Dari Hirarki Kebutuhan Manusia Menuju Hirarki Kesadaran Manusia

Abraham Maslow menggunakan piramida kebutuhan manusia untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang selalu berkembang. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Kebutuhan fisik adalah kebutuhan terendah. Kebutuhan berikutnya adalah rasa aman, seperti kebutuhan rumah, kesehatan di hari tua, dapat menyekolahkan putra-putrinya dan lain-lain. Setelah itu ada kebutuhan sosial untuk berhubungan dengan orang lain. Kemudian baru kebutuhan harga diri, agar dirinya dalam pergaulan sosial bisa dihargai. Dan akhirnya adalah  kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan untuk melaksanakan karya nyata di tengah masyarakat. Sebetulnya Maslow di hari tuanya paham bahwa itu semua merupakan kebutuhan personal dan menambahkan kebutuhan transpersonal manusia, akan tetapi kebutuhan yang terakhir tersebut kurang dapat dipahami orang dan kurang terekspose.

Pada suatu saat,seseorang  mungkin sudah memperoleh semuanya, akan tetapi dia belum merasa bahagia juga. Semua kebutuhan luar tersebut tidak memberinya kebahagiaan selamanya. Kadang kebutuhannya terpenuhi, kadang terancam pemenuhannya dan kadang bahkan kebutuhan yang sudah berada dalam tangannya menghilang, sehingga kebahagiaan yang dirasakannya tidak bertahan lama. Hanya menggunakan pikirannya belaka, hanya memfokuskan pada aspek mental-emosionalnya saja manusia belum dapat menemukan kebahagiaan sejati. Dalam diri setiap orang tidak hanya aspek mental-emosionalnya yang berpengaruh akan tetapi ada  juga aspek intelegensia. Intelegensia membuat seseorang sadar akan adanya golden rule,”bila aku tidak senang diperlakukan demikian oleh orang lain, maka aku juga tidak akan melakukan hal demikian kepada orang lain”. Intelegensia membuat seseorang merasa “sama” dengan lainnya, sedangkan mind membuat seseorang merasa berbeda dengan lainnya. Mind ingin memuaskan diri sendiri, sedang intelegensia menumbuhkan rasa ingin loving, caring and sharing to others. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……… Ada mind, ada intelegensia. Bukan intelek, tetapi intelegensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind. Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum. Mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, buddhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit. Baca lebih lanjut

Iklan

Mengapa Rasa Bahagia Masih Terancam Derita? Sudah Benarkah Pandangan Hidup Kita?

Konon Sidharta Gautama, sang putra mahkota Kerajaan Kapilavastu adalah seorang yang sangat kritis dalam memandang kehidupan. Saat melihat orang sakit, dia sadar bahwa dia pun dapat mengalami sakit dan semua orang dapat mengalami sakit. Baik suka atau tidak suka, keadaan sakit akan mendatangi semua manusia. Kemudian kala Sidharta melihat orang tua yang sedang sekarat, dia sadar pada suatu saat dia pun akan mengalami hal itu, semua orang akan mengalami hal yang sama, mengalami saat maut datang menjemput. Kala Sidharta melihat orang mati, kembali dia sadar bahwa setiap orang akan mengalami kematian termasuk dirinya.

Kita juga mengalami hal yang sama, kita sudah  pernah melihat penderitaan orang yang sakit. Kita juga sudah pernah melihat orang dekat kita mendekati kematian, kala berbaring di rumah sakit dengan berbagai selang infus dengan grafik komputer yang menunjukkan bahwa dia dalam keadaan kritis. Kita juga beberapa kali takziah mendatangi upacara pemakaman orang-orang dekat. Akan tetapi mengapa hati kita tidak terketuk seperti Sidharta? Kita tidak senang berpikir hal buruk yang akan menimpa kita, kita ingin selalu bahagia. Itu saja. Tetapi apakah kita selalu bahagia? Suka dan duka datang silih berganti, tetapi tetap saja kita tidak mau berpikir masalah utama yang menyebabkan duka, padahal setiap suka selalu bergandeng tangan dengan duka. Mungkin sampai nyawa kita diambil Sang Pencabut Nyawa pun kita belum tahu atau belum mau tahu penyebab utama datangnya duka dan penderitaan.

