telah menjadi milik Gusti Pangeran, sekarang Gusti Pangeran menjadi milikku. ‘Cintaku untuk-Mu semata untuk Melayani-Mu’ tak ada kepentingan pribadi, tak ada tuntutan birahi, tak ada urusan kepuasan diri. ‘Harapanku padaMu’, bukanlah supaya kau membalas cintaku, tapi ‘semoga Kau berkenan atas ungkapan kasihku padaMu’. Cinta macam apakah ini? Inilah Cinta Sejati, inilah Kasih Ilahi. Nafsu birahi selalu menuntut, cinta penuh emosi memberi, tapi selalu mengharapkan balasan/imbalan. Cinta sejati adalah ungkapan kasih ilahi yang selalu memberi, memberi, dan memberi. Ia tidak menuntut sesuatu. Ia tidak mengharapkan imbalan. Ia tidak peduli akan balasan.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sati merasa sangat bahagia dan pulang ke istana menunggu pinangan Shiva. Ibu Sati sangat senang bahwa tapa Sati telah berhasil. Akan tetapi Prajapati Daksha, sang ayahanda yang angkuh merasa tidak senang. Baginya Shiva adalah pertapa pengembara yang kotor yang tinggal di hutan dan berkawan dengan binatang. Bajunya pun hanya kulit harimau, bagaimana dia bisa menjadi menantu seorang Prajapati yang gemerlapan?

Sati sangat yakin pada kekuasan Shiva dan bila pernikahan itu harus terjadi maka tidak ada satu orang pun yang dapat menghalanginya. Shiva segera menemui Brahma dan mengatakan bahwa dia telah menemukan calon istri yang sempurna dan dia memutuskan untuk segera menikahinya. Brahma sangat senang dan berkata itu adalah harapan semua dewa. Brahma berjanji segera mengatur pernikahan sesegera mungkin.

Brahma segera ke istana Daksha, dan menyatakan bahwa tapa Sati telah berhasil dan Shiva akan meminangnya. Daksha tidak berkutik terhadap ayahandanya yang telah memberikan kekuasaan kepadanya sebagai prajapati. Mau tidak mau Daksha menyetujui permintaan Brahma.

Para dewa kemudian berkumpul di Kailasha dan mengucapkan selamat kepada Shiva. Shiva kemudian pergi ke istana Daksha ditemani Brahma, Vishnu dan para dewa lainnya. Dan pernikahan pun terjadi dengan sangat meriah.

Pernikahan Shiva Sati dirayakan pada bulan baru di bulan Februari yang disebut Mahashivaratri. Februari adalah bulan dimana Bunda Alam Semesta mengundang manusia untuk menabur benih. Bumi telah merasakan musim dingin yang lama dan sekarang adalah waktu untuk menabur benih, memulai kehidupan baru, musim semi yang baru.

 

Jalan Peningkatan Kesadaran Manusia

“Ketika kesadaran manusia meningkat, terbersihkanlah jiwanya, dan terkendalilah pikirannya. Atau sebaliknya, ketika jiwa manusia terbersihkan, dan pikiran terkendalikan, terjadilah peningkatan kesadaran. Anda boleh mulai dari ujung mana saja. Hasilnya sama. Upayakan peningkatan kesadaran, maka jiwa menjadi bersih dan pikiran terkendali. Upayakan kebersihan jiwa dan kendalikan pikiran, maka kesadaran mengalami peningkatan. Dari ujung manakah semestinya kita memulai? Terserah, dari yang mana saja. Mengupayakan kebersihan jiwa dan pengendalian pikiran adalah jalur meditasi. Inilah jalur perenungan, yang dalam bahasa sufi disebut jalur fiqr atau tafakkur. Sementara itu, mengupayakan peningkatan kesadaran adalah jalur cinta murni. Sesungguhnya bukan peningkatan kesadaran yang diupayakan oleh seorang pecinta, tapi pemindahan kesadaran. Ia memindahkan fokusnya dari dunia benda ke Hyang Mahamenawan. Jalur kedua ini adalah bagi para pecinta tanpa syarat, mereka yang tidak membutuhkan imbalan. Jika Anda belum siap dan menyalahartikan luapan emosi sebagai cinta sejati, Anda akan kecewa karena jalur ini adalah jalur tanpa tuntutan. Sementara, emosi Anda masih menuntut. Janganlah menggunakan jalur ini jika Anda belum memiliki cinta sejati terhadap Hyang Mahamenawan. Lebih baik menggunakan jalur pertama, jalur meditasi.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Sati Mahadeva bukan hanya memberikan teladan bagaimana seseorang yang selalu melakukan persembahan dapat mencapai apa yang dinginkannya, akan tetapi sudah berada dalam dekapan-Nya pun seseorang bisa lengah sehingga menjauhi-Nya. Silakan ikuti kisah selanjutnya.

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/09/10/perkawinan-sati-mahadeva-teladan-dari-seorang-panembah/

Mahadeva: Kelahiran Bunda Alam Semesta sebagai Sati Putri Daksha

sati mahadev sumber www bolegaindia com

Gambar Sati Mahadeva sumber www bolegaindia com

“Penciptaan, Pemeliharaan, Dan Pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendak-Nya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendak-Nya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Anak Keturunan Brahma di Dunia

Sesuai dengan tugasnya untuk mencipta, Brahma mulai  menciptakan 4 Rsi: Sanaka, Sananda, Sanatana and Sanat-kumara dan minta mereka membuat anak keturunan untuk menyebar ke dunia. Keempat-empatnya menolak karena tidak tertarik berkeluarga dan fokus menjadi bhakta Vishnu. Brahma menahan kemarahannya dan sebagai akibatnya keluarlah Rudra lewat keningnya. Rudra menjadi Prajapati tetapi melakukan banyak kesalahan sehingga dia disuruh bertapa.

Brahma kemudian menciptakan Narada, Vasishtha, Bhrgu, Daksha, Kratu, Pulaha, Pulatsya, Angira, Atri dan Marici. Selanjutnya lahirlah Dharma, Adharma, Kardama dan banyak putra-putra lainnya. Kemudian Brahma menciptakan pasangan Swayambu Manu dan Satarupa. Dari mereka lahirlah 3 putri Akuti, Prasuti, Devahuti serta dua putra Priyavatra dan Uttanapada.  Akuti menikah dengan Ruchi putra Brahma, Dewahuti dengan Kardama putra Brahma dan Prasuti dengan Daksha Putra Brahma. Anak-keturunan Swayambu Manu semuanya mendiami dunia.

 

Pasangan Shiva Inkarnasi Parashakti

“Pengetahuan tentang Ia Hyang Melampaui Wujud adalah Pengetahuan Sejati. Hati-hati, jangan pula menyalahartikannya sebagai ‘Hyang Tak Berwujud’. Sebab itu, di awal tadi saya memilih untuk menerjemahkan Nirguna sebagai ‘Hyang Melampaui Wujud’. ‘Hyang Melampaui Wujud’ tidak berarti, ‘tidak boleh punya wujud’. Kita tidak bisa menyuruh Gusti Pangeran, ‘He, kalau sudah Tak Berwujud, ya tetap Tak Berwujud saja ya. Jangan lagi Berwujud!’ Kita tidak bisa memerintah Gusti Pangeran seperti itu. Suka-suka Dia. Kalau Dia mau mengungkapkan keberadaan-Nya lewat wujud; jika Dia ingin menunjukkan wajah-Nya kepada seorang pencinta, seorang bhakta, seorang panembah – kita tidak bisa melarang-Nya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Konon Shiva berada dalam meditasi yang sangat dalam. Brahma yang muncul di tempat meditasi Shiva bersama Kamadeva Putra Brahma berkata, “Kamadeva kau harus menemukan cara agar Shiva menyelesaikan meditasinya!” Kamadeva menyanggupi asal Brahma menciptakan gadis cantik terlebih dahulu. Brahma kemudian menciptakan Vasanthi dan Malayani. Kamadeva berupaya membangunkan Shiva dibantu kedua gadis cantik tersebut tetapi Shiva tetap tidak tergerak. Malayani kemudian diajak pergi oleh Brahma. Dan, setelah beberapa lama Kamadeva pun tetap tidak berhasil dan kembali menghadap Brahma.

