Gandhi dan Bung Karno

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=238248&actmenu=39

Anand Krishna

29/04/2011 19:08:08

Gandhi sering mengatakan bahwa hidupnya adalah pesannya. Dan, jika kita mempelajari hidupnya maka kita temukan 3 mutiara pesannya inti ajarannya:

Satyagraha, Swadeshi, Ahimsa, Satyagraha. Terdiri dari dua kata ‘Satya berarti ‘kebenaran’, dan Agraha berarti ‘permintaan’. Namun, agraha bukan sekadar permintaan biasa. Ia adalah ‘permintaan demi dan bagi kebenaran, kebajikan dan keadilan’. Ia adalah ‘permintaan tanpa kompromi’ karena kebenaran tidak perlu berkompromi.

Dalam bahasa Bung Karno Sang Arsitek Negara Modern Republik Indonesia –  ini adalah  “Tekad yang Bulat”. Tekad yang bulat seperti juga Satyagraha – muncul dari keyakinan yang kuat dan tak tergoyahkan pada sesuatu.

Slogan Bung Karno ‘Sekali Merdeka’ Tetap Merdeka’ adalah hasil dan wujud dari Tekad yang Bulat – Tekad yang Kuat.

Satyagraha Gandhi tidak lain dan tidak beda dari ‘Tekad yang Bulat’ Sukarno. Beda bahasa, beda ungkapan, beda idiom  tapi intinya sama. Artinya sama.

Dalam bahasa para leluhur kita, ini adalah ‘Ichhaa Shakti’  Will Power  Kehendak yang kuat. Tanpa ‘will power’  kita tidak mampu berbuat sesuatu yang luar biasa.

Bung Karno mengatakan bahwa bisa saja kita membangun jembatan-jembatan kecil yang tidak berarti –  tapi tidak bisa membangun pencakar langit tanpa tekad, tanpa kehendak yang kuat.

Satyagraha dan kebulatan tekad bersumber dari  Swadeshi  (Produk) negeri sendiri. Demikian arti umum swadeshi. Tapi, lebih dari itu, swadeshi juga berarti kemampuan diri sendiri.

Dalam bahasa Bung Karno  inilah Berdikari  atau berdiri di atas kaki sendiri. Atau, menjadi diri sendiri  mandiri. Apa artinya? Berarti, mengenal potensi diri – dan memberdayakan diri (Self-empowerment). Dalam bahasa leluhur kita  disebut ‘Gyana Shakti’  The Power of Knowledge, Intelligence, and Wisdom.

Mengenal diri berarti mengenal potensi diri dan sekaligus memberdayakan diri dan menambah apa yang kurang. Jadi, bukan sekadar mengenal diri secara pasif “Oh, bagaimanapun juga kita kan orang biasa”. Tidak. Mengenal diri berarti merealisasikan potensi diri sepenuhnya. Gandhi pun manusia biasa – Sukarno pun manusia biasa. Apa yang mereka capai – kita pun dapat mencapainya. Kenapa tidak?

Untuk itu  alat yang disarankan dan dipakai oleh Gandhi adalah  Ahimsa  berarti, Tanpa kekerasan.

Apa yang menjadi dasar dari azas ini? Bung Karno pernah menjelaskan kepada putranya, Guntur, yang saat itu masih remaja, ‘Tat Tvam Asi’. Dasarnya adalah bahwa, Aku adalah Kamu dan Kamu adalah Aku.

Adakah sesuatu yang membedakan manusia dari manusia? Kita sama-sama manusia – tinggal di planet Bumi yang sama. Di bawah langit yang sama pula. ‘One Earth, One Sky, One Humankind’ Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia.

Jangankan pada sesama manusia  kekerasan yang kita lakukan terhadap sesama makhluk hidup pun berdampak pada diri kita sendiri.

Kita memburu burung-burung tak bersalah. Mereka mati – ulat-ulat yang biasa menjadi makanan mereka bertumbuh, dan beranak-pinak secara bebas. Kemudian menjadi wabah dan menyerang ladang kita, bahkan badan kita.