Dikisahkan pada suatu saat, Pangeran Sidharta melihat seseorang yang sakit, yang sedang menghadapi sakaratul maut dan dalam beberapa saat lagi akan mati. Akan tetapi sang pangeran melihat rona kebahagiaan di wajah orang tersebut. Ini kembali menyadarkan sang pangeran, bahwa kejadian yang sama dapat dihadapi dengan rasa penuh kebahagiaan. Kejadian-kejadian tersebut membuat Pangeran Sidharta meninggalkan istana untuk mencari tahu tentang kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang dirasakan setiap saat dalam kondisi apa pun. Dan, akhirnya seluruh umat manusia dapat memetik pelajaran yang diperoleh dari pencerahan sang pangeran.

Banyak anak-anak muda yang bercita-cita muda foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk surga. Mungkin sebagian besar orang menginginkan hal tersebut. Mungkin ada idola yang seakan-akan telah mengalami hal tersebut. Akan tetapi betulkah sang idola mengalami kebahagiaan sepanjang hidupnya? Bukankah kita mengalami sendiri berkali-kali, kita sesaat merasa bahagia dan sesaat kemudian merasa sengsara? Akan tetapi kita tetap nekat menempuh jalan yang sama berulang-ulang. Inilah yang disebut ketidaktahuan atau ignorance. Ketidaktahuan yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu bahwa kita sebenarnya tidak tahu. Bagi seorang Buddha suka-duka yang dialami manusia tersebut disebut dukha. Dan dukha tersebut disebabkan karena keterikatan manusia dengan segala sesuatu. Baca lebih lanjut

Menyelaraskan Frekuensi Pikiran Kita dengan Kejernihan Pikiran Manusia Sempurna al Insan Kamil

Gelombang adalah getaran yang merambat. Gelombang mekanik adalah gelombang yang memerlukan medium dalam perambatannya seperti gelombang air dan gelombang bunyi. Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat tanpa medium (dalam hal ini mediumnya adalah ruang), misalnya gelombang cahaya, gelombang radio termasuk gelombang pikiran manusia. Pada prinsipnya semua benda di alam semesta ini bergetar dan manusia memiliki keterbatasan dalam merasakan getaran tersebut. Telinga manusia hanya dapat mendengar bunyi dari 20 Hz sampai 20 kHz. Suara di atas 20 kHz yang disebut ultrasonik dan di bawah 20 Hz yang disebut infrasonik tidak dapat didengar. Demikian juga manusia hanya dapat melihat frekuensi sinar antara 40.000 – 80.000 GHz. Gelombang radio berada di bawah ambang penglihatan manusia dari beberapa Hz sampai gigahertz (GHz atau 10 pangkat 9) sehingga tidak dapat dilihat manusia. Akan tetapi gelombang radio yang berada di bawah 20 kHz dapat didengar manusia. Frekuensi gelombang mikro dari 3 GHz hingga 300 GHz. Sinar inframerah termasuk dalam gelombang elektromagnetik dan berada dalam rentang frekuensi 300 GHz sampai 40.000 GHz. Kemudian yang berada di atas ambang manusia, frekuensi sinar ultraviolet dari kisaran 80.000 GHz sampai puluhan juta GHz. Sinar-X pada frekuensi 300 juta GHz  dan 50 miliar GHz.

 