Brahma kemudian meminta bantuan Vishnu, dan Vishnu mengatakan agar Brahma langsung menemui Shiva. Sebelum minta Shiva menikah maka Brahma diminta berdoa kepada Parashakti, Bunda Alam Semesta agar Dia berkenan lahir ke dunia sebagai istri Shiva. Brahma kemudian minta pasangan Daksha dan Prasuti bertapa mohon perkenan Bunda Alam Semesta lahir ke dunia sebagai putri mereka.

Dalam Srimad Bhagavatam, dikisahkan Vishnu beberapa kali mewujud di dunia. Demikian pula Shiva pun mewujud sebagai Rudra Putra Brahma. Inkarnasi Dewa lahir di dunia untuk melenyapkan kejahatan, melindungi orang-orang saleh dan menemui “para pencari” untuk memberikan kedamaian dan sukacita kepada mereka.

Dikisahkan Daksha dan Prasuti bertapa selama 3.000 tahun dan Bunda Alam Semesta menemui mereka. Bunda berkenan akan lahir sebagai putri mereka dengan syarat, bahwa bila Daksha tidak menghormati sang dewi, maka Dia akan kembali ke Parabrahma.

Dari rahim istri Daksha lahir 60 anak perempuan. 10 putri menikah dengan Dharma. 13 putri menikah dengan Kashyapa. 27 putri menikah dengan Chandra. Masing-masing 2 putri menikah dengan Bhootan, Angirasa dan Krishashwana dan sisanya menikah dengan Tarkshya. Generasi penerus mereka menjadi penduduk bumi.

Kemudian Daksha dan istrinya berdoa lagi dan lahirlah Sati. Setelah Sati dewasa datanglah Brahma dan Narada dan mereka berkata kepada Sati bahwa keinginan rahasia yang disembunyikan dalam pikiran Sati untuk menjadi istri dari Shiva akan terlaksana.

 

Kejelitaan Sati dan Arogansi Prajapati Daksha

“Evolusi Spiritual adalah evolusi dari ketidaksadaran menuju kesadaran. Inilah evolusi yang sedang kita jalani saat ini. Ketidaksadaran memisahkan kita dari alam semesta, makhluk-makhluk lain bahkan dari sesama manusia. Kesadaran mempertemukan kita dengan alam semesta, makhluk-makhluk lain maupun dengan sesama manusia. Ketidaksadaran menciptakan kesombongan, arogansi seolah kita Mahatinggi, Mahabesar, Mahaterpilih, dan sebagainya. Kesadaran menciptakan keselarasan, keserasian, dan keharmonisan. Sesungguhnya tiada perbedaan antara kita. Kita semua satu adanya. Ketidaksadaran menciptakan jurang pemisah antara sesama makhluk sedangkan Kesadaran menciptakan jembatan untuk mempertemukan kita.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sati tumbuh menjadi gadis jelita dan Daksha mulai berpikir bagaimana mungkin putri yang sangat cantik jelita kawin dengan pria yang selalu memakai baju harimau dan tinggal di hutan. Dalam kisah selanjutnya akan disampaikan perjalanan spiritual Daksha dari ketidaksadaran menuju kesadaran.

Sati minta pada sang ibu untuk mengajari bagaimana bermeditasi pada Shiva. Siang malam Sati bermeditasi pada Shiva.

Dikisahkan para dewa datang ke Kailasha menghadap Shiva, Sang Mahadewa dan mengatakan bahwa para asura di dunia sedang berkembang pesat. Mereka menguasai seantero dunia. Mereka mengingatkan bahwa adalah tugas Shiva untuk mendaur ulang, menghancurkan mereka. Brahma berkata bahwa walaupun mereka bertiga (Brahma, Vishnu dan Shiva) adalah satu, akn tetapi mereka mempunyai tugas masing-masing. Brahma mencipta, Vishnu memelihara, sedangkan Shiva mendaur ulang. Brahma dan Vishnu sudah punya istri, akan tetapi Shiva belum. Shiva mengatakan bahwa dia selalu bermeditasi, jadi untuk apa punya istri?

Atas bujukan Brahma yang kreatif, maka Shiva bersedia menikah, tetapi dengan syarat hanya dengan wanita yang bisa mewujud menjadi orang yang berbeda. Setiap kali Shiva bermeditasi maka istrinyapun juga bermeditasi. Vishnu dan Brahma senang dan berkata bahwa mereka sudah menemukan pasangan yang cocok yang merupakan inkarnasi dari Bunda Alam Semesta bernama Sati. Shiva setuju.

Ikuti kisah selanjutnya!

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/09/07/mahadeva-kelahiran-bunda-alam-semesta-sebagai-sati-putri-daksha/

 

Nandi Wahana Mahadeva, Persembahan Kepatuhan Sepanjang Masa

 

Nandi sumber www youtube com

Gambar Nandi sumber www youtube com

“Ketika titik yang dituju di”niat”kan sebagai satu-satunya kiblat dan kita mencintai kiblat itu, maka one ‘pointed’ness terjadi dengan sendirinya tanpa perlu diupayakan. Sebagai seorang-pelajar, siswa atau mahasiwa, apa yang menjadi kiblatmu? Apa yang menjadi tujuanmu ke sekolah atau kampus? Pikirkan, renungkan, kemudian bertanyalah pada diri sendiri berapa banyak waktu yang kau gunakan untuk mencapai tujuan itu dan berapa banyak waktu yang kau sia-siakan untuk mengejar hal-hal lain. Belajar. Ke sekolah untuk belajar, ke kampus untuk belajar. Bukan untuk pacaran, bukan untuk berpolitik. Apakah kau one’pointed’ terhadap pelajaranmu? Silakan berkenalan dengan siapa saja, berteman siapa saja, bersahabat dengan siapa saja, tetapi tidak one’pointed’ terhadap apa pun, selain pelajaranmu, tujuanmu ke sekolah dan ke kampus. One ‘pointed’ness adalah latihan mental dan emosional untuk memperkuat syaraf dan nyalimu. Latihan ini juga membutuhkan tenaga yang luar biasa, tenaga ribuan kuda, yang hanya dimiliki oleh kaum muda. Maka, tentukan kiblatmu, cintailah kiblatmu. Arahkan seluruh kesadaranmu dan tunjukkan seluruh energimu untuk mencapainya.” (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kelahiran Nandi, berkorban jiwa dan raga demi menggapai Cita-Cita

Resi Shilada bertapa dengan keras untuk memperoleh seorang putra. Indra berkenan dengan tapa sang resi dan menanyakan apa keinginan sang resi. Setelah mengetahui bahwa keinginannya adalah memiliki anak yang hidup kekal, maka sang resi diminta bertapa memuja Shiva. Resi Shilada bertapa ribuan tahun sehingga rayap mulai mngerumuni tubuhnya. Kulitnya juga mulai dimakan serangga, kemudian dagingnya dan bahkan darahnya,  sehingga akhirnya hanya tertinggal tulangnya saja. Bukan hanya seluruh jiwanya terfokus pada cita-cita, akan tetapi fisiknya, mulai dari kulit, daging, darah yang mengalir pada seluruh tubuh dan bahkan tulangnya semuanya dikerahkan untuk menggapai cita-cita dengan melakukan persembahan kepada Mahadeva. Seorang pelajar/mahasiswa/karyawan/ilmuwan ataupun seorang “pejalan spiritual” yang bertindak sedemikian fokusnya dengan penuh semangat dan rela berkorban demi cita-cita yang akan diraihnya akan berhasil.