Ahimsa berarti Loving, Caring, and Sharing –  Saling kasih-mengasihi, saling peduli dan saling berbagi.

Inilah ‘Gotong Royong’ dalam bahasa Bung Karno. Tanpa azas gotong royong – one for all, all for one –  satu untuk semua, dan semua untuk satu – kita menjadi manusia-manusia picik, berpikiran sempit, dan hanya mementingkan diri saja.

Dalam bahasa para leluhur, inilah Kriya Shakti atau The Power of Action. Berarti, bukan sekadar konsep atau filsafat, tetapi sesuatu yang bisa diaplikasikan. Sesuatu, yang justru mesti dipraktikkan.

Tiga mantra ini, Satyagraha, Swadeshi, dan Ahimsa,  Tekad yang Bulat, Berdikari, dan Gotong Royong merupakan aji yang dapat menyelamatkan bangsa kita.

Dan bukan sekadar bangsa kita  tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia. Tiga Mantra inilah Penyelamat Dunia. Inilah Mesias, inilah Mahatma yang ditunggu-tunggu oleh dunia.

Untuk itu, kita mesti mulai mengaplikasikan mantra-mantra ini dalam hidup kita sendiri. Ya, mengaplikasikan! Mantra-mantra ini bukan untuk diucap, dan diulangi seperti burung beo. Mantra-mantra ini mesti dihidupi, dilakoni, dipraktikkan.

Yakinlah Anda pun bisa menjadi Gandhi atau Bung Karno jika bertekad bulat, meyakini kemampuan diri, dan bahu-membahu saling membantu. Bukan saja Indonesia Baru tapi Dunia Baru ada di depan mata. Jadilah penyambung, kontributor bagi dunia baru itu. Jadilah warga dunia baru itu. Anda bisa! q – o. (2842-2011).

*) Anand Krishna,  pemerhati masalah, sosial, humanis, dan penulis

lebih dari 140 buku.

Iklan

Menerawang Sejarah Kota Balikpapan dan Mempelajari Sejarah Bangsa Indonesia

Balikpapan pada bulan April 2009

Kesan pertama ketika melihat Balikpapan pertama kali adalah kota yang hidup. Sepanjang jalan terasa mulus dan tertata. Jalan dari Bandara ke kota yang dapat dicapai kendaraan dalam waktu sekitar 20 menit, berada sejajar pantai dan dipisahkan pemukiman,perkantoran dan pertokoan yang tipis. Sekali-sekali terlihat pantai dan kapal berlayar.

Hotel berbintang bertebaran, angkutan kota banyak sehingga ada satu atau dua penumpang masuk sudah langsung berjalan. Pengemudinya kalem, tak ada rasa tergesa-gesa mencari setoran. Sopir taksi ke dan dari hotel nampak ekonomi keluarganya cukup. Harga makanan termasuk tinggi dibanding di wilayah Solo. Bandaranya sibuk, konon nomor tiga tersibuk setelah Jakarta dan surabaya, nampaknya banyak orang hidup dari minyak.

Kota Balikpapan adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 946 km² dan berpenduduk sebanyak 535.829 jiwa (20 April 2005). Motto kota Balikpapan yaitu “Gawi Manuntung Waja Sampai Kaputing” (bahasa Banjar) yang artinya adalah ‘apabila memulai suatu pekerjaan harus sampai selesai pelaksanaannya’. Baca lebih lanjut

Spiritualitas dalam HP yang Paling Sederhana

Bangun pagi hari sepasang suami isteri bercengkerama di beranda rumah di sebelah Patung Kayu Buddha Maitreya. Di depannya ada dua gelas teh panas. Mungkin ada sesuatu yang berharga dari percakapan mesra mereka.

 

Sang Suami: Semalam saya telah mempraktekkan ajaran Guru, tentang pengaruh lingkungan terhadap diri seseorang.

 

Sang Isteri: Pagi ini, saya dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahmu. Padahal beberapa minggu ini saya dapat merasakan kesedihanmu.

  Baca lebih lanjut