Mutiara Quotation FENGSHUI AWARENESS Rahasia Ilmu Kuno bagi Manusia Modern

Judul              : FENGSHUI AWARENESS Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia

              Modern

Pengarang      : Anand Krishna

Penerbit          : PT One Earth Media

Cetakan          : 2005

Tebal              : 143 halaman

 

Mutiara Quotation FENGSHUI AWARENESS Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern

 

Banyak orang yang menyalahpahami Feng Shui. Sebagian menganggapny takhayul belaka, tanpa tahu maknanya.

Feng Shui, sesungguhnya merupakan ilmu kuno untuk hidup selaras dengan alam. Ia memanfaatkan energi sekitar kita agar terjadi peningkatan kualitas hidup.

Berangkat dari tradisi yang terbuka pada evolusi, lahirlah Neo Vastu Feng Shui…

Menempatkan kesadaran manusia, sebagai “titik Pusat”, ilmu ini memberikan kita pandangan lebih utuh untuk “memanfaatkan”, dan bukan “dimanfaatkan” materi.

Inilah rahasia ilmu kuno yang sangat relevan dengan kebutuhan dan tantangan kita, manusia modern. Penjelasannya mudah dipahami. Praktis, sekaligus visioner.

Baca lebih lanjut

Iklan

Mutiara Quotation REINKARNASI Hidup Tak Pernah Berakhir

 

Judul : REINKARNASI Hidup Tak Pernah Berakhir

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 1998

Tebal : 145 halaman

 

Mutiara Quotation REINKARNASI Hidup Tak Pernah Berakhir

 

Ketika ulat menjadi kepompong, ia meninggalkan badan wadagnya dan lahir dalam wadag baru. Ketika saatnya tiba, badan wadag kepompong pecah, keluar cairan amis, dan lahirlah kupu-kupu. Karena semuanya itu masih dapat kita saksikan dengan mata wadag kita, kita menyebutnya proses metamorfose. Ketika badan wadag kupu-kupu hancur, kita menyebutnya mati. Apakah metamorfose dan kematian itu berbeda secara radikal? Lalu bagaimana dengan kematian kita? Apakah itu akhir hidup kita?

 

Pertanyaan Pada Diri Sendiri

Pernahkah Anda mengunjungi suatu tempat untuk pertama kalinya, namun mendapatkan kesan seolah-olah pernah berada di tempat itu sebelumnya? Pernahkah Anda menghadapi suatu situasi untuk pertama kalinya, namun terasa seolah-olah pernah melewati situasi yang sama?

Pernahkah Anda melihat seseorang dan sebelum terjadi komunikasi apa pun, sudah langsung merasa tidak simpatik padanya? Atau sebaliknya? Perhatikan kesenangan-kesenangan Anda, apa yang Anda senangi? Anda lahir di Indonesia, namun mungkin senang masakan Cina, senang membaca cerita-cerita silat Cina?

Mengapa ada yang lahir kaya raya dan ada yang miskin? Mengapa ada yang bekerja keras, tetap saja tidak berhasil, namun ada yang tidak bekerja keras tetapi berhasil?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah menghantui manusia sejak ribuan, bahkan mungkin jutaan tahun.

Lewat halaman-halaman buku ini, saya ingin berdialog dengan Anda, dan saya ingin bicara dengan manusia Indonesia. Selama ratusan tahun, Anda mengurung diri dalam kamar yang kecil dan tak berjendela. Entah berapa kali, telah saya panggil nama Anda. Entah sejak kapan saya berusaha untuk membangunkan Anda, untuk membuat Anda sadar akan warna-warna kehidupan ini.

Dan sekarang Anda telah terjaga. Jangan tertidur lagi. Tinggalkan ranjang Anda. Sejak begitu lama, telah saya tunggui Anda. Siapkah Anda menerima saya, untuk menerima apa yang ingiin saya bagi dengan Anda?

 

Aku Pernah berada di sini

Mengapa kamu ingkar kepada Allah. Padahal dahulunya kamu mati. Lalu Allah menghidupkan kamu. Kemudian Dia mematikan kamu. Kemudian Dia menghidupkan kamu kembali. Lalu kepadaNya kamu dikembalikan? Al Qur’an Surat Al Baqarah, ayat 28.

Rupanya ada mekanisme Alam yang sedang bekerja. Ada Proses daur Ulang Alami yang sedang bekerja. Manusia saja sudah mulai memikirkan proses daur ulang. Apakah alam begitu tumpul, sehingga tidak terpikirkan proses serupa olehnya?

Air laut menguap menjadi awan, awan berubah menjadi air hujan, hujan turun untuk mengguyuri bumi kita lagi. Secara ilmiah sudah terbukti bahwa tidak ada sesuatu yang dapat musnah. Segala sesuatu dalam alam ini hanya mengalami perubahan bentuk, itu saja.

Bhagavad Gita Bab II Ayat 22: sebagaimana kau melepaskan pakaianmu yang lama dan memakai pakaian baru, begitu pula jiwa ini meninggalkan badannya yang lama dan menghuni badan baru.

Ia yang Bijak, mengetahui segala sesuatu tentang kelahiran-kelahiran sebelumnya. Ia memahami rahasia sorga dan neraka. Bagi dia, kelahiran ini merupakan yang terakhir kalinya, karena Ia telah mencapai Kesadaran yang Tertinggi; Ia telah mencapai Kesempurnaan. Dhammapada, ayat 423.

Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Injil Matius 17: 11 & 12.

Saya mengajak Anda untuk menerima setiap sisi Kebenaran. Saya mengajak Anda untuk menyadari bahwa setiap sisi itu benar dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kebenaran yang satu dan itu-itu juga. Sekali lagi, apakah Anda siap untuk menerimanya?

 

Bentuk-bentuk Kehidupan

Kehidupan yang kita kenal hanya sebagaian kecilnya saja. Anda menimpulkan, Ah dia punya badan, dia bernapas, dia adalah manusia seperti saya. Segala sesuatu yang lain, bentuk-bentuk kehidupan yang lain yang tidak serupa dengan Anda biasanya akan Anda tolak.

Bayangkan alam yang luas dan tak terbatas ini. Membayangkannya pun tidak bisa. Galaksi kita yang disebut Bima Sakti ini hanya salah satu dari jutaan galaksi. Dalam galaksi kita sendiri entah berapa bulan dan berapa bintang.dunia kita bagaikan titik kecil yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Pengetahuan kita sangat minim.

 

Hukum Sebab-Akibat

Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada. Pertemuan kita, perpisahan kita, semuanya merupakan bagian dari cetak biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak biru untuk masa depan kita. Hal itu perlu direnungkan sejenak.

Yang namanya takdir itu apa? Memang, apa yang tengah kita alami sekarang ini merupakan takdir kita, sudah ditentukan oleh masa lalu kita. Tetapi yang menentukan siapa? Kita-kita juga. Apa yang kita buat pada masa lalu menentukan masa kini kita. Nah, sekarang apa yang kita buat sekarang, dapat menentukan masa depan kita. Bagi mereka yang mengetahui mekanisme alam ini, hidup menjadi sangat indah. Ia tidak akan menangisi takdirnya. Ia tahu persis bahwa ia pula yang menentukan takdirnya sendiri. Ini yang disebut Hukum Karma, Hulum Sebab Akibat. Karma berarti tindakan, karya.

Maya, Ilusi. Dalam bahasa Sanakrit, maya berarti ilusi. Maya juga berarti kekuatan alam yang bermanifestasi, sebagai saya dan Anda, sebagai bulan dan bintang, sebagai bumi dan langit, sebagai gunung dan lembah. Semuanya ini permainan Maya.

Hukum Karma, hukum alam yang mutlak, telah menentukan kelahiranmu di Indonesia kali ini. Ada teman-teman lama yang harus kau temui lagi. Ada urusan-urusan yang harus kau selesaikan. Dan tentu saja, ada pertemuan antara kita – yang harus dirayakan.

Keberadaanlah yang menentukan segala sesuatu. Apabila, hari ini saya bisa bercerita dengan Anda dan Anda bisa mendengarkan saya, itu pun karena kehendak Keberadaan. Karma Anda dan karma saya telah saling menyilang dan pertemuan antar kita pun terjadi.

 

Lahir Kembali

Yang mengaktifkan komputer manusia ini adalah juga tiga unsur utama. Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software. Dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita sewaktu-waktu bisa rusak, bisa berhenti bekerja. Namun Software nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi. Software yang sama dapat digunakan, menggunakan hardware yang baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ego kita yang merupakan software, masih dapat digunakan.

Ada satu hal yang jangan sampai terlupakan: Kesadaran atau aliran listrik kesadaran ini tidak pernah terganggu. Ego adalah mekanisme yang sangat kompleks, yang terdiri dari pikiran, memori, keinginan-kainginan, impian-impian, harapan, perasaan dan lain sebagainya. Selama kita ini kita mengidentitaskan diri kita dengan Ego ini. Setiap kali Ego menghuni badan kasat, manusia menjadi nyata. Setiap kali ia meninggalkannya, badan kasat menjadi jasad.

Kelahiran dalam dunia ini ibarat belajar di sekolah. Alam semesta ini ibarat lembaga pendidikan, universitas. Ada fakultas-fakultas lain pula, yang terdapat dalam dimensi lain. Masih ada begitu banyak bentuk kehidupan yang lain. Apabila seseorang mati dalam kesadaran, ia akan tahu persis mata pelajaran apa yang masih harus dipelajari.

 

Kematian

Kematian bukan titik penghabisan kehidupan manusia. Kematian hanya merupakan titik awal proses daur ulang. Seorang siswa akan pulang ke rumahnya, setelah seharian di sekolah. Begitu pula kita. Setelah belajar di dunia ini, kita pulang ke alam asal kita. Kenapa ada rasa takut? Kita ibarat anak-anak kecil yang dikirim ke asrama sekolah. Untuk membuat kita betah di asrama ini, memori tentang rumah harus dihilangkan sedikit demi sedikit. Orang tua Anda tidak akan datang menemui Anda terlalu sering.apabila Anda tidak ditinggal sendirian, kapan Anda bisa mandiri? Kapan Anda akan belajar? Namun seperti anak-anak kecil yang masih di tingkat TK dan SD, selesai belajar sepanjang tahun, sewaktu pulang ke rumah pun ada rasa takut. Kita begitu kecil, begitu rawan, begitu cepat terkondisi. Bagaimana pulangnya? Naik kereta, lantas siapa yang menjemputnya? Seribu satu macam pertanyaan akan menghantui anak-anak kecil yang sedang siap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, setelah setahun penuh berada di asrama sekolah.

Mereka yang masih berada di Tk, di SD dalam “sekolah hidup ini” akan selalu takut mati. Ironisnya, selama ini kita semua hampir tidak pernah naik kelas.

Sebelum kelahiranmu kali ini, kau sudah berjanji dengan begitu banyak teman-teman lainnya, bahwa kau akan lahir di Indonesia, atau di negara-negara yang akan kau kunjungi, sehingga kalian dapat bertemu dan bekerjasama lagi.

 

Melampaui Kelahiran & Kematian

Apa yang sebenarnya pada saat kematian? Sang Ego meninggalkan badan kasat. Badan kasat ini tidak dapat berfungsi tanpa ego. Dalam kasus mereka yang mati tanpa kesadaran, kematian memang membingungkan. Dan berhubung dalam alam itu jarak dan waktu sebagaimana kita ketahui di sini tidak ada lagi, maka ego kita bisa gentayangan selama beberapa jam. Beberapa hari, beberapa tahun atau bahkan beberapa abad. Ego yang bergentayangan ini mempunyai badan yang bentuknya mirip dengan badan kasat terakhir.

Tali pengikat yang sering disebut silver cord atau tali perak karena bercahaya keperak-perakan. Tali itu menghubungkan badan kasat dengan badan halus. Tali ini tidak akan putus, kecuali sudah tiba saatnya bagi Sang Ego untuk meninggalkan badan kasat. Dalam alam tidur, tali penghubung ini tidak pernah putus.

Pada saat kita dinyatakan mati, sebenarnya yang terjadi adalah bahwa badan halus kita berada di luar badan kasar dan sudah tidak dapat masuk kembali.

Ingat satu hal: peningkatan kesadaran hanya dapat terjadi selama Anda masih memiliki jasad Anda, kemungkinan untuk bisa berkembang menipis sekali. Anda harus berkarya sekarang, selama jasad ini masih Anda miliki dan masih berfungsi normal. Apabila Anda tidak mengurus diri sendiri dalam kelahiran ini, Anda akan lahir kembali, dan mati lagi, dan lahir lagi demikian seterusnya, sampai Anda menembus setiap alam kesadaran dan mencapai apa yang saya sebut Kesempurnaan dalam Kekosongan, dalam Kasunyatan.

Jangan mencari-cari pembenaran lewat konfirmasi dari pihak ketiga. Kau ceritakan pengalamanmu kepada orang lain, juga tidak ada gunanya. Mereka belum mengalami apa yang tengah kau alami. Mereka tidak dapat membantumu.

Tidak ada peristiwa sepenting peristiwa meninggalnya seorang Buddha, seseorang yang telah mencapai pencerahan dan kesempurnaan dalam hidup ini.ia tidak hanya meninggalkan badan kasatNya, Ia juga meninggalkan EgoNya, pikiranNya. Sekarang EgoNya menjadi fragmen-fragmen kecil dan tersebar kemana-mana.

Ya seperti sampah – tetapi sampah yang sangat berharga. Ego yang telah mengalami transformasi dan sudah berubah menjadi Kesadaran, hasil Pencerahan yang dicapaiNya dapat mengubah siapa saja, dapat meningkatkan kesadaran siapa yang menerimaNya.

Ya persis. Fragmen yang terkecil dari Ego ini memiliki kualitas yang persis sama seperti yang terbesar. Apabila seseorang berada dalam keadaan reseptif, ia dapat menerima fragmen-fragmen ini, dan dapat terjadi loncatan yang dahsyat dalam kesadarannya.

Tidak melakukan apa pun, hanya membuka diri terhadap segala kemungkinan. Hanya menjadi reseptif. Tidak menolak apa pun.

Benar. Terjadi Transformasi Kuantum dalam dirimu. Terjadi loncatan yang dahsyat. Kau menerima begitu banyak kepingan Ego para Buddha, dan lahirlah kesdaran yang baru. Ego para Buddha tersebsr dalam bentuk getaran-getaran energi yang sangat halus.

Penyakitmu memang harus kau lewati – dalam keadaan sakit, badan kasat menderita dan penderitaan itu secara berangsur-angsur membuat kamu tidak terikat pada badanmu lagi. Keterikatanmu berkurang, sampai kau dapat melampaui hubungan-hubungan emosional yang paling sulit untuk dilampaui.sedikit demi sedikit kau mulai terbuka. Kata-kata sang Lama merupakan pukulan yang terakhir dan kau terbuka lebar.

Kau harus menjadi pelita bagi dirimu sendiri. Terangilah jalanmu sendiri. Kau harus menempuh sendiri perjalanan hidup ini – jangan bersandar pada siapa pun.

Setiap orang berpotensi menjadi Buddha. Ada yang mengembangkan potensi itu, ada yang membiarkannya begitu saja. Bila seseorang menyadari hal ini dan mengambil langkah pertama untuk mencapai pencerahan. Alam Semesta turut membantunya.

Mutiara Quotation FEAR MANAGEMENT

 

Judul : FEAR MANAGEMENT

Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2007

Tebal : 158 halaman

 

Mutiara Quotation FEAR MANAGEMENT

 

Abstrak

Selama ini rasa takut kita terima sebagai sesuatu yang mutlak, tak terhindarkan. Psikologi modern bahkan menegaskan rasa takut sebagai sumber energi untuk ‘fight or flight’, melawan atau melarikan diri. Ketika kita menghadapi bahaya, rasa takut secara spontan mendorong kita untuk melawan atau melarikan diri.

Rasa takut atau FEAR sebenarnya adalah False Emotion Appearing Real – Emosi Palsu yang Terkesan Nyata. Sebagai makhluk yang lebih mulia daripada binatang, kita dapat mengelola rasa takut kita untuk mencapai puncak evolusi diri kita.

 

Perlukah Anda Membaca Buku ini?

Barat sudah mulai menoleh ke dalam diri untuk menemukan jawaban yang tidak ditemukannya dari luar.

Melarikan diri atau melawan adalah reaksi yang biasa. Menghadapi adalah respons yang tidak biasa. Menghadapi rasa takut – dalam hal ini ‘takut mati’ – berarti menerima kematian sebagai kematian. Penerimaan seperti itu menuntut kesadaran. Penerimaan seperti itu tidak datang begitu saja.

Saya setuju 100 persen dengan apa yang dikatakan Raja Salomo atau Nabi Sulaiman:”Di bawah kolong langit ini tidak ada sesuatu yang baru ……” Yang baru adalah cara saya menyajikannya.