Shiva berkenan, hadir dan memberkati sang resi. Resi Shilada kemudian melakukan yajna agnihotra dan muncullah Nandi yang memperoleh penghormatan dari semua dewa yang hadir pada upacara Yajna. Sang resi membesarkan Nandi dengan penuh perhatian dan pada usia tujuh tahun Nandi sudah hapal Veda. Dewa Mitra dan Varuna yang datang ke tempat sang resi mengatakan bahwa walaupun sang anak mempunyai peruntungan yang luar biasa akan tetapi usianya tidak lama. Pada umur delapan tahun dia akan meninggal dunia. Sang ayah sangat sedih dan Nandi berkata supaya ayahnya tidak perlu bersedih.

Dalam diri Nandi terdapat semangat bergelora seperti yang dimiliki sang ayah. Nandi kemudian bertapa memuja Dewa Shiva. Pada tahun ke delapan ternyata Nandi masih hidup dan terus bertapa hingga ratusan tahun. Shiva berkenan dan memberkatinya dengan kalung yang mmembuatnya abadi. Shiva berkata bahwa Nandi akan menjadi Wahananya dan akan dipuja bersama dirinya. Selanjutnya Nandi berubah wujud menjadi setengah banteng dan setengah manusia dan menemani Mahadeva selamanya. Mahadeva sangat senang dengan Nandi dan sangat percaya kepadanya.

 

Hidup Nandi hanya dipersembahkan kepada Mahadeva

“Seorang panembah mengubah irama napasnya menjadi irama ilahi. Seluruh hidupnya menjadi sebuah lagu indah yang menyanyikan keangungan-Nya. Bagi seorang panembah sejati tiada lagi perpisahan antara jam kerja, jam libur, jam keluarga, setiap menit, setiap detik adalah saat untuk menyembah. Seorang panembah mengubah seluruh hidupnya menjadi suatu persembahan. Ia melakukan segala sesuatu dengan semangat panembahan, persembahan. Ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Panembahan bukanlah pekerjaan mereka yang belum sadar. Mereka yang belum, atau tidak sadar, tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Mereka masih menghitung untung-rugi, sementara seorang Panembah sudah tidak peduli akan hal itu. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Nandi tidak terbawa oleh nafsu pancaindra, tidak tergoyahkan dalam menghadapi semua rintangan. Nandi berkarya sebagai persembahan kepada Mahadeva dengan penuh keyakinan, tidak khawatir dan berkecil hati. Bukan hanya tubuh Nandi yang berkembang menjadi besar, akan tetapi jiwanya tumbuh menjadi besar. Kebesaran jiwa Nandi mengundang kebesaran, keyakinan Nandi mengundang keyakinan, alam semesta memberkati Nandi.

Nandi dikisahkan dapat mengambil wujud apa pun, seperti dalam salah satu episode di ANTV, dia mengambil wujud ikan raksasa kala Parvati dalam wujud putri nelayan akan dikawinkan dengan nelayan yang bisa menaklukkan ikan raksasa tersebut. Adalah Mahadeva yang mengubah wujudnya menjadi nelayan penakluk ikan raksasa tersebut dan itu merupakan skenario Shiva dan Nandi. Nandi selalu siap melayani Shiva dan mengabdikan hidupnya untuk Shiva.

 

Berdoa di telinga Nandi

“Adalah perasaan kita yang memberi kesan kasar dan halus. Dan, perasaan kita tergantung pada kesadaran kita. Jika kesadaran kita terfokus pada dunia, getaran itu terasa kasar. Jika kesadaran kita terfokus pada Gusti Pangeran, getaran itu terasa halus. Kasar dan halus tidak bersifat absolut. Kasar bisa terasa halus, dan halus bisa terasa kasar. Dalam menjalani kepercayaan atau agama, jika seorang masih memikirkan pahala yang bersifat ‘materi’ kenyamanan dunia, atau kenikmatan surga maka sesungguhnya ia masih berada pada frekuensi rendah. Ia sedang bergetar dengan keras sekali. Sementara itu, seorang panembah yang berada di tengah keramaian dunia, jika kesadarannya terfokus pada Gusti Pangeran, ia akan berada pada frekuensi yang tinggi. Ia sedang bergetar halus.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Banyak pemuja Shiva yang berdoa di dekat telinga Nandi. Mereka berdoa dengan membayangkan Nandi sungguhan yang hidup pada arca Shiva-Nandi untuk memudahkan imaginasinya. Dikisahkan Parvati kehilangan ingatan dan Shiva menjadi sangat terganggu. Kemudian Shiva dan Parvati bermeditasi bersama dengan berdampingan. Mereka sangat dalam bermeditasi dan Nandi juga kemudian ikut bermeditasi duduk di depan Mahadeva. Nandi ingin memastikan bahwa ia berhubungan langsung dengan Mahadeva dengan duduk persis di hadapannya. Adalah musuh Mahadeva, Asura Jalandhara menculik Parvati dan Shiva serta Nandi tidak menyadari dan melanjutkan meditasinya.

Para dewa khawatir dan tidak tahu bagaimana caranya memberitahu kepada Mahadeva tentang kejadian tersebut. Ganesha, putra Parvati diminta menyampaikan informasi tersebut kepada Mahadeva, akan tetapi dia tidak bergerak sedikit pun atas pemberitahuan Ganesha tersebut. Ganesha kemudian berdoa di dekat telinga Nandi. Nandi yang mendengar berita tersebut langsung memberitahukan lewat gelombang pikirannya kepada Mahadeva. Nandi tidak menyampaikan berita lewat mulut akan tetapi lewat gelombang pikiran. Gelombang pikiran yang sama antara Guru dan Murid ini disebut Shaktipaat, yang terjadi ketika keduanya sedang bergetar bersama. Kemudian, seorang guru tidak lagi membutuhkan bicara untuk menyampaikan pemikirannya. Sang siswa pun tidak membutuhkan sepasang telinga untuk mendengarkan wejangan guru. Memahami apa yang disampaikan Nandi lewat getaran pikiran, Mahadeva, Sang Guru kemudian menyelesaikan meditasi dan meyelamatkan Parvati. Itulah sebabnya sebagian pemuja Shiva berdoa di dekat telinga Nandi.

 

Mengikuti Mahadeva minum racun demi menyelamatkan makhluk di dunia

Mahadeva berkata kepada para pemujanya, agar bisa menjadi bhakta yang baik haruslah meneladani Nandi. Dikisahkan bahwa para Dewa dan para Asura sedang bekerja sama mengaduk samudera susu. Silakan baca https://triwidodo.wordpress.com/2011/07/08/renungan-bhagavatam-perebutan-amerta-dan-kurma-avatara/

Tiba-tiba dari dalam samudera susu muncullah racun yang sangat mematikan—Halahala. Ngeri terhadap racun tersebut, seluruh makhluk pun melarikan diri menuju Mahadeva dan memohon pertolongan kepadanya. Mahadeva kemudian datang dan menangkupkan telapak tangannya, mengumpulkan racun tersebut dan menelannya. Begitu dahsyatnya kekuatan racun tersebut, sehingga membuat tenggorokan Mahadeva menjadi biru. Beberapa tetes racun tersebut  menetes melalui sela-sela jari-jari Shiva. Nandi segera menelan tetesan racun tersebut, jangan sampai makhluk lain menderita karena terkena sisa racun yang sangat berbahaya. Para dewa khawatir Nandi akan menderita bahaya karena minum tetesan racun tersebut. Shiva berkata bahwa Nandi merasakan pahit getir bersamanya, melihat dia minum racun maka Nandi pun ikut minum tetesan racun tersebut. Mahadeva meyakinkan bahwa Nandi akan baik-baik saja.

