Renungan Kebangsaan: Pesan Terakhir Bhisma Tentang Dharma Bagi Putra-Putri Bangsa

Resi Bhisma pernah bersumpah untuk setia melindungi Kerajaan Hastina. Dalam artikel sebelumnya, “Renungan Kebangsaan: Figur Permaisuri Yang Ambisius Dalam Kisah Mahabharata” sudah disampaikan sekilas tentang pengorbanan Bhisma untuk melindungi Kerajaan Hastina dari perpecahan. Bahkan beliau yang di waktu muda menjadi putra mahkota Hastina dan bernama Dewabrata mengambil sumpah yang mengerikan untuk tidak mempunyai istri, agar Hastina terselamatkan dari perpecahan diantara dinasti Kuru. Bhisma sendiri mempunyai arti “yang mengerikan”, karena dia telah mengambil sumpah yang mengerikan, tidak akan kawin demi persatuan bangsa. Oleh karena itu dia mendapatkan anugerah untuk menetapkan waktunya sendiri kapan meninggalkan jasadnya.

Bhisma tetap setia melindungi Kerajaan Hastina. Apabila penguasanya bijaksana, Bhisma akan mendukung penuh, akan tetapi bila penguasanya lalim, Bhisma akan berusaha sekuat tenaga untuk mengingatkannya. Baginya yang penting negara Hastina aman sentosa dan sedapat mungkin berjalan di jalan yang benar. Dalam intrik-intrik perebutan kekuasaan, antara kelompok pro-Destarastra yang buta, ataupun kelompok pro-Pandu yang sakit-sakitan, Bhisma melindungi negara agar negara tetap utuh. Ketika kebijakan Hastina mulai dibelokkan oleh Patih Shakuni, Bhisma tidak mau mengundurkan diri. Apabila ditinggalkannya, negara Hastina akan semakin kacau. Kalau Bhisma mengundurkan diri karena kecewa terhadap Shakuni, keberadaannya tidak ada manfaatnya bagi Hastina. Usaha diplomasi Sri Krishna untuk menggagalkan perang Bharatayuda didukung Bhisma, tetapi hasilnya sia-sia juga.

Dilema terjadi ketika terjadi perang Bharatayuda, dia akan berada di pihak siapa? Bhisma menenangkan diri, mengheningkan cipta……. Aku ini siapa? Aku bukan badanku, bukan pula pikiran dan perasaanku karena aku dapat menyaksikan mereka dan dapat mengendalikan mereka. Aku abadi, keberadaanku di dunia, menghadapi segala permasalahan pelik adalah untuk menyadari jati diriku. Bhisma tahu Sri Krishna adalah titisan Wisnu, Keberadaan yang mewujud untuk menyeimbangkan dharma kala adharma merajalela. Di dalam dirinyapun terdapat Sri Krishna, sang pikiran jernih. Segalanya berjalan sesuai skenario Sri Krishna.

Bhisma menolak Yudistira untuk masuk dalam koalisi Pandawa bila terjadi perang bharatayuda melawan Korawa, dan hal ini diketahui oleh Duryudana dan Shakuni. Bila Bhisma berada di pihak Pandawa perang akan batal, karena Korawa menyadari kesaktian Bhisma, kakek mereka. Bhisma tetap bertekad membantu Korawa penguasa “de facto” Kerajaan Hastina yang akan melakukan perang dengan Pandawa. Dia akan menghancurkan pasukan yang berperang melawan Hastina, namun dia tidak akan membunuh kelima Pandawa. Bhisma juga paham bahwa tekadnya mempersatukan Hastina bagi dinasti Kuru adalah perbuatan mulia, tetapi Kehendak Hyang Widhi lah yang terjadi, bukan kehendaknya pribadi. Bhisma paham perbedaan antara “kuru” dan “dharma”, antara “kebaikan atau kepentingan pribadi, keluarga, dinasti dan golongan”, dan “kebaikan atau kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, kebaikan umat manusia”. Baca lebih lanjut

