Mengikis Sifat Egois ala Wedhatama

Seri Kearifan Lokal

buku wedhatama

“Musik, lagu, segala suatu yang lembut yang indah dapat menyentuh hati Anda. Seorang pujangga selalu berusaha untuk berdialog dengan hati Anda, untuk berkomunikasi lewat rasa. Seorang ilmuwan, seorang cendikiawan, seorang ahli matematika tidak akan melakukan hal itu, ia akan berkomunikasi lewat prosa, tidak lewat puisi. Sebaliknya, apabila seorang pujangga sedang berkomunikasi dengan Anda, prosa dia pun akan mengandung puisi. Yang sedang bicara adalah hati dia. Yang sedang diajak bicara adalah hati Anda. Demikian terjadilah hubungan dari hati ke hati. Apabila rasa berkembang, pikiran-pikiran yang kacau akan hilang dengan sendirinya. Penjernihan jiwa pun terjadi dengan sendirinya. Menyelami tembang merupakan suatu meditasi. Apa yang dapat anda alami dalam alam meditasi juga dapat anda alami lewat tembang, lewat kata-kata Sang Pujangga……” Demikian kutipan dari Buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1998.

 

Keceriaan di Usia Senja

Dalam salah satu bait dari Wedhatama, Sri Mangkunagara IV menulis sebuah tembang “Pocung”: “Ngelmu iku kalakone kanti laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkara”. Sebelum membahas makna tembang tersebut kita perlu memahami nuansa sebuah tembang. Jenis tembang yang dipilih dalam bait ini adalah “Pocung”. Tembang “Pocung” mempunyai sifat humor, senda gurau, ceria. Di ujung usia yang sudah senja sebaiknya seorang manusia perlu berada dalam keceriaan.

Sidharta Gautama sudah hidup sejahtera di dalam istana, akan tetapi pandangan beliau sangat kritis. Ketika beliau melihat seseorang di luar istana sedang sakit, beliau tersadarkan bahwa beliau pun pada suatu saat akan mengalami hal yang sama. Saat beliau melihat orang tua-renta, kesadaran beliau pun bangkit bahwa pada suatu saat beliau pun akan mengalami keadaan tua-renta. Kemudian beliau melihat orang yang sedang sekarat dan beliau sadar bahwa pada suatu saat beliau pun akan mengalami hal yang sama. Mengapa kita yang sudah melihat orang sakit, orang tua-renta bahkan sering melihat orang yang dalam keadaan sekaratul maut, masih belum sadar juga, masih merasa bahwa kita tidak akan meninggal dunia? Sidharta Gautama di kemudian hari melihat ada seorang tua-renta yang sakit dan sedang sekarat, tetapi wajahnya memancarkan kebahagiaan, keceriaan. Beliau terpicu ingin mengetahui apa rahasia orang yang bisa memperoleh kebahagiaan sejati dan selalu berada dalam keceriaan, dan apa pula yang menyebabkan orang berduka. Akhirnya beliau meninggalkan istana untuk berupaya memperoleh cara mencapai kebahagiaan sejati yang sangat berguna bagi manusia. Para leluhur kita juga memberi nasehat agar di usia senja sebelum kita dipocong, kita selalu berada dalam keadaan ceria.

 