Sampai sekarang kisah Nandi, sebagaimana kisah Hanuman dan kisah para bhakta sejati menjadi teladan dan panduan kehidupan bagi para pejalan spiritual. Bila kita mengikuti Sang Utusan, Sang Pembawa Pesan, Sang Pemandu seperti yang dilakukan Nandi, maka hidup kita akan mencapai kebahagiaan sejati.

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/28/nandi-wahana-mahadeva-persembahan-kepatuhan-sepanjang-masa/

Dadu Yudhisthira Shakuni: Solusi Tanpa Pertumpahan Darah atau Pemicu Perang Berdarah-Darah?

yudistira main dadu 2 sumber dishayulinda blogspot com

Gambar Shakuni lawan judi Yudhisthira sumber: dishayulinda blogspot com

 

Mandataris

“Seorang Raja hanyalah Mandataris. Seorang raja diberi mandat untuk mengurusi kerajaan. Ia bukan pemilik. Ia tidak dapat berbuat semaunya. Tugas seorang raja adalah melayani rakyat; tidak lebih tidak kurang.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Yudhisthira membuat kerajaan dipertaruhkan di meja judi, juga saudara-saudaranya yang patuh terhadapnya ikut dipertaruhkan. Bahkan kemudian dirinya sendiri pun dipertaruhkan. Karena  kalah terus dia pun akhirnya menjadi budak Duryudana. Setelah menjadi budak dia sudah tidak berhak bersuara dan permaisuri Draupadi pun menjadi taruhan dan dilecehkan di muka umum.

Yudhisthira berbuat kesalahan. Yudhisthira sudah mengkhianati amanah yang diembannya, mandat yang diberikan kepadanya. Saudara-saudaranya bukan miliknya, istrinya dan semua kepemilikan yang lain adalah milik Hyang Maha Memiliki, dan kita hanya menerima amanah. Sebuah kesalahan yang fatal karena Yudhisthira senang main dadu, memiliki karakter “tidak enakan” bila menolak ajakan orang lain serta berprasangka baik terhadap pihak yang berkali-kali menzaliminya.

 

“Tidak enakan” dan Berprasangka Baik terhadap Pihak yang Menzaliminya Berkali-kali

“Tidak enakan. Segan untuk mengatakan ‘tidak’. Kurang, atau bahkan tidak tegas. Inilah kelemahan utama seorang pemimpin. Tanpa ketegasan, seseorang tidak bisa memimpin. Mau memimpin dengan kerendahan hati? Silakan. Tapi, selain kerendahan hati, ketegasan pun diperlukan. Tanpa ketegasan, semuanya akan amburadul. Silakan memimpin dengan kasih, tidak perlu bertangan besi. Tapi tidak bisa juga bertangan mentega yang kena panas sedikit langsung meleleh.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Yudhisthira diundang main dadu ke Hastina oleh Duryudana. Semua saudara-saudaranya sudah memperingatkan, akan tetapi Yudhisthira merasa tidak enak, diundang ke Hastina ya seharusnya datang. Apalagi main dadu adalah tradisi yang masih berlaku di masa itu.

Yudhisthira selalu berbaik sangka terhadap orang lain. Memang sebagai orang yang sudah melakoni jalan spiritual, dia berupaya bebas dari menghakimi orang lain. Akan tetapi, Yudhisthira dan saudara-saudaranya sudah berkali-kali dizalimi, dijebak dan dicoba dibunuh, mengapa dia tidak waspada? Mereka memang familinya, saudaranya, akan tetapi tidakkah dia ingat apa yang mereka lakukan sebelumnya?

Mengapa Kaurawa mengundangnya main judi saat Sri Krishna sedang tidak berada di Indraprastha, saat sedang menghadapi Raja Salwa yang menyerang kerajaannya? Judi adalah tradisi masa itu, akan tetapi bukankah Sri Krishna selalu menolak tradisi yang sudah busuk? Apakah Yudhisthira tidak ingat sejarah Dewi Vinata ibu Garuda yang bermain taruhan dengan Dewi Kadru ibu para ular? Dewi Kadru yang licik mengubah ekor Kuda Uchaisvara yang putih menjadi hitam dengan cara menyuruh anak-anaknya menutupi ekor tersebut. Dan hasilnya Dewi Vinata menjadi budak Dewi Kadru dan para ular sampai dibebaskan oleh Garuda.

 

Menyusahkan Saudara, Istri dan Rakyat

“Hidup di Alam Dharma berarti saat hidup di planet bumi ini, di dunia ini, awasilah karma Anda, tindakan Anda, supaya tidak menyusahkan orang lain. Bertindaklah secara bijak dan dengan penuh kesadaran bahwa jika Anda ingin bahagia, damai, dan tenang, maka orang lain pun sama, menginginkan kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan. Ketika Anda menyadari hal tersebut, ‘aku ingin bahagia, orang lain pun ingin bahagia juga’, maka terjadilah peningkatan kesadaran.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Yudhisthira terlalu PD untuk bermain dadu, dia yakin bahwa Dharma akan melindunginya. Aura judi membuat keserakahan dalam diri berkembang. Yudihisthira terobsesi menaklukkan Duryudana dan para Kaurawa tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah, tanpa merepotkan saudara-saudara dan rakyatnya. Akan tetapi Yudhisthira melupakan resiko yang besar sekali.

Setiap orang selalu mempunyai pilihan sebelum melakukan suatu tindakan. Dengan berkarya sepenuh hati, pilihan yang diambil hampir pasti membawa hasil yang sepadan. Namun bila dia memilih tindakan yang tidak bisa diperkirakan hasilnya yang memungkinkan dia akan kehilangan sesuatu yang berharga, maka dia telah terlibat dalam suatu perjudian. Perjudian selalu melibatkan resiko, dan Yudhisthira berjudi dengan resiko kehilangan saudara-saudara, istri dan kerajaan. Yudhistira telah lupa diri bahwa tindakannya beresiko menyusahkan orang banyak.

 

Skenario Keberadaan

“Setiap avatar, setiap Buddha tidak pernah ‘mengagendakan’ hidup. Mereka sedang ‘mengalir’, mengikuti arus kehidupan. Mereka tidak memiliki rencana ‘pribadi’, mereka tengah mengikuti cetak biru Keberadaan.”  (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Adakah semacam blueprint, cetak-biru Keberadaan tentang kekalahan judi Yudhisthira, sehingga Pandawa dipermalukan, dengan terpaksa menjadi budak dan melepas pakaian bangsawan bahkan Permaisuri Draupadi pun ditarik kain sarinya di depan para pembesar Hastina? Beruntunglah Draupadi dilindungi Sri Krishna sehingga kainnya tidak bisa habis walaupun tumpukan kainnya sudah menggunung dan membuat Dursasana kewalahan. Semua Pembesar Kerajaan Hastina merasa ngeri akan akibat dari melecehkan Draupadi di muka umum. Solusi tanpa pertumpahan darah Yudhisthira dengan main dadu justru menjadi pemicu perang berdarah-darah. Akhirnya Pandawa bersama Draupadi harus menjalani pengasingan selama 13 tahun. Shakuni bersama Duryudana ingin menjauhkan Pandawa dari rakyat. Akan tetapi permainan dadu yang curang dan dilecehkannya Draupadi tersebut menjadi pemicu perang Bharatayudha.

Sri Krishna, semaca kecil hidup bersama para gopi dan gopala di Brindavan menghadapi para Asura sakti suruhan Kamsa yang ingin membunuhnya. Setelah menjadi raja, Sri Krishna membantu Pandawa menegakkan kebenaran di dunia. Pada saat Yudhisthira diundang main dadu, Sri Krishna sedang berperang melawan Salva yang menyerang Dvaraka untuk balas dendam atas kematian Sishupala. Apakah Sri Krishna hidup mengalir sesuai cetak-biru yang telah diketahuinya?

Bapak Anand Krishna menyampaikan bahwa cetak-biru selalu ada, dan kita sebagai manusia tidak tahu bagaimana akhir skenario tersebut.

