Banyak Jalan Satu Tujuan

Pulang dari Kota Solo menuju Kota Semarang, sepasang isteri seakan mendapat energi baru, rasa segar membuat sang suami mengemudikan kendaraannya tanpa istirahat di jalan. Sang isteri bernyanyi pelan-pelan….. Jalan berbeda tapi menuju Satu……. Banyak jalan satu tujuan, jalan menuju Tuhan.

Sang Suami: Isteriku, kalau kita membaca sejarah dunia, kita akan menemukan semua lembar sejarah selalu bersimbah darah. Perdamaian tidak pernah menang melawan kekerasan kecuali beberapa interval singkat. Lebih dari 3.000 konflik berdarah, pertempuran dan perang selama 2000 tahun sejarah dunia. Dan sampai saat ini dunia masih dilanda perang.Tidak satu benuapun yang bersih dari konflik. Perdamaian selalu menjadi sebuah kemewahan.

Sang Isteri: Berarti umat manusia tidak pernah belajar terhadap sejarah mengapa umat manusia selalu melakukan kekerasan.

Sang Suami: Kekerasan adalah sebuah kualitas bawaan yang buruk yang kita warisi dari sebuah rantai evolusi yang panjang. Bukan hanya evolusi ala Darwin tetapi lebih pada evolusi minat kemanusiaan dan evolusi intelegensianya, evolusi seninya, evolusi sejarah dan evolusi ilmu pengetahuannya. Ada sebuah jenis “kelemahan” yang mendasar yang dicampur dengan “rasa takut”-yang membuat kita melakukan kekerasan. Mengapa kita merasa seakan-akan seluruh beban untuk mempertahankan agama berada pada pundak kita? Mengapa kita mencemaskan keberadaan agama kita, keyakinan kita?…………. Karena konsep “saya” dan “milik saya” lah yang  menyebabkan semua masalah kita. Kesadaran tentang konsep “saya” dan “milik saya” itulah yang pertama-tama harus diubah……… Baca lebih lanjut

Iklan

Bhinneka Tunggal Ika Mengukuhkan Persatuan Ajaran Para Suci

Setelah peristiwa 30 September 1965, kala itu para orang tua dan muda-mudi takut dikatakan tidak beragama, sehingga mereka banyak yang mulai mendatangi tempat-tempat ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Putra-putri kecil mereka juga diperkenalkan dengan keyakinan orang tuanya sejak kecil. Bahkan banyak yang disekolahkan pada tempat-tempat pendidikan yang dikelola berdasarkan keyakinan tertentu. Tiga puluh tahun telah berlalu dan putra-putri dari orang-orang tua tersebut telah dewasa dan telah terbentuk pola dalam pikirannya hanya keyakinan mereka yang benar.

Anak-anak kecil tersebut sudah menjadi orang tua dan kemudian mempunyai putra-putri yang sejak kecil sudah dididik sesuai keyakinan  mereka. Sejak usia kecil, anak-anak kita sudah didik untuk memperhatikan perbedaan, bukan melihat kesatuan di balik perbedaan. Bhinneka tunggal Ika hanya merupakan slogan saja. Demikian yang terjadi dan banyak anggota masyarakat yang merasa berbeda dengan anggota masyarakat yang lain.

Bila kita ingin melihat Indonesia bersatu, maka kita harus mulai dari anak-anak kita agar dapat  melihat kesatuan di balik perbedaan. Bila tidak, disintegrasi sudah di ambang mata. Baca lebih lanjut

Menerawang Sejarah Kota Balikpapan dan Mempelajari Sejarah Bangsa Indonesia

Balikpapan pada bulan April 2009

Kesan pertama ketika melihat Balikpapan pertama kali adalah kota yang hidup. Sepanjang jalan terasa mulus dan tertata. Jalan dari Bandara ke kota yang dapat dicapai kendaraan dalam waktu sekitar 20 menit, berada sejajar pantai dan dipisahkan pemukiman,perkantoran dan pertokoan yang tipis. Sekali-sekali terlihat pantai dan kapal berlayar.

Hotel berbintang bertebaran, angkutan kota banyak sehingga ada satu atau dua penumpang masuk sudah langsung berjalan. Pengemudinya kalem, tak ada rasa tergesa-gesa mencari setoran. Sopir taksi ke dan dari hotel nampak ekonomi keluarganya cukup. Harga makanan termasuk tinggi dibanding di wilayah Solo. Bandaranya sibuk, konon nomor tiga tersibuk setelah Jakarta dan surabaya, nampaknya banyak orang hidup dari minyak.

