Antara ‘Ngelmu’ Sri Mangkunagara IV dan ‘Spiritual Knowingness’

Pada Saptu pagi, anak-anak sudah pergi kuliah dan dirumah hanya ada sepasang suami istri ‘manula’, manusia usia lanjut yang sudah ‘bau tanah’, istilah para sahabat mereka. Di depan rak buku yang dipenuhi buku-buku dan beberapa CD dari Guru  Spiritual serta ‘obat gosok’ dan ‘jamu tolak angin’ sebagai perlengkapan orang tua, mereka bercengkerama. Yang namanya orang tua itu senang bicara masalah nostalgia.

  Baca lebih lanjut

Iklan

Bhinneka Tunggal Ika Dalam Diri Manusia

Di atas tangga batu yang berada di depan Candi Dworowati di Pegunungan Dieng yang sejuk sepasang suami isteri sedang bercengkerama. Tidak seperti candi-candi lainnya yang banyak pengunjungnya, Candi Dworowati yang jalan masuknya melalui jalan perkampungan yang sempit, sangat sepi dari pengunjung. Hanya pohon jagung yang subur mengelilingi candi tersebut. Kali ini hanya sepasang manusia yang menengoknya. Tempat yang cocok untuk merenungkan hakikat kehidupan.

 

Sang Suami: Setiap kali kita menghirup napas, kita menghirup 1022 atom dari alam semesta. Sejumlah atom tersebut masuk ke tubuh kita menjadi sel-sel otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Setiap kali kita menghembuskan napas, kita mengeluarkan atom 1022 yang terdiri dari kepingan otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Secara teknis, kita mempertukarkan organ tubuh kita dengan organ tubuh orang lain, dengan orang yang pernah hidup, bahkan dengan semua makhluk, semua zat, yang pernah hidup. Berdasarkan perhitungan isotop-isotop radio aktif, tubuh kita memiliki jutaan atom yang pernah singgah di tubuh orang-orang suci dan orang-orang genius. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, 98% dari semua atom dalam tubuh kita telah berganti secara total. Atom yang sama ada pada tubuhku dan ada pada tubuhmu. Bahan kita bahan alam yang sama. Selanjutnya, atom-atom terdiri dari partikel-partikel, partikel adalah fluktuasi dari energi. Segala-galanya di bumi ini sejatinya adalah energi. Hakekatnya kita semua adalah satu. Bhinneka Tunggal Ika.

  Baca lebih lanjut

Makan Dengan Penuh Bhakti

Seorang Ibu sedang berbicara dengan anak gadisnya di meja makan.

 

Sang Gadis: Ibu, aku membaca di internet penelitian di Amerika. Sekelompok kelinci diberi makanan berkolesterol tinggi untuk mendalami asal penyakit “cardio vasculair”. Memang pada beberapa kelinci ditemukan pengerasan di pembuluh arteri mereka. Sesuatu hal yang luar biasa terjadi, ada sekelompok kelinci yang sama sekali tidak menunjukkan kenaikan kolesterol. Usut punya usut, sang asisten laboratorium selalu mengelus-elus beberapa kelinci yang sedang makan. Perasaan aman, terlindung, bahagia sewaktu menyantap makanan menawarkan kolesterol.

 

Sang Ibu: Vibrasi kasih mempunyai pengaruh luar biasa, semua makhluk, termasuk bintang dapat merasakan dan mendapatkan pengaruh positifnya.

  Baca lebih lanjut

Melepaskan Keterikatan dari Duniawi, Pemahaman dan Prakteknya

 

Lapisan Kesadaran merupakan pengalaman obyektif, sehingga tingkat kesadaran setiap orang akan berbeda karena perbedaan citra, pengalaman, pikiran dan emosinya.

Banyak orang yang mencitrakan dirinya, atau menganggap identitasnya adalah pikiran, rasa dan emosinya. Dan mereka berada pada Lapisan Kesadaran Mental Emosional. Dari persepsinya, mereka tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Seperti gelombang lautan yang sekilas nampak untuk berikutnya hilang lagi. Di dunia pun tadinya seseorang tidak nampak, kemudian lahir dan merasa hidup untuk kemudian mati dan tidak nampak lagi. Keterikatan pada dunia ini membuat hidup tidak nyaman, karena segala sesuatu di dunia ini hanya bersifat sementara.