Yang penting adalah kita belajar dari hikmah permainan dadu Yudhisthira, hidup adalah pilihan dan kita perlu memilih dengan tepat. Kita pun jangan meneladani Duryudana dan Shakuni yang dengan tipu daya mengalahkan Yudistira. Memang selama benih tindakan belum menjadi pohon dan berbuah, Duryudana dan Shakuni akan menikmati kemenangan. Akan tetapi setelah buah kejahatan mereka matang, mereka akan menerima akibat yang setimpal dengan perbuatan mereka.

 

Raja Parikesit berhadapan dengan Kali

Setelah Sri Krishna meninggalkan dunia, Dharma menghadapi masalah besar. Dengan kewaskitaannya, Maharaja Parikesit cucu Arjuna dan pengganti Maharaja Yudhisthira, mampu melihat Dharma sebagai sapi berkaki satu. Kakinya yang tinggal satu pun sedang diserang oleh Kali. Kaki pertama “tapa”, pengendalian diri sudah rusak karena manusia bertindak tanpa pengendalian diri. Kaki kedua “sauca”, kesucian diri dalam pikiran, ucapan dan tindakan. Kesucian pun gugur ternodai keterikatan. Kaki ketiga “divya”, welas asih. Dan, welas asih pun telah musnah karena tertutup oleh hawa nafsu. Hanya tinggal satu kaki yang bisa membuat dirinya masih tegak, yaitu “satya”, kaki kebenaran dan Kali masih berusaha menyerang kaki tersebut. Betul-betul Zaman telah memasuki Kegelapan, Kali Yuga.

Dalam buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan kisah yang intinya, Kali bersimpuh di hadapan Maharaja Parikesit: “Gusti yang menciptakan kebaikan juga menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah bayang-bayang kebaikan. Hamba telah diciptakan, dan hamba tetap membutuhkan ruang agar diri hamba tetap eksis. Berikan hamba tempat di paling sudut yang paling tertutup. Bagaimana pun sudah merupakan bawaan hamba untuk tetap mendatangi pintu-pintu yang dibuka sendiri oleh manusia. Para manusia yang telah mengundang hamba dan sudah menjadi kewajiban hamba untuk tidak menolak undangan mereka!”

Kekalahan main judi Kakek Yudhistira terhadap Duryudana dan Shakuni sangat membekas pada diri sang maharaja, sehingga Parikesit berkata bahwa Pintu Pertama yang bisa dimasuki Kali adalah Pintu Judi. Pintu Kedua adalah Pintu Mabuk, Pintu Ketiga adalah Pintu Zinah, Pintu Keempat adalah Pintu Pembunuhan dan Pintu Kelima adalah Pintu emas.

Masihkah kita mencoba memasuki Pintu Judi dimana Kali siap menerkam jiwa kita?

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/23/dadu-yudhisthira-shakuni-solusi-tanpa-pertumpahan-darah-atau-pemicu-perang-berdarah-darah/

Mahabharata: Warisan Genetika Kakek Bijak Menjadi Dua Kelompok Cucu yang Baik dan yang Jahat

Pandawa Kaurawa 1 sumber sunshinelovianettesherry wordpress com

Gambar Pandawa Kaurawa sumber sunshinelovianettesherry wordpress com

“Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya. Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orangtua. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Genetika Vyaasa dalam diri Pandawa dan Kaurawa

Nenek buyut Pandawa dan Kaurawa adalah Dewi Satyawati, yang di Jawa dikenal sebagai “Roro Amis” yang setelah kawin dengan Bhagawan Parasara bau amis nelayannya sembuh dan menjadi berbau harum dan melahirkan Vyaasa, penulis kisah Mahabharata. Ditinggalkan oleh Parasara yang meneruskan perjalanan ke Himalaya, Satyawati kawin dengan Prabu Santanu yang telah berputra Devabrata. Satyawati hanya mau kawin bila anaknya menjadi putra mahkota, sehingga Devabrata bersumpah tidak akan kawin seumur hidup sehingga dikenal sebagai Bhisma, dia yang bersumpah dahsyat. Bibit ambisius ini menjadi salah satu benih genetika Raja-Raja Hastina.

Akan tetapi putra pertama Satyawati, Citragada meninggal di waktu muda dan putra kedua Wichitrawirya meninggal serta meninggalkan dua permaisuri yang belum berputra. Kedua permaisuri tersebut adalah putri-putri dari Raja Kasi. Sesuai kebiasaan zaman itu untuk memperoleh keturunan dilakukan perkawinan Niyoga. Niyoga adalah tradisi zaman dahulu, di mana seorang wanita/janda  meminta bantuan untuk melahirkan seorang anak. Orang yang ditunjuk adalah seorang yang suci dan terhormat. Sang wanita hanya bertujuan memperoleh putra dan bukan untuk kesenangan. Demikian juga orang yang dipilih, melakukannya demi kasih sayang kepada semua makhluk dan bukan demi kesenangan.

Adalah Vyaasa yang diminta sebagai pelaku pria oleh Satyawati, sang ibu untuk berhubungan dengan Ambalika dan Ambika. Menurut legenda yang tersebar di Jawa, Vyaasa membuat dirinya menakutkan sehingga Ambalika menutup mata dan lahirlah Dhristarastra yang buta. Sedangkan Ambika tidak berani melihat wajah Vyaasa sehingga wajahnya pusat pasi dan menoleh ke samping, sehingga lahirlah Pandu yang pucat dan lehernya “tengeng”, kaku kesamping. Setelah itu kedua permaisuri menyuruh seorang dayang mewakili mereka dalam kamar yang gelap. Karena sang dayang bahagia maka lahirlah Vidura.

 

Genetika Kaurawa dari Dhristarastra dan Gandhari

“Ibarat Genetika dari suami dan kakek-neneknya digabung dengan genetika dari istri dan kakek-neneknya diaduk dan diambil segenggam akan menjadi genetika sang anak.” Demikian penjelasan Bapak Anand Krishna yang kami dengar saat beliau menyampaikan bahwa “bibit, bobot dan bebet” ajaran leluhur masih relevan hingga masa kini.  Bibit yang baik dari kedua belah pihak suami dan istri memungkinkan anak mempunyai bibit yang baik dan kemudian tinggal memfasilitasi dengan  lingkungan yang baik.

Dhristarastra sejak kecil merasa tidak bahagia, karena Pandu, adiknya menjadi pemuda normal, sedangkan dirinya menjadi pemuda buta. Hatinya semakin menderita saat Pandu yang diangkat sebagai Raja Hastina. Rasa frustasi ini mempengaruhi genetika Dhristarastra.

Raja Gandhara mengizinkan Gandhari kawin dengan Dhristarastra yang buta karena ingin mempunyai cucu-cucu sebagai bagian dari Dinasti Hastina yang agung. Gandhari adalah permaisuri Dhristarastra yang baik yang mengorbankan dirinya, menutupi matanya dengan kain dan tidak mau melihat agar dapat merasakan penderitaan suaminya Akan tetapi dalam dirinya juga ada genetika Raja Gandhara yang menurunkan Shakuni yang cerdas, licik dan ambisius sebagai adik Gandhari. Kebaikan Gandhari pun kadang tertutup kala dirinya frustasi seperti saat mengandung 2 tahun dan tidak melahirkan juga, sedangkan Kunti istri Pandu telah melahirkan Yudistira. Kandungannya dipukul dan gugurlah daging yang kemudian oleh Resi Vyaasa dibagi menjadi 100 potongan dan ditempatkan dalam tempat, yang sekarang mungkin disebut tube untuk menyemaikan benih di luar kandungan. Dalam diri Kaurawa terdapat genetika Raja Gandhara yang menurunkan Shakuni.