 

Bagian Pertama. Mengenal Rasa Takut.

Sesungguhnya gelombang itu hanyalah sebuah sebutan. Gelombang tidak terpisah dari laut. Sesungguhnya gelombang itu tidak ada. Yang ada hanyalah laut. Kendati demikian, kita memperoleh kesan seolah gelombang ada.

Inilah basis kehidupan rasa takut yang sesungguhnya, tidak ada memberi kesan seolah ada. Tidak ada yang perlu ditakuti, karena apa yang mesti terjadi sudah pasti terjadi. Kendati demikian manusia tetap takut.

Ada yang takut mati; ada yang takut hidup. Yang takut mati berusaha untuk menghindarinya, tapi sia-sia saja. Yang takut hidup berusaha untuk mengakhiri hidupnya, padahal kehidupan adalah energi; dan energi tidak dapat diakhiri. Energi tidak mengenal kematian. Energi bersifat abadi.

 

Management: Seni Mengolah

FEAR- False Emotion Appearing Real.

Ketakutan adalah emosi palsu, tapi tampak asli… memberi kesan seolah asli.dalam kesan sesaat itu, ada suka, ada duka. Ada panas, ada dingin.

Semuanya itu mimpi. Tetapi, mimpi itu begitu riil. Dalam mimpi kadang jantung kita berhenti berdebar, kadang mengeluarkan keringat. Pengalaman-pengalaman seperti itu, walau terjadi dalam mimpi, sangat tidak menyenangkan.

Karena ketakutan adalah emosi palsu yang tampak riil, langkah pertama yang mesti diambil untuk mengatasinya adalah ‘bangun dari mimpi’. Akhirilah mimpimu itu, kemudian, dampak dari mimpi itu kau rubah.

Fear Management sesungguhnya, adalah Seni Mengolah Dampak dari Rasa Takut.

Man berarti manusia. Age berarti usia, dan ment mengindikasikan adanya proses. Management berarti Proses Peng-”usia”-an atau Pendewasaan Manusia. Jika age diartikan sebagai “zaman”, management dapat diartikan sebagai Proses Penyelarasan Manusia dengan Zaman.

Diri yang dewasa mampu melihat kepalsuan sebagai kepalsuan. Ia tak terjebak dalam kepalsuan itu. Diri yang sudah dewasa dan selaras dengan zaman, dengan alam, tidak takut menghadapi perubahan. Ia mendengar “Sabda Alam”. Ia memahami artinya. Dia bertindak sesuai dengan tuntunannya.

Luapan emosi pun terjadi karena kita membiarkannya untuk meluap. Di luar boleh terjadi kekacauan, kita tidak mesti terbawa oleh kekacauan itu. Kita tidak perlu diterjang oleh Gelombang Kekacauan Tsunami di luar.

Menjaga kewarasan di tengah ketakwarasan dunia, memelihara ketenangan diri di tengah kebisingan dunia, inilah tujuan Management Diri. Dan, supaya tidak ditakut-takuti oleh keramaian di luar, kita membutuhkan Fear Management.

 

Manusia Baru

Mereka yang malas mengharapkan zaman berubah. Mereka yang rajin mengubah diri dan menyebabkan terjadinya perubahan pada zaman. Celakanya kelompok pertama selalu mayoritas. Dominasi mereka tak pernah surut.

Harapan pada zaman baru adalah harapan pada perubahan yang terjadi di luar diri. Harapan ini tergantung pada sesuatu yang terjadi di luar kendali kita, maka harapan ini menciptakan rasa takut baru – ketakutan bahwa harapan itu tak terpenuhi.

Perubahan bukanlah sesuatu yang pernah terjadi secara masal. Tidak pernah. Perubahan terjadi pada perorangan, secara pribadi. Kemudian, pribadi yang berubah itu membawa perubahan.

Untuk membebaskan diri dari rasa takut pun, adalah salah jika kita berusaha untuk membereskan keadaan di luar. Keadaan di luar tidak pernah beres. Dulu ada penjahat, sekarang pun masih ada.

Manusia “Neo”, Manusia Baru – bukan New-Ager atau mereka yang mengharapkan Zaman Baru – berusaha untuk memahami “rasa Takut”. Apa yang menyebabkannya? Ia juga berusaha untuk memberdayakan dirinya, supaya tidak dihantui oleh rasa takut yang sesungguhnya sekadar emosi. Sudikah Anda menemani dia dalam pencahariannya?

 

Bagian Kedua. Jenis-Jenis Rasa Takut.

Setidaknya ada lima lapisan kesadaran utama dalam diri manusia dan di sana ada ketakutan yang berbeda-beda:

  • Lapisan Fisik

  • Lapisan Energi

  • Lapisan Mental

  • Lapisan Intelegensia

  • Lapisan Spiritual

 

Rasa takut muncul dalam setiap lapisan secara serempak. Intensitasnya berbeda. Karena itu, penyelesaian pada seluruh lapisan mesti diupayakan secara bersama, secara menyeluruh, secara holistik.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Fisik

Lapisan Fisik, yaitu jasmani kita dalam bahasa kuno disebut Annamayakosha – Lapisan yang terbuat dari Makanan. Inilah raga manusia.

Sperma dan sel telur adalah hasil makanan. Kualitas makanan menentukan kualitas sperma dan sel telur. Seluruh data dalam DNA seorang anak berasal dari sperma ayah, dan energi untuk menggerakkan tubuh berasal dari telur ibunya. Data tersebut tidak dapat dibaca secara jelas jika wahana atau sperma yang mengantarnya berkualitas rendah. Begitu pula motorik seorang anak sepenuhnya tergantung pada kualitas telur ibunya.

Rendah-tingginya kualitas sperma dan sel telur menentukan “jenis rasa takut” yang diwarisi oleh seorang anak.

Kualitas yang rendah menciptakan berbagai macam kendala sehingga seorang anak tidak mampu mengekspresikan dirinya secara sempurna. Ia mengalami depresi, nervousness. Ia menderita inferiority complex atau menganggap dirinya rendah. Para pelaku kejahatan, dari kelas teri hingga kelas kakap, dari maling biasa hingga pembunuh berdarah dingin, semuanya menderita rasa takut yang disebabkan oleh kualitas sperma dan sel telur yang rendah.

Awalnya, seluruh sistem pendidikan dirancang untuk mengatasi rasa takut jenis pertama ini.

Vyaayaam atau olah raga ringan dari tradisi yoga, Tai-Chi dan sebagainya dirancang untuk itu.

 

Kualitas sperma dan sel telur yang terlampau tinggi membuat seorang anak terlalu percaya diri. Ia menjadi sombong, keras, kaku, alot. Ia menderita penyakit superiority complex – merasa diri superior. Untuk melembutkan kepribadiannya, ia diajar untuk menyanyi, menari, menggambar, dan lain sebagainya.

Kualitas sperma yang berkualitas tidak rendah atau tidak tinggi juga memiliki rasa takut yang muncul dari reaksinya terhadap rasa lapar. Selama dalam kndungan ibunya, seorang anak tidak perlu mencari makanan. Ia mendapat suplai makanan dari peredaran darah ibunya. Begitu lahir ia tersadarkan bahwa suplai makanannya sudah terhenti, muncullah rasa takut yang sangat mencekam. Barangkali belum lapar betul. Tetapi ia sudah tahu bahwa sekarang makanan tak dapat diperolehnya dengan cara biasa.

Rasa takut yang muncul karena lapar, sesungguhnya menciptakan “semangat” dalam diri seorang anak untuk mencari, semangat untuk berjuang, dan semangat untuk menemukan.

Anak-anak yang saat lahir diberi susu siap saji menjadi generasi “mi instan”. Ia tidak mau bersusah payah untuk “memasak” sesuatu. Lebih gampang membeli bungkusan atau mangkuk mi, bubur, sup, atau apa saja yang siap saji – ditambah air panas, didiamkan sesaat, diaduk – dan langsung dimakan. Generasi kita telah terlanjur menjadi korban budaya siap saji, tradisi instan.

Takut kelaparan adalah rasa takut yang paling mudah terdeteksi pada Lapisan Kesadaran Fisik.

Penyakit membuat kita takut. Yang menderita saya, atau orang lain, tidak menjadi soal. Penyakit itu memunculkan rasa takut dalam diri saya.

Kita takut menjadi tua. Kita takut pada proses menua, padahal proses itu sudah berjalan sejak kita lahir.

Takut mati. Kita sudah sangat sering melihat kematian; sering pula melayat. Saat itu, muncul rasa takut akan kematian, tetapi kemudian rasa takut itu mengendap kembali di bawah sadar kita.

 

Sesungguhnya, pencerahan tidak perlu diupayakan. Pencerahan “terjadi” dengan adanya pemahaman tentang sifat kebendaan, termasuk pemahaman tentang fisik, raga, badan manusia. “pemahaman” inilah yang mesti diupayakan.

Solusinya: pertama adalah afirmasi. Ulangi terus menerus, “Aku bukanlah Badan. Aku adalah Jiwa Abadi”. Atau jika Anda percaya betul berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya: “Aku berasal dari Tuhan, dan akan kembali kepada-Nya”.

Dalam keadaan tidur, mata kita tertutup; badan kita tergeletak di atas ranjang. Fisik beristirahat, namun kita masih bermimpi. Mimpi itu tetap aku lihat. Aku yang melihat ini jelas bukan badan.

Dalam bahasa lain, afirmasi yang diulang-ulangi itu disebut japa atau zikr. Tujuannya sama: membebaskan manusia dari kesadaran jasmani.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Energi

Lapisan Energi, yang dalam bahasa kuno disebut Praanamayakosha. Yang dimaksud adalah life force, kekuatan yang menggerakkan tubuh kita, yang memberi kita kemampuan untuk berpikir dan berperasaan.

Pada lapisan ini terjadi pertemuan antara raga dan rasa manusia; antara badan dan pikiran. Ketika lapisan ini sudah tidak bekerja, pertemuan pun berakhir. Tubuh menjadi jazad. Kadang lapisan ini mengalami rusak berat, tubuh sudah tidaki dapat digerakkan, otak tidak bisa berpikir jernih, perasaan terganggu. Pada kerusakan yang paling berat dalam dunia medis disebut koma.

Lapisan energi di dalam tubuh memperoleh suplai energi dari alam sekitar kita. Energi diperoleh lewat lubang hidung, mulut, pori-pori kulit terluar, lewat mata, telinga, lewat setiap lubang, setiap pembukaan yang ada pada tubuh kita.

70 % energi terboroskan lewat mata, maka perolehan energi lewat mata pun bisa menjadi sumber utama.

Terjadinya short of supply of energy menciptakan rasa takut dalam diri kita, lalu kita berusaha menarik energi secara paksa.

Seorang lelaki bermata jelalatan, seorang perempuan centil yang sedang menarik perhatian sesungguhnya sedang menarik energi.

Ketika dengan cara itu belum cukup, kita menciptakan konflik, friksi, perang. Perlombaan adalah cara untuk menarik energi.

Dua orang yang saling mencintai tidak perlu saling memanipulasi. Interaksi energi antara keduanya berjalan sendiri tanpa tarik menarik. Keduanya merasa lebih segar karena keduanya memperoleh sesuatu.

Dalam satu kelompok di mana 10 atau 20 orang saling mencintai, interaksi energi yang terjadi sedemikian dahsyatnya sehingga dalam radius 6 hingga 60 km, setiap makhluk dapat merasakan getaran-getaran cinta. Apalagi jika jumlah orang yang saling mencintai dan mengasihi itu mencapai 100; getaran energi berlipat ganda dan menyebar hingga radius ribuan kilometer.

Rasa takut pada lapisan energi dapat dideteksi dengan mudah. Biasanya orang yang mengalami defisiensi energi takut gelap, takut tempat-tempat sempit.

Solusi: Praanayaama atau latihan-latihan pernapasan tradisi yoga secara teratur, setiap hari walau untuk 10 menit saja.

Salah satu latihan yang paling mudah adalah Pernapasan Perut. Kalau akan tidur, latihan cukup 5 menit. Kalau lebih dari 5 menit latihan bisa menyegarkan dan Anda akan sulit tidur.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Mental

Lapisan Mental/Emosional atau Manomayakosha. Rasa takut pada lapisan ini muncul karena sense of loss – takut kehilangan.

  1. Takut kehilangan sesuatu yang kita peroleh lewat kerja keras.

  2. Takut kehilangan seorang relasi.

  3. Takut ditolak.

  4. Takut kesepian.

Pada usia tua, kegiatan fisik berkurang dan terjadi ekses of energi. Energi berlebihan. Energi akan turun ke pusat energi pertama yang terkait makanan dan pusat energi kedua yang terkait dengan seks. Ketika kemampuan seks juga berkurang, maka seks akan bersarang dalam pikiran.

Rasa takut yang sesungguhnya sekadar emosi seolah menjelma menjadi sesuatu yang nyata.

Solusi: lapisan mental/emosional paling sering menjadi korban rasa takut, karena rasa takut itu sendiri terbuat dari materi yang sama, yaitu emosi.

Kepribadian kita terbentuk oleh gugusan pikiran, perasaan, angan-angan, impian, ingatan dan materi-materi lain sebagainya. Selama hidup berdamai di dlam tubuh kita, kita sehat. Ketika konflik terjadi di antara mereka, tubuh jatuh sakit.

Cara yang paling tepat adalah dengan cara memahami hukum-hukum alam. Dengan begitu muncul kesadaran bahwa apa pun yang terjadi sudah sesuai dengan hukum alam.

  • Apa pun yang saat ini Anda miliki, pernah dimiliki oleh orang lain.kepemilikan tidak langgeng.

  • Suami, istri, anak, saudara orang tua, kawan semuanya adalah hubungan yang terjadi dalam hidup ini dan dunia ini. Aku lahir dan mati seorang diri.

  • Hidupku antara dua titik kelahiran dan kematian. Penolakan dan penerimaan seseorang tak mampu mempengaruhi kualitas hidupku.

  • Kita perlu memahami Hukum Alam yang paling penting. Hukum Sebab-Akibat.

 

Rasa Takut pada Lapisan Intelegensia

lapisan Intelegensia atau Vigyaanmayakosha. Rasa takut pada lapisan ini disebabkan oleh kekhawatiran akan gagal atau tidak berhasil dalam suatu pekerjaan atau hidup.

Sesungguhnya, ada paradoks. Rasa takut yang satu ini sesunnguhnya juga membuktikan bahwa intelegensia kita sudah mulai berkembang.

Intelegensia membuat kita sadar akan kebutuhan jiwa. Dan, jiwa tidak hanya membutuhkan pengalaman-pengalaman yang manis. Pengalaman pahit sama pentingnya dengan pengalaman manis.

Lebih lanjut, intelegensia menyadarkan kita bahwa sesungguhnya tidak ada siang tanpa sore. Tidak ada pahit tanpa manis. Keberhasilan menjadi bermakna, karena adanya duka dan kegagalan.

Ketika seseorang menganggap dirinya cukup intelegen, ia mencukupi dirinya. Ia mengakhiri perkembangan intelegensianya. Ini berarti kemunduran, intelegensia yang sudah berkembang itu menjadi layu dan akhirnya mati.

Seorang yogi, seorang bhogi dan seorang rogi tidak bisa tidur sepanjang malam.

Seorang yogi bermeditasi. Keheningan malam sangat menunjang latihan spiritual.

Seorang bhogi sedang menikmati indera sepanjang malam.

Seorang rogi atau orang sakit tidak dapat tidur sepanjang malam.

Rasa takut kedua yang muncul pada lapisan ini adalah takut ide atau opini atau gagasan kita tidak diterima.

Solusi:

Ketakterikatan membebaskan manusia dari rasa takut.

Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, imbalan, penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut.

Lapisan intelegensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama: Pertama, sumber dalam diri, dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang. Yang kedua, sumber di luar diri dari pujian dan pengakuan.

Menulis semata untuk menghasilkan uang akan menyeret saya ke lapisan kesadaran pertama.

Solusi pertama ini juga terkait dengan solusi kedua: Berkarya tanpa pamrih.

Ada yang bertanya: Bagaimana memastikan bahwa suara yang didengar itu betul suara hati? Bukan suara pikiran bukan pula godaan setan?

Pikiran itulah setan yang menggoda. Sebaliknya, jika kita mendengar suara hati, bisikan nurani, tidak ada keraguan lagi.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Spiritual

Untuk menguasai rasa takut pada empat lapisan sebelumnya, kita telah mempraktikkan empat jenis Yoga:

  1. Puasa dan afirmasi adalah bagian dari Ashtaang Yoga

  2. Praanaayaama atau olah napas adalah bagian dari Raja Yoga.

  3. Transformasi diri dengan mengubah cara pandang dan melakoni hidup sesuai dengan kesadaran baru – itulah Karma Yoga.

  4. Mengasah intelejensia adalah bagian dari Gyaana Yoga.

Yoga adalah sistem pelatihan, sistem olah diri guna mencapai keseimbangan antara lapisan-lapisan kesadaran di dalam diri manusia, dan keselarasan dengan alam semesta.