Berdasarkan intelegensinya, seseorang tahu adanya hukum sebab-akibat, bahwa setiap akibat itu pasti ada sebabnya. Setiap buah yang dipetik, pasti merupakan hasil dari suatu benih, walaupun dia telah lupa kapan saat menanamnya. Apa pun yang kita hadapi sesungguhnya adalah buah dari benih yang kita tanam dan telah datang masa panennya. Sehingga rasa apa pun yang melekat padanya, suka atau duka harus di terima. Pada waktu gelap sebelum mendapat penerangan, kita telah menanam benih tanaman berduri, maka setelah datang penerangan, kita dapat memaklumi mengapa di sekeliling kita penuh pohon berduri. Keadaan tersebut dapat kita terima, kita cabuti tanaman berduri yang telah besar dan dengan penerangan yang kita dapatkan, kita mulai menanam lagi dengan penuh kesadaran.

Yang Mulia Guru Dharmakirti Svarnadvippi menasehati Yang Mulia Atisha untuk mengasihi dan memaafkan. Tindakan yang menyakitkan dari seseorang kepada kita adalah buah dari tanaman yang berasal dari benih yang telah kita tanam juga. Apabila kita membalasnya, maka kita akan membuat benih baru, “Kasihi dan maafkan!” dan …… selesai. Demikian seharusnya dalam menjalani hidup ini kita perlu mengasihi dan memaafkan. Kalau pun kita menegur seseorang, itu pun kita lakukan dengan penuh kesadaran dan penuh rasa kasih.

Apabila kesadaran seseorang sudah lebih tinggi, dia tidak menganggap pikiran, rasa dan emosional adalah identitasnya. “Aku” berada di atas pikiran dan perasaan. Maka tindakan apa pun yang terjadi padaku, maka aku dapat menerimanya tanpa gelisah. Yang suka dan duka adalah pikiran dan perasaanku bukan Aku. Aku tidak terpengaruh oleh pikiran dan perasaan. Aku adalah penguasa dari pikiran dan perasaanku.

Masalahnya adalah bagaimana menjaga kesadaran tersebut tetap eksis setiap saat. Bagaimana pun Aku berada di dunia ini karena mempunyai fisik, mempunyai energi hidup, mempunyai pikiran dan perasaan. Pemahaman diri bahwa Aku bukan fisik, bukan pikiran dan bukan perasaan tersebut harus diimplementasikan dengan penuh kesadaran setiap saat. Dan itu berarti kita harus hidup berkesadaran. Suatu hal yang memerlukan perjuangan yang gigih sepanjang masa. Pemandu telah berusaha dengan penuh kasih untuk meningkatkan kesadaran dan terus memandu agar kita dapat menjalani hidup berkesadaran, Support Group mendukung agar kesadaran kita tidak merosot lagi. Terima kasih Guru dan terima kasih sahabat-sahabatku.

 

Triwidodo

1 September 2008

Pengaruh Membaca Terhadap Subconscious Mind

 

Flash reading dan kemampuan otak mengelola informasi

Program flash reading oleh Layurveda sangat bermanfaat. Buku yang tebal dipotret lembar per lembar sekilas dengan jepretan penglihatan dan direkam dalam bawah sadar. Kemudian dengan cara tertentu kita me-recall rekaman tersebut, dan kita dapat memahami isi buku tebal tersebut dalam waktu singkat. Luar biasa.

Daya nalar, pemahaman dan asosiasi dalam otak seseorang berkembang sesuai pengalaman dan intens-nya pengulangan dalam kehidupan manusia. Membaca buku Bhagavad Gita sambil lalu ketika masih SMA dan mendalami buku Bhagavad Gita pada saat ini, jelas mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda. Masalah terjadi, ketika kita malas, dimana malas adalah salah satu dari 3 sifat alami (tenang, agresif atau malas) dan kita menganggap bahwa buku Bhagavad Gita pernah dibaca dan isinya ya begitu, sehingga menjadikan kita mandeg dan tidak berkembang.