Seluruh elemen alami: ruang, angin/udara, api, cair/air dan padat/tanah semuanya adalah getaran dengan frekuensinya berbeda. Setiap benda merupakan kombinasi dari 5 elemen alami, termasuk tubuh manusia juga merupakan kombinasi dari 5 elemen alami, sehingga tubuh manusia pun bergetar. Setiap anggota tubuh mempunyai frekuensi getaran yang berbeda. Pikiran pun juga merupakan getaran. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan……… Otak kita “mengerjakan” lebih dari 15 miliar sel dalam seluruh tubuh kita. Kurang lebih itulah jumlah sel dalam tubuh manusia. Setiap sel sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, percikan listrik yang dapat berubah menjadi radio waves, gelombang suara. Karena itu, hampir semua agama bicara tentang cahaya sebagai awal kejadian. Yang dimaksud sesungguhnya “kejadian sebagaimana kita memahaminya selama ini”. Pemahaman kita dapat berkembang, sehingga kesimpulan-kesimpulan lama pun mesti dikoreksi. Electric impulse, radio waves itu seperti petir: pertama kita melihat cahayanya, kemudian mendengar suaranya. Saat melihat cahaya, kita sudah dapat memastikan sesaat lagi akan mendengar suaranya. Fenomena petir ini berlangsung pula pada manusia. Setiap pikiran yang muncul dalam otak kita juga merupakan sebuah electric impulse. Kemudian, electric impulse itu berubah menjadi radio waves, gelombang suara. Dan, apa yang terpikir pun terucap oleh kita. Namun, ada yang membedakan manusia dari petir. Ini pula yang membedakan manusia dari hewan, dari makhluk-makhluk lain. Cahaya petir yang terlihat dan suaranya yang terdengar “berjarak”, persis seperti pikiran dan ucapan atau tindakan manusia, namun, jarak antara cahaya dan suara petir merupakan harga mati. Jarak itu sudah tidak dapat diganggu gugat; tidak dapat diperpanjang; tidak dapat diperpendek. Cahaya maupun suara mengikuti hukum alam dan sampai ke mata atau telinga kita dengan kecepatan yang sudah diatur. Kecepatan itu tidak dapat diubah. Tidak demikian dengan manusia. Jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakannya dapat diubah; dapat diperpanjang; dapat dihapus menjadi nihil atau menjadi tak terbatas……….. Baca lebih lanjut

Bukan Menyembah Matahari Tetapi Bermeditasi Kepada Sang Pemberi Kekuatan Matahari

Apa yang akan terjadi pada kehidupan di bumi bila Matahari lenyap? David Stevenson, profesor ilmu planet di California Institute of Technology menjelaskan bahwa dalam seminggu, suhu permukaan rata-rata bumi akan turun di bawah 0 derajat Fahrenheit. Dalam setahun akan menurun menjadi minus 100 derajat Fahrenheit. Dalam anomali bencana, es akan melindungi air yang berada jauh dari permukaan. Jutaan tahun setelah itu suhu bumi akan mencapai minus 400 derajat Fahrenheit. Meskipun beberapa mikroorganisme yang hidup di bawah permukaan air akan bertahan, akan tetapi pohon-pohon segera mati setelah fotosintesis tidak terjadi lagi. Hewan dan manusia akan mati lebih cepat. Akan tetapi matahari bukan hanya sebagai pemanas bumi, tetapi juga penjaga orbit planet bumi. Jika matahari musnah, bumi seperti terlepas dari tali yang mengikatnya dan akan terlempar di dalam ruang angkasa dan semua makhluk di bumi musnah.

Manusia sejak zaman dahulu kala memahami peranan matahari terhadap kehidupan manusia. Di Mesir, Matahari digambarkan sebagai Dewa Ra yang mengendarai kereta perang dan melintas pada waktu siang hari. Bangsa Maya menghormati kekuatan Matahari dan menyebutnya Kinich-ahau. Di  Jepang, masyarakat menghormati Matahari sebagai Dewa Amaterasu dan bahkan Jepang disebut Negara Matahari Terbit. Di Yunani, Matahari digambarkan sebagai Helios, dewa yang bermahkotakan halo matahari yang mengendarai kereta perang ke angkasa. Helios bertugas memberikan cahaya ke surga dan ke bumi. Suku Aztec menyebut Matahari, Huitzilopochtli, yang merupakan dewa perang dan simbol matahari yang mengusir kegelapan. Bangsa Inca menyebutnya sebagai dewa tertinggi bernama Inti. Dewa Inti menganugerahkan peradaban Inca kepada putranya yang bernama Manco Capac yang juga merupakan Raja Bangsa Inca yang pertama. Bangsa Inca menyebut diri mereka sebagai putra-putri Matahari. Di Peradaban Sindhu yang merupakan hamparan wilayah dari Sungai Sindhu ke Astraleya (Australia) masyarakat mengenalnya sebagai Surya. Surya sering disebut sebagai salah satu wujud Vishnu, Kekuatan Pemelihara Alam Semesta, tanpa Surya kehidupan punah. Surya juga sering disebut sebagai salah satu wujud Shiva, Kekuatan Ilahi pendaur ulang, karena dengan matahari terjadi banyak siklus/daur-ulang kehidupan di bumi. Surya juga dikenal sebagai salah satu wujud Brahma, karena segala sesuatu di bumi tercipta karena adanya matahari. Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan penguasa bumi ketujuh adalah Vaivasvata Manu atau Sraddhadeva Manu yang merupakan putra Surya. Selanjutnya penguasa bumi kedelapan adalah Savarni Manu yang juga adalah putra Surya. Sri Rama adalah salah satu penerus dari Dinasti Surya.