 

Rasa takut utama yang muncul pada lapisan ini adalah fear of the unknown, takut menghadapi sesuatu yang tidak atau kurang jelas. Sesuatu yang penting tapi belum jelas bagi kita. Unknown di sini adalah ketidaktahuan kita tentang sesuatu yang berada di luar dunia, sesuatu yang melampaui ilmu-ilmu sedunia.

Takut mati bukanlah bagian dari Fear of Unknown.

Takut menghadapi apa yang terjadi setelah kematian itu baru Fear of Unknown.

Mereka yang tidak siap menghadapi The Ultimate Unknown Fear ini lebih baik menerima konsep-konsep tentang surga neraka yang sudah ada. Konsep-konsep itu cukup jitu untuk menghilangkan sementara rasa takut untuk sesaat.

Solusi:

Terimalah rasa takut sebagai rasa takut. Rasakanlah hingga ke sumsum Anda.

Penerimaan seperti ini memunculkan rasa Bhakti dalam diri kita. Manusia menyadari ketakberdayaannya di hadapan Hyang Maha Daya. Dia berhamba bukan karena takut, tetapi karena sadar, karena cinta… cinta yang lahir dari kesadaran manusia akan ketakberdayaan dirinya.

Mutiara Quotation Buku Niti Sastra

 

Judul : ANCIENT WISDOM FOR MODERN LEADERS

Niti Sastra, Kebijaksanaan Klasik Bagi Manusia Indonesia Baru

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2008

Tebal : 316 halaman

 

Mutiara Quotation Buku Niti Sastra

 

Niti Sastra ditulis pada zaman Majapahit, kira-kira lima abad yang lalu. Niti atau pedoman perilaku adalah sebuah shastra, senjata ampuh, alat yang baik dan berguna untuk menghadapi hidup ini. Persembahan Niti Sastra ini merupakan upaya kecil untuk mengingatkan kita akan keberhasilan para leluhur kita dalam hal berpikir, mengelola negara, dan menerjemahkan nilai-nilai luhur dalam keseharian hidup.

 

Aku bertanggung Jawab terhadap Keadaan Negeriku Saat Ini.

 

Agama tentu saja menentukan identitas kita, tetapi bukan satu-satunya yang menentukan identitas kita. Budaya bukanlah sekadar identitas diri. Budaya adalah jati diri kita, jati diri bangsa. Dengan melupakan budaya, kita telah melupakan jati diri dan karenanya lantas kita menyontek budaya-budaya asing. Penyontekan seperti itu melemahkan jiwa kita, mencabut akar kita. Akibatnya, masyarakat kita telah menjadi floating mass.… kena badai sedikit saja hanyut, larut, lenyap.

 

Untuk membuktikan keadaan kita yang seperti floating mass itu cukuplah kita nonton teve selama beberapa jam saja. Di satu pihak banyak sekali tontonan bernuansa agama yang mendefinisikan agama secara sempit. Sulit untuk memisahkan agama dari praktik perdukunan dan klenik. Di pihak lain adalah generasi muda yang seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, sungguh cuek. Berita tentang kegiatan konstruktif jarang disiarkan, sedangkan hal-hal yang destruktif memperoleh sorotan utama.

 

Dimana letak kesalahan kita?

Salah satunya, saya kira adalah “penolakan kita terhadap sejarah”. Orang bilang, Borobudur adalah peninggalan zaman Buddha. Prambanan adalah peninggalan zaman Hindu. Borobudur bukanlah peninggalan zaman Buddha. Borobudur adalah warisan budaya kita, peninggalan dinasti Syailendra.

 

Dengan memisahkan diri dari Sriwijaya, Syailendra, Mataram, majapahit dan lain-lain, dengan menolak dan tidak mengakui para leluhur, kita telah mencabut sendiri akar budaya kita. Dan, tanpa akar budaya, kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beradab.

 

Bila kita ingin menyelamatkan negeri ini, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada budaya asal kita yang adalah jati diri kita, jati diri manusia Indonesia.

 

Aku Dapat Mengubah Keadaan Negeriku

 

Janganlah membiarkan para pemimpin kita menunggangi rakyat demi kepentingan pribadi, partai, maupun kelompok. Kinilah saatnya untuk bersuara. Jangan takut. Bertindaklah sesuai kata hati, sesuai nurani, supaya masa depan tidak kotor.

 

Berkarya bersama. Kenapa kita harus berkarya bersama? Kenapa umat Islam tidak berkarya sendiri saja dengan orang-orang seumat; demikian pula umat yang lain? Kita harus berkarya bersama, karena kita memang satu. Kebersamaan kita adalah sebuah keniscayaan. Indonesia satu. Kepulauan Nusantara satu. Letak geografis kita di tengah laut itu satu, dan tidak dapat diganggu-gugat.

 

Kita memiliki nilai-nilai luhur sendiri. Bangsa kita juga memiliki apa yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Dan, nilai-nilai yang kita miliki itu sudah teruji keabsahannya. Nilai-nilai itu membuat Sriwijaya jaya selama hampir 1.000 tahun. Majapahit jaya selama berabad-abad. Sejarah menjadi saksi ketika kita melupakan nilai-nilai itu; tenggelamlah bangsa kita dalam masa kegelapan hingga berabad-abad pula.

 

Bab I.

Saya tidak tahu, akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepada-Nya ialah supaya hidupku iytu hidup yang menfaat. Manfaat bagi tanah air dan bangsa; manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab, Dialah Asal segala Asal, Dialah Purwaning Dumadi. Soekarno.

 

  1. Tuhan sebagai Pembebas Agung… bukan sebagai Pemberi rezeki, bukan sebagai Penguasa Surga, bukan untuk kenikmatan dunia dan kerumunan peri di Surga…. tapi untuk pembebasan diri dari segala keterikatan; untuk membebaskan jiwa dari rantai yang membelenggu.

  2. Pengetahuan benar-benar menjadi daya hidup bila sudah dialami. Bagaimana dapat menjelaskan rasa manis bila belum pernah mencicipi sesuatu yang berasa manis. Begitu pula dengan pengalaman hidup.

  3. Pengetahuan bagaikan racun bagi mereka yang malas dan tidak mau menuntutnya. Sebagaimana makanan yang tidak tercerna pun menjadi racun dan menyebabkan penyakit.

  4. Seorang pemimpin tahu kapan menggertak orang; kapan bersikap sabar; kapan menunjukkan otot; kapan menggunakan hati. Ia sangat inkonsisten, sangat adaptif, dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan, tetapi juga tidak berarti kompromis. Dia tidak mudah menggadaikan jiwanya. Ia dapat menundukkan kepalanya, dapat menafikan segonya, keakuannya demi kepentingan yang lebih luas.

  5. Seorang anak manusia berhati jahat lebih berbahaya daripada seekor hewan yang buas karena dia dapat menyembunyikannya, sementara hewan buas tidak berpura-pura, tidak menyembunyikan kebuasannya di balik kedok.

  6. Sabar, ikhlas, dan tenang adalah tiga kemuliaan utama. Sesungguhnya tiga kemuliaan ini adalah tritunggal. Sabar karena ikhlas. Tenang karena ikhlas. Sabar adalah bahan baku yang kita masukkan ke dalam mesin kehidupan kita. Keikhlasan adalah proses yang terjadi, olah diri yang diwarnai olehnya… Kemudian, hasil akhirnya adalah ketenangan.

  7. Agar hidup menjadi berarti, gunakan pengetahuan untuk menentukan pergaulan mana yang tepat dan layak, mana yang btidak tepat dan tidak layak; pergaulan mana yang dapat menunjang kesadaran serta evolusi batin, dan mana yang tidak menunjang.

  8. Tidak menepati janji sungguh menyakitkan bagi orang yang memegang janji kita, tetapi dengan itu sebenarnya kita rugi lebih besar lagi. Pertama, kita tidak lagi dipercaya orang; dan kedua kita sendiri akan kehilangan kepercayaan diri kita karena dalam hati kita tahu bahwa kita tidak bisa diandalkan. Inilah jalan tol menuju kehancuran.

  9. Mereka yang gemar pamer, suka mengada-ada sesungguhnya tidak percaya diri. Mereka sedang mencari perhatian karena sesungguhnya tidak ada sesuatu dalam diri mereka yang patut diperhatikan.

  10. Singa menjaga hutan, dan dijaga hutan. Perselisihan antara mereka merugikan keduanya. Hutan tanpa penjaga dirusak manusia, singa di luar hutan pun diburu manusia.

  11. Kasih membuat kita adil. Kasih membuat kita beradab.

  12. Sebagai orangtua, kita harus selalu berhati-hati…. senantiasa sadar dan waspada, karena setiap langkah kita sedang diamati oleh anak-anak kita.

  13. Anak manusia tidak hanya membutuhkan pendidikan, tetapi juga perawatan dan pemeliharaan fisik, mental, emosional… Setiap lapisan kesadaran di dalam diri manusia perlu dirawat dan dipelihara. Dengan cara apa mendidik anak manusia, merawat serta memelihara kesadarannya? Dengan cara membangkitkan semangat dalam dirinya; dengan cara memberdayakan dirinya. Semangat, energi, atau apa pun sebutannya, tidak dapat diperoleh lewat motivasi dari luar. Motivasi pun harus datang dari dalam diri sendiri. Kita harus mampu memotivasi diri sendiri.

  14. Kerelaan untuk berkorban demi kepentingan orang banyak adalah esensi ajaran setiap agama. Sekarang, para pemeluk agama malah rela mengorbankan kepentingan banyak orang demi kepentingan diri. Agama tidak mengajarkan kekerasan. Agama tidak membenarkan kekerasan. Tidak ada pula pemaksaan dalam hal beragama.

 

Bab II.

  1. Pakaian dan perhiasan hanya menghiasi bada. Pengetahuan menghiasi pikiran, memperhalus perasaan, dan meningkatkan kesadaran. Karena itu, seorang berpengetahuan akan selalu berupaya untuk menambah pengetahuannya. Ia tidak pernah berhenti.

  2. Hasil rampasan tidak dapat membahagiakan kita. Ada Hukum Sebab Akibat yang berlaku sama bagi setiap orang. Bekerjalah dengan rajin dan jujur untuk memperoleh harta. Berkaryalah dengan sekuat tenagamu. Hasil kerja keras dan jerih payah itulah yang langgeng. Otherwise, easy come easy go..

  3. Untuk mengakhiri perselisihan dengan lawan, kau dapat berdamai dengannya, memecah belah kubunya, bersikap penuh kasih, atau memaksa dan menghukumnya. Silakan menguasai keempat cara itu, namun upayakan selalu untuk mengakhiri segala persoalan dengan kasih sayang.

  4. Menghadapi seorang lawan, janganlah kau menunjukkan rasa takutmu. Itu akan mengendurkan semangat para kawan yang membela dan mendukungmu. Tidak perlu menghina musuhmu karena ia akan bertambah marah. Semangat yang membara dalam hatimu cukup untuk mengalahkannya tanpa senjata.

  5. Pengetahuan adalah kawan utama, hawa nafsu adalah lawan utama, cinta orang tua terhadap anaknya itulah cinta utama. Dan, kekuatan utama adalah kekuatan takdir, nasib. Memang ada sebuah master plan. Setiap jiwa memilikinya, namun master plan itu sekadar kemungkinan yang dapat menjadi kepastian bila ditindaklanjuti.

  6. Pelajaran tertinggi adalah yang kau peroleh dari seorang Guru Sejati; Pengahrgaa tertinggi diberi oleh para suci kepada mereka yang suka mengampuni.

  7. Sungguh tidak cerdas orang kaya yang menjadi angkuh karena kekayaannya. Ia tidak sadar bahwa seorang penarik becak bekerja lebih keras daripada dirinya. Bila kekayaan adalah hasil kerja keras saja, penarik becak itu seharusnya lebih kaya daripada dirinya. Karena itu, tidak cerdas orang yang tidak bisa mensyukuri kekayaan karena mengira itu hanya merupakan hasil kerja kerasnya.

  8. Kesehatan fisik tidak cukup. Penampilan luaran pun belum cukup. Perilaku kita, tingkah laku kita pun harus sehat. Tingkah laku sopan itulah pertanda kesehatan diri. Sehat rasa menghasilkan sifat ramah. Sehat jiwa membuat kita suka mengampuni. Demikianlah kesehatan holistik, kesehatan sempurna ala Indonesia.

  9. Racun kejahatan manusia menyebar ke segala dimensi dirinya sehingga mewarnai segala perilakunya pula, serta dapat dirasakan oleh siapa pun. Racun itu menggerahkan si empunya dan siapa saja yang cukup peka.

  10. Anak manusia tergantung induknya; ikan di kolam tergantung pada kedalaman airnya; burung di langit tergantung pada sayapnya; seorang pemimpin tergantung pada kepuasan mereka yang dipimpinnya.

  11. Keharuman nama menyebar kemana-mana. Kendati demikian, jangan berharap agar setiap orang memuji. Harapan itu akan mengecewakan. Kemudian kekecewaan diri dapat dengan mudah mengubah hati yang baik menjadi hati yang busuk.

  12. Tidak perlu melawan perseteruan. Hindari saja mereka yang berseteru. Kalau tak puas dengan suatu keadaan, hindari saja keadaan itu. Hindari lingkungan di mana keadaan itu terjadi. Tidak perlu menggelisahkan diri lebih lanjut. Tidak perlu berseteru dengan siapa pun.

  13. Bila kita mengharapkan seorang bijak, seorang suci atau seorang guru bertindak sesuai dengan keinginan kita, sesungguhnya dari awal kita sudah tidak menerima yang bersangkutan sebagai seorang bijak, suci, guru. Kita tidak berguru kepada mereka, justru sedang berusaha menggurui mereka.

 

Bab III.

  1. Kemampuan manusia untuk memberi membedakan dirinya dari hewan. Kemampuan hewan untuk memberi sangat terbatas. Makanan yang menjadi energi dalam diri seekor hewan, digunakan untuk keperluan dirinya saja. Sebaliknya, manusia sesungguhnya hanya membutuhkan energi bagi dirinya. Lebih banyak energi yang dapat digunakannya untuk kepentingan umum yang lebih luas. Inilah kelebihan manusia. Inilah keunggulan manusia. Karena itu, sungguh tidak kodrati bila manusia hidup untuk diri sendiri. Sungguh tidak alami bila ia hanya memikirkan kepentingan diri. Manusia seperti itu melecehkan kemanusiaan dirinya sendiri.

  2. Apa saja yang menyertai kita ketika ajal tiba dan kita harus meninggalkan dunia fana ini? Tak sesuatu apa pun jua, kecuali perbuatan kita. Sebab itu, berbuatlah yang baik. Berbuatlah yang terbaik sebatas kemampuanmu.

  3. Pengalaman-pengalaman dalam hidup ini ibarat musim, datang silih berganti. Tak satu pun kekal, abadi. Harta benda, ketenaran, kedudukan, kecantikan tak ada yang langgeng. Karena itu hiduplah seutuhnya. Terimalah semuanya dengan kedua tangan terbuka karena dengan menutup tangan pun kita tak mampu menolaknya. Pengalaman-pengalaman itu memperkaya hidup, memperkuat jiwa. Terimalah semuanya dengan rasa syukur, dengan penuh yakin pada Kebijakan Ilahi dan apa yang telah ditentukan-Nya bagi perkembangan jiwa kita.

  4. Manusia Indonesia zaman itu sudah mencapai tingkat kesadaran Krishna yang dapat dengan mudah mengampuni penganiayanya.

  5. Kecelakaan demi kecelakaan yang terjadi di negeri kita bukanlah sekadar kebetulan. Kita seolah mengundang kecelakaan-kecelakaan itu dengan ulah kita; dengan ketakpedulian kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi basis, menjadi fondasi bagi budaya bangsa. Kebangsaan, kebanggaan sebagai bagian kecil dari suatu bangsa yang besar itulah nilai utama. Kemudian, baru latar belakang keluarga. Penampilan dan pekerjaan berada pada urutan ketiga dan keempat.

  6. Ada empat peristiwa dalam kehidupan manusia yang awalnya menyenangkan, namun akhirnya menyedihkan. Meminjam namun tak dapat mengembalikan. Memelihara anjing yang kemudian menjadi gila. Berfoya-foya tanpa perhitungan, dan pergaulan bebas tanpa tanggung jawab.