Otak kita mempunyai gambaran asosiasi bagi setiap kata, misalnya kata pohon, begitu kita membaca kata pohon, maka gambaran yang tersimpan dalam otak tentang pohon akan keluar. Sehingga sebetulnya kita terkungkung dalam pemahaman pikiran kita. Itulah beda mind, pikiran dengan thoughts, anak pikiran baru yang fresh dan segar. Dalam satu hari kita mempunyai sekitar 60.000 thoughts. Apabila kita membuka diri, melepaskan diri dari mind tentang kata pohon yang sudah tergambar dalam bawah sadar kita, sebetulnya dari informasi tentang pohon itu, masih banyak sekali informasi baru yang kita belum mempunyainya, misalnya baunya, warna dan tekstur kulit kayu, bentuk ranting dan sebagainya. Sehingga kita perlu terbuka dan reseptif terhadap hal baru.

 

Diskusi study circle membahas buku-buku seorang Murshid

Dengan niat melakukan flash reading, jepretan sekilas penglihatan dapat tersimpan dalam pikiran bawah sadar. Membaca serius berulang-ulang, ibaratnya bukan menjepret tetapi merekam dengan video recorder isi buku untuk disimpan dalam pikiran bawah sadar. Apabila kita berniat, atau melakukan afirmasi: “Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Aku akan memasukkan pemikiran Murshid ke dalam diriku dan merubah pemikiranku”, maka 100 lebih buku Sang Murshid akan merubah diri kita dari dalam. Apabila kita membacanya dengan tekun, penuh kesungguhan dan membuka diri, mungkin saja suatu saat otak kita akan dapat menerima frekuensi gelombang pemikiran Sang Murshid dan terjadilah quantum leap. Seseorang yang yang sudah terbentuk pola pemikirannya dan membaca buku-buku seorang Murshid secara sambil lalu, maka dia tetap berpola lama, pemikiran Sang Murshid hanya masuk bagian luarnya, pola lama masih mengakar dalam dirinya.

Setelah sejumlah buku-buku Sang Murshid mempengaruhi di dalam diri, kemudian diekspresikan ke luar pada waktu diskusi study circle, seperti halnya me-recall pemikiran dari bawah sadar, sehingga ucapan kita seakan dijiwai Sang Murshid. Setelah pikiran dan ucapan terjiwai oleh Sang Murshid, kemudian perlu dilaksanakan dengan tindakan sehari-hari. Dengan melakukan pikiran, ucapan dan tindakan yang dijiwai Sang Murshid, kita telah menjadikan beliau menjadi pemandu yang sebenarnya. Terima kasih Ma Archana, terima kasih Ma Upasana. Sembah sujud bagimu Guru.

 

Triwidodo

Agustus 2008

Di Bawah Telapak Kaki Ibu, Pancaran Kasih Tak Berkesudahan

 

Ibu, telapak kaki, dibawah telapak kaki dan kasih tak berkesudahan

Kata mutiara ‘surga di bawah telapak kaki ibu’, mempunyai kaitan erat dengan makna ‘ibu’. Akan tetapi ada hal yang sering luput dari perhatian yaitu makna ‘telapak kaki’ dan makna yang ada ‘dibawah telapak kaki’ yaitu bumi. Secara tersirat pun jelas terdapat ungkapan pemahaman kasih tanpa kekerasan. Pemahaman sekelompok manusia yang mengkaitkan pemaksaan kehendak dengan jalan kekerasan dan mengkaitkannya dengan surga perlu dicermati dengan teliti.

Telapak kaki merupakan bagian tubuh paling bawah yang bersentuhan dengan bumi, dan merupakan alat untuk melangkah di atas bumi. Telapak kaki ibu melambangkan perjalanan kehidupan seorang ibu. Bagi kaum sufi makna perjalanan itu jauh lebih penting dari pada tujuan. Dengan perjalanan yang benar maka hasil akhir tujuan adalah suatu keniscayaan. Dalam perjalanan itu akan ditemui berbagai peristiwa. Peristiwa yang ditemui harus dijalani dengan kesadaran, agar tidak muncul penyebab baru yang dapat memperpanjang perjalanan. Tindakan kekerasan untuk memenuhi kebutuhan ego akan menimbulkan penyebab baru yang akan memperpanjang perjalanan.

Bumi yang berada dibawah telapak kaki adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di atasnya. Sifat kasih bumi begitu tulus, begitu ikhlas, tidak mengharapkan imbalan apa pun juga dari yang dihidupinya.