Dalam Suryopanishat (Surya Upanishad) dikisahkan bahwa Surya dikenal sebagai Surya Narayana Keemasan yang mengendarai kereta dengan tujuh kuda sebagai penggerak waktu. Matahari adalah “Atma” / “Self” dari dunia, yang bergerak sekaligus tidak bergerak. Dari Surya kehidupan lahir, demikian pula muncul hujan, makanan dan energi. Surya yang disebut Aditya (putra Aditi yang bersuamikan Kasyapa)disebut sebagai manifestasi Brahma, Vishnu, Rudra dan semua Veda. Dari Surya (energi)lahir bumi, air, api dan udara (semua elemen alami sebenarnya adalah energi yang berbeda kerapatannya), arah, dewa-dewa (elemen alami yang tercipta sebelum manusia) dan Veda (Veda berarti “pengetahuan”, pengetahuan yang senantiasa berkembang). Disebutkan pula bahwa Surya adalah sumber penggerak segala sesuatu.

Sebagai penyebab adanya waktu maka Surya berpengaruh besar pada hari Minggu, Sunday (hari Matahari), bahasa Jawa kuno menyebutnya Radite/Raditya (kaitan dengan Ra, Matahari). Sedangkan hari Senin berkaitan dengan Bulan (Moon), Moonday/Monday, bahasa Jawa kuno menyebut hari Senin sebagai Soma (Bulan). Hari Minggu adalah hari yang penuh energi. Dengan ditetapkannya hari Minggu sebagai hari libur maka mall dan pertokoan penuh karena pada hari tersebut manusia penuh energi. Sedangkan Senin dikaitkan dengan moon, manas, mind, pikiran. Pada hari Senin mind manusia kuat sehingga banyak yang menganjurkanuntuk ber puasa pada hari Senin.

Apakah para leluhur kita adalah pemuja matahari? Kita perlu memperhatikan nama-nama putra-putri bangsa sejak zaman dahulu kala yang ada kaitannya dengan kata Surya, Raditya, Savitri (dikaitkan dengan matahari) dan Gayatri (mantra dalam Veda yang merupakan penghormatan kepada Savitri). Bila Surya adalah Matahari, maka Savitri adalah shakti/energi yang membuat matahari bersinar. Bila Matahari adalah sumber cahaya bagi kehidupan, maka Savitri adalah Sumber Energi dari Matahari. Mereka yang melantunkan Gayatri Mantra, bukan pemuja Matahari, akan tetapi Pengagung Sang Pemberi Energi kepada Matahari. Sang Pemberi Energi bisa disebut dengan berbagai nama termasuk Savitri atau Gayatri, atau Parashakti, energi Awal-Mula. Baca lebih lanjut

Terpesona Keindahan Duniawi Mengabaikan Keilahian Diri, Belajar Dari Kisah Sati istri Shiva Dan Sita istri Rama

Banyak kisah dalam Srimad Bhagavatam dan Ramayana memberikan contoh tentang kesalahan manusia dalam mengambil keputusan. Akan tetapi dalam kisah-kisah tersebut mereka yang telah salah mengambil langkah, kemudian memperbaiki arah hidupnya dan kembali ke jalan yang benar. Memandang sebuah kisah dari satu sisi, tentu saja akan ditentang oleh mereka yang memandang dari sisi yang lain. Sebuah kisah memang selalu terbuka untuk diungkapkan sesuai tujuan sang pemberi cerita.  Bapak Anand Krishna menyampaikan versi kisah Sati istri Shiva dan Sita istri Rama sebagai contoh dari mereka yang sudah berada dekat sekali dengan keilahian dalam diri akan tetapi karena sisa-sisa pola pikiran lama masih belum terbuang sepenuhnya, maka mereka tergelincir, walaupun pada akhirnya mereka kembali menyadari kesalahannya dan kembali pada jalan keilahian. Di bawah ini adalah pemahaman kami terhadap kisah tersebut.