Iklan

Sepuluh (10) Butir Pandangan Mahatma Gandhi untuk Mengubah Dunia, Renungan Ke-65 Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membicarakan tentang Mahatma Gandhi. Kali ini mereka tidak berdiskusi, tetapi menyimak bersama buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”, tulisan Bapak Anand Krishna. Mereka sudah tidak tahan melihat kekerasan, kemunafikan dan kesemrawutan yang terjadi di tengah bangsanya. Mereka menyadari bahwa bangsanya harus berubah, akan tetapi mereka sadar putra-putri bangsanya diliputi rasa “takut” untuk melakukan perubahan. Yang berada dalam “comfort zone” takut kehilangan “comfort” dan ingin mempertahankan keadaannya dengan segala cara. Yang berada dalam “uncomfort-zone” takut bergerak sendiri karena merasa lemah dan menggantungkan diri pada mereka yang memiliki “wewenang – yang diibaratkan angkatan bersenjata ampuh” yang ternyata belum bergerak juga. Yang memiliki media tidak memihak pada kesatuan negeri, kecuali “kepentingan pribadi”. Yang melakukan provokasi tidak pernah sadar mereka hanya korban penanaman program sejak kecil agar merasa “fasad/kekerasan” yang dilakukannya adalah benar dan diridhoi Gusti. Yang memahami keadaan diam. Dan adharma semakin merajalela ditengah bangsa. Apakah artinya bila semua putra-putri bangsa memiliki hati nurani tetapi tidak melakukan perubahan dengan tindakan nyata?

Mereka ingat sebuah wisdom yang diilhami kehidupan Michael Jackson…….. Seluruh kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Kita tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini……. “Heal the World-Sembuhkan Dunia”, “Mangasah mingising Budhi-Mencerdaskan bangsa”, “Mamasuh Malaning Bhumi-membersihkan borok Ibu Pertiwi”, “Mamayu Hayuning Bawono-Memperindah Keadaan Negeri”………

Mereka merasa petikan atau “wisdom quotation” dari buku yang sangat mulia ini dapat memicu perubahan diri………

Butir # 1 Change Yourself:You must be the change you want to see in the world.” Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kauinginkan terjadi dalam dunia……… Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Jangan mengharapkan perubahan dari dunia luar. Jangan menunda perubahan diri hingga dunia berbeda. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Kalau kita tidak ikut berubah, kita menciptakan konflik antara diri kita dan dunia ini…….Pengotakan manusia berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan dan lain sebagainya lahir dari pikiran yang masih belum dewasa. Pikiran yang masih hidup dalam masa lampau, masih sangat regional atau parsial, belum universal……. Pikiran seperti inilah yang telah mengacaukan negeri kita saat ini. Kita hidup dalam kepicikan pikiran kita, dalam kotak-kotak kecil pemikiran kita, tetapi ingin menguasai seluruh Nusantara, bahkan kalau bisa seluruh dunia. Jelas tidak bisa. Baca lebih lanjut

Sadewa Dipandu Semar Meruwat Kesucian Ibu Pertiwi

Wahai momonganku Sadewa, ruwatlah Dewi Uma dan kembalikan kesuciannya! Kesalahannya yang lalu dalam menentukan pilihan hidup mengakibatkan dirinya hidup dalam suasana kegelapan, kebuasan dan kengerian Alas Setra Ganda Mayit. Lakumu perlu diteladani putra-putri bangsa untuk meruwat bangsa dan mengembalikan jati diri Ibu Pertiwi.” Pesan Romo Semar kepada Sadewa.

Keterkaitan manusia masa kini dan masa leluhur pada zaman dahulu

Cerita yang digambarkan pada relief Candi Sukuh mengungkapkan cerita Sudamala. Sebuah peninggalan leluhur yang mempunyai visi ke depan untuk mengembalikan jati diri sebuah bangsa. Karena lupa akan jati dirinya, sebagian masyarakat telah keliru memilih budaya luar yang kurang selaras dengan lingkungan bumi pertiwi dan kurang pas dengan sifat genetik warisan leluhur.

Genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman. Baca lebih lanjut

Pergolakan Batin Sang Adipati Karna dan Kemantapannya dalam Membela Ibu Pertiwi

Adipati Karna sadar bahwa pihak Korawa yang dipilihnya berada di pihak yang salah. Akan tetapi, pada saat negeri Hastina berperang, dia merasa mendapat anugerah untuk mempersembahkan jiwa dan raganya sebagai balas budi terhadap kemuliaan yang telah diterimanya. Karna berperang sepenuh hati demi negara yang selama ini memberikan kehidupan dan kehormatan kepadanya. Yang Maha Kuasa telah memberi kesempatan untuk berbakti terhadap negara, dan anugerah itu diterimanya dengan penuh kebanggaan. Bagi Karna perang ini bukan saat berpikir menang atau kalah, dia larut dalam persembahannya, mati pun dia rela…….