 

Perjalanan kehidupan seorang ibu

Kehidupan sosok ibu merupakan suatu siklus, putaran roda kehidupan. Selama sembilan bulan sebagai janin, bayi tinggal tenteram dalam rahim ibunya dan segalanya telah tercukupi. Mungkin seorang ibu tidak banyak tahu mengenai teori kasih, tetapi selama sembilan bulan dia melakukan praktek mengasihi janin yang berada dalam kandungannya. Pada tahap ini sebuah janin betul-betul tergantung mutlak kepada Sang Ibu, dengan bantuan alam tentunya.

Selanjutnya, bagi anak bayi yang baru lahir, payudara ibu adalah sumber kehidupannya. Masalah apa pun yang dihadapi, saat sang bayi berada di dekat payudara ibunya, dia akan tenang kembali.

Pada tahap selanjutnya ketergantungan hidup sang bayi sudah tidak mutlak lagi tergantung pada sang ibu saja. Ketika sang Anak mulai menapakkan kakinya di bumi dan mulai berjalan, dia sudah mulai dapat memenuhi keinginannya dengan mendekati sesuatu dengan kedua kakinya. Tahap berikutnya adalah ketika seorang remaja mulai mandiri, tidak lagi tergantung kepada orang lain.

Ketika sudah matang sebagai calon ibu, seorang perawan mengikuti nalurinya untuk melestarikan jenisnya dengan berumah tangga dengan lelaki pasangannya yang dapat mengisi kekurangan pada dirinya. Proses menyatunya dua jiwa lewat hubungan jasmani merupakan peristiwa yang suci. Ketika sang mempelai perempuan berniat mempunyai keturunan dan ketika sel telurnya dibuahi sperma, maka proses berkembangnya janin, bukan lagi tugas seorang ibu. Berkembangnya satu sel induk menjadi janin, fasilitas air ketuban dan lain-lainnya menjadi urusan alam.

Dalam perkembangan hidupnya seorang anak manusia mempunyai kebutuhan dasar hampir sama dengan hewan yaitu makan, minum, seks dan tidur yang nyaman. Ketika seseorang menjadi ibu maka kasihnya tumbuh kepada sang anak, baik ketika masih berupa janin maupun anak dewasa. Kasih seorang ibu terhadap putranya berjalan searah, memberi tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apa pun dari anaknya. Perbedaan antara manusia dan hewan adalah bahwa rasa kasih manusia bisa berkembang sehingga dia dapat mengasihi semua makhluk, sedangkan hewan mempunyai keterbatasan untuk itu.

 

Bumi, ibu semua makhluk yang penuh kasih

Semua makhluk yang hidup di bumi ini dipenuhi kebutuhan hidupnya dari lahir sampai mati oleh bumi. Makanan, minuman, keperluan hidup semua diperoleh dari bumi. Kasih bumi terhadap semua makhluk hidup berjalan searah. Dia tidak mengharapkan apa pun dari makhluk yang dihidupinya. Semua makhluk di atas bumi ini dipelihara kehidupannya olehnya. Bahkan napas kehidupan pun disediakan oleh bumi. Enam milyar manusia, milyaran trilyun sel makhluk hidup, trilyunan tanaman, trilyunan binatang ber sel satu sampai binatang besar semuanya dihidupi makan dan nafasnya oleh bumi. Bumi selain memberikan kehidupan juga terus berputar agar kehidupan dunia dapat berkelanjutan. Apabila bumi berhenti berputar sekejap saja, musnahlah semua makhluk yang hidup di atasnya.

 

Bumi merupakan makhluk yang hidup

Suhu badan kita 37 derajat Celcius. Apabila diluar badan temperaturnya tinggi, badan akan mengeluarkan keringat agar suhu badan tetap stabil. Apabila di luar dingin, kulit tubuh akan mengerut dan mengeluarkan panas agar suhu badan tetap stabil juga. Bumi pun mempunyai suhu tertentu, suhu bumi berkisar 13 derajat Celcius. Apabila di luar panas, es di kutub akan mencair dan menjaga suhu bumi agar stabil, kemudian apabila di luar dingin, air laut akan membeku dan mengeluarkan panas untuk menjaga suhu bumi tetap stabil.