Kronologis Kehidupan Manusia dalam Aneka Tembang

Ada kronologis atau urutan tahapan kehidupan dalam aneka tembang. Nasehat dalam sebuah tembang disesuaikan dengan jenis tembang yang akan digunakan. Diawali Tembang “Maskumambang”, emas yang “kumambang”, terapung, saat manusia berwujud janin yang terapung dalam air ketuban. Kedua “Mijil” berarti keluar dari goa garbanya sang ibu, di saat kelahiran. Dilanjutkan “Kinanti”, di-“kanthi”, balita yang digandeng tangannya diajari berjalan menapak kehidupan. Dari kelahiran sampai menjadi remaja adaalah masa the golden years, pendidikan dalam masa ini mempunyai pengaruh sangat besar. Kemudian “Sinom”, menjadi “nom-noman”, youth, remaja usia belasan. Inilah masa Brahmacharya, remaja, melakoni pengembangan diri. Brahma adalah kekuatan mencipta, pada usia ini seorang anak menjadi sangat kreatif. Setelah itu “Asmaradhana”, gelora asmara sewaktu dewasa. Selanjutnya memasuki “Gambuh” gabungan, membentuk rumah tangga untuk membuat anak keturunan. Selanjutnya “Durma”, aktif berdharma bhakti bagi negara. Diteruskan  “Dhandhanggula”, mengolah “gula”, mengolah kehidupan. Sejak kawin hingga pensiun adalah masa Grahasthya, berumah-tangga berkomitmen dalam keluarga dan pekerjaan. Kemudian sudah saatnya “Pangkur”, mungkur, pensiun, undur diri dari keduniawian. Diteruskan “Megatruh”, persiapan “megat” ruh, memisahkan ruh dari badan. Akhirnya “Pocung”, dipocong ditutupi kain kafan. Setelah pensiun, seseorang memasuki Vanaprastha, undur diri dari kegiatan dunia dan menekuni kegiatan ruhani. Dia telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka dan melakukan spiritual purnawaktu. Bagi mereka yang punya semangat bulat, mereka bisa memasuki Sanyas, masa akhir kehidupan manusia. Ia telah melepaskan keterikatan duniawi. Ia tidak lagi membedakan antara anak kandung, anak saudara, anak orang lain, bahkan antara manusia dan makhluk-makhluk lainnya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tepa Slira dan Budaya Loe-Loe Gue-Gue!

Seri Kearifan Lokal

buku karma yoga 438x720

Afirmasi Mind Your Own Bussiness, MYOB  yang dimaknai dengan “beresin urusan loe sendiri, jangan ikut campur urusan orang lain” sering kebablasan  dipraktekkan dengan  kebiasaan berpikir, Loe Loe Gue Gue. … ini urusan gue loe nggak usah ikut-campur, gue menikmati milik gue sendiri jangan digangguin.  Seharusnya putra-putri Bangsa  mempunyai afirmasi: “Yuk beresin diri sebelum beresin urusan negeri”.  Urusan diri adalah pemberdayaan diri dan akhirnya bermuara demi kepentingan umum. Tepa slira, berkaca pada diri sendiri, memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan adalah bagian dari pemberdayaan diri.

 

Individualisme, Materialisme Dan Hedonisme

Pengaruh “individualisme, materialisme dan hedonisme” telah menyebar ke seluruh negeri. Kekuatan dunia benda amatlah nyata. Melihat tayangan di media elektronik tentang penawaran mansion dan apartemen mewah, kenyamanan berlibur ke ujung dunia, kendaraan, perabot dan hiburan supermewah, mestinya sudah tak ada seorang warga negarapun yang kelaparan, yang tak sanggup mendapatkan nasi dalam kesehariannya. Tanpa terasa telah terbentuk “the affluent society”, masyarakat yang sangat berlebihan sifat konsumtifnya. Dana yang seharusnya bisa produktif untuk memutar roda ekonomi dipakai keperluan konsumtif pribadinya.

Di tengah masyarakat, juga sering dijumpai  beberapa orang yang sangat egois, yang hanya memikirkan kepentingan diri dan keluarganya. Banyak pemimpin yang tidak bertindak sebagai pemimpin yang memikirkan kepentingan umum tetapi hanya melakukan “aji mumpung” bagi diri pribadinya. Ada kelompok yang merasa benar sendiri, melakukan kekerasan kepada kelompok masyarakat lain. Mereka semua  bertindak demi kelompoknya dan tidak memikirkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Mereka yang egois dan merasa benar sendiri telah hidup bagi diri mereka sendiri, dan lupa bahwa hidup itu sebenarnya terkait dengan kepentingan keseluruhan.