Sri Mangkunegara IV

Figur teladan kedua dalam Serat Tripama karya Sri Mangkunegara IV adalah Adipati Karna. Sri Mangkunegara IV sendiri adalah seorang raja yang bijaksana, yang mampu menggugah semangat warganya untuk berjuang tanpa pamrih demi negara. Beliau pun seorang pengusaha yang handal dengan mendirikan Pabrik Gula di sekitar Surakarta yang merupakan pabrik yang sukses pada zamannya. Beliau meneruskan nasehat Sri Mangkunegara I yang berpesan bahwa setiap warga harus: “Melu handarbeni, melu hangrungkebi, mulat sariro hangroso wani” bagi negaranya. Setiap warga harus bertanggung jawab: merasa memiliki, membela dengan penuh pengorbanan, serta mengadakan intropeksi terhadap tindakan bangsanya. Baca lebih lanjut

Altruisme Gatotkaca demi Ibu Pertiwi

Ada yang menganggap aku membantu pihak keluarga Ayahandaku, Bhima. Ada pula yang menganggap aku membalas budi kebaikan pamandaku, Arjuna, yang telah menolong kelahiranku. Bagiku, aku mewakili ksatriya dari Bumi Pertiwi dalam menegakkan Kebenaran. Pilihanku telah jelas, aku memilih pihak Pandawa daripada Korawa. Gusti itu ‘tan kena kinaya ngapa’, tak dapat disepertikan, diluar pikiran dan rasa manusia. Bagiku Ibu Pertiwi adalah salah satu wujud-Nya yang nyata yang dapat kulayani sepenuh hati. Hidup-matiku kupersembahkan kepada Ibu Pertiwi.

Ayah dan Ibu Gatotkaca

Perang Bharatayudha sudah berlangsung selama tujuh hari, dan setiap hari selalu saja mengalami perjuangan antara hidup dan mati. Dan, Gatotkaca larut dalam permenungan yang dalam. Gatotkaca mengatur napas, sejenak berada dalam kedamaian, dan berusaha mengingat beberapa kejadian penting dalam hidupnya.

Ibunya, Harimbi pernah bercerita bahwa dalam pengasingannya selama dua belas tahun, Bhima ayahandanya sempat mengembara sampai di sekitar Pegunungan Dieng. Bhima dapat menaklukkan kakak ibunya Raja Raksasa Harimba, penguasa hutan di pusat pulau Jawa. Ibunya jatuh cinta kepada ayahandanya, ksatria tinggi besar kuat berotot layaknya raksasa tetapi penampilannya menawan. Ibunya adalah seorang wanita raksasa, akan tetapi hatinya sudah lembut, evolusi jiwanya sudah mendahului penampilannya. Dewi Kunti, neneknya dari pihak ayah yang waskita ‘memoles’ ibunya dengan ‘operasi plastik zaman kuna’ menjadi wanita yang cantik, sehingga ayahandanya jatuh cinta. Ibunya juga bercerita bahwa Eyang Kunti, ibu ayahandanya, mematuhi nasehat dari keponakan Eyang Kunti, Sri Krishna untuk menggunakan perkawinan sebagai pengikat kasih, pengikat persaudaraan, perkuatan energi. Diharapkan seluruh Nusantara akan mendukung Koalisi Pandawa dalam berperang melawan Korawa. Baca lebih lanjut

Keteladanan Raden Sumantri dalam Membela Ibu Pertiwi

Bagi Raden Sumantri melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Termasuk rasa kepemilikan terhadap nyawanya. Raden Sumantri tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Tuhan adalah Pemilik Tunggal semuanya ini. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan egonya. Dan, Raden Sumantri bertarung sepenuh hati melawan Rahwana sampai hembusan napas yang terakhir. Raden Sumantri hanya melihat Dia, hanya ada Dia. Dia yang dicintainya dan Dia sedang mengulurkan tangan-Nya.

Raden Sumantri

Dalam Serat Tripama, Sri Mangkunegara IV mengetengahkan moralitas, kepahlawanan, kesetiaan dan dedikasi terhadap bangsa dengan memberikan tiga tokoh wayang yang pantas diteladani. Pemilihan ‘Tembang Dhandhanggula’ merupakan tanda bahwa yang akan disampaikan adalah ‘pitutur adiluhung’, nasehat yang sangat luhur, butir mutiara dari salah seorang Master yang lahir di Bumi Pertiwi. Salah satu tokoh yang diketengahkan beliau adalah Raden Sumantri. Baca lebih lanjut

Ki Ageng Suryomentaram Mengelola Mind dengan Kramadangsa

 

Otak sebagai Juru Catat

Ketika masih bayi aku menjadi juru catat apa saja yang berhubungan dengan diriku. Juru catat dalam diriku hidup dalam ukuran pertama, seperti hidupnya tanaman. Kerjanya hanya mencatat, kalau berhenti mencatat berarti mati. Untuk hal di luar diri otak mencatat dari panca indera, sedang di dalam diri otak mencatat dari rasa, emosi. Catatan-catatan ini jumlahnya berjuta-juta. Catatan-catatan itu barang hidup, hidupnya catatatan itu dalam ukuran yang kedua, seperti hidupnya hewan. Karena hidup catatan ini butuh makan. Bila kurang makan menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan catatan-catatan itu berupa perhatian. Kalau diperhatikan catatan-catatan menjadi subur, bila tidak diperhatikan catatan-catatan menjadi mati.