Kadar oksigen di atas permukaan bumi sekitar 21%, kalau oksigen terlalu besar, mudah terjadi kebakaran hutan dan kehidupan punah. Juga kalau oksigen kurang dari 21%, oksigen akan cepat habis untuk bernapas semua makhluk dan makhluk pun akan punah. Kandungan garam di laut pun selama ribuan tahun berkisar 3.4%.

Para manusia yang mengakibatkan global warming, ibarat sel kanker dalam tubuh manusia yang tidak selaras dengan tubuh dan mempependek usia tubuh. Tindakan manusia yang tidak sesuai dengan alam akan memperpendek usia bumi.

Seperti halnya puluhan trilyun sel pada tubuh manusia yang hidup pada tubuh manusia dan dihidupi manusia, seluruh makhluk di atas bumi pun hidup di atas bumi dan dihidupi bumi. Milyaran planet seperti bumi pun keberadaannya dihidupi oleh matahari dan planet semacam lainnya. Demikian seterusnya, dan semuanya dihidupi oleh Bunda Alam Semesta.

 

Perjalanan rasa kasih manusia hingga mencapai rasa kasih abadi

Kasih seorang ibu dapat berkembang dalam diri setiap orang untuk mengasihi putranya dan meningkat hingga mengasihi semua makhluk. Ketika manusia mengasihi semua makhluk seperti kasih bumi terhadap semua makhluk, maka pada saat demikian seseorang sudah selaras dengan alam, jiwanya menyatu dengan alam semesta. Hanya apabila pria ataupun wanita dapat memberikan kasih tanpa pamrih dapat dikatakan selaras dengan alam semesta. Keselarasan dengan alam semesta akan mendekatkan diri kepada Ilahi, Bunda Alam Semesta. Surga.

 

Triwidodo.Juni 2008.

Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Kedelapan)

 

Vihara Thicksey dan Hemis

 

Catatan Kecil Pribadi

 

Happy Wedding Anniversary to Triwidodo & Rosita.

May your relation sthrengthen into a lasting bond of frienship.

Leh, Ladakh 19th May 2008

From Spiritual Journey Members 11th – 22nd May 2008.

Ditandangani Guruji dan 17 teman seperjalanan, di lembar pertama buku hadiah Guruji dan teman-teman seperjalanan, The Fifth Gospel, karya Fida Hassnain dan Dahan Levi, Dastgir Publications 1988.

 

Wanita yang diberkahi

Pernah kami tulis dalam tulisan yang dimuat dalam buku Neo Man Neo Vision, yang menceritakan tentang almarhumah Eyang Srini yang ditulis Guruji dalam Soul Quest sebagai Ibu Sri, seorang ibu atau bunda untuk semua, khususnya para pengikut, teman-teman dan mereka yang bersimpati padanya. Ia berasal dari keluarga Kraton, namun ia memilih tinggal di luar Kraton sebagai rakyat biasa. Ia seorang wanita yang diberkahi – sesuatu yang mistik. Ia jarang bicara, tetapi kalau bicara ucapannya penuh wibawa, seolah kekuatan yang lebih besar sedang berbicara lewat dirinya. Sebelum ibunda Guruji mengandung beliau, Ayah Guruji mendapat kesempatan bertemu dengan Eyang Srini. …. Ya, ya.. saya restui. Anda menginginkan seorang anak, seorang putra. Tuhan akan memberikannya kepada anda. Tak usah kuatir. Tunggu sebentar dan ia masuk ke ruang pribadinya. Tidak lama kemudian seorang pengikut Eyang Srini keluar dan memberikan sebuah apel untuk ibunda Guruji dan Sang Ayah diminta memberi makan ikan di Bengawan Solo dengan nasi kuning…..