 

Genetika Kunti dalam Diri Pandawa

“Yang menarik, 3000 tahun sebelum Masehi, kita sudah memiliki suatu teknologi rekayasa genetika. Bila membaca kisa-kisah pewayangan di Jawa yang menurut saya sebetulnya adalah catatan sejarah kita, Dewi Kunti melihat bahwa sperma suaminya tidak begitu kuat. Karena itu dilakukan proses penambahan. Ya, bisa dengan menambahkan unsur-unsur tertentu. Misalnya, dengan unsur angin, api, air, atau udara yang masing-masing memiliki variasi getaran yang berbeda-beda satu sama lain.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Pandu tidak dapat mempunyai putra karena akan mati saat berhubungan suami istri. Atas persetujuan Pandu, Kunti menggunakan mantra untuk memanggil kekuatan dewa agar putra-putranya lahir. Madri sebagai istri kedua Pandu pun memperoleh putra dengan cara demikian.  Sehingga Pandawa memiliki Genetika Kunti. Kunti sendiri adalah saudari dari Vasudewa yang merupakan ayah dari Sri Krishna, Balarama dan Subhadra. Sehingga genetika ayah Vasudewa mengalir ke Pandawa lewat Kunti dan ke Krishna lewat Vasudewa.

 

Pengaruh Lingkungan bagi Kaurawa dan Pandawa

“Proses pembombardiran dilakukan dengan cara ‘pengulangan yang intensif dan terus menerus’ atau repetitive and intensive. Cara ini pula yang digunakan oleh para ahli periklanan. Mereka membombardir otak kita dengan berbagai macam informasi tentang apa saja yang diiklankan. Televisi adalah pembombardir supercanggih. Tak henti-hentinya sepanjang hari dan setiap beberapa menit sekali, televisi mengiklankan sekian banyak produk. Dengan cara itu mereka dapat mempengaruhi otak kita dan ‘memaksa’ untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkan. Pernahkah menyaksikan iklan tentang peralatan kesehatan dan sebagainya yang biasa mengulangi kalimat-kalimat yang sama hingga puluhan kali dalam beberapa menit? Terasa bodoh, tetapi sebenarnya tidak. Mereka pintar bahkan lick Mereka tahu persis bahwa dengan cara itulah mereka dapat mempengaruhi otak kita dan menanam informasi tentang produk mereka. Membombardir, pengulangan yang intensif secara terus menerus, adalah cara yang sama, ilmu yang sama, metode yang sama yang dapat diterapkan untuk merusak maupun memperbaiki mental kita. Pilihan berada di tangan kita. Jika kita melakukannya sendiri, maka pasti demi kebaikan diri sendiri. Jika kita membiarkan orang lain atau pihak lain melakukannya, maka itu adalah demi kepentingan mereka.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kaurawa sangat dipengaruhi Shakuni yang licik, ambisius dan jahat. Pembombardiran informasi dilakukan secara repetitive dan intensive kepada Kaurawa oleh Shakuni karena ayah dan ibunya tidak dapat melihat dan tidak dapat mendidik dengan sempurna. Bagi suami mungkin perilaku Gandhari sangat baik. Akan tetapi bagi putra-putranya dia menjadi ibu yang kurang baik karena terlalu memperhatikan ayah dan alpa terhadap pendidikan anak dan dibiarkan dipengaruhi oleh Shakuni.

Lingkungan Pandawa dipengaruhi oleh single parent Kunti yang bijak. Setelah Pandawa mempunyai istri Draupadi, Ibu Kunti dengan bijak memilih tinggal di Istana Hastina dan gantian Draupadilah yang membombardir Pandawa dengan keberanian melawan kezaliman. Adalah Sri Krishna yang menjadi Guru Pemandu Arjuna dan saudara-saudaranya untuk memberikan pemikiran jernih yang tidak terkungkung oleh tradisi yang sudah tidak kompatibel dengan zaman.

 

Hukum Sebab-Akibat yang diterima Kaurawa dan Pandawa

“Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot. Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptom’ mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tindakan Kaurawa yang licik dan curang terhadap Pandawa dan mempermalukan Draupadi akhirnya menerima balasannya pada Perang Bharatayuda. Demikian pula tindakan baik Pandawa membuat Yudistira dan anak keturunan Arjuna menjadi Raja Hastina.

 

Betulkah Film Serial Mahabharata Digemari Masyarakat Karena Kisah Mahabharata Sudah Ada Dalam Genetika Masyarakat Indonesia?

“Dalam DNA kita, masih tersimpan memori tentang keluhuran nilai-nilai budaya ini (penghormatan terhadap air, penulis). Mari kita angkat kembali nilai-nilai ini ke permukaan dan kita gunakan untuk membangkitkan bangsa. Menyadarkan bahwa sesungguhnya kita semua satu. Kita bisa beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha atau apa saja, namun budaya kita adalah budaya Indonesia. Budaya yang tinggi. Budaya yang mampu mempersatukan. Mampu melahirkan Bhinneka Tunggal Ika.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Leluhur kita sudah lama mengenal Mahabharata. Dr. Radjiman Wedyadiningrat dari Boedi Utomo menulis tentang Bhagavad Gita, demikian pula Presiden Soekarno sering menyitir kisah Mahabharata. Candi-candi di Dieng yang dirikan pada Zaman Mataram Kuno pun mempunyai nama-nama Arjuna, Bhima dan sebagainya. Bagi leluhur kita, pergelaran Wayang Kulit dengan kisah Mahabharata sejak zaman Majapahit telah merasuk ke dalam jiwa masyarakat. Kedatangan Film Serial Mahabharata yang menarik, mungkin saja membangkitkan genetika leluhur yang diwarisi anak-anak sekarang sehingga mudah terkesan dengan kisah-kisah Mahabharata.

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/17/mahabharata-warisan-genetika-kakek-bijak-menjadi-dua-kelompok-cucu-yang-baik-dan-yang-jahat/

 

Bara Api Draupadi Menggelorakan Semangat Pandawa Melawan Kaurawa

draupadi dan pandawa sumber www india-forum com

Gambar Draupadi dan Pandawa sumber: www india-forum com

“Kromosom perempuan adalah X-X, 23-23 – dia sempurna. Kromosom laki-Iaki adalah X-Y, 23-22, dia kehilangan satu poin. Sudah diketahui bersama bahwa kromosom “X” pada laki-laki diturunkan dari ibunya. X adalah energi Feminin, yang menggerakkan kita. Seorang laki-laki tidak akan tercipta tanpa X, dia tidak bisa hidup hanya dengan kombinasi Y-Y. Sedangkan perempuan bisa hidup tanpa Y, dia bisa  hidup hanya dengan kombinasi X-X. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. Kekuatan perempuan terletak pada kelembutan dan kehalusan budinya, yang membuatnya penuh kasih dan empati. Kaum perempuan oleh, karena itu bisa menjadi perawat yang hebat. Mereka lebih perhatian. Sebagai ibu, dia merawat. Sebagai saudari, dia mendukung. Sebagai istri atau kekasih, dia memperkuat.” (Krishna, Anand. (2009). The Gospel Of Obama. Koperasi Global Anand Krishna bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram)

 

Sita, Shakti Pemicu Peperangan antara Pasukan Sri Rama dengan Pasukan Rahwana

Sita adalah wanita (shakti)pemicu perang antara Sri Rama dibantu pasukan wanara melawan Rahwana dengan pasukan raksasa. Sita dikisahkan lahir dari bumi, Sita adalah Ibu bumi, mempunyai sifat bumi/tanah yang rendah hati, rela berkorban dan selalu menghidupi makhluk yang hidup di atasnya. Sita bersifat setia dan penurut, bila Rahwana akan memperkosanya, dia siap bunuh diri. Akan tetapi Sita tetap memperoleh perlindungan ilahi, Rahwana telah dikutuk seorang perempuan bahwa bila dia memperkosa seorang wanita, maka dia akan langsung mati, sehingga Rahwana sabar menunggu kerelaan Sita untuk menjadi istrinya. Sita adalah wanita yang taat, saat diminta menunggu Sri Rama untuk menjemputnya di Alengka dia patuh, bahkan saat diminta Sri Rama masuk ke dalam api penyucian demi meyakinkan rakyat Ayodya dia pun patuh dan dia selamat.