 

Memperdulikan Sesama

Semua agama menjunjung tinggi “Golden Rule”, Kaidah Utama: “Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan” . “Memperdulikan sesama!” Kalimat bijak ini adalah sebuah panggilan terhadap kesadaran kita, dari kesadaran personal, kesadaran aku menuju kesadaran transpersonal, kesadaran kita. Kondisi transpersonal dicapai kala seseorang menyadari keterkaitannya dengan keseluruhan, yang tidak hanya meliputi seluruh umat manusia, namun juga dengan semua makhluk hidup, lingkungan, dan alam semesta.

Dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 disampaikan……. Kemandirian manusia tidaklah membuat dirinya menjadi pulau yang terpisah dari pulau-pulau lain. Kemandirian manusia tidaklah berarti ia bisa hidup sendiri, tanpa saling keterkaitan atau interdependency. Kemandirian manusia tetaplah menjunjung tinggi asas kebersamaan, gotong-royong, dan saling bantu-membantu. Marilah kita menyadari saling keterkaitan kita. Selama ini, barangkali kita beranggapan bahwa setiap manusia adalah pulau terpisah. Kita tidak memiliki badan yang sama, maupun otak atau hati yang sama. Memang tidak. Dan, kelainan-kelainan seperti itu memang menciptakan “kesan terpisah”. Tetapi, jangan lupa bahwa perpisahan seperti itu hanyalah sebuah kesan! Alihkan perhatian dari bagian pulau yang terlihat diatas permukaan laut. Perhatikan laut yang mempersatukan ribuan pulau dan tujuh benua. Bayangkan dasar laut yang mempersatukan seluruh planet bumi………. Baca lebih lanjut

Hidup Sekedar “Mampir Ngombe”? Masih Relevankah?

Seri Kearifan Lokal

buku bhaja-govindam-500x500
Leluhur kita mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Sayidina Umar berkata bahwa pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan harta yang dimilikinya adalah pinjaman. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Isa Sang Masiha menyatakan bahwa dunia ini ibarat jembatan, lewatilah, jangan membuat rumah diatasnya. Masihkah ungkapan-ungkapan tersebut relevan pada masa kini?

Dunia Benda Tidak Abadi


Dunia Benda tidak abadi. Apa yang kita miliki saat ini, pernah dimiliki orang lain sebelumnya. Dan, dapat berpindah tangan kapan saja dari tangan kia. Sesuatu yang bersifat tidak abadi tidak dapat memberi kebahagiaan yang kekal dan abadi. Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan…….. Harta benda, ketenaran, kedudukan, kecantikan, ketampanan semuanya fana; tak ada yang langgeng. Bahkan, keberanian, semangat hidup, positive thinking pun tidak langgeng. Saat ini masih berani, sesaat kemudian takut. Saat ini masih cerdas, sesaat lagi lenyap tanpa bekas segala kecerdasan itu.

Ketenaran, Kedudukan Dan Kekayaan Juga Tidak Abadi


Ketenaran, kedudukan dan kekayaan – tiga “K” ini merupakan perkembangan dari rasa kepemilikan kita. Rasa kepemilikan ini harus diganti dengan Kesadaran. Selama ini tidak terjadi, selama itu pula kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan kehidupan. Kita akan selalu menderita. Mengumpulkan harta di dunia berarti mengumpulkan tiga “K” tadi. Dan tiga “K” ini tidak langgeng, tidak abadi. Sewaktu kita masih memilikinya, kita senang. Begitu kehilangan, kita kecewa, kita sedih. Harta sorgawi yang dimaksudkan oleh Yesus adalah Kesadaran. Dalam lautan kesadaran, segala rasa terlarut dan jiwa kita menjadi bersih. Sekali rasa kesadaran ini terkembangkan, kita akan terbebaskan dari keterikatan-keterikatan duniawi….. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Masalah Utamanya Adalah Keterikatan Terhadap Sesuatu


Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan bahwa…… Mahaguru Shankara tidak mencela harta-benda. Yang dicela adalah keterikatan kita. Silakan cari uang; silakan menjadi kaya dan menikmati kekayan Anda, asal tidak terikat, karena keterikatan akan menyebabkan kekecewaan. Keterikatan merampas kebebasan Anda. Keterikatan memperbudak Anda. Tidak terikat berarti tidak habis-habisan, tidak mati-matian mengejar sesuatu…… Baca lebih lanjut

Makna Sesajen, Banjir dan Penghormatan Terhadap Alam

Seri Kearifan Lokal 

buku life vorkbook

Jagalah kelestarian alam sekitarmu dan alam akan menjaga kelestarianmu. Demikianlah, dengan saling membantu, kau akan memperoleh kebahagiaan yang tak terhingga. Tidak cukup melayani Tuhan yang abstrak di tempat-tempat ibadah kita. Lihatlah Tuhan di sekitar Anda. Layanilah Dia, di mana pun Anda menyadari kehadiranNya. Apabila kau menjaga kelestarian alam sebagai persembahan, kekuatan-kekuatan alam ini pun akan memberimu, apa yang kau inginkan. Sebenarnya, ia yang menikmati pemberian alam, tanpa mengembalikan sesutu, ibarat seorang maling. Ia yang berkarya dengan semangat persembanhan dan menikmati hasilnya, ia yang memperoleh rejeki dengan cara demikian, terbebaskan dari segala macam dosa. Tapi mereka yang memperoleh rejeki dengan cara hanya mementingkan diri sendiri, sebenarnya menikmati dosa-dosa mereka sendiri………. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama  2002.

 

Menghormati Alam Semesta

Lima puluh tahunan yang lalu di dusun-dusun sekitar Solo, masih sering dijumpai sesajen berupa kembang setaman yang diletakkan di bawah pohon tua besar yang tumbuh dekat sendang atau mata air. Dipandang sebagian orang sebagai perbuatan syirik, maka kebiasaan menghormati pohon tua tersebut sekarang sudah jarang dilakukan. Seiring dengan berkurangnya pohon-pohon di sekitar sendang (mata air) dan volume air di sendang pun mulai menyusut. Dibalik sesajen tersebut tersembunyi suatu kearifan lokal yang mungkin kurang dipahami bahkan oleh si pembuat sesajen sendiri. Dengan pohon besar yang tidak di tebang, maka suasana terasa sejuk dan mata air juga terjaga kelestariannya.

Makanan kita, nafas kita, rumah kita, pakaian kita dan segala perlengkapan kita selalu didukung oleh alam. Misalkan rumah kita, pasir, batu, semen, air berasal dari alam. Demikian pula dalam setiap makanan bila kita telusuri sumbernya, akan berujung pada alam juga. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007, Anand Krishna menyampaikan……… Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sekedar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang.  Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau puhon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelestarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang yang tersedia, juga tanah yang tersebuda secara bijak…….. Baca lebih lanjut

Gamelan Pengantar Masuk Alam Rasa

Seri Kearifan Lokal  

buku kahlil gibran

Sewaktu mendengar lagu atau musik yang indah, sewaktu membaca sesuatu yang indah, sewaktu mencium wewangian yang indah, tiba-tiba anda terlepaskan dari pikiran. Anda memasuki alam rasa. Begitu anda memasuki alam rasa, sesungguhnya anda juga memasuki alam “spiritual”. Keindahan menjadi pemicu untuk mengantar anda ke alam spiritual. Demikian pesan Anand Krishna dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.