Ibu kami juga sering minta tolong kepada Eyang Srini terutama saat kami ujian atau menempuh pendidikan di luar kota. Kadang-kadang kami diminta makan selat, masakan khas Solo. Kami ingat adiknya ibu kami yang akan mendapat PHK di Jakarta disuwunkan, dimohonkan berkah dan lolos dari PHK. Ternyata Istri kami masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Eyang Srini. Ibu istri kami juga sering memohon berkah. Dan yang penting, ketika kami akan menikah yang memberikan tanggal yang baik bagi perkawinan adalah Eyang Srini sendiri. Yang mendampingi kami dalam Upacara Temu Penganten adalah adik Eyang Srini sendiri. Tanggal yang dipilihkan Wanita Suci pembawa berkah ini adalah 19 Mei 1984. Kami terkadang masih datang ke makamnya yang dibuat dengan bangunan indah di luar Kota Solo dan dimana terdapat foto beliau yang dipajang di atas makamnya. Bangunan ini dibuat sebagai penghargaan terhadap Eyang Srini yang pernah menjadi sebagai Tentara Pelajar.

Dua puluh empat tahun kemudian, pada tanggal 19 Mei 2008, kami berdua diajak Keberadaan mengikuti Guruji ke Vihara Hemis. Vihara yang berkaitan dengan Padmasambhava, pembawa Buddha dari India ke Tibet. Vihara yang berkaitan dengan Gusti Yesus yang pernah berada di Himalaya. Vihara yang berkaitan dengan sembuhnya Guruji yang sembuh dari penyakit Leukemia dan mendapatkan pencerahan. Gusti, luar biasa, tanggal yang dipilih seorang wanita suci pembawa berkah terbukti setelah duapuluh empat tahun kemudian. Tidak ada sesuatu yang bersifat kebetulan. Angka keluarga kami adalah warisan dari keluarga mertua kami yaitu 248. Setiap kami melakukan kebenaran, selalu saja ada mobil lewat di depan kami bernomor 248. Angka perkawinan telah menginjak ke 24 pada tahun 2008 dihitung dari tahun 84. Mobil yang dinaiki istri dalam perjalanan ini bernomor JK10. 4820. JK10 adalah nomor Jammu Kashmir untuk daerah Ladakh. Tanggal lahir istri 17-11-1957 bila dijumlah adalah 8-2-4. Sebelum mendapatkan nama Jalan Dworowati bernomor 33, jalan tersebut dinamakan Sidokare dan diberi almarhum ayah mertua nomor 248. menurut beliau Pujangga Ronggowarsito senang mempunyai nama orong-orong yang genap 248. Kebetulan kakek kami adalah seorang pensiunan Mantri Sekolah penggemar berat Ronggowarsito dan kami sebagai cucu tersayangnya sudah diajari memahami tulisan Sang Pujangga sejak kecil. Terima kasih Gusti. Terima kasih Guruji, terima kasih teman-teman semua.

Pagi itu kami sarapan pukul 05.00, berangkat pagi-pagi sekali menuju Vihara Thicksey. Vihara Thicksey terletak di ketinggian 3.600 m di atas permukaan laut dan berjarak sekitar 20 km dari Leh. Merupakan tempat Thicksey Rinpoche, pemimpin Sekolah Gelug di Ladakh. Pada abad ke 15 Tsongkhapa penemu Sekolah Gelug mengirim 6 muridnya ke Tibet mengajarkan ajaran baru Gelugpa.

Di salah satu ruang seorang Bhiksu membaca mantra dan memukul semacam gong yang diikuti oleh dua orang bhiksu memakai topi khas Tibet dengan jambul seperti topi Romawi kuno yang terbuat dari kulit domba, meniup terompet diatas Vihara. Suaranya terdengar sampai perkampungan di bawah bukit. Kemudian rombongan mengikuti atau lebih pantas menyaksikan acara ritual berdoa dan sarapan bersama para bhiksu. Ritual makan di tempat meditasi dilakukan dengan tertib.

Perjalanan dilanjutkan ke Vihara paling terkenal di Ladakh, Vihara Hemis. Vihara Hemis adalah Vihara buddhist Tibet dari garis Drukpa yang terletak sekitar 45 km dari Leh. Vihara dibangun pada tahun 1.672 oleh Raja Ladakh Senge Namgyal. Sebagai penghormatan kepada Padmashambhava yang pernah memberikan ajaran di Hemis, setiap awal Juni di Vihara tersebut diadakan perayaan khusus.

Pada tahun 1894, buku perjalanan Jurnalis Nicolas Notovitch mengklaim bahwa Hemis adalah awal dari ajaran Saint Issa. Jesus dikatakan melakukan perjalanan ke India, selama waktu-waktunya yang hilang tak terjelaskan, antara 12 tahun sampai 29 tahunan. Menurut Notovtich, penjelasan telah tersedia di Perpustakaan Hemis, dan ditunjukkan kepadanya ketika dia menyembuhkan luka kecelakaan di sana.