 

Dikisahkan Sati adalah putri dari Prajapati Daksha yang menikah dengan Shiva. Sati sangat mencintai dan menghormati suaminya yang sekaligus adalah gurunya. Pada suatu kesempatan Daksha sebagai seorang prajapati, pimpinan pamongprajanya dewa mengadakan upacara ritual, dimana semua dewa diundang untuk hadir. Dalam acara tersebut semua dewa memberikan penghormatan dengan berdiri kala Daksha masuk ruangan upacara, dan hanya Brahma ayahanda Daksha dan Shiva yang tidak berdiri. Daksha tersinggung kepada Shiva, seorang menantu yang menurut anggapannya tidak mau menghormati mertuanya. Kekesalan Daksha tersebut selalu dibawa dalam pikirannya sehingga sewaktu dia mengadakan upacara yang lebih besar, Shiva tidak diundangnya. Sati sangat mencintai Shiva, tetapi dia ingin datang ke upacara yang diadakan ayahandanya, sehingga minta izin kepada Shiva untuk menghadiri upacara yang diadakan oleh ayahandanya. Shiva berkata bahwa Daksha tersinggung dengannya karena dia tidak berdiri kala Daksha masuk ruangan upacara. Shiva berkata bahwa Sati harus tahu bahwa dia menghormati Daksha sebagai mertua, akan tetapi dia tidak akan menghormati keangkuhannya. Seorang prajapati tidak boleh angkuh dan merasa bahwa keberhasilannya adalah karena dirinya pribadi. Prajapati hanya menjalankan amanah dari Narayana, keberhasilannya bukan hanya karena dirinya sendiri, tetapi karena karunia dari Narayana.

 

Shiva menyampaikan kepada Sati bahwa karena tidak senang dengan Shiva, maka Sati pun sudah tidak dihormati lagi olehnya. Sati bimbang, suaminya benar tetapi pola pikir lama Sati menguasainya, bukankah tidak salah mendatangi acara yang dilakukan oleh ayahandanya. Sati datang ke upacara dan dia tidak dipedulikan oleh Daksha. Sati sadar, bahwa Daksha, ayahandanya sudah semakin angkuh dan merasa benar sendiri. Karena dirinya sudah menjadi istri Shiva, dan ayahandanya tidak senang dengan Shiva, maka dia pun tidak dipedulikan lagi. Sati sadar, bahwa selama ini dia mendampingi Shiva dan mendapatkan pelajaran dan panduan tentang kebenaran. Akan tetapi masih ada pola pikiran lama yang ketika diikutinya yang membawanya ke arah penderitaan.  Sati kemudian sadar bahwa dia telah berbuat salah. Sati langsung bermeditasi di depan upacara dan mengaku salah besar atas tindakannya yang tidak mengikuti nasehat Shiva. Yang ada pada pikirannya hanya Shiva dan dirinya merasa tubuh yang dipakainya sudah kotor dan dia ingin mendapatkan tubuh baru yang bisa digunakan hanya untuk berbakti kepada Shiva. Tubuh Sati kemudian terbakar dan setelah jangka waktu lama dia lahir kembali sebagai Parvati. Kisah tersebut mengungkapkan bahwa seseorang yang sudah sangat dekat dengan keilahian, karena menuruti pola pikiran lamanya akhirnya mengalami penderitaan. Akan tetapi dia sadar kembali, dan dalam kehidupan selanjutnya dia kembali kepada keilahiannya. Silakan baca kisah Daksha Baca lebih lanjut

Menjadikan Alam Terkembang Sebagai Guru, Berkarya Tanpa Henti Bukan Demi Kepentingan Pribadi