  7. Uang memang menyenangkan. Uang dapat menyamankan hidup, namun ia pun menciptakan ketergantungan pada kesenangan dan kenyamanan ciptaannya.ketergantungan itu membuat kita tak berdaya. Kita menjadi budaknya. Kemudian, suatu ketika kita tidak memperoleh kesenangan dan kenyamanan yang sama, dan kita pun kehilangan semangat.

  8. Menimbun harta ibarat membendung arus yang besar dan deras. Apa yang ingin kau selamatkan tetap hanyut tanpa bekas. Kieberuntungan kita terjadi karena adanya masyarakat sekitar kita. Sudah lazimnya kita berbagi keberuntungan.

  9. Bila cincin permata kita jatuh ke dalam tong sampah, apakah kita tak akan memungutnya? Berasal dari mana pun kebaikan adalah kebaikan.

  10. Kata-kata dapat menyejukkan hati. Kata-kata dapat membakar hati. Aksara berarti tidak kshara atau tidak punah. Setiap kata yang terucap akan kemabli kepada kita. Hati-hati.

  11. Bagi seorang berjiwa jahat, perselisihan dan pertengkaran itulah yang membahagiakan. Suatu waktu, terpaksa alam bekerja dan menghanyutkan mereka. Orang-orang yang tidak sesuai dengan tatanan dunia dan harus diangkat demi keselamatan dunia.

Bab IV

  1. Seorang berpengetahuan sejati tidak hanya menerangi diri, ia pun menerangi lingkungannya.

  2. Revolusi tidak selalu bersifat fisik. Revolusi tidak harus berdarah. Revolusi dalam hal berpikir yang dibutuhkan negara kita saat ini. Pencetus revolusi itu haruslah para pemberani yang bekerja tanpa pamrih, mereka yang tidak takut gugur dalam perjuangan.

  3. Bila kepahlawanan belum terbukti, lebih baik diam dulu. Bila kesucian serta kebijakan belum terbukti, lebih baik mengolah diri dulu.

  4. Rendah hati tidak berarti kurang percaya diri.merendahkan diri tidak berarti kurang berani. Seorang penakut tidak mampu merendahkan diri. Seorang pengecut tidak mengerti arti rendah hati.

  5. Mari kita memperhatikan noda-noda di wajah sendiri. Untuk itu, tentunya kita masih membutuhkan sebuah cermin, dan tiada cermin sejernih nurani kita sendiri. Nurani yang masih menyala dan hidup; nurani yang bersih dan tidak berkabut.

  6. Alam bergejolak ketika keselarasannya terganggu. Dan, keselarasan itu terganggu ketika kita tidak hidup harmonis dengan alam. Hidup harmonis dengan alam berarti hidup sesuai dengan hukumnya. Alam memberi tanpa pamrih. Itulah hukum pertama sekaligus utama. Hukum kedua adalah bekerja sesuai dengan kemampuan dan potensi diri, berkarya sesuai dengan peran yang diberikannya kepada kita.

  7. Hukum sebab akibat tak terelakkan. Mereka akan jatuh dan terlupakan oleh sejarah. Kalau sejarah tak melupakannya, sejarah itu akan mencatat aibnya.

 

Triwidodo

Juli 2008.

Mutiara Quotation Buku ISHQ ALLAH

 

Judul : ISHQ ALLAH Terlampauinya Batas Kewarasan Duniawi dan Lahirnya

Cinta Ilahi

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2005

Tebal : 153 halaman

 

Mutiara Quotation Buku ISHQ ALLAH

 

Legenda adalah wahana yang luar biasa untuk memasuki wilayah rohani. Dan, kali ini disajikan bagi Anda, para pembaca, petualangan cinta, dari khasanah legenda rakyat Sindh, yang memberi terang rohani kepada masyarakat itu sejak abad kelima belas. Judulnya Mumal Rano.Buku ini adalah bagian dari trilogi

  • Ishq Allah

  • Ishq Ibaadat

  • Ishq Mohabbat

 

Hati-hatilah, kau memasuki wilayah terlarang. Kau harus membedakan antara”aku”-mu, cinta dan Dia. Ada tiga macam cinta, ishq mijazi atau nafsu birahi. Ada ishq hakiki atau cinta sejati, dan ada ishq ilahi atau cinta yang kau tujukan kepada Allah semata.

 

Sumro berarti pahlawan. Hamir sumro dalam kisah ini bukan saja seorang pahlawan, tetapi juga seorang hamir, amir, penguasa. Bila kepahlawanan bertemu dengan kekuasaan, apa lagi yang perlu diragukan? Namun, Hamir Sumro tetap ragu-ragu.

 

Tepi Sungai Kak sudah di depan mata. Pantai seberang sudah tak jauh lagi. Hamir Sumro pun sesungguhnya sudah dalam perjalanan menuju Kak, dan Kak berarti debu – ia sudah dalam perjalanan menuju kedebuan diri.ia sudah dalam perjalanan menuju kefanaan abadi, untuk mencapai kebakaan kekal. Ia juga sangat beruntung, dapat bertemu dengan seorang Murshid, seorang Guru. Sang Fakir itulah Pembawa Berita dari nseberang sana, namun ia masih tetap ragu-ragu. Ya, Hamir Sumro ragu-ragu, maka ia menoleh ke arah sahabta karibnya, Rano.

 

Rano berarti pecinta, lover. Ia bukanlah seorang pahlawan seperti Sumro. Ia bukanlah seorang hamir, seorang penguasa. Ia hanyalah seorang rano, seorang pecinta.

 

Seolah Hamir pun sadar. Hanyalah cinta seorang Rano yang dapat mempertemukan dirinya dengan Mumal. Ya, ia ingin bertemu dengan Mumal, dengan sang Jelita. Itulah arti kata mumal – jelita, cantik, lembut.

 

Sesungguhnya Sang Fakir tengah menantang Hamir Sumro untuk melanjutkan perjalanannya. Peringatan yang diberikannya bukanlah untuk mematahkan semangat. Sayang Hamir Sumro tidak memahami maksud sang Fakir. Ia ragu-ragu, bimbang.. dan, dalam keraguannya, ia lupa bahwa dirinya adalah seorang pahlawan, seorang penguasa. Di hadapan Rano, sang Pecinta, kepahlawanan dan kekuasaan Hamir Sumro menjadi tak berarti.

 

Fakir: Aku tak memiliki tujuan, Rano. Jalan inilah tujuanku. Berjalan itulah tujuanku. Berjalan sambil memberi peringatan kepada setiap pejalan: Hindari Mumal, hindari Kak, bila kau tak ingin kehilangan segala yang kau miliki.

 

Untuk bertemu dengan Mimal, kita harus jadi seorang pecinta. Kekuatan dan kekuasaan belaka tak dapat mengantar kita kepada Mumal. Cinta merupakan syarat utama, syarat mutlak. Tak ada tawar-menawar lagi di sini.

 

Kemudian, setelah bertemu dengan Mumal, apa yang terjadi setelah pertemuan itu? Kita kehilangan segala yang kita miliki, termasuk identitas diri yang kita peroleh dari dunia. Seperti Sang Satria yang berasal dari Mendhra, kita kehilangan pasukan, kedudukan, kesatriaan… kita menjadi seorang fakir, miskin, melarat – tanpa kepemilikan.

 

Jalur Sutera Cinta, Jalan Menuju Allah bukanlah jalan biasa. Bila siap kehilangan segala demi cinta-Nya, lanjutkan perjalananmu, Bila tidak, urungkan niatmu.

 

Jiwa dapat merasakan cinta, tetapi hanya raga yang dapat bercumbuan dengan cinta. Selama kita berada dalam kesadaran rohani, cukuplah cinta yang dirasakan. Dalam keheningan diri, dalam kasunyatan abadi, dalam kebenaran hakiki, diri kita pun larut, hanyut… Segala keinginan sirna… Untuk merasakan cinta atau mohabbat, mahabah – nafsu, nafs atau kesadaran jasmani memang harus dilampaui. Tapi setelah merasakan cinta dan kembali pada kesadaran jasmani, timbul rasa rindu yang akan mencabik-cabik jiwa kita, membakar raga kita. Kita ingin merasakan dengan badan apa yang pernah kita rasakan dengan roh kita. Keadaan ini memang tak dapat dipahami oleh mereka yang belum pernah merasakan cinta, yang masih bergulat dengan nafsu.

 

Seorang pecinta tidak puas dengan mohabbat. Mohabbat sangat lembut, hanya dapat dirasakan dalam keheningan diri, oleh mereka yang telah mencapai kekhusyukan jiwa yang sampurna. Setelah merasakan mohabbat, seorang pecinta menjadi liar. Ia terobsesi dengan Yang dicintainya. Ia ingin bercumbuan dengan-Nya di tengah keramaian dunia. Ia menjadi seorang Aashiq. Mohabbat berubah menjadi Ishq – Cinta yang dinamis, agresif. Karena itu tingkah laku para pecinta sulit dipahami oleh mereka yang belum kenal cinta.

 

Ia yang kita cintai,kita muliakan, tidak puas dengan surat-surat yang diterimanya. Pertemuan dengan pengantar pun tidak memuaskan dirinya. Ia ingin bertemu dengan pengirim… Dan, saat terjadi Pertemuan Agung itu pengantar pun harus menyingkir.

 

Kita cepat puas, terlalu cepat puas. Kadang, menerima surat saja sudah puas. Kadang, pertemuan dengan pengantar sudah memuaskan. Bahkan, sering kali, membaca surat-surat-Nya, sudah memuaskan kita. Kenapa? Karena kita malas melakukan perjalanan yang terasa tak bertujuan. Atau, mungkin kita takut – takut larut, takut hanyut di dalam-Nya. Takut melepaskan aku untuk menyatu dengan-Nya…

 

Kebingungan Rano sungguh rohani. Istana pun berhala. Yang kita sebut rumah-Nya pun sesungguhnya hanyalah tumpukan batu… terbuat dari pasir dan tanah, mirip bangunan-bangunan lain di dunia.

 

Yang kita sebut istana atau Rumah-Nya pun sesungguhnya adalah bangunan buatan manusia. Taruhlah yang membuat beberapa orang luar biasa, sesungguhnya mereka pun orang – manusia, insan-insan Allah.

 

Sudah ratusan, bahkan ribuan kali kita mengunju8ngi istana-Nya, tapi kerinduan kita tetap tak terobati. Kita masih rindu, karena kita belum pernah menatap wajah Mumal.

 

Demi matahari, bulan dan bintang, demi pepohonan dan bebatuan ciptaan-Nya, jutaan kali kita bersaksi bahwa kita telah melihat-Nya, tapi,sesungguhnya kita baru melihat istana-Nya, itu pun barangkali. Kita tak pernah berjumpa dengan Mumal.

 

Janganlah puas dengan luapan emosi yang kita rasakan saat melihat istana-Nya, saat berada di depan rumah-Nya. Pertahankan kerinduan, masuki istanan-nya, rumah-Nya… seperti Rano.

 

Dalam kegagapan saya, saya hanya dapat bercerita tentang terjadinya Pertemuan Agung. Apa yang terjadi dalam pertemuan itu, tak dapat saya ceritakan. Saya dengar banyak sekali binatang buas yang dijumpai Rano dalam tahap akhir perjalanannya menuju istana. Ada hewan berkepala lima, panca indera….. Ada nafsu, ada amarah, ada keserakahan, ada keterikatan, ada pula keangkuhan. Ada pula yang bercerita bahwa sesungguhnya Rano tak pernah berjalan menuju istana. Setidaknya tahap akhir perjalanan itu tak pernah terjadi, karena istana itu lenyap sebelum terjadinya Pertemuan Agung.

 

Entah, kisah mana yang benar? Rano berjalan menuju istana, atau tidak, entah! Yang pasti, Pertemuan Agung itu terjadi. Tapi, dari mana saya tahu? Bagaimana saya ketahui bahwa Pertemuan Agung itu sungguh terjadi? Saya tahu tentang pertemuan itu setelah bertemu Rano. Ya, setelah bertemu dengan dia dalam perjalanan pulang.

 

Ada yang sudah puas mendengar Kesaksian seorang Saksi. Ada yang belum dan ingin menyaksikan sendiri. Kelompok pertama yang puas mendengar kesaksian adalah para agamawan. Kelompok kedua yang ingin menyaksikan sendiri adalah para rohaniwan.

 

Namun, munculnya keinginan untuk menyaksikan pun terpicu oleh kesaksian-kesaksian yang pernah kita baca, kita dengar sebelumnya. Karena itu, agama harus dilewati, dilakoni – tidak dilepaskan. Seperti halnya kita tak pernah melepaskan jalan, kita hanya mengakhiri perjalanan bila sudah mencapai tujuan. Ya, kita tak pernah melepaskan jalan, karena jalan itu masih ada, tetap ada. Dan, jalan itu menghubungkan tujuan kita dengan segala yang ada di luar.

 

Bila sudah sampai di tujuan, tak ada sesuatu pun yang perlu kita lepaskan. Berada di sana kita begitu sibuk merayakan hidup, sehingga tidak punya waktu lagi untuk memikirkan apa yang perlu dilepaskan, apa yang tidak. Dalam perayaan, segala-galanya terlepaskan dengan sendiri, kau tak perlu melepaskan sesuatu pun. Yang tersisa hanyalah perayaan, hanyalah Pertemuan Agung dengan Sang Khalik.

 

Keraguannya terhadap keberhasilan cinta itu menjadi penghalang. Sesungguhnya pertemuan dengan seorang saksi saja sudah cukup untuk turut menyaksikan, karena seorang saksi senantiasa tengah menyaksikan. Namun, kita harus bertemu, tak cukup membaca tentang dirinya lewat kisah-kisah yang sudah tertulis.

 

Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh seorang Master, seorang Sadguru, Guru Sejati, Bagaimana? Sekian banyak orang yang datang dan bertanya. Apa itu meditasi? Sang Guru membisu, ia tidak mau jawab. Seorang murid bertanya. Kenapa Guru, kenapa kau membisu? Apa salahnya menjelaskan apa itu meditasi?

Sang Bhagavan menjawab, Apa gunanya menjelaskan apa itu cahaya, kepada orang-orang buta? Menjelaskan cahaya kepada orang buta justru dapat menyesatkan mereka. Sekadar penjelasan, sekadar pengetahuan sering kali membuat kau merasa tahu, sudah melihat, padahal bagaimana seorang buta dapat melihat?

Kebutaan itu harus diobati dulu. Kemudian, penjelasan tentang cahaya tidak penting lagi, tidak dibutuhkan lagi. Kita dapat melihat sendiri.

Saat ini, kita terbebani oleh penjelasan, oleh pengetahuan. Dan, kita berpikir bahwa sekadar pengetahuan sudah cukup. Padahal, bagi seorang buta, pengetahuan tentang cahaya sungguh tidak cukup, bahkan tidak berguna. Pengetahuan tentang meditasi pun tidak berguna, apalagi pengetahuan tentang cinta – tidak bermakna. Sang Buta harus diobati, kemudian meditasi akan terjadi sendiri, cinta akan bersemi sendiri.

Kemudian, masih bersama Sang Guru, siswa tadi melihat ada seorang yang datang. Dia adalah seorang pencari, seorang talib, bukan talib-taliban, tetapi Talib Sejati, Talib yang tidak menodai makna Talib. Aku sulit bermeditasi, teach me how to meditate. Ajarkan padaku, bagaimana bermeditasi…

dan, Sang Guru pun melirik ke siswanya, Ia siap… Kemudian ia memanggil orang itu, Datanglah dekat aku… Maka, terjadilah meditasi Dekati aku… dan terjadilah meditasi.

 

Lain bahasa Siddharta, lain pula bahasa Isa. Siddharta berkata, Dekati aku. Isa berkata, Ikuti aku. Kata Mustafa, Aku rasul. Kata Mansur, Aku kebenaran. Krishna berseru, sesungguhnya Aku dan kamu sama, Aku tahum kau tidak tahu.

 

Tunggu sebentar Rano. Beri aku waktu untuk mempersiapkan diri. Lagi pula aku harus membawa sedikit bekal untuk perjalanan.

Tunggu sebentar, tunggu sebentar, kemudian sebentar berubah menjadi dua bentar, tiga bentar, dan seterusnya. Kita sering mendengar, Aku memang senang sekali dengan hal-hal spiritual, dengan segala yang berbau rohani… tapi tunggu sebentar; biarlah aku selesaikan dulu tanggunganku. Dan, tanggungan itu tak pernah selesai. Karena yang menanggung adalah diri kita sendiri. Yang harus diselesaikan bukan tanggungan, melainkan diri sendiri.

Bila sudah mau bertemu Mumal, persiapan apalagi yang kita butuhkan? Bila kita ingin mengakhiri perjalanan, bekal apa pula yang kita bicarakan?