 

Draupadi, Shakti Pemicu Peperangan antara Pasukan Koalisi Pandawa dengan Pasukan Koalisi Korawa

Setting panggung Mahabharata berbeda dengan setting panggung Ramayana. Selain Bhima yang suka bertarung, empat Pandawa yang lain terlalu baik dalam menghadapi Adharma Kaurawa yang selalu berupaya memusnahkan para Pandawa. Sri Krishna tahu dan harus memberi pelajaran Bhagavad Gita kepada Arjuna untuk berperang melawan adharma yang mewujud sebagai saudara-saudara sepupu, kakek, guru dan handai-taulannya. Karena itulah Sri Krishna membutuhkan Draupadi yang lahir dari api, yang mempunyai sifat tegas dan cerdas serta berani menunjukkan keberanian untuk melawan hal yang merugikan dia dan keluarganya. Api tidak sederhana seperti tanah. Api selalu menuju ke atas. Memberi bantuan bagi dia yang menggunakannya dengan baik, tapi membakar segala sesuatu yang melawan dirinya.

 

Bara Api Draupadi

“Api memiliki kekuatan untuk mengubah bentuk. Panasnya dapat mengubah api menjadi uap, kayu menjadi abu, dan logam menjadi cairan. Kilauan pada wajah kita, kilauan pada kulit kita, semuanya karena Api – Agni. Ketika seorang berada dalam keadaan stres/depresi berat dan wajahnya tidak berkilau lagi; atau ketika seorang menderita penyakit kulit – maka ketahuilah bahwa ia kekurangan unsur api.” (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Pandawa menjadi berkilau karena api Draupadi. Yudistira yang suka damai berani perang melawan adharma akibat Draupadi. Api juga menunjukkan semangat yang menyala-nyala. Dikisahkan dalam kehidupan sebelumnya, Draupadi adalah devoti Shiva dan bertapa dengan penuh semangat mohon memperoleh suami yang mulia, kuat, ahli memanah, tampan dan bijak. Dalam kehidupan berikutnya dia memperoleh suami Lima Pandawa. Beruntunglah dalam kehidupan berikutnya Draupadi menjadi devoti Sri Krishna, lain dengan Shiva yang mengabulkan permohonan dengan segala resikonya ditanggung sendiri, Sri Krishna selalu memandunya untuk memutuskan masalah dengan bijak.

 

Berani Menentang Kezaliman

Pada waktu Svayamvara memperebutkan dirinya, Draupadi telah menanam benih permusuhan antara Kaurawa yang selalu menjerumuskan Pandawa dengan pihak Pandawa. Pada waktu Upacara Rajasuya, penahbisan Yudistira sebagai Maharaja dia juga telah mengambil keputusan bijak tidak menghukum Duryudana, Karna dan Dursasana  yang telah menghunus senjata mereka kecuali meminta senjata mereka untuk dikirimkan ke Kerajaan Hastina. Bagi Duryudana ini adalah sebuah penghinaan yang membuat mereka semakin benci dengan Draupadi dan Pandawa. Pada waktu Yudistira kalah bermain dadu, Draupadi sengaja dilecehkan di muka umum dengan ditarik kain sarinya oleh Dursasana sebagai penghinaan untuk menjatuhkan harga diri para Pandawa. Beruntunglah Sri Krishna selalu melindunginya. Selanjutnya  Draupadi mempermaklumkan perang melawan Kaurawa sebelum terjadinya perang Mahabharata, dengan mengatakan tidak akan mengikat rambutnya sebelum keramas dengan darah Dursasana. Draupadi mengajari Pandawa untuk protes dan membalas di dunia yang jahat dimana orang baik selalu menderita. Pada saat anak-anaknya mati dibunuh Ashvattama usai perang Bharatayuda dia minta Arjuna mencari Ashvattama sampai ketemu hari itu juga. Akan tetapi Draupadi pun menerima saat Ibu Kunti minta Ashvattama tidak dihukum mati melainkan diusir ke gurun Arvashtan yang tandus.

Karena dekat dan patuh pada Sri Krishna, maka Draupadi pun menjadi wanita yang bijak. Oleh karena setiap Pandawa menjadi istrinya selama setahun penuh, maka dia menyetujui Para Pandawa mempunyai istri lain. Mereka harus menunggu giliran selama 4 tahun untuk menjadi suaminya. Walaupun demikian istri-istri Pandawa tersebut tidak tinggal di istana kecuali Subhadra yang merupakan adik Sri Krishna.

Oleh karena hal-hal tersebut, leluhur kita di Nusantara jarang memberi nama putrinya dengan nama Draupadi. Sebagai orang tua mereka tidak tega kita melihat kehidupan Draupadi yang penuh cobaan, sedangkan sebagai suami mereka tidak nyaman juga mempunyai istri yang cerdas dan mempunyai pendirian yang tegas. Leluhur kita memilih nama Sita, Utari untuk putrinya ataupun nama dewi seperti Sri, Laksmi, Saraswati, Hapsari, Savitri dan sebagainya namun bukan Draupadi.

 

Para Wanita Pendukung Sang Pembawa Kebenaran

Bibi Chatijah adalah wanita pertama yang percaya kepada Nabi Muhammad, dan selalu mendampingi Nabi dengan setia melewati berbagai cobaan sampai akhir hayatnya. Konon, beliau pun selama hidupnya dalam mendampingi Nabi sekitar 28 tahun berumah tangga, tidak pernah dimadu Nabi dikarenakan penghormatan nabi terhadapnya. Bunda Maria dan Maria Magdalena tetap menunggui Gusti Yesus di salib sampai diturunkan dari tiang salib, sementara murid-murid prianya konon tidak menungguinya.

“Seorang cendekiawan yang hanya menggunakan otak dan logika – cenderung menjadi kering, keras, kaku, alot. Berwujud pria atau wanita, sami mawon – sama saja. Kecendekiaan adalah sifat maskulin……. Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot. Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar? Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/12/bara-api-draupadi-menggelorakan-semangat-pandawa-melawan-kaurawa/

Sri Krishna, Draupadi dan Subhadra Mengubah Tradisi yang Sudah Usang

draupadi dan subhadra

Gambar Draupadi dan Subhadra sumber: http://www.starplus.in/mahabharat/

 

“Ya, aku tahu tradisi dan peraturan. Tetapi aku juga tahu bahwa tradisi dan peraturan itu diciptakan untuk manusia, demi kebaikan manusia. Bukan sebaliknya. Manusia tidak diciptakan demi tradisi dan peraturan. Tradisi dan peraturan adalah ciptaan manusia. Manusia adalah ciptaan Tuhan.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Krishna dan Draupadi Mengubah Tradisi yang Merugikan Wanita

Atas nasehat Shakuni, Duryudana minta Karna mengikuti Svayamvara memperebutkan Draupadi. Perkawinan Duryudana dengan putri kerajaan Panchali akan menambah kekuatan Hastina. Akan tetapi raja Draupada setelah belajar pada Sri Krishna menolak, Draupadi akan dijodohkan dengan pengikut Svayamvara. Alasan Duryudana bahwa Kakek Bhisma memperebutkan putri lewat Svayamvara untuk dihadiahkan kepada adiknya yang menjadi putra mahkota Hastina sudah diterima masyarakat dan sudah menjadi tradisi bangsa Arya. Drupada mengingatkan bahwa salah seorang putri (Dewi Amba) tidak suka dirinya dihadiahkan kepada adik Bhisma, dia ingin Bhisma yang mengawininya. Ini adalah masalah satria mewakili dalam Svayamvara. Drupadi hanya diberikan kepada pengikut Svayamvara.