Panca indera kita sering salah memberi kesan. Kala pramugari di dalam pesawat menyampaikan seatbelt bisa dilepas, cuaca cerah, kita dapat pergi ke toilet, ngobrol dengan teman sebelah…… Kita dan semua penumpang nampak diam, padahal pesawat yang kita tumpangi terbang dengan kecepatan di atas 1.000 km/jam…….. Kita juga merasa rumah kita tidak bergerak, padahal seluruh makhluk di dunia ini sedang berada di atas bumi yang berputar mengeliling matahari dengan kecepatan 29,783 km/detik atau 107.219 km/jam. Kita merasa matahari bergerak dari Timur ke Barat, padahal bumi tempat kita berpijak berputar pada porosnya dengan kecepatan rotasi 1.674,4 km/jam. Bumi diperkirakan sudah bergerak demikian selama 4,6 milyar tahun……… Bila Bumi melambatkan kecepatannya saja, semua makhluk di atas permukaan bumi akan terlempar ke ruang angkasa…….. Untuk mencapai ketenangan, manusia perlu meneladani bumi, bergerak selaras dengan alam semesta, bergerak dinamis, berkarya tanpa henti bukan untuk kepentingan pribadi. Ketenangan bukan diperoleh dengan duduk diam.

Air di bumi ini juga bergerak tanpa henti. Di permukaan dan di dalam lapisan bumi air air menuju ke samudera. Dan, dalam perjalanannya air membasahi bumi, memberi kehidupan, membersihkan kotoran. Sambil bergerak air memberi manfaat kepada sekitar. Air di permukaan bumi termasuk di samudera menguap oleh panasnya matahari menjadi awan. Dan, kemudian bergerak oleh tiupan angin sampai pada suatu saat menjadi hujan dan kembali turun ke bumi.  Air berkarya bagi kehidupan semua makhluk tanpa merasa bosan. Sepanjang masa air hanya berkarya sesuai kemampuan yang dimilikinya. Bisakah kita sambil bergerak menuju kematian, memberi manfaat bagi lingkungan kita? Bisakah kita meneladani air?

Alam ini berkarya terus tanpa pamrih. Pada situs http://www.aumkar.org/ind/?p=19   disampaikan uraian tentang  BERKARYALAH TANPA PAMRIH………..

Arjuna: Bila Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri merupakan tujuan hidup, maka untuk apa melibatkan diri dengan dunia? Aku sungguh tambah bingung.

Krishna: Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri memang merupakan tujuan tertinggi. Namun, kau harus berkarya untuk mencapainya. Dan, berkarya sesuai dengan kodratmu.

Bila kau seorang Pemikir, kau dapat menggapai Kesempurnaan Diri dengan cara mengasah kesadaranmu saja. Bila kau seorang Pekerja, kau harus menggapainya lewat Karya Nyata, dengan menunaikan kewajibanmu, serta melaksanakan tugasmu.

Dan, kau seorang Pekerja, kau hanya dapat mencapai Kesempurnaan Hidup lewat Kerja Nyata. Itulah sifat-dasarmu, kodratmu. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menghindari perkerjaan.

Seorang Pemikir pun sesungguhnya bekerja. Pengendalian Pikiran – itulah pekerjaannya. Bila pikiran masih melayang ke segala arah, apa gunanya duduk diam dan menipu diri? Lebih baik berkarya dengan pikiran terkendali.

Bekerjalah tanpa pamrih! Hukum Sebab Akibat menentukan hasil perbuatan setiap makhluk hidup. Tak seorang pun luput darinya, kecuali ia berkarya dengan semangat menyembah.

Alam Semesta tercipta “dalam” semangat Persembahan. Dan, “lewat” Persembahan pula segala kebutuhan manusia terpenuhi.

Sesungguhnya tak ada sesuatu yang harus “Ku”-lakukan. Namun, “Aku” tetap bekerja demi Keselarasan Alam. Bila “Aku” berhenti bekerja, banyak yang akan mencontohi tindakan-“Ku”, dan “Aku” akan menjadi sebab bagi kacaunya tatanan masyarakat. Ketahuilah bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak-Nya. Tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan, kau akan didorong untuk menunaikan kewajibanmu. Maka, janganlah berkeras kepala – bekerjalah!…….