Aku ingin menyucikan dulu diriku sebelum bertemu dengan-Nya, katanya. Aku ingin mensucikan diucapkan seolah kita bisa menyucikan! Bila aku bisa menyucikan, bahkan, bila aku tahu apa itu kesucian, kenapa harus menodai diri?

Saat kau mengambil air untuk menyucikan diri, kata Guruku dulu, sadarlah bahwa Yang Maha Menyucikan hanyalah Dia, Dia, Dia… Atas nama Dia, demi kasihnya, basuhilah dirimu dan biarlah Dia yang menyucikan dirimu. Maha Besar Allah, Maha Suci Rabb, sesungguhnya tanpa air dan pasir pun Ia dapat menyucikan diri kita, membersihkan diri kita. Air yang kita ambil sekadar untuk mengingatkan noda-noda yang menempel pada jiwa kita, akan ketakberdayaan kita untuk menyucikan dirimu. Karena itu, berdoalah selalu, Ya Allah, Ya Rabb, atas Nama-Mu Yang Maha Suci, sucikan diriku. Sesungguhnya, niat kita untuk menyucikan diri itu pun muncul berkat Kesucian-Nya, semata-mata atas Kehendak-Nya.

 

Wuzu dalam bahasa Urdu atau wudhu sebagaimana kita menulisnya di Indonesia hanyalah sarana, jelas bukan tujuan. Ibadah pun adalah sarana, bukan tujuan. Yang sedang kita tuju adalah Dia, Dia.. Dan, sarana-sarana itu penting bagi kita, karena kita belum sampai di tujuan. Pernahkah terpikir, sarana apa lagi yang kita butuhkan bila kita sudah sampai di tujuan?

Bila kita memahami Saksi. Kesaksian, dan Yang Disaksikan sebagai Tri-Tunggal – tiga tapi satu, satu tapi tampak tiga – kita sudah sampai! Bila belum, kita belum sampai..

Sesungguhnya Hamir Sumro sudah sampai, hanya saja tidak sadar bahwa dirinya sudah sampai. Sesungguhnya kita pun sudah sampai, hanya saja tidak sadar – persis seperti Hamir Sumro. Kelahiran kita sebagai manusia membuktikan pencapaian kita. Ketaksadaran kita disebabkan oleh kegagalan kita mempertahankan kemanusiaan diri. Kembali pada khitah asal kita, kembali pada takdir kita, maka terselamatlah jiwa kita saat itu juga.

 

Kadang kita masih tidak meyakini ketulusan hati pemandu kita. Kadang kita malah menyangsikan ketulusannya. Namun, bagi seorang pemandu, kesiapan diri kita untuk dipandu sudah cukup. Ia menawarkan jasanya tanpa syarat, tanpa keharusan untuk mempercayai ketulusannya.

Seorang pemandu, seorang Guru Sejati menerima kesiapan diri kita, walau persiapan kita masih belum matang, masih mentah dan jauh dari sempurna.

Sesungguhnya Guru adalah Govind, Govind adalah Guru seperti dinyatakan oleh Kabir. Guru itulah yang sedang kita cari. Ia yang sedang kita cari telah datang dalam wujud Guru kita!

Ia yang telah menyaksikan-Nya, menjadi bukti nyata akan kesaksiannya. Berhentilah mencari bukti-bukti lain. Apalagi bila kita mencari bukti-bukti itu dari mereka yang belum pernah menyaksikan-Nya. Untuk apa mencari bukti di luar diri. Keberadaan kita sudah merupakan bukti akan Kehadiran-Nya!

 

Rano tak akan menunggu lama untuk kita. Ia sedang dalam perjalanan pulang, dan ia mengajak kita pulang bersamanya. Terimalah undangannya, pulanglah bersama dia. Entah kapan lagi kita bertemu dengan seorang Rano. Entah kapan lagi kita menerima undangan serupa.

Seorang Rano tak akan lama bersama kita. Tak bisa, karena dunia kita menggerahkan jiwanya. Kita tak mampu menghadirkan Mumal dalam dunia ini, karena secara kolektif kita masih berpikir bahwa dunia ini adalah dunia kita dan Mumal berada di luar dunia. Secara kolektif kita masih mencarinya di luar sana. Kesadaran kolektif kita membuat gerah para Rano. Mereka tak mampu bertahan lama di sini, karena kesadaran kita juga yang tidak menunjang kehadiran mereka.

 

Kita sering lupa bahwa Yang Maha Mencipta juga Maha Memelihara. Lupa bahwa Yang Maha Memelihara juga Maha Mendaurulang. Kita lupa bahwa tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa Kehendak-Nya.

Bila Sumro siap, sudah pasti ada yang diutus untuk memandunya. Bila suatu bangsa siap, datanglah pemandu. Sungguh malang bangsa yang tidak dikirimi utusan atau pemandu lagi.

Sungguh malang umat yang dibiarkan berjalan sendiri tanpa panduan, atau barangkali setiap bangsa, setiap umat, tidak hanya pernah, namun selalu dikirimi utusan. Lain perkara bila justru ada yang menolak, tidak menerima kiriman-Nya.

 

Mumal belum mengutus Rano. Rano memaksakan kehendaknya, maka ia harus berpisah dari Mumal. Kadang, dalam ketidaksadaran kita membenarkan perpisahan itu. Kita pikir diri kita sudah siap berjalan sendiri..

Berjalan sendiri? Setelah bertemu dengan Mumal, masih adakah sesuatu di dalam diri kita yang dapat berjalan sendiri? Masih adakah sesuatu yang terpisah dari Mumal? Masih adakah diri kita? Masih adakah aku, kau?

Bila aku masih ada, sesungguhnya pertemuan dengan Mumal sudah berakhir. Kita mengakhirinya sendiri dengan memunculkan diri kita.

 

Hidup bebas dalam dunia tidak menjamin kebebasan bagi jiwa. Sesungguhnya, dunia ini sendiri merupakan kurungan bagi jiwa. Jiwa kita jauh luas daripada dunia di mana kita tinggal. Dunia kita sangat sempit, dan menyesakkan jiwa. Bila ingin hidup bebas, kita harus membiarkan jiwa kita mwnciptakan du nia baru, dunia yang luas di mana ia dapat bernapas lega.ini yang sedang dikerjakan oleh para nabi, utusan, mesias, avatar, dan buddha. Mereka sedang menciptakan dunia baru di mana mereka dapat bernapas lega. Ya, di mana mereka dapat bernapas lega. Dan bila kita hidup sezaman dengan mereka, kelegaan itu akan kita rasakan.

Hidup sezaman tidak harus diartikan dalam satu masa yang sama.. bila hidup sezaman dengan mereka yang tidak hidup dalam satu masa yang sama? Sulit bagimu, bukalah mata hatimu. Di sekitarmu pasti ada seorang Rano.. pasti. Berusahalah untuk hidup bersamanya, dan yang harus merasakan kebersamaan bukan saja ragamu, tapi jiwamu.

 

Pertemuan agung adalah Hak dan Takdir kita semua. Tak ada kekuatan di dunia maupun di luar dunia yang dapat menghalangi Pertemuan itu, karena Kekuatan Tunggal sendiri menghendaki pertemuan itu. Maka siapa yang dapat menghalanginya? Ya, kita dapat menundanya.

Dan, selama ini kita telah menunda pertemuan itu. Kita, pikiran kita, kemalasan kita telah menunda pertemuan yang seharusnya sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam ketaksadaran kita, ingatan tentang pertemuan yang pernah terjadi kita anggap cukup. Kadang bacaan tentang pengalaman seorang Rano dari masa silam sudah memuaskan kita.

Kita malas, kita takut, kita ragu… kita tidak berani melangkah menuju Kak. Kita tidak berani menafikan diri secara total, tidak menyisakan apa-apa. Karena apa-apa yang kita rasa kita miliki saat ini kita anggap sangat berarti, sangat bermakna.

 

Sesungguhnya Rano membohongi mereka. Tidak ada jalur alternatif, tidak ada jalan singkat. Sesungguhnya tak ada jalan, yang dibutuhkan hanyalah kesadaran akan keberadaan Kaka, dan kita akan berada di Kak dalam sekejap itu pula. Rano membohongi mereka, supaya mereka melepaskan peta dan bersedia melangkah, untuk meniti jalan ke dalam diri. Peta memang baik untuk dipelajari, tapi mempelajari peta saja tak dapat mengantar kita ke tujuan.

 

Di awal perjalanan, kita harus membedakan Kak dari pantai seberang ini di mana kita tinggal. Dunia adalah dunia, dan akhirat adalah akhirat. Dunia untuk sesaat, akhirat untuk selamanya. Tapi, apa iya, apa betul akhirat untuk selamanya? Bila memang demikian, bagaimana Rano bisa kembali dari akhirat dan berbicara tentang akhirat? Bagaimana ia dapat menyampaikan berita tentang akhirat?

 

Ia yang sedang berupaya untuk mendamaikan dunia sesungguhnya terjebak dalam permainan ego-nya sendiri. Damaikah diri kita sehingga kita ingin mendamaikan dunia? Damaikah diri kita sehingga kita dapat mendamaikan dunia? Dalam kedamaian diri kita, dunia menjadi damai. Bila kita mengaku sudah damai dan masih melihat ketakdamaian dalam dunia, sesungguhnya kita sendiri belum damai. Ketakdamaian dunia hanya terlihat bila diri kita belum damai.

Saat diri kita menjadi damai, saat kita berdamai dengan diri sendiri, niat untuk mendamaikan dunia pun sirna. Karena, saat itu kita tak mampu melihat ketakdamaian lagi. Yang terlihat hanyalah kedamaian, kedamaian, kedamaian.

Untuk mendamaikan dunia, terlebih dahulu kita harus damai dulu. Pada saat itu, kita akan mendengar bisikan Mumal, Lakoni hidupmu untuk menghiburku.melakoni hidup demi Mumal, untuk menghibur-Nya, dapat disimpulkan sebagai hidup penuh arti atau hidup sia-sia – peduli amat! Kita bisa dianggap Duta Damai atau Pembawa Kekacauan – untuk apa dipikirkan?

 

Kita boleh membantu, boleh melayani, tetapi janganlah membiarkan emosi kita terlibat. Keterlibatan kita secara emosional menjatuhkan derajat kita… kemudian kita tak dapat lagi mengangkat diri yang jatuh. Untuk mengangakat mereka yang jatuh, mereka yang berada di bawah, kita harus berada di atas. Untuk membantu mereka yang tidak sadar, kita harus dalam keadaan sadar. Untuk membantu mereka yang hanya dalam duka, kita harus berada di atas perahu suka. Untuk membantu, yang kita butuhkan bukanlah rasa kasihan, tapi kasih.

 

Logat mereka berbeda; bahasa mereka beda; penampilan para utusan pun berbeda-beda. Beda pula cara merayu Rano. Kadang, ia diberi nasehat; kadang diberi peringatan; kadang dirayu; kadang ditegur; kadang dimarahi; kadang disayang. Setiap cara melahirkan satu paham, satu agama… Itulah kisah di balik kelahiran agama-agama dunia.

 

Dunia kita ada karena Dia ada. Semesta ada karena Allah ada. Kak ada karena Mumal ada. Renungkan: Kata Dunia dapat kita ganti dengan Alam Semesta atau pun Kak. Kata Dia dapat kita ganti dengan Allah atau Mumal. Tapi kata ada tak dapat kita ganti. Bila kata ada kita ganti, kalimat kita akan kehilangan arti. Ketahuilah ada itulah Yang Maha. Allah Ada. Bapa di Surga Ada. Sang Hyang Widi Ada.Tao Ada. Buddha Ada… Ini Ada. Itu Ada. Sebutan bagi Yang Ada dapat berubah, tapi Yang Ada tak pernah berubah.

 

Persis ini yang terjadi setiap kali Ia mendatangi kita dengan busana yang berbeda, padahal busana hanyalah bagian kecil dari Kebenaran Diri-Nya. Kita terjebak dalam perbedaan yang disebabkan oleh busana, busana pakaian, busana badan, busana bahasa, busana budaya, busana adat-istiadat. Ironisnya, dalam keterjebakan itu kita masih bersikukuh bahwa hanyalah diri kita yang benar, hanyalah diri kita yang mengenal Kebenaran Yang satu Itu!

 

Menerima Semesta sebagai wujud Allah tidak berarti menolak Yang Tak Terwujud. Menerima Semesta berarti menerima semua – menerima Wujud dan Yang Tak Terwujud. Rano menerima seekor unta milik Mumal, tetapi menolak Mumal. Menerima Onta tidak salah; menolak Mumal adalah kesalahan. Seorang pecinta menerima Kekasihnya sebagai satu keutuhan, karena Sang Kekasih memang Utuh Ada-Nya. Ia Tak Terbagikan.

 

Pertanyaan kesalahan apa masih berasal dari ego manusia. Penjelasan apa pun tak membantu. Saat bertanya bagaimana memperbaiki kesalahan, kita sudah menyadari kesalahan diri. Kemudian jawaban yang kita peroleh baru membantu.

 

Kesiapan diri Rano, kesadarannya mengundang bantuan. Dan, bantuan bisa berupa apa saja.. Berupa sosok seorang Murshid, berupa kicauan burung, berupa suara alam. Wujud bantuan memang beda, bisa berbeda, namun apa yang terjadi lewat bantuan selalu sama…

 

Untuk kesekian kalinya biar saya ulangi lagi. Jumlah orang yang mengikuti kita tidak membuktikan pencapaian kita.kuantitas tidak membuktikan kebenaran kita.

 

Agama-agama kita pun masih sibuk mempersoalkan Wujud dan Tanpa Wujud. Angin berwujud atau tidak? Tapi angin berada di dalam wujudmu, berarti Yang Tak Berwujud pun dapat berada di dalam wujud.

Mutiara Quotation Buku Neo Psychic Awareness

 

Judul : Neo Psychic Awareness

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2005

Tebal : 197 halaman

 

Mutiara Quotation Buku Neo Psychic Awareness

 

Ilmu medis memiliki standar tertentu untuk kemampuan persepsi kita. Mata mengandaikan gelombang tertentu. Telinga memiliki skala, sehingga hanya gelombang dengan frekuensi tertentu yang bisa didengar olehnya. Hal yang sama berlaku untuk peraba, penciuman, dan perasa.

Manusia memiliki kemampuan luar biasa, yang dalam diri kebanyakan orang masih terpendam sebagai sebuah potensi. Yang dimaksudkan adalah psychic awareness atau kesadaran psikis. Lapisan kesadaran ini sering dikaitkan dengan sesuatu yang berbau mistis, gaib, dan sering disamakan dengan indra keenam.

Buku ini memaparkan bahwa kita bisa mengembangkan kesadaran psikis tersebut, dan terdapat banyak latihan untuk itu. Dengan latihan tersebut akan terjadi perluasan kemampuan indrawi kita, dan sebagai akibat berkembangnya kesadaran psikis kita, kita akan menjadi lebih intuitif, lebih peka, dan dapat menggeser keterbatasan persepsi indrawi kita yang biasa.

Dengan kemampuan yang baru itu, kita juga diajak untuk membangun Indonesia Baru, mulai dengan dan dari diri kita sendiri.

 

Lapisan Kesadaran Psikis.

Perkembangan lapisan psikis membuat kita menjadi lebih intuitif. Tetapi intuisi bukanlah indera keenam, ketujuh, atau entah keberapa. Kita memahami intuisi sebagai hasil dari optimalisasi semua indera; perluasan dari indera-indera yang berjumlah lima itu. Perkembangan lapisan kesadaran psikis menggeser standar-standar buatan manusia. Bila dikaitkan dengan indera penglihatan, mata kita menjadi lebih peka dan dapat melihat lebih jauh, atau melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh umum.

Lapisan kesadaran psikis menggunakan energi di dalm diri kita sendiri untuk perkembangannya. Di sinilah letak perbedaannya antara perkembangan kesadaran psikis dan koreksi terhadap indera. Koreksi terhadap indera dilakukan oleh para ahli media dengan menggunakan alat-bantu, obat-obatan dan lain sebagainya. Perkembangan kesadaran psikis dilakukan oleh diri sendiri. Bantuan dari luar dibutuhkan sekadar untuk mengingatkan diri bahwa kita mampu mengembangkan diri. Karena itu, untuk sementara waktu kita boleh mengartikan perkembangan kesadaran psikis sebagai perkembangan diri. Untuk itu, kita harus mengubah mindset kita: Aku bukanlah panca indera, aku bukanlah badan ini. Diriku bersemayam di dalam badan ini dan menggunakan panca indera untuk keperluannya. Silakan menyebut diri ini jiwa, roh, ruh, soul atau apa saja.terserah. Itulah Aku!