Duryudana yang marah minta Karna mengikuti Svayamvara bagi Karna sendiri. Krishna yang berpikiran jernih dan bebas dari tradisi yang mengikatnya mengatakan kepada Draupadi bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan status kebangsawanan seseorang, akan tetapi bila Draupadi tidak senang dengan Karna, dia bisa menolaknya. Karena wanita yang akan menjadi istri, yang akan merasakan akibatnya. Draupadi menolak Karna untuk bertanding dan menunggu Arjuna datang mengikuti Svayamvara.

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu. Karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Permaisuri dari Lima Bersaudara

Akibat kesalahan ucap Ibu Kunti, Pandawa dan Draupadi berada dalam dilema. Berdasar tradisi saat itu seorang istri hanya mempunyai seorang suami. Sebuah masalah pelik muncul, bila Draupadi kawin dengan Arjuna, maka keempat saudaranya akan membujang seumur hidup dan pergi mengembara agar kata-kata Kunti tidak berlaku. Resi Vyaasa mengingatkan bahwa bila hal itu yang terjadi maka Yudistira tidak bisa menjadi raja Hastina, karena raja harus mempunyai permaisuri. Sedangkan Arjuna tidak mungkin menjadi raja karena yang lahir lebh dahulu sebelum Duryudana hanyalah Yudistira dan Bhima. Bila Duryudana menjadi raja, maka dipastikan rakyat akan sengsara, karena yang dipikirkan oleh Duryudana hanyalah kesejahteraan raja bukan kesejahteraan rakyatnya. Arjuna kemudian minta Draupadi kawin dengan Yudistira. Leluhur kita dari Nusantara menganggap Draupadi kawin dengan Yudistira sehingga masalah terselesaikan dan bisa mensosialisaikan ke masyarakat yang tidak mengenal poliandri. Akan tetapi Draupadi menolak, dia sudah menolak Karna ikut Svyamvara atas nama Duryudana, mengapa Arjuna ikut Svayamvara atas nama Yudistira?

Bagi Sri Krishna, yang sudah tahu apa yang terjadi di masa depan, maka beliau tahu bahwa “alat” Keberadaan untuk menegakkan dharma adalah lima Pandawa sebagai satria dan Draupadi sebagai pemersatu Pandawa. Draupadi akhirnya berani mengorbankan kehormatannya kawin dengan lima Pandawa demi penegakan dharma, demi kesejahteraan rakyat Hastina dan menghilangkan ego putri raja yang seharusnya kawin dengan seorang suami saja. Ini adalah tindakan yang sangat “berani” dan Sri Krishna mendukungnya.

Tradisi memang ditentang, akan tetapi bila melihat sejarah peradaban manusia, maka dalam kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan 10 bersaudara Praceta putra-putra Raja Prachinabarhis, kawin dengan seorang putri bernama Pramloca. Dari rahim Pramloca lahirlah Daksha. Daksha sebagai prajapati yang pernah melawan Shiva dan membuat putrinya sendiri, Dewi Sati bunuh diri, sekarang lahir lagi sebagai putra Pramloca dengan sepuluh Praceta. Daksha ini disebutkan tidak kalah dibanding Brahma, Sang Pencipta. Semua anak-anak dan cucu-cucu Daksha menurunkan anak keturunan manusia yang memenuhi dunia saat ini.

Draupadi telah berkorban demi persatuan Pandawa, sehingga Pandawa juga berkorban, bahwa hanya Draupadilah permaisuri mereka, Tidak ada istri lain yang tinggal di istana mereka. Selama satu tahun Draupadi hanya menjadi istri satu Pandawa, dan pandawa yang lain tidak boleh masuk kamar Draupadi.

 

Perkawinan Subhadra dengan Arjuna Melawan Tradisi Perkawinan Penjodohan Orang Tua

Shakuni yang ingin memperkuat Hastina, minta Duryudana belajar ilmu gada kepada Balarama, kakak Krishna dan Subhadra. Akhirnya Subhadra dijodohkan dengan Duryudana. Subhadra sendiri tidak menyukai Duryudana, di hatinya hanya ada Arjuna. Sri Krishna mengatur agar Subhadra bertemu Arjuna yang sedang menjalani pengasingan setelah menabrak komitmen Pandawa terhadap Permaisuri Draupadi.

Subhadra didukung Krishna untuk “kawin lari” dengan Arjuna. Krishna sendiri telah melarikan Rukmini yang telah dijodohkan dengan Shisupala. Demi menghormati perasaan wanita, Sri Krishna mulai mendobrak tradisi. Selama ini banyak wanita terpaksa kawin dengan orang yang tidak dicintainya.

Kakek Pandawa, Bhisma berpegang pada tradisi bahwa bila sudah dijodohkan maka melawan tradisi tersebut tersebut adalah tindakan adharma. Krishna menyampaikan kepada Bhisma bahwasanya tradisi itu seperti buah mangga. Sewaktu lahir, terasa pahit dan hanya orang tertentu yang berani memakannya. Ketika tradisi menjadi mangga yang masih muda, yang melaksanakan masih sedikit, maka terasa asam bagi sebagian besar orang. Akan tetapi saat tradisi sudah menjadi mangga yang masak, terasa manis, maka semua orang ingin melaksanakan tradisi tersebut. Ada waktunya buah “tradisi” sudah menjadi busuk dan mengikuti tradisi menjadi tidak menyenangkan. Orang yang berpegang pada tradisi mengatakan bahwa mereka yang melanggar tradisi dianggap sesat. Akan tetapi pada kenyataannya orang sudah tidak nyaman dengan tradisi tersebut sehingga masyarakat menjadi munafik, takut dianggap sesat padahal sudah tidak melaksanakannya.

Bhisma merenung dan bertanya, siapa yang berhakmengatakan sebuah tradisi sudah busuk? Apakah kitab menyatakan demikian, ataukah Sri Krishna yang menyatakan bahwa sebuah tradisi sudah busuk? Sri Krishna tersenyum, yang mengatakan tradisi masih manis atau sudah busuk adalah Sang Kala, waktu. Krishna menambahkan bahwa saat itu adalah waktunya Sankranti bagi Hastinapura, matahari sedang berubah arah. Kebiasaan lama akan berganti dengan kebiasaan baru. Setiap orang harus menentukan dirinya akan berpihak pada pola lama atau berganti memasuki pola baru.

Bila rakyat sudah memilih pemimpin yang jujur, bupati/walikota yang jujur, gubernur yang jujur, presiden yang jujur, maka apakah para pejabat dan pemimpin partai politik mengikuti pola baru sang pemimpin ataukah masih akan mengikuti pola lama melawan keinginan rakyat?

 

Sudahkah kita merdeka atau masih diperbudak oleh tradisi yang sudah kadaluwarsa?

“Anda tidak bebas ! mungkin sudah merdeka, tetapi hanya memproklamasikan kemerdekaan tidak membebaskan diri anda ! Anda telah diperbudak selama ribuan tahun dan saat ini pun anda masih diperbudak. Anda diperbudak oleh berbagai tradisi, peraturan dan konsep yang sudah kadaluwarsa, sudah usang. Mereka yang memprogram anda tidak menginginkan kebebasan anda. Kenapa? Karena begitu anda bebas, anda tidak dapat dikuasai. Untuk menguasai anda, kepatuhan anda sangat dibutuhkan; kepastian anda sangat dibutuhkan. Anda harus statis. Dan dengan menggunakan dalil stabilitas, anda telah dilatih dan dipaksa untuk jalan atau lari ditempat. Itu sebabnya, manusia dapat diramalkan. Manusia yang sudah diperbudak oleh masyarakat, dapat diramalkan. Suatu masyarakat yang terbelenggu oleh berbagai tradisi dan peraturan yang sudah dapat diramalkan.” (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/08/sri-krishna-draupadi-dan-subhadra-mengubah-tradisi-yang-sudah-usang/