Kota Balikpapan adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 946 km² dan berpenduduk sebanyak 535.829 jiwa (20 April 2005). Motto kota Balikpapan yaitu “Gawi Manuntung Waja Sampai Kaputing” (bahasa Banjar) yang artinya adalah ‘apabila memulai suatu pekerjaan harus sampai selesai pelaksanaannya’. Baca lebih lanjut

Mendatangkan Dewi Sri di Pulau Lombok (Artikel Ketiga, Filosofi Rumah Sasak)

Arsitektur dan Tata Ruang Rumah Tradisional Sasak Lombok

Pertama kali melihat rumah Sasak di Sade, Pulau Lombok, ingatan langsung menerawang ke masa silam. Inilah rumah asli para leluhurku. Pada zaman dahulu Nusataran terkenal dengan sebutan Kepulauan Sunda. Kepulauan Sunda Besar terdiri dari pulau-pulau Kalimantan atau Borneo,  Jawa,  Sulawesi  dan Sumatra . Sedangkan Kepulauan Sunda Kecil  atau Kepulauan Nusa Tenggara adalah gugusan pulau-pulau di sebelah timur Pulau Jawa, dari Pulau Bali di sebelah barat, pulau Lombok hingga Pulau Timor di sebelah timur. Ada kaitan erat antara suku-suku yang berada di Nusantara. Entah itu berupa penjajahan atau persahabatan hal itu sudah terjadi, dan genetik para leluhur sudah terwariskan kepada kita. Adalah tugas kita memperbaiki karakter nenek moyang. Karakter yang jelek dibuang dan karakter yang baik ditumbuh-kembangkan.

Cuplikan dibawah diambil dari artikel di Harian Kompas  3 Juni 2005, ‘Arsitektur dan Tata Ruang Rumah Tradisional Sasak Lombok’ : Baca lebih lanjut

Bhinneka Tunggal Ika Dalam Diri Manusia

Di atas tangga batu yang berada di depan Candi Dworowati di Pegunungan Dieng yang sejuk sepasang suami isteri sedang bercengkerama. Tidak seperti candi-candi lainnya yang banyak pengunjungnya, Candi Dworowati yang jalan masuknya melalui jalan perkampungan yang sempit, sangat sepi dari pengunjung. Hanya pohon jagung yang subur mengelilingi candi tersebut. Kali ini hanya sepasang manusia yang menengoknya. Tempat yang cocok untuk merenungkan hakikat kehidupan.

 

Sang Suami: Setiap kali kita menghirup napas, kita menghirup 1022 atom dari alam semesta. Sejumlah atom tersebut masuk ke tubuh kita menjadi sel-sel otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Setiap kali kita menghembuskan napas, kita mengeluarkan atom 1022 yang terdiri dari kepingan otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Secara teknis, kita mempertukarkan organ tubuh kita dengan organ tubuh orang lain, dengan orang yang pernah hidup, bahkan dengan semua makhluk, semua zat, yang pernah hidup. Berdasarkan perhitungan isotop-isotop radio aktif, tubuh kita memiliki jutaan atom yang pernah singgah di tubuh orang-orang suci dan orang-orang genius. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, 98% dari semua atom dalam tubuh kita telah berganti secara total. Atom yang sama ada pada tubuhku dan ada pada tubuhmu. Bahan kita bahan alam yang sama. Selanjutnya, atom-atom terdiri dari partikel-partikel, partikel adalah fluktuasi dari energi. Segala-galanya di bumi ini sejatinya adalah energi. Hakekatnya kita semua adalah satu. Bhinneka Tunggal Ika.

  Baca lebih lanjut

Kebiasaan Masturbasi Anak Bangsa

Sambil minum teh kental manis, Pakdhe Jarkoni berbincang-bincang dengan Wisnu, keponakannya yang menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri.

 

Pakdhe Jarkoni: Wisnu, saya sedang ketawa sendiri, he he he ada rubrik dokter yang membahas tentang masturbasi dalam surat kabar.

 

Wisnu: Tidak apa-apa to Pakdhe, asal tidak keseringan! Daripada otak sumpek tidak dapat berpikir, kan sehat-sehat saja. Memangnya Pakdhe belum pernah muda?

Baca lebih lanjut