Para pendahulu kita berkata, Alam yang terkembang adalah Guru…….. kita perlu  belajar dari alam semesta yang berkarya tanpa pamrih. Untuk itu kita perlu sadar dulu bahwa ego hanyalah salah satu dari sekian banyak lapisan kesadaran manusia. Ego inilah yang membuat kita serakah dan menempatkan kepentingan diri di atas kepentingan orang lain, kepentingan umum. Kebahagiaan karena pemuasan ego tidak dapat disetarakan dengan kebahagiaan yang diperoleh setelah kita berbagi. Berbagi adalah salah satu sifat alam semesta. Kita perlu belajar dari alam yang bersifat transpersonal, berkarya bukan untuk kepentingan pribadi. Dalam buku “Cinta yang Mencerahkan, Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Azka Mulia Media, 2012 disampaikan……..  Manusia bukanlah fisik saja, bukanlah pikiran saja, bukan pula emosi, roh atau jiwa saja. Ia adalah suatu keutuhan yang terdiri dari seluruh lapisan-lapisan kesadaran tersebut………. Sekarang, kemajuan, pengembangan, atau lebih tepatnya perluasan kesadaran tidak hanya terjadi di antara para ilmuwan dan masyarakat berpendidikan….. Awam pun sudah mulai menggapai ketinggian kesadaran yang sesungguhnya pernah dicapai oleh leluhur kita……..  Kita perlu sadar sesadar-sadarnya bahwa pola pikir lama yang egosentris hanyalah menguntungkan dalam jangka pendek saja, sangat pendek. Ego dapat membuat dirinya “merasa” nyaman – tapi itu pun untuk beberapa saat saja. Tidak bisa untuk selamanya. Apalagi membahagiakan diri…. Tidak, ego tidak mampu membahagiakan dirinya. tidak pernah bisa………

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.org/ind/

http://triwidodo.com

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

 

Mei 2012

Manusia Itu Unik Atau Serupa? Perjalanan Dari Keunikan Menuju Kesatuan

Pemahaman tentang Kebenaran akan berubah sesuai dengan tingkat kesadaran manusia. Pada waktu manusia berada pada tingkat kesadaran fisik dan tingkat kesadaran mental/emosional, dia akan melihat bahwa manusia adalah unik, dan itu adalah hal yang tak terbantahkan. Dari sekitar 6 Milyar manusia, tidak ada seorang pun yang mempunyai wajah dan pikiran yang sama. Akan tetapi bila kita melihat lebih dalam, kita akan melihat bahwa wajah yang berbeda, tubuh yang berbeda, bahkan setiap benda yang ada dalam alam semesta hanya terdiri dari kombinasi 5 elemen alami, ruang, udara, api, air dan tanah. Dan 5 elemen alami adalah energi yang berbeda kerapatannya. Demikian pula pikiran yang berbeda sifat tersebut hanya merupakan kombinasi dari 3 sifat utama Tamas (malas), Rajas (agresif) dan Satvik (tenang). Bahkan 5 elemen alami pun juga mempunyai ke 3 sifat tersebut: Sifat Tamas pada Tanah dan Air. Sifat Agresif pada Air, Api dan Udara/Angin. Sifat Satvik pada Udara dan Ruang. Apabila manusia melihat perbedaannya, maka akan nampak perbedaannya. Sedangkan apabila manusia melihat persamaannya, maka akan nampak persamaannya pula.

 

Dalam buku “SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati”, Sai Das, Koperasi Global Anand Krishna Indonesia, 2012 disampaikan……… Sesungguhnya, setiap orang itu unik, namun tidak unik juga, unik dalam pengertian bahwa kombinasi dari ketiga sifat satva, rajas dan tamas tersebut dalam setiap orang tidaklah sama. Kombinasi ini mengikuti suatu pola yang khas 0.000001 % perbedaan dari setiap sifat sudah cukup untuk menciptakan karakter yang sangat berbeda……… Namun, kita tidak unik dalam pengertian bahwa sifat-sifat yang mengatur kita hanyalah ketiga sifat yang sudah disebutkan ini saja. Tidak ada sifat keempat. Semua sub sifat muncul dari ketiga sifat awal tersebut……… Baca lebih lanjut