Guruji nampak menyimpan tenaganya untuk bisa naik ke Vihara. Mahima langsung bersujud di tanah dan berangkulan dengan Ma Upasana dan menangis berdua setiba di Hemis. Inilah Vihara di mana Guruji Anand Krishna bertemu Lama yang menyembuhkan penyakitnya dan menyuruh pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan Karma Bhuminya. Ketenangan dan energi luar biasa terpancar di Vihara yang terletak di ketinggian pegunungan Himalaya. Jumlah oksigen yang tipis, membuat orang lebih meditatif dan kurang bicara. Dapat diterima logika bahwa bagi mereka yang menginap beberapa hari di Vihara, dan bermeditasi di sana akan mudah mendapatkan ketenangan. Sebagaimana kita ketahui, energi otak diperoleh dari sari makanan dan oksigen. Setelah berpuasa sekitar empat jam, ditambah oksigen yang tipis di ketinggian gunung yang dingin, pikiran tidak begitu liar lagi. Pada saat demikian lebih mudah bagi seseorang untuk mendapatkan getaran pikiran yang sinkron dengan alam semesta, dan terbukalah dirinya. Puji Tuhan, Guruji telah mendapatkan penerangan dan kesembuhan di sana. Vihara yang tadinya terletak di tepi Sungai Sindhu ini didirikan dengan tujuan agar para bhiksu mandiri dengan mengolah lahan pertanian yang cukup luas yang berada di tengah perkampungan penduduk.

Teringat buku tulisan Guruji di Soul Quest. Seorang Lama bertanya kepada Guruji yang sedang menderita karena penyakit leukemia dan Hb yang sangat rendah, Mengapa kamu menolak kematian? Terimalah kematian seperti menerima hal-hal lain dalam kehidupan. Tapi mengapa aku harus memberitahumu tentang ini. Kamu sudah punya banyak pengetahuan. Lama itu memegangbtangan Guruji ke pohon Bodhi yang sangat besar. Orang mengira Buddha mendapatkan pencerahannya di bawah pohon Bodhi. Tentu saja tidak demikian. Baik pohon ini atau pohon-pohon yang lainnya tak ada hubungannya dengan pencerahan. Pencerahan tidak didapatkan begitu saja karena duduk di bawah pohon. Sebenarnya hari itu ia capek dan bosan dengan semua yang telah dilakukannya. Semua latihan, disiplin dan meditasi tak membawanya kemana pun. Dan ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Tapi mengapa aku memberi tahumu tentang ini? Kau tentu saja sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Cerita selanjutnya Guruji menemui Lama tersebut di Hemis. Kau telah memilih tempat yang baik untuk mati. Lihatlah Himalaya dengan salju abadinya, dan ada sungai Sindhu dengan alirannya yang tenang. Kau sudah melakukan hal yang benar dengan datang ke sini , tempat yang tepat untuk mati………… Jangan lari, jangan melarikan diri. Hadapilah rintangan-rintangan hidup ini dengan senyuman di bibir. Kita cenderung lupa bahwa kita bertanggung jawab seratus persen atas apa yang terjadi pada diri kita. Kita menciptakan masalah, jadi kita juga yang harus menghadapinya… memecahkan masalah……. Ini adalah tanah yang suci. Getaran di sini sangat kuat – spiritual, getaran-getaran Ilahi. Atisha pernah berada di sini. Ia menghabiskan beberapa waktu di Biara ini, seperti halnya dengan sang Juru Selamat. Mereka berdua mencintai tempat ini. Gedung-gedung di biara ini telah berubah, tetapi biara ini tak berubah. Faktanya, ruangan yang sekarang kau tempati ini adalah ruangan yang dulu ditempati oleh sang Juru Selamat…….

Rombongan menyaksikan acara ritual di Vihara dan setelah selesai dilanjutkan dengan acara Guruji bersama rombongan. Setelah berdoa dan membaca mantra, keluar suara Guruji yang sangat mengharukan, bahwa masyarakat Indonesia itu egonya sangat besar, rasa jealousnya juga tinggi dan seluruh rombongan menangis.