 

Pembersihan Diri

Persis seperti indera fisik, psikis pun membutuhkan pembersihan. Sebagaimana pendengaran Anda terganggu bila telinga Anda penuh kotoran; demikian pun perkembangan kesadaran psikis terganggu, bila diri Anda penuh dengan sampah pikiran dan emosi. Karena itu, demi perkembangan diri, atau lebih tepatnya untuk memfasilitasi perkembangan diri, kita perlu membersihkan diri.

Latihan Pertama hal 4-5.

 

Pengalaman-pengalaman Psikis.

Kebiasaan dalam keseharian kita, ketenangan kita, cara kita menghadapi suatu situasi dapat memfasilitasi perkembangan psikis, perkembangan diri.

  • Kadang dalam keadaan tidur, kita mengalami perluasan kesadaran tanpa disadari. Kita merasa melihat atau mendengar sesuatu, mendengar sebuah dialog misalnya, kemudian kita terjaga dan pengalaman itu kita anggap sebagai sebuah mimpi. Padahal, apa yang kita lihat atau dengar itu barangkali benar-benar terjadi. Dalam keadaan tidur, jiwa kita dapat menembus batas-batas buatan badan, dapat menembus kesadaran jasmani itu sendiri.

  • Kadang kita mengharapkan hubungan dengan seseorang petinggi atau seseorang yang sulit dijangkau, kemudian terjadi sesuatu atau kita berkenalan dengan seseorang yang dapat menghubungkan kita dengan orang itu, padahal kita tidak melakukan sesuatu, tidak berusaha untuk itu… seolah terjadi begitu saja.

  • Sesungguhnya kita semua pun sering mengalami telepati. Anda mengingat seseorang dan tidak tahu cara untuk mengontaknya…. tiba-tiba orang itu mengontak anda.

  • Pengalaman lain lebih sering terjadi: Di suatu pesta atau di tempat umum seperti mal, Anda memerhatikan seseorang bukan kenalan. Tiba-tiba ia menoleh ke belakang dan melihat Anda, terjadi kontak mata. Kejadian yang barangkali sudah sering terjadi seperti ini dapat digunakan untuk melatih kemampuan kita bertelepati.

Latihan Kedua hal 9.

Latihan Ketiga hal 10.

Selain clairvoyance, clairaudience dan telepathy, masih ada yang disebut precognition, melihat sesuatu yang akan datang. Banyak orang menggunakan kemampuan precognition untuk meramal. Mereka malah menjadi peramal profesional dan berjalan di tikungan jalan. Tentu saja tidak setiap ramalan mereka tepat, karena precognition bukanlah kemampuan yang melekat pada diri kita 24 jam sehari. Hanya pada saat-saat tertentu, ketika kita dalam keadaan tenang, kemampuan ini muncul ke permukaan.

Banyak sekali dukunj dan peramal yang bhidupnya tidak tenang. Rumah tangga mereka sendiri berantakan. Dalam keadaan seperti itu, jelas mereka tidak mampu mengembangkan kemampuan psikis mereka. Bila masih bertahan sebagai dukun atau peramal, sesungguhnya mereka membohongi diri dan masyarakat.

Ada perbedaan yang jelas antara precognition dan mengetahui masa depan. Precognition berarti kita bicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang pasti, sedangkan mengetahui masa depan berarti kita bicara tentang kepastian tunggal.

 

Otak Manusia.

Dunia medis sudah mengakui kemampuan dan kedahsyatan otak manusia. Diketahui pula bahwa umumnya kita tidak menggunakan lebih dari 5-10% dari kemampuannya. Sisa otak dikaitkan dengan alam bawah sadar.

Kadang kita mengalami sesuatu dan merasakan bahwa pengalaman itu bukan sesuatu yang baru bagi kita… rasanya pernah terjadi, atau setidaknya pernah terpikir sebelumnya; atau pernah terlihat dalam mimpi. Ini yang umumnya disebut sebagai pengalaman deja vu. Bahakan cetak biru keseluruhan hidup kita dengan segala kemungkinannya pun ada di sana. Bahkan, keadaan-keadaan di luar, dalam segala bidang, asal masih ada kaitannya dengan hidup kita, ada pula di dalam cetak biru tersebut.

Sesungguhnya, saat ini pun otak kita sudah bekerja, sudah berfungsi 100%. memang baru sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan sehari-hari. Sisanya cuma untuk menyimpan data-data lama. Makin besar persentase yang digunakan dalam keseharian, walau hampir tak pernah melebihi 10%, membuat manusia makin cerdas, intelegen, makin sharp, makin tajam.

Manusia seperti itulah yang menolak perbudakan. Manusia seperti itulah yang berkeinginan untuk hidup bebas merdeka. Manusia seperti itulah yang btidak mau lagi dikuasai oleh tradisi lama yang sudah usang, oleh doktrin dan dogma yang sudah tidak sesuai dengan martabat dan kesadaran manusia masa kini.

Mungkinkah kita menggunakan lebih besar persentase otak untuk keseharian? Meungkin, sangat mungkin, tetapi untuk itu kita harus menciptakan space. Persis seperti komputer, memori harus dibersihkan dulu. Program-program yang tidak terpakai harus di-delete, dihapus.

Otak yang penuh tidak dapat berpikir lagi. Ini yang bterjadi pada kaum teroris. Otak mereka diisi dengan segala macam memori tentang masa lalu, sehingga mereka tidak dapat hidup dalam kekinian. Mereka tidak dapat berpikir tentang sesuatu yang mereka anggap lain dari isi kepala mereka.

Latihan Keempat: hal 16-17.

 

Kesadaran Spiritual.

Sampai kini masih banyak terjadi salah kaprah mengenai arti spiritualitas. Sering kali spiritualitas dikaitkan dengan ritual keagamaan, maka timbul ungkapan seperti Spiritualitas Muslim, Spiritualitas Kristiani, Spiritualitas Hindu, Spiritualitas Buddhis, dan entah apa lagi, sehingga spiritualitas pun terkotakkan seperti halnya agama.

Dengan melaksanakan akidah agama. Anda dapat beragama tanpa harus berspiritual. Kita menjadi orang yang dipandang taat beragama, tetapi spiritualitas kita hampa.

Namun, bila Anda berspiritualitas, perilaku kita biasanya secara otomatis menunjukkan keberagamaan, karena ketika spiritualitas atau perkembangan jiwa diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan sendirinya hidup kita akan memiliki warna dan aroma keagamaan atau religiositas, religiusness.

Ketika keberagamaan di dalam diri kita berbuah, terjadilah perkembangan jiwa. Itulah spiritualitas. Namun, keberagamaan tidak selalu berbuah. Ada kalanya perkembangan jiwa tidak terjadi, walau seseorang sudah menjalani disiplin religi sebagaimana dianjurkan sesuai dengan kepercayaannya. Lahan jiwa yang penuh ilalang kebencian, keserakahan, keangkuhan, keterikatan, dan lain sebagainya, tidak layak untuk ditanami sesuatu. Ilalang itu harus dicabut terlebih dahulu. Lahan jiwa mesti dibersihkan dan dipersiapkan supaya cocok untuk ditanami sesuatu.

Rasa jenuh yang kita rasakan terhadap meditasi atau latihan-latihan yang dapat mengantar kita pada lapisan kesadaran yang lebih tinggi harus dipahami sebagai tarikan dari lapisan kesadaran rendah, karena lapisan kesadaran rendah itu tidak pernah lenyap, ia tetap eksis, tetap ada sebagai kesadaran rendah. Bila sudah memasuki Alam Meditasi, kita akan berada di atas alam pikiran dan perasaan. Rasa jenuh atau rasa apa pun tidak muncul lagi, atau tidak terasakan lagi. Meditasi membebaskan kita dari dualitas, dari segala macam dualitas.tidak ada duka, namun suka pun tidak ada, karenakeberadaan suka akan menghadirkan pula duka dalam hidup kita.

Kebhinekaan atau pluralitas merupakan sebuah bkeniscayaan. Adakah dua orang, dua makh;luk, atau dua helai daun yang persis sama? Sama dalam bentuk, ukuran, sifat hingga jumlah sel dan DNA? Tidak ada. Keberadaan, Tuhan, Allah, atau apa pun sebutan Anda menghendaki kebhinekaan. Tidak memahami Kehendak-Nya sama dengan tidak mampu membaca ayat-ayat-Nya yang bertebaran di mana-mana. Menolak Kehendak-Nya sama dengan menolak-Nya.

Jadi, secara ringkas saya akan mengatakan spiritualitas adalah:

  • Kemampuan untuk melihat Yang Tunggal di balik Kebhinekaan, dan

  • Kesadaran bahwa tidak sesuatu pun terjadi di luar Kehendak-Nya, maka Kebhinekaan pun harus dihargai, dihormati, dan diterima sebagai Kehendak-Nya.

Kita sangat bergairah saat mendalami sesuatu yang baru, namun beberapa lama kemudian kegairahan itu mulai melentur. Dalam kaitannya meditasi, kegairahan awal itu biasanya berlanjut hingga tiga bulan saja. Setelah itu, kita membutuhkan disiplin diri, ketekunan, dan barangkali support group untuk membantu kita bertahan, hingga pada suatu ketika timbul kesadaran dari dalam diri dan kesadaran itu menjadi kekuatan diri kita untuk bertahan.. untuk mempertahankan diri itu sendiri.

 

Percaya Diri.

Percaya diri tercermin juga pada penerimaan atas kegagalan dan melampaui rasa kecewa yang disebabkannya dalam sekejap. Ia tidak berhenti, tidak pernah berhenti. Ia bekerja terus. Suatu bangsa menjadi besar karena percaya diri bangsa itu sendiri terhadap nilai-nilai luhur yang mendasari kebangsaanya. Krisis utama yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini sesungguhnya krisis percaya diri, krisis spiritual. Kita sudah melupakan nilai-nilai luhur yang mendasari kebangsaan kita. Nilai-nilai luhur itu tidak diimpor dari Barat, Arab, Cina, maupun India. Milai-nilai luhur itu milik kita sendiri, yang kemudian diterjemahkan, dijabarkan oleh para founding fathers kita dalam lima butir Pancasila. Lihat saja apa yang terjadi pada bangsa kita setiap kali kita melupakan nilai-nilai sendiri dan mulai membanggakan nilai-nilai impor yang tidak sesuai, tidak selaras dengan tabiat bangsa kita.

Manusia bukanlah sesuatu yang biasa. Ia adalah hasil dari evolusi panjang yang terjadi dalam alam yang tidak diketahui ujung serta pangkalnya, semesta yang tiada awal dan tiada pula akhirnya. Bukan hanya sekadar kepekaan yang harus dimiliki manusia. Ia harus sadar akan jati dirinya sebagai manusia, sebagai makhluk yang bertanggung jawab untuk memperindah bumi ini, dan oleh karenanya peka terhadap segala sesuatu yang mengotori atau dapat mengotorinya.

Ya, sadar dan peka. Itulah takdir manusia. Bila sekadar kepekaan, makhluk-makhluk lain pun memilikinya… perhatikan burung. Sebelum bertelur, mereka membuat sarang. Untuk itu mereka memilih pohon di mana mereka akan membuat sarang. Pohon pilihan itu hampir dapat dipastikan tidak akan kena petir. Kenapa bisa begitu? Karena setiap pohon mengeluarkan gelombang elektro magnetis yang dapat dideteksi oleh burung. Mereka juga dapat merasakan intensitasnya, sehingga dengan mudah mereka menghindari gelombang yang dapat mengundang petir.

Gajah-gajah di Phuket Thailand meninggalkan kandang mereka dan lari menuju bukit sebelum gelombang tsunami memorak-porandakan seluruh kawasan wisata itu. Fenomena lain yang sangat menarik. Binatang-binatang yang berada di habitat asalnya jarang jatuh sakit. Bila sakit mereka dapat menyembuhkan diri.mereka memiliki kemampuan self healing yang luar biasa. Jauh melebihi kemampuan manusia. Binatang-binatang yang sama, bila dikeluarkan dari habitat asalnya, dikurung di kebun binatang, lebih sering jatuh sakit. Kemampuannya untuk self healing pun berkurang.

Kodrat manusia adalah kepekaan berkesadaran. Itulah potensi diri yang mesti dikembangkannya. Untuk itu manusia harus percaya diri. Ia harus percaya pada ketakterbatasan dirinya. Ia harus melampaui kesadaranjasmani yang serba terbatas, utntuk menggapai kesadaran rohani yang tidak terbatas.

Untuk menjaga kesehatan manusia, akan dibutuhkan lebih banyak sentra meditasi, atau apa pun sebutannya, untuk menemukan jati diri dan mengembangkannya. Saat ini, kita sedang melakukan sesuatu yang baru akan menjadi populer 50-an tahu kemudian. Karena itu, tidak heran bila kita membingungkan beberapa pihak yang tidak mengikuti perkembangan zaman.

Mereka bingung ketika kita bicara tentang kesehatan holistik, meditasi, spiritualitas, dan kemudian mengaitkannya dengan keadaan negara dan bangsa. Mereka tidak sadar bahwa hanya manusia yang segat yang dapat menyehatkan bagsa dan negaranya. Mereka juga tidak sadar bahwa kesehatan holistik tidak hanya menyentuh lapisan fisik saja, tetapi juga lapisan-lapisan lain: mental, emosional, spiritual, bahakan sosial, finansial dan sebagainya. Manusia harus memercayai dirinya sebagai pribadi yang utuh.

 

Pribadi yang Utuh.

Adakah yang salah dengan penanganan kita selama ini? Adakah yang salah dengan pemahaman kita selama ini? Ya, ada. Kita tidak pernah melihat manusia sebagai pribadi yang utuh. Kita memisahkan masa kecil dari masa remaja dan masa remaja dari masa tua. Kita membedakan kelahiran dan kematian seolah keduanya adalah kubu terpisah, yang tidak pernah bertemu. Padahal, seorang anak kecil pun menimpan di dalm sanubarinya, bukan saja keceriaan seorang remaja, tetapi juga kematangan seorang dewasa dan kebijaksanaan orang tua. Seorang remaja pun demikian, masih ada seorang anak dalam dirinya yang ingin bermain, bercanda. Dan, seorang tua pun masih memiliki semangat remaja yang sesungguhnya tidak pernah padam di dalam dirinya. Karena tidak memahami hal ini, kitra sengsara. Kita hidup setengah-setengah. Kita tidak pernah hidup sepenuhnya.

Seorang remaja tengah membunuh anak kecil di dalm dirinya. Seorang dewasa berupaya untuk melupaka keremajaannya. Dan, seorang tua tenggelam dalam ketuaannya. Pertumbuhan adalah esensi masa kecil. Semangat yang membara adalah hakikat masa remaja. Kematangan adalah ciri orang dewasa, dan kebijakan adalah pertanda seorang tua. Kadarnya boleh beda. Kebijakan dalam diri seorang anak kecil barangkali tidak seperti dalam diri orang tua. Barangkali, karena tidak selalu demikian. Kadang-kadang, seorang anak kecil pun terbukti lebih matang daripada seorang dewasa dan lebih bijak daripada orang tua.

Perkembangan pribadi manusia secara utuh, sempurna, tidak akan terjadi bila hanya otaknya yang diasah. Program-program yang banyak disajikan di pasar pun baru menyentuh lapisan otak, walau sudah menggunakan label EQ,SQ, dan entah QQ apa lagi.

Maksud kita dengan perkembangan pribadi secara utuh adalah: otak berkembang, namun kepekaan indera-indera lain pun bertambah. Kepekaan bertambah, namun kesadaran pun meningkat. Bagaimana terjadinya perkembangan itu? Kita memang muali dari otak, karena otak merupakan titik awal. Ya titik awal, bukan titik akhir. Bukan pula satu-satunya titik.

Otak kita mengerjakan lebih dari 15 milyar sel dalam seluruh tubuh kita. Kurang-lebih itulah jumlah sel dalam tubuh manusia. Setiap sel sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, percikan listrik yang dapat berubah menjadi rado waves, gelombang suara. Karena itu, hampir semua agama bicara tentang cahaya sebagai awal kejadian. Yang dimaksud sesungguhnya kejadian sebagaimana kita memahaminya selama ini. Pemahaman kita dapat berkembang, sehingga kesimpulan-kesimpulan lama mesti dikoreksi. Electric impulse, rado waves itu seperti petir: pertama kita melihat cahayanya, kemudian mendengar suaranya. Saat melihat cahaya, kita sudah dapat memastikan sesaat lagi akan mendengar suara.

Fenomena petir ini berlangsung pula pada manusia. Setiap pikiran yang muncul dalm otak kita juga merupakan electric impulse. Kemudian electric impulse itu berubah menjadi radoa waves, gelombang suara. Dan, apa yang terpikir pun terucap oleh kita. Namun, ada yang membedakan manusia dengan petir. Ini pula yang membedakan manusia dari hewan. Cahaya maupun suara dalm petir mengkuti hukum alam dengan kecepatan tertentu. Tidak demikian dengan manusia. Jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakannya dapat diubah; dapat diperpanjang; dapat dihapus menjadi nihil aatu tak terbatas.