 

Kramadangsa, ego manusia

Kalau catatan ini sudah banyak maka Kramadangsa (yang bernama namaku) baru lahir, yaitu manunggalnya semua catatan bermacam-macam seperti: (1)harta milikku, (2)kehormatanku, (3)kekuasaanku, (4)keluargaku, (5)bangsaku, (6)golonganku, (7)jenisku, (8)pengetahuanku, (9)kebatinanku, (10)keahlianku, (11)rasa hidupku. Kramadangsa ini hidup dalam ukuran ketiga, karena tindakannya sudah memakai pikiran. Jadi Kramadangsa itu tukang berpikir, yang memikirkan kebutuhan catatan-catatannya.

Catatan-catatan ini termasuk ukuran kedua seperti halnya hewan yang apabila diganggu marah. Misalkan anakku diganggu, kita langsung marah, padahal anak itu sebetulnya itu hanya catatan tentang keluargaku. Sedangkan Kramadangsa ini termasuk ukuran ketiga, yang sebelum bertindak memikir dulu. Pada waktu akan marah memikirdulu, bagaimana marahnya, memukul, mengumpat atau lebih baik diam karena kalau marah membahayakan diri. Bila Kramadangsa didominasi salah satu catatan misalnya catatan tentang kekayaan, maka catatan lain misal catatan kehormatan, atau catatan bangsa diabaikan. Demi harta kekayaan kita mengabaikan kehormatan diri dan kepentingan bangsa. Kramadangsa ini adalah pembantu dari sebelas kelompok catatan-catatan tersebut di atas.

 

Persimpangan jalan antara Kramadangsa dan Manusia Universal

Apabila aku merasa marah dan kemudian berpikir bagaimana caranya marah, aku sedang menempuh ukuran ketiga yaitu Kramadangsa, ego. Apabila pada waktu marah aku berpikir, marah itu apa? Wujudnya bagaimana? Maksud marah itu apa? Apakah marah itu hanya karena catatan-catatan diri yang diganggu? Aku bukan kumpulan catatan-catatan, aku bertindak sebagai saksi. Dengan kesadaran tersebut, maka aku menempuh ukuran keempat yaitu Manusia Universal. Manusia Universal ini bila bertemu orang lain merasa damai. Bersamaan dengan munculnya Manusia Universal di ukuran keempat, maka Kramadangsa, Sang Ego menjadi berhenti dan aku dapat melihat kesalahan-kesalahan dari catatan-catatan yang telah dibuat. Yang sering salah bukan catatan dari panca indera tetapi catatan dari rasa emosi. Misalkan catatan tentang harta kekayaan. Bila harta kekayaan digunakan untuk mencukupi kebutuhan raga seperti makan, minum dan fasilitas istirahat, maka harta tersebut akan memadai. Akan tetapi bila harta kekayaan dipergunakan sebagai catatan kehormatan dan kekuasaan, yang merupakan kebutuhan jiwa, maka harta kekayaan tersebut selalu dirasakan kurang memadai.

 

Memanfaatkan Pemahaman Kramadangsa demi Ibu Pertiwi

Untuk menjernihkan catatan-catatan kita masing-masing, maka kita perlu memahami Kramadangsa. Kemudian, setelah dipahami, Kramadangsa, ego akan mati. Demikianlah cara menganalisis pengalaman untuk memahami kenyataan menurut Ki Ageng Suryomentaram, yang hampir selaras dengan Bhagavad Gita dalam cara melenyapkan manas , cara memahami objek yang berupa kumpulan pikiran, emosi dan vasana. Setelah memahami bahwa aku bukan raga, pikiran dan perasaan, Arjuna maju perang demi dharma. Setelah sadar bahwa diri kita bukan kumpulan catatan tetapi saksi, kita akan menjadi Manusia Universal, dan kita akan bertindak selaras dengan alam. Semua kebutuhan hidup kita dipenuhi oleh bumi tempat kita berpijak, sehingga sudah sepantasnya kita berbakti pada Ibu Pertiwi. Seandainya kita belum juga mencapai tingkatan Manusia Universal, masih hidup sebagai Kramadangsa, kita pun perlu memberi perhatian lebih kepada catatan tentang bangsa, tentang ibu pertiwi dibandingkan catatan-catatan lainnya. Sehingga kita lebih mendahulukan kepentingan Ibu Pertiwi daripada urusan lainnya.

 

Triwidodo

September 2008.