 

Perkembangan Gamelan dari Masa ke Masa

Gamelan berasal dari kata dalam bahasa Jawa “gamel”, yang berarti melakukan, mengerjakan. Gamelan khas Jawa Tengah terdiri dari kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, peking, kenong dan ketuk, slenthem, gender, gong, gambang, rebab, siter dan suling. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa Sri Paduka Maharaja Dewa Buddha membuat gamelan “Lokananta” pada tahun 167 berwujud “wilahan yang terbuat dari gangsa sejenis bambu” yang sekarang disebut demung. Selanjutnya seiring berjalannya waktu dilakukan penambahan alat berupa rebab, gong, kendang, ketuk kenong, kempul dan gambang. Sekitar abad ke 12, setelah meninggalnya Prabu Airlangga,  Prabu Lembu Amiluhur yang berputra Raden Panji Inu Kertapati melengkapi dengan bonang dan saron serta menambah dasar-dasar nada atau laras. Pada zaman Majapahit, gamelan juga digunakan sebagai alat musik untuk pelaksanaan ritual. Selanjutnya pada zaman Mataram gamelan mulai dibuat menggunakan bahan dasar logam. Sejak saat itu gamelan menggunakan bahan dasar logam.

 

Penggunaan Gamelan Sesuai Suasana Yang Dinginkan

Anand Krishna dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 menyampaikan……… Jenis musik yang kita sukai bisa menjelaskan sifat kita, karakter kita, watak kita. Sitar, vina, harpa dan biola masuk dalam satu kategori. Alat-alat itu bisa mendatarkan gelombang otak, dan menenangkan diri manusia. Para penggemar musik sitar, tak akan pernah mengangkat senapan untuk membunuh orang. Musik gendang, drum dan alat-alat lain sejenis bisa membangkitkan semangat. Bagus, bila diimbangi dengan sitar dan alat sejenis. Bila tidak, akan membangkitkan nafsu dan gairah yang berlebihan……

Penalaan dan pembuatan gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan di Jawa menggunakan cara penalaan slendro dan pelog. Gamelan selalu digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang dan tari tradisional Jawa. Jenis gendhing yang dipakai untuk mengiringi wayang  kulit tergantung dari tahapan dalam pagelaran wayang kulit yang dimulai sekitar jam 21.00 dan berakhir sekitar jam 06.00 pagi. Gendhing Pathet Nem disuarakan antara pukul 21.00-24.00, mengiringi gambaran yang melambangkan masa kanak-kanak Sang Satria pemeran utama. Gending Pathet Sanga digunakan antara pukul 24.00-03.00, mengiringi penggambaran Sang Satria yang  mulai mencari Guru untuk belajar ilmu pengetahuan. Dalam tahapan ini disampaikan wejangan oleh Dewa, Prabu Kresno atau Semar. Gending Pathet Manyuro, dimunculkan antara pukul 03.00-06.00 mengiringi cerita yang memperlihatkan Sang Satria  yang telah memiliki pengetahuan memberantas ketidakadilan sehingga kehidupannya berbuah kebahagiaan. Baca lebih lanjut

Memaknai Pemberian Nama Baru, Tradisi yang Mulai Pudar

Seri Kearifan Lokal

buku sanyas dharma

Ada yang berpikir dan merasa biasa-biasa saja dengan nama pemberian orang tua mereka, tapi ada pula yang senantiasa berupaya untuk memaknai nama pemberian itu. Tidak sekedar memahami maknanya, tetapi memaknai, yang berarti berupaya untuk menjalankan hidupnya sesuai dengan makna itu. Javanese Wisdom, Butir-Butir Kebijakan Kuno bagi Manusia Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

 

Tradisi Pemberian Nama Baru

Ditahun enampuluhan, di sekitar Solo masih sering terdengar penggantian nama anak dengan nama baru, disebabkan “kabotan jeneng”, nama lamanya terlalu berat yang mengakibatkan anaknya sering sakit-sakitan dan diganti dengan nama baru yang lebih sesuai. Pada saat ini hal semacam ini sudah merupakan hal yang amat langka. Pertama, kesulitan mengganti nama di Kantor Catatan Sipil dan kedua masyarakat banyak yang berpendapat, Apa Arti Sebuah Nama? Demikian masyarakat meng-quote tulisan Wiiliam Shakespeare. Penggantian nama oleh nenek moyang kita mempunyai landasan yang kuat. Nama yang dihayati betul-betul oleh yang pemiliknya, seperti sebuah afirmasi, sebuah mantra yang mujarab. Kita pernah mempunyai Presiden Sukarno, Karna yang baik, kemudian Suharto, harta yang baik, selanjutnya Susilo, sila yang baik.