Manusia yang telah berkembang pribadinya secara utuh dapat mengendalikan pikirannya. Kapan harus diterjemahkannya menjadi ucapan, kapan menjadi tindakan, dan kapan dibiarkan sebagai pikiran saja. Tidak setiap petir pikiran-nya harus bersuara. Ini yang membedakan diri manusia dari manusia-manusia lain yang belum berkembang seutuhnya.

Dalam hal ini perlu diingat bahwa jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakan dapat digunakan untuk menimbang dan mengevaluasi keadaan, sehingga kita tidak selalu reaktif seperti binatang – dihantam, mengahntam kembali. Kita menjadi responsif, bertidak secara sadar. Seorang manusia yang berkembang pribadinya secara utuh menjadi responsif.

Hanya orang-orang yang pribadinya sudah berkembang secara utuh yang dapat membantu kita untuk mengembangkan diri kita secara utuh. Berada dekat dengan orang-orang seperti itu, kadang kita tidak perlu menunggu waktu untuk disapa, untuk diajak bicara atau mendengar. Bila electric impulse dalam diri kita bergetar pada gelombang yang sama dengan manusia yang utuh itu, tanpa ucapan pun kita dapat menangkap pemikirannya. Dalam tradisi kuno, ini yang disebut Shaktipaat. Dalam tradisi zen dikaitkan dengan transmisi kesadaran diri Sang Guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah sebuah ritual, tetapi suatu kejadian yang hanya terjadi bila Guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama.

Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah penurunan kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa electric impulse.

Seorang Guru menyadari keterbatasan itu, maka ia menciptakan keadaan di mana para siswa bisa bertahan dengan penuh kesabaran untuk kejadian itu. Apa pun yang telah disampaikannya lewat wejangan dan tulisan tidak berarti dibanding apa yang ingin disampaikannya lewat transmisi energi, lewat shaktipaat. Kendati demikian, shaktipaat tidak dapat dipaksakan. Memang dapat dipercepat dengan mempersiapkan diri kita supaya bergetar pada gelombang yang sama dengan sang Guru, tapi cara untuk mempersiapkan diri pun diperoleh dari sang Guru, karena ternyata kesadaran kita tidak perlu tinggi untuk berada di gelombang yang sama dengan sang Guru. Kesadaran itu justru meningkat setelah berada di gelombang yang sama. Berada pada gelombang yang sama dengan sang Guru, kita menjadi bagian dari pengembangan dirinya yang tak pernah berhenti. Sang Guru berkembang, kita punikut berkembang. Kita tidak perlu bersusah-payah, tidak perlu melakukan sesuatu kecuali mempertahankan keberadaan kita pada gelombang yang sama dengannya.

Pribadi yang utuh bagaikan bara api. Membara dengan semangat; itulah sifat pribadi yang utuh. Dekati dia, dan kita pasti ikut terbakar. Kemudian tidak ada lagi yang membedakan diri kita dengan dia. Dia bara api, kita pun bara api – sama. Tidak ada yang rendah, tidak ada yang tinggi. Tidak ada guru, tidak ada siswa. Tidak ada murshid, tidak ada murid. Yang ada hanyalah api, api, api.. Api Cinta, Api Kasih, Api Semangat, Api Keutuhan dan Kesempurnaan. Itu saja. Tapi, jangan lupa: Jika pribadi utuh menjadi berkah dan dapat mengutuhkan diri kita, pribadi-pribadi yang btidak utuh pun dapat menjadi serapah dan mengotak-ngotakkan kita. Ini yang lebih sering terjadi di sekitar kita saat ini.

 

Pengaruh Luar.

Saat saya sedang ngegossip dengan penuh semangat, saat itu, electric impulse pikiran saya sudah berubah menjadi gelombang radio, suara. Segala cacian yang saya lontarkan kepada Anda, terdengar jelas oleh setiap orang yang berada di dekat saya. Anda tidak mendengarnya dengan cara itu, karena Anda tidak di sekitar saya. Sesungguhnya Anda tetap mendengar nya dengan cara lain. Radio waves atau gelombang radio adalah energi dan energi tidak pernah musnah. Radio waves yang telah menjelma menjadi suara memang sangat singkat masa hidupnya sebagai suara, namun ia tidak mati. Ia berubah kembali menjadi radio waves dan menuju sasarannya di mana pun sasaran itu (dalam hal ini Anda) berada.

Anda tetap saja mendengarkan setiap cacian yang saya sampaikan, walau dalm bentuk radio waves, bukan dalam bentuk suara. Bila Anda memiliki kemampuan untuk melakukan decoding terhadap radio waves itu, Anda dapt mendengarkan kata yang saya ucapkan. Bila tidak, radio waves itu akan diterima langsung oleh electric impulses dalam diri Anda dan memengaruhinya, maka kadar gula darah Anda pun pasti meningkat, tekanan ikut meningkat… dan telinga Anda memerah. Lain halnya ketika saya sedang memuji atau bercerita tentang Anda dengan semangat positif, dengan cinta, maka terciptalah keadaan hamonious yang luar biasa di dalam diri saya. Irama jantung saya sangat indah. Tekanan darah pun normal, menari-nari ceria, dan electric impulses yang kemudian menjadi radio waves memengaruhi electric impulses di dalam diri Anda secara positif pula. Kesimpulannya, dengan menjelek-jelekkan Anda, sesungguhnya saya mencelakakan diri saya sendiri sebelum mencelakakan Anda. Dengan memuji Anda, saya membahagiakan diri saya sendiri sebelum membahagiakan Anda.

Latihan kelima hal 44.

 

Mengasah Kepekaan Diri.

Menyadari konflik-konflik yang terjadi di dalam diri merupakan cara yang paling efektif untuk membebaskan diri dari segala macam konflik. Dengan cara ini, kita seolah melakukan select all, kemudian tinggal menghapusnya dengan satu perintah delete! Saat ini kita seolah membiarkan konflik-konflik di dalam diri tetap bersarang di sana, karena ada penolakan dari diri kita sendiri untuk melenyapkan semuanya. Penolakan atau keengganan iytu pun sesungguhnya disebabkan oleh konflik. Mau mendalami sesuatu, tapi ada ketentuan yang melarang diriku mempelajari sesuatu dari orang yang beragama lain. Ada keinginan dan ada ketentuan yang berseberangan, maka terciptalah sebua konflik dalam batin.

Dengan penih kesadaran, pelajari alasan-alasan yang menyebabkan konflik di dalam diri, dan kita akan terkejut sendiri. Konflik itu disebabkan oleh orang-orang yang ingin menguasai diri kita dengan memperbudak jiwa kita. Tak seorang pun dapat membebaskan diri kita dari perbudakan itu, bila kita sendiri tidak menghendaki hal itu. Mmemang harus ada modal kepekaan sedikit untuk memahami saat ini kita diperbudak oleh orang-orang, oleh faktor-faktor di luar diri. Dan perbudakan itu dilakukan dengan menciptakan konflik di dalam diri kita.

 

Evaluasi Kepekaan Diri.

Hal 48-52.

Neo Psychic Awareness. Latihan Inti no 1 hal 53 – 59.

 

Pribadi Utuh.

Hanya dengan mengasah otak saja, hanya dengan menimba ilmu saja, hanya dengan membaca berbagai kitab saja, kita tidak menjadi pribadi yang utuh.dengan mengasah otak, kita justru mematikan intuisi di dalam diri. Kita menjadi sangat tergantung pada informasi yang kita peroleh dari luar. Kepercayaan terhadap Sumber segala Informasi yang Ada di dalm diri justru berkurang. Makin banyak informasi yang ada di dalam otak, makin tegang kita saat berpikir. Dalam keadaan tegang itu, informasi yang ada dalam otak diolah, ditimbang, dirumuskan, disimpulkan, dan digunakan sesuai keperluan. Karena itu mau jungkir balik seperti apa pun kecerdasan saya sudah pasti beda dari kecerdasan Anda. Informasi di gudang otak saya dan otak anda tidak mungkin persis sama. Walau belajar dan lulus dari satu sekolah yang sama dengan nilai yang mirip pula, pemahaman saya belum tentu sama dengan pemahaman Anda. Kemampuan otak saya u ntuk mengolah informasi saat saya membutuhkannya pun pasti beda. Karena itu, saya tidak dapat merasakan persatuan dan kesatuan dengan Anda bila landasannya hanyalah ilmu. Dengan memakai otak sebagai dasar , saya tidak dapat berdiri bersama anda di atas panggung yang sama.

Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus.

Kemampuan untuk mengenal fakta datang dari ilmu. Kepekaan untuk melihat kebenaran berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membantu bagi saya semua pintu ilmu.

Ada kalany dalam keadaan terpepet kita menjadi makin peka. Ada kalanya tegang justru membuat kita lebih kreatif. Saya sering merasakannya. Tentu saja bukan sembarang ketegangan, malainkan ketegangan yang datang sendiri. Pribadi utuh, bukanlah orang yang tidak pernah tegang. Pribadi yang utuh adalah orang yang dapat mengubah ketegangan nya menjadi Energi yang Kreatif. Senantiasa kreatif, orisinal, tidak menyontek – itulah tanda-tanda pribadi utuh.

 

Kreatifitas dan Orisinalitas.

Kreatif, orisinal dan tidak menontek.. Kita tidak bisa menjadi kreatif dan orisinal bila masih sering menyontek. Kebiasaan menyontek bahkan dapat melumpuhkan kemampuan kita untuk berpikir dan mencerna informasi yang diperoleh dari luar.

Banyaknya informasi bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi serapah, karena tindakan kita sudah hampir pasti sesuai dengan jenis informasi yang ada dalam otak. Dengan memilih ya atau tidak berdasarkan informasi yang ada di dalm otak saja, kita juga tidak menjadi kreatif dan orisinil. Menyontek tetaplah menyontek, walau yang disontek otak sendiri. Informasi di dalam otak itu berasal dari mana? Dari apa yang kita baca, kita lihat, kita dengar – bukankah demikian? Lalu bagaimana menjadi kreatif? Bagaimana menjadi orisinil? Berhentilah menyontek! Ya, behentilah menyontek. Jawabannya sesederhana itu.

Latihan keenam hal 66-67.

Doa.

Bagi saya:

  • Energi yang tercipta dari doa, jauh lebih dahsyat, besar, tinggi dan mulia daripada energi yang tercipta dari otot manusia atau alat-alat buatannya. Karena itu, sungguh patut disayangkan bila energi sedahsyat itu saya gunakan untuk kepentingan-kepentingan yang sepele, untuk keperluan-keperluan yang btak berarti.

  • Doa bukanlah sekadar ritus yang saya lakukan sesuai dengan anjuran agama, tetapi esensi dari agama serta keagamaan saya.karena itu, doa saya sungguh tidak bermakna bila saya hanya melakukannya karena kewajiban. Saya suka berdoa, maka saya berdoa.

  • Doa juga berarti memberkati, bila hidup saya tidak menjadi berkah bagi sesama manusia, sesama makhluk hidup, dan lingkungan di mana saya berada, sia-sialah doa saya.

  • Doa meningkatkan kesadaran saya, sehingga saya dapat melihat Wajah-Nya di mana-mana.

Di atas segalanya, bagi saya doa adalah napas hidup. Tiada kehidupan tanpa napas, tiada napas tanpa doa.

Bagaimana doa dapat menambah kepekaan diri? Bagaimana doa dapat mengantar kita pada kesadaran lebih tinggi? Jawabannya: dengan mengistirahatkan pikiran. Dengan menciptakan jarak antara pikiran dan tindakan. Kepekaan diri bertambah saat saya menafikan pikiran dengan penuh kesadaran; saat saya istirahatkan pula otak saya. Saat itu, saat berdoa, terjadilah kontak batin antara diri saya dan sang Pribadi Tunggal. Bagaimana terjadinya? Bagaimana prosesnya? Saya tidak tahu. Saya juga tidak mengetahui banyak hal yang lain. Saya tidak tahu bagaimana terciptanya alam semesta. Saya tidak tahu kapan berakhirnya ciptaan ini.

Saat mengaji, membaca kitab suci, melakukan paath atau pengulangan sebagaimana disebut dalam bahasa Sindhi, bahasa ibu saya, saya ingatkan diri saya, Janganlah engkau membacanya seperti novel. Janganlah engkau membacanya hanya karena ingin tahu cerita yang ada di dalamnya. Janganlah engkau tergesa-gesa, terburu-buru, hanya karena engakau ingin tahu akhir cerita. Bacalah seperti engkau membaca surat cinta, karena setiap kitab suci memang merupakan sebuah surat cinta yang dialamatkan kepadamu lewat para nabi, para avatar, para mesias, dan para Buddha. Maka, pengajian seperti itu, paath seperti itu, menjadi doa bagi saya. Karena saat itu terdengar jelas oleh jiwa saya bisikan Dia yang saya cintai.

Para ahli kitab sangat tergantung pada tulisan. Mereka sibuk membaca, menghafal, dan mengutib ayat-ayat suci. Seorang pendoamenjadi suci karena doanya. Karena doa yang keluar dari hatinya, karena jiwanya yang senantiasa berdoa. Para ahli kitab sibuk dengan pembahasan mereka tentang doa. Seorang pendoa tidak memiliki waktu lagi untuk membahas sesuatu yang berada di luar bahasan, yang tidak dapat dibahas.

Latihan Ketujuh hal 73 – 74.

catatan teman Anda akan membuktikan bahwa saat meminta sesuatu, dahi Anda akan penuh kerutan. Berkali-kali kelopak mata pun bergerak. Namun, tidak demikian saat anda mensyukuri segala pemberian-Nya. Wajah Anda tenang, tidak menampakkan tanda-tanda kegelisahan. Hampir tidak ada kerutan di dahi, dan kelpak mata pun hanya sesekali bergerak.

Sesungguhnya setiap pikiran menyebabkan ketegangan, baik pikiran meminta maupun mensyukuri, namun ketegangan yang tercipta karena meminta jauh melebihi yang tercipta ketika kita mensyukuri. Idealnya: Saat berdoa terjadi peningkatan kesadaran sehingga kita dapat menyadari Kehadiran-Nya. Bila itu terjadi, doa anda membawa berkah bagi setiap makhluk… dan Semesta-pun memberkati Anda.

Latihan Kedelapan hal 74 – 75.

 

Latihan Inti no 2 Going beyond Mind.

  1. Kesadaran ada saat kita dalam keadaan jaga, saat otak bekerja, saat pikiran berkuasa.

  2. Kesadaran ada saat kita bermimpi.

  3. Kesadaran juga ada saat kita tertidur lelap, saat gelombang otak hampir datar, saat pikiran tidak terdeteksi.

  4. Namun, di luar tiga keadaan di atas, kesadaran juga ada, malah meluas, saat dalam keadaan jaga, pikiran atau mind manusia sedemikian tenangnya sehingga gelombang otak hampir datar. Inilah Keadaan Keempat, inilah saat kita berada di luar cengkeraman otak, di luar jangkauan pikiran. Inilah saat kita menjadi Raja, menjadi pengendali pikiran atau mind, dan otak.

Lalu apa yang terjadi bila pikiran atau mind sudah terlampaui? Apa yang dialkukan oleh mereka yang konon sudah berkesadaran?

Pertama: Apa yang terjadi? Mereka terbebaskan dari pengendalian oleh mind.mereka keluar dari penjara mind.

Kedua: Apa yang mereka lakukan? Mereka mengamati mind; mereka mengamati keadaan penjara di mana mereka di tahan selama ini.

Karena itu, mereka dapat melihat dengan jelas dan jernih keadaan diri meraka. Mereka dapat memahami sebab atau alasan perilaku mereka selama ini. Kemudian, berdasarkan penglihatan dan pemahaman yang baru itu, mereka pun dapat menguabh keadaan dapat melakukan transformasi atau perombakan total. Mereka dapat memperbaharui mind mereka. Mereka dapat menciptakan mind yang baru, mind berekesadaran.

Selama ini kita hidup dengan mind ciptaan orang, ciptaan masyarakat, ciptaan orang tua, ciptaan keadaan dan lingkungan di mana kita lahir dan tumbuh. Sekarang, saatnya kita memproklamasikan kemerdekaan diri! Kita tidak dapat menguabh keadaan di luar, tidak dapat mengubah masyarakat di sekitar, bila diri kita belum berubah. Perubahan diri dulu, baru perubahan keadaan di luar.

 

Latihan Inti no 3. Sharpening of Intuition.