Selesai dari Vihara Hemis perjalanan dilanjutkan ke Mahabodhi International Meditation Centre. Guruji pernah memutuskan menjadi Bhiksu di organisasi ini dan diinisiasi oleh Ven. Bikkhu Sanghasena dengan nama Anomadassi sebelum ketemu Lama Pemandu Beliau di Biara Hemis. Meditation Centre yang luas ini mempunyai beberapa program yang dalam 17 tahun terakhir berkembang sangat pesat. Ada program Meditasi, Program Pendidikan, Program Kesehatan dengan Rumah Sakit dan Klinik Berjalan, Pendidikan Bhiksuni, Program Lansia, Program Remaja, Program Lingkungan dan lain-lain. Desember 2005, ketika ikut rombongan Guruji ke Varanassi sempat melakukan peninjauan ke Mahabodhi Temple dan melihat sekelompok anak muda menari dalam lingkaran menyanyikan lagu-lagu cinta tanah air seperti kegiatan Pesta Rakyat. Pada waktu itu juga sempat melakukan doa di Birla Temple di New Delhi yang juga merupakan kegiatan Mahabodhi International Meditation Centre dengan nuansa ritual spiritual. Di Sore hari melihat Shanti Stupa di puncak bukit di Leh yang didirikan oleh pemerintah Jepang. Selanjutnya ke Vihara Shankar.

Pagi harinya perjalanan dilanjutkan ke Khardongla Pass yang merupakan Pass tertinggi di dunia dengan ketinggian 6.127 m yang telah dicatat dalam Guinees Book of World Records. Persiapan matang perlu dilakukan karena di ketinggian tersebut oksigen sangat tipis dan membuat kepala pusing. Khardongla Pass ini merupakan jalan yang harus dilewati ke Nubra yang bisa diteruskan ke China.

Kita mengenal perjalanan ke Barat oleh Bhiksu Tong Sam Cong. Jalan yang dilalui melalui Khardongla Pass, Fotula Pass dan Zojila Pass menuju Kashmir. Hal itu bermula ketika Kaisar Li Sin Min mengutus Bhiksu Tong Sam Cong untuk mengambil Kitab Suci Tripitaka dari India melalui “Jalan Sutra Utara”. Jalan tersebut demikian melegenda, hingga melahirkan kisah klasik See Yu, yang melalui tayangan televisi demikian terkenal sebagai serial film “Kera Sakti”. Bhiksu Tong Sam Cong melakukan perjalanan dari Chang’An, Anxi, Tashkent, Samarkand, Leh, Tibet, Bodhgaya, terus ke India Selatan sampai ke Kancipuram. Kemudian kembali ke Utara ke Kashmir, Kashgar, dan Anxi untuk kembali ke Chang’An. Perjalanan bhiksu Thong Sam Cong yang digambarkan menaiki kuda putih ini dilakukan selama 16 tahun dari tahun 627 sampai dengan tahun 643.

Alexander Yang Agung pada tahun 330 BC juga pernah melakukan perjalanan sejauh 20.000 miles dari Macedonia ke Punjab. Setelah lewat Bactria, dan berhenti sebentar di Kabul, meneruskan perjalanan sampai sungai Jhelum di hulu Kashmir dan tentaranya menolak meneruskan perjalanan ke India.

Gusti Yesus juga dipercaya melakukan perjalanan ke Kashmir lewat Jalan Sutra bahkan dipercaya makamnya berada di Kashmir. Jalan Sutra di mulai dari Chang’An di China, ada cabang dari Kashgar kemudian turun ke arah Selatan ke Leh dan Srinagar. Dari Kashgar ke Barat, Samarkand, Bokhara, Merv, Persia, Mesopotamia bertemu dengan Laut Tengah di Antioch dan Tyre. Rute ini digunakan untuk kepentingan perdagangan dan perpindahan penduduk oleh Bangsa Mesir, Irael, Arya dan lainnya.

Keesokan harinya melakukan penerbangan dari Leh menuju New Delhi. Di Delhi ziarah ke makam Hazrat Inayat Khan, Bahai Temple, Birla Temple dan sight seeing di New Delhi.

Keesokan harinya pulang menuju Jakarta. Selesai.

 

Triwidodo

Juni 2008.