Nilai Sejati dari “ARTHA”

Anand Krishna*

(Radar Bali, Rabu 21 Oktober 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=235:nilai-sejati-dari-artha&catid=15&Itemid=56

 

 

 

Bagi masyarakat di kepulauan ini, di mana Bali menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya, artha, “kekayaan” atau “uang” bukanlah tujuan akhir, tapi sarana untuk mencapai kesejahteraan total. Dan kesejahteraan total bukan sekedar kesejahteraan ekonomi, tapi juga keamanan sosial. Di atas segalanya, artha ialah sesuatu yang memberi makna bagi kehidupan seseorang.

 

Satu dari teman saya di Singapura memberi nama perusahaannya Cash dan Gold Pte. Ltd. Nah, “cash” dan “gold” dalam bahasa Inggris tak lagi mempunyai arti lain. Cash ya fulus dan gold ya emas. Tapi di sini, svarna artha, walau berarti sama secara harfiah, “emas” dan “uang,” toh bisa memiliki implikasi makna yang berbeda.

 

Svarna bisa juga berarti kekayaan, kejayaan atau kemuliaan. Emas adalah logam mulia, tapi bisa juga berarti nilai-nilai luhur yang mulia, misalnya kejujuran dan integritas. Bukan hanya materi, karakter pun bisa menjadi sesuatu mulia. Baca lebih lanjut

Iklan

Sukses akan Mencium Kaki Anda saat Anda Merayakan Kehidupan dengan Karma Baik

oleh Anand Krishna untuk The Bali Times

 http://www.aumkar.org/ind/?p=151

 

Ketika Anda menggunakan istilah “Hukum Karma” dalam bahasa Indonesia, lazimnya mengacu pada hukuman. Kata Indonesia “hukum,” memiliki makna ganda. Bisa berarti “hukum” atau bisa juga “hukuman.”

 

Tidak demikian dalam bahasa Bali. Karma bukanlah “hukum” atau “aturan penghukuman.” Karma ialah “aktivitas” atau “tindakan.” Apapun yang Anda dan saya lakukan ialah karma. Ini ialah “hukum” dalam pengertian bahwa ini tak bisa dielakkan. Tak ada yang bisa melarikan diri darinya. Ini seperti hukum gravitasi, atau hukum fisika lainnya. Jadi Hukum Karma ialah Hukum Aksi.

 

Hukum Karma mengikat kita semua. Apapun yang kita lakukan menjadi sebuah “sebab,” dan setiap “sebab” dikuti oleh “akibat.” Jadi penderitaan kita di masa kini ialah jumlah dari beberapa sebab di masa lalu, begitupula dengan kebahagiaan kita. Pada saat yang sama, apa yang kita lakukan hari ini menjadi sebuah sebab bagi keceriaan atau penderitaan esok hari.

 

Hukum sebab dan akibat menjaga dunia tetap berputar. Hukum menciptakan dualitas penderitaan dan kesenangan, kemuraman dan keceriaan, saat-saat desolasi dan konsolasi. Baca lebih lanjut

Vamana Avatara dan Bertobatnya Asura Bali

Perhatikan pikiran Anda; perhatikan pola kerja mind Anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu. *1 Atisha

Adaptasi Budaya

Para Leluhur Nusantara, sangat piawai mengadaptasi cerita ‘dari luar’ menjadi cerita khas Nusantara. Para Leluhur paham betul mengenai budaya masyarakat di Nusantara, dan juga hal-hal yang dapat menjadi pemicu peningkatan kesadaran masyarakat Nusantara. Dalam budaya Nusantara ada istilah ‘pakem’, pokok, hakikat yang tidak diubah, dan ada istilah ‘kembangan’, imaginasi, penyesuaian dengan kondisi masyarakat setempat. Imaginasi dapat berkembang sesuai perkembangan zaman.

Akan selalu terjadi pertentangan antara pengikut ajaran murni dan pengikut ajaran adaptasi. Mereka yang berkutat dalam tataran syariat akan menuduh, bahwa ‘kembangan’ itu mengada-ada, bid’ah. Sedangkan mereka yang memahami hakikat, paham setiap individu mempunyai pandangan yang berbeda, karena sifat bawaan genetik dan lingkungan yang mempengaruhinya berbeda. Akan tetapi pada hakikatnya semua individu dapat meningkatkan kesadarannya melalui pemahamannya. Biarlah yang berselera terhadap yang dianggapnya  murni menjalankannya, dan biarlah yang cocok dengan ‘kembangan’ yang dapat lebih meresap kedalam dirinya melakukannya. Baginya pemahamannya, bagiku pemahamanku. Baca lebih lanjut

Sustainable Tourism

Anand Krishna*

(Radar Bali, Senin 26 Januari 2009)

 

 

Belakang ini istilah “sustainable” sering digunakan. Pembangunan yang tidak sustainable, tidak bertahan dan tidak berkelanjutan, adalah pembangunan yang semu. Demikian pula dengan sistem perekonomian, politik, dan lain sebagainya. Maka, sudah layaknya kita pun berpikir tentang tourism yang sustainable.

 

 

Minggu lalu, saya diundang sebagai pembicara di forum pemandu wisata sedunia yang diselenggarakan di Bali. Jujur kata, bagi saya undangan itu penting sekali. Saya ingin berbagi pengalaman dengan para peserta, khususnya dengan para pemandu wisata dari negeri kita sendiri, dalam rangka mengembangkan sustainable tourism.

 

  Baca lebih lanjut