Latihan ini menambahnkemampuan kita untuk menghayati setiap pengalaman hidup. Tak satu pun pengalaman boleh lolos, karena setiap pengalaman yang lolos akan terulangi lagi. Keberadaan memiliki cara kerja yang sangat rapi. Pengulangan terjadi kerena kita tidak menghayati apa yang terjadi. Bila kita menghayatinya dengan baik, pengulangan pun tak terjadi. Setiap pengulangan menjadi penghalang bagi evolusi manusia. Penghayatan membuat Roda Evolusi bergelinding kembali, berputar kembali. Dalam hal beragama pun itu terjadi. Kita mengulangi segala sesuatu tanpa penghayatan. Karena itu, hasilnya ada di depan mata. Banyak yang beragama, amun sedikit sekali penghayat, sehingga kolusi pun berjalan terus, korupsi pun makin merajalela. Bertambah terus tempat-tempat ibadah, namun sedikit saja hati yang beribadat.

 

Mengenali Konstitusi Diri.

Latihan Kesembilan, Kesepuluh, Kesebelas hal 99 – 91.

 

Vibrating Universe.

Mari belajar untuk bergetar bersama alam. Untuk itu kita harus bersahabat dengan alam, dengan setiap makhluk, dengan setiap manuisa. Kita tidak mungkin selaras dengannya bila tidak selaras dengan semua makhluk. Bagaimana cara bergetar bersama alam? Bagaimana cara menyelaraskan diri dengan semesta? Dengan cara mencintai, menghargai, dan melayani alam ini, dengan cara menhormati dan mengasihi sesama makhluk hidup, sesama manusia.

Latihan Keduabelas hal 97 – 98.

 

Creating Harmony.

Sesungguhnya, getaran-getaran itu menciptakan harmoni, keselarasan, keseimbangan, namun campur tangan manusia menciptakan disharmony, ketakselarasan, ketakseimbangan. Perhatikan alam sekitar: sungai-sungai kecil yang kotor mengalir menuju laut untuk menyatu dengannya – untuk menjadi suci, menjadi bersih olehnya. Kemudian, air laut menjadi uap, membentuk awan, dan turun kembali sebagai hujan, sebagai air hujan yang bersih murni.

  • Kita lupa bahwa keberhasilan adalah kerja keras. Maka kita mencari jalan pintas.

  • Kita lupa bahwa kebahagiaan adalah hasil kepuasan.

Alam sendiri bekerja keras. Ia membutuhkan masa yang begitu panjang untuk berevolusi.

Living in Harmony with Nature berarti hidup patuh pada hukum-hukum alam. Di antara dua yang terpenting, yaitu: 1. Hukum Sebab-Akibat atau Aksi-Reaksi, dan 2. Hukum Evolusi.

 

Membereskan Aku…. Diriku!

Kebhinekaan, pluralitas, pluralisme, atau apa sebutannya adalah sebuah keniscayaan alami, kepastian Ilahi.

 

Sapta Wacana.

  1. Aku Bertanggung Jawab atas Keadaan Negeriku Saat Ini.

Lapisan Kesadaran Pertama, makan dan minumuntuk apa? Untuk menjadi bersemangat. Bertanggung jawab atas setiap kejadian di dalam hidup berarti menerima baik atau buruk, good or bad, semuanya sebagai akibat ulah sendiri. Bila negeriku terpuruk, bukan hanya para pemimpin dan pejabat yang salah, tetapi diriku ikut bersalah. Mereka adalah pilihanku sebagai rakyat Indonesia.

  1. Aku Mempunyai Kemampuan untuk Merubahnya.

Lapisan Kesadaran Kedua Lapisan Enegi. Seseorang yang sadar akan Medan Energi di sekitarnya tidak akan mengemis untuk bantuan, ia yakin pada kemampuan dirinya. Bila keterpurukan terjadi karena ulahnya, ia pun mampu mengubahnya.

  1. Aku Bisa Melakukannya.

Lapisan Kesadaran Ketiga terkait dengan nyali kita yang mendorong kita untuk berbuat. Energi dan semangat yang kita miliki tidak berarti apa pun bila tidak ada nyali untuk berbuat, untuk menggunakan energi dan semangat itu.

  1. Aku Cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lapisan Kesadaran Keempat adalah Kesadaran akan Cinta. Kita tidak dapat mengubah keadaan negeri ini bila kita tidak mencintai negeri ini. Para Founding Fathers kita adalah pecinta sejati.

  1. Aku Menyuarakan Tekad Persatuan dengan Jelas.

Lapisan Kesadaran Kelima adalah Kesadaran akan kotoran di dalam diri dan perlunya diri kita dibersihkan. Kita harus membersihkan diri dari berbagai pengaruh dan sikap buruk yang akan mengancam kesatuan wilayah Indonesia, dan membahayakan persatuan bangsa Indonesia.

  1. Aku Melihat Indonesia Jaya.

Lapisan Kesadaran Keenam ini adalah Lapisan Komando, pengendali Kesadaran dalam diri manusia. Jangan ragu, jangan bimbang, jangan khawatir, jangan cemas. Aku melihat Indonesia Jaya.

  1. Damai Indonesia, Amin…

Ketika Sang Maha Ada hendak mengukuhkan sesuatu, Ia menggunakan mulut, tangan, dan kaki salah seorang di antara kita. Bila kita hendak melarutkan kehendak kita ke dalam kehendak-Nya, kita menenggelamkan diri, membiarkan diri kita, aku larut dalam kehendak-Nya. Pada saat itu, terwujudlah kedamaian, terjadilah damai. amin.

Mutiara Quotation Buku Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan

Judul              : Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan

Pengarang      : Anand Krishna

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : 1999

Tebal              : 141 halaman

 

Mutiara Quotation Buku Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan

 

            Taurat, Injil dan Al-Qur’an merupakan Jari-Jari Allah yang menunjukkan jalan kepada kita semua. Bahkan beberapa butir mutiara di dalamnya akan cukup untuk membekali Anda dalam upaya meniti jalan ke dalam diri, guna menemukan dalam diri Anda sendiri Insan Tuhan.

            Reguklah Air Bening Telaga Pencerahan yang akan menghilangkan dahaga Anda dalam kembara hidup ini!

 

            Apabila kita membaca Taurat dan Injil dan Al-Qur’an, dan kita hanya membacanya, tidak menyelaminya, maka yang akan nampak jelas adalah perbedaan-perbedaannya. Selama ini memang itu yang terjadi. Kita hanya membaca, lantas timbul arogansi kelompok, Aku yang tertua, aku yang terbaik. Kelompok lain mengatakan, Aku yang terbaru, aku yang paling kontemporer, paling baik.

            Pembaharuan, perubahan dan penyesuaian merupakan hukum alam. Manusia tidak dapat menghentikan putaran roda Sang Kala.

 

MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN

Perjanjian Lama Ulangan 5:1-22.

Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul kepada mereka:

            Apabila Anda puas dengan suatu keadaan, Anda akan berusaha untuk mempertahankan keadaan itu. Jelas bahwa Sang Pangeran, Musa tidak puas dengan segala apa yang ia miliki. Rupanya harta-benda tidak mampu memberi nilai tambah kepada kehidupannya. Ia sudah mencapai titik jenuh. Ia sedang mencari makna kehidupan. Ia ingin menemukan suatu yang lebih berharga daripada kerajaan, kedudukan, kekayaan dan ketenaran.

            Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. Ia mulai berkompromi dengan keadaan. Ia menganggap perbudakan itu kodratnya. Jangan mengira manusia masa kini sudah sepenuhnya bebas dari perbudakan. Manusia masih budak. Ia diperbudak oleh ideologi-ideologi semu. Ia diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Ia diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi Ia tetap juga membisu. Jiwanya sudah mati. Ia ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas.

            Tugas seorang Musa memang sangat berat. Ia harus membangunkan mereka, membangkitkan mereka, menghidupkan jiwa mereka yang sudah mati.

 

Tuhan, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeh. Bukan dengan nenek moyang kita Tuhan mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup.

            Tuhan, Allah atau nama apa saja yang Anda berikan kepada Sang Keberadaan, merupakan sumber energi yang tak pernah habis, tak kunjung habis. Keberadaan mengalir terus. Kehidupan berjalan terus. Betapa bodohnya manusia yang mengagung-agungkan masa lalu, peraturan-peraturan yang sudah kadaluwarsa dan tidak berani meninggalkan semuanya itu. Setiap peraturan memiliki masa berlaku. Setiap ketetapan bersifat sangat kontekstual; relevan pada masanya tidak relevan sepanjang masa.

            Seorang Musa akan mengalir terus. Ia tidak pernah berhenti. Irama kehidupan seorang Musa harmonis dengan irama Keberadaan. Mendengarkan Suara Tuhan berarti penyelarasan energi Anda dengan dengan Energi Alam Semesta. Keberanian dia menyatakan bahwa Tuhan telah mengikat perjanjian baru dengan mereka yang masih hidup berarti penyelarasan energi anda dengan energi Alam Semesta – merupakan fenomena yang dapat terjadi kapan saja, di mana saja.

 

Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

            Tuhan harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Anda bisa berkonsep ria tentang Tuhan. Anda bisa berfilsafat tentang Tuhan. Apa gunanya? Apakah dengan cara itu Anda bisa merasakan kehadirannya dalam kehidupan Anda sehari-hari.

            Apabila Anda belum sadar bahwa sebenarnya Ia-lah Segalanya dan bahwa Anda merupakanbagian dari-Nya setidaknya jadikan Dia bagian dari hidup Anda.

            Kita harus bertanya kembali pada diri sendiri: apa yang memperbudak kita? Dan bagaimana Tuhan dapat membebaskan kita? Dan, yang mungkin lebih pentinglagi, apakah kita merasa diperbudak? Apabila kita sudah merasa bebas, kita tidak membutuhkan Tuhan lagi. Saya katakan tidak membutuhkan – ya karena Kebebasan Mutlak itulah Tuhan. Apabila kita sudah memilikinya, kita tidak membutuhkan sesuatu lagi.

 

Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.

            Ia yang menyadari Kehadiran Allah menyadari Keberadaan. Ia tidak bisa menyadari sesuatu yang lain. Segala sesuatu yang lain itu juga merupakan bagian dari Keberadaan.

            Di mana ada cahaya, tidak ada kegelapan. Di mana ada Allah, allah lain tidak akan ada. Apabila Anda meng-allahkan kedudukan, meng-allahkan kekayaan, meng-allahkan ketenaran, ketahuilah bahwa Matahari Allah belum terbit dalam kehidupan Anda. Anda masih hidup dalam kegelapan.

            Kesadaran Musa dan Kesadaran Muhammad dan Kesadaran Yesus tidak berbeda. Tidak ada yang kelasnya lebih rendah atau lebih tinggi. Apabila bahasa mereka berbeda, apabila penyampaian mereka berbeda, hal itu disebabkan karena tingkat kesadaran para pendengar mereka.

            Anda mungkin seorang doktor, seorang profesor, tetapi sewaktu berdialog dengan seorang anak Sd, anda harus menyederhanakan bahasa Anda. Perbedaan yang terlihat antara Taurat, Injil dan Al-Qur’an, tidak akan terlihat lagi, apabila Anda menemukan esensinya. Selama Anda masih bergulat pada tingkat syariat, pada tingkat peraturan agama, kulit agama, ya, Anda hanya melihat perbedaan saja. Tetapi begitu memasuki esensi Agama, begitu Anda menemukan nilai spiritual yang terkandung dalam agama itu, perbedaan akan lenyap seketika.

            Kembali ke Musa. Ia harus menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh para mantan budak itu. Tuhan tidak bisa dipahami dengan menggunakan pikiran, logika atau apa yang Anda sebut akal-sehat. Tuhan harus dirasakan. Untuk merasakan Tuhan, kita harus menggunakan jalur rasa itu sendiri. Kasih adalah rasa. Kelak Yesus akan menggunakan jalur Kasih, Cinta. Tetapi, pada zamannya, Musa tidak akan pernah berhasil, apabila menggunakan jalur kasih. Ia terpaksa menggunakan jalur peraturan.

            Orang-orang Israel yang sudah begitu lama diperbudak sudah tidak mengenal kasih lagi. Sesuatu yang harus kita renungkan. Kasih merupakan energi yang bersifatkan expansive – menyebar, melebar. Apabila Anda masih diperbudak, Kasih tidak akan pernah muncul. Kasih dan Kebebasan sebenarnya sinonim – satu adanya. Kebebasan adalah Kasih, Kasih adalah Kebebasan.

            Selama Anda masih diperbudak, Anda tidak dapat menghormati siapa pun. Seorang budak tidak mengenal rasa hormat. Seorang budak hanya mengenal rasa takut. Untuk menghormati seseorang, terlebih dahulu Anda harus memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, selama Anda masih hidup dalm penindasan, Anda tidak bisa mengasihi seseorang, Anda tidak bisa menghormati seseorang.

            Rasa kasih, rasa hormat, rasa bahagia, rasa indah – semuanya itu merupakan hasil kebebasan. Selama Anda masih belum bebas, selama Anda masih terbelenggu, selama itu pula Anda masih hidup dalam kesadaran rendah, di mana penghalusan rasa belum terjadi.

            Musa masih sangat relevan. Manusia masih hidup dalam perbudakan. Kadang diperbudak oleh masyarakat, kadang oleh lembaga-lembaga yang menamakan dirinya lembaga-lembaga keagamaan, kadang oleh pikiran kita sendiri. Kita masih hidup dalam perbudakan. Jelas dalam diri kita belum terjadi penghalusan rasa. Kita belum kenal rasa hormat. Apakah kita menghormati orang-tua kita? Nenek-moyang kita? Warisan budaya kita?

            Meditasi membuat Anda sadar akan jati-diri Anda. Kesadaran mengantar Anda ke pencerahan jiwa. Pencerahan jiwa memperluas pandangan manusia. Ia tidak akan berpikiran picik lagi. Pada etape itu, terjadilah dialog antara manusia dan apa yang Anda sebut Tuhan. Bahkan sebenarnya, pada etape itu jiwa menyatu, bersatu dengan Tuhan, dengan Keberadaan, dengan Alam Semesta.pada etape itu, sangat sulit memisahkan manusia dari Tuhan, Tuhan dari manusia. Pada etape itu sangat sulit memisahkan, yang mana kata-kata manusia, yang mana firman Tuhan. Demikian adanya!

 

BUKU KEDUA

Kerajaan Allah (perumpamaan Yesus dalam Injil)

  1. Benih dan Tanah. Perumpamaan Yesus dalam Injil Matius.

Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesuadah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Matius 13:3-9).

            arogansi dan kebodohan sebenarnya sinonim. Yang bodoh selalu arogan, yang arogan adalah orang bodoh. Para budak Israel yang dibebaskan oleh Musa dan diajak keluar Mesir masih menyangsikan ketulusan Musa. Mereka bodoh. Sebaliknya, para ahli Taurat yang menganggap diri pandai dan dianggap demikian oleh masyarakat juga menolak Yesus. Karena arogansi mereka.

            Kebodohan kita, arogansi kita, membuat kita menjadi mandul. Bibit yang ditaburkan Yesus tidak dapat tumbuh dan berbuah karena arogansi kita.

 

  1. Tumbuh dengan Kuasa Allah. Perumpamaan Yesus dalam Injil Markus.

Beginilah hal Kerajaan allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi; bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba. (Markus 4:26-29).

            Bekerjalah, berupayalah – dan serahkan hasilnya kepada Ia Yang Maha Kuasa, jangan menyangsikan kekuasaan-Nya. Bukalah hati Anda, dan benih Sabda allah akan tumbuh sendiri dengan kuasa dari Atas. Orang yang membuka diri terhadap Sabda Pencerahan akan melihat hasil yang luar biasa. Sabda itu penuh kuasa, dan kalau kita menyediakan tanah subur untuknya, kita akan memetik panen melimpah: sabar, damai, welas-asih, bela-rasa dan damai.

 

  1. Biji Sesawi dan Ragi. Perumpamaan Yesus dalam Injil Lukas.

Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya. Ia seumpama ragi yang diambil seorang permapuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. (Markus 13:18,19 & 21).

           

 

  1. Kasih-Mengasihi. Perintah Yesus dalam Injil Yohanes.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yohanes 13:34).

 

BUKU KETIGA.

Allah dan Insan Allah (Beberapa Butir Mutiara dari Al-Qur’an).

Allah Maha Ada.

 

Dan kepunyaan allah Timur dan Barat, maka ke mana saja kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah: Ayat 115).

           

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat.. (Al Baqarah: Ayat 186).

            anda tidak harus mencari-Nya. Anda tidak perlu mencari-Nya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran Anda. Sadar akan Kehadiran-Nya, di sini, saat ini. Ia tidak pernah ke mana-mana. Ia Maha Ada. Apabila kita tidak dapat menyadari Kehadiran-Nya, kitalah yang salah. Mungkin mata hati kita tertutup, mungkin pintu jiwa kita terkunci, mungkin batin kita tertidur, sehingga Kehadiran-Nya tidak terasa.