Nama almarhum kakek kami adalah Darmawiyata. Beliau pernah menjelaskan nama kecilnya adalah Soedarma. Karena beliau berprofesi sebagai mantri guru namanya diubah menjadi Darmawiyata. Nama bagi profesi guru berakhiran wiyata. Almarhum Pakdhe, kakaknya ayah juga bernama Dwijawiyata yang berprofesi sebagi Guru SMA. Dulu yang berprofesi sebagai dokter namanya berakhiran husada, misalnya dr. Wahidin Soedirohusada. Kemudian yang berprofesi sebagai Dhalang, namanya berakhiran carita, misalkan ki Purbacarita. Juga yang berprofesi sebagai pejabat pemerintahan berakhiran praja. Seperti pakdhe saya yang bernama KRT Sastrapraja, atau kepala Dinas PU di Jogya sewaktu kami mahasiswa dulu, KRT Martahadipraja. Dengan pemberian nama baru tersebut diharapkan yang bersangkutan sadar akan profesinya, dan meningkatkan keprofesionalannya. Seorang Darmawiyata, seorang guru yang harus pandai mengajar dan mendidik murid-muridnya.

 

Mengubah Pola Kehidupan Lama dengan Pola Kehidupan Baru

Mind kita saat ini sudah terpola. Kelahiran membahagiakan, kematian membuat sedih, kenaikan pangkat membuat bahagia, kehilangan pangkat menggelisahkan. Perilaku kita sudah terprogram. Membuat kita gampang diperbudak. Manusia harus menjalani proses deconditioning. Kebebasan penuh. Sedikitpun conditioning yang tersisa, bisa menjadi virus, menyebar dan mengkondisikan kembali mind anda. Kita harus merubah perilaku. Menciptakan mind yang baru, created mind……. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003.

Selain sebagai nama profesi juga ada nama baru yang diberikan setelah seorang memulai hidup baru. Ayah kami bernama Woekirno, dan setelah kawin namanya menjadi Woekirno Prawiradarmaja. Selain menjadi putra Eyang kami yang bernama Prawiradimeja juga sudah menjadi menantu Eyang Darmawiyata. Conditioning, kebiasaan membujang Woekirno harus dibuang, dan harus berkesadaran sudah menjadi suami orang dan wajib membawa nama baik orang tua dan mertuanya.

Sejak zaman dulu nama seorang Raja juga diberi gelar yang berbeda dengan nama kecilnya. Ken Arok diubah namanya menjadi Rajasawardhana. Rajasa bermakna Pengawal (Kerajaan), sedangkan kata Wardhana kita diingatkan tentang kasih Sri Krishna di Bukit Gowardhana. Rajasawardhana bermakna pengawal yang selalu bertambah rasa bhaktinya. Pada waktu itu banyak raja yang bergelar Wardhana seperti Girindrawardhana, Wishnuwardhana, Jayawardhana. Pada masa kini seorang yang dinobatkan sebagai raja masih diberi gelar baru. Gusti Herjuna Darpita setelah dinobatkan sebagai raja diberi gelar Sri Sultan Hamengkubuwana ke X. Diharapkan setelah menjadi Raja visi, wawasan beliau harus luas selaras dengan namanya yang baru, pengelola dunia, hamengkubuwana. Baca lebih lanjut

Penelusuran Jejak Kehidupan Masa Lalu Anak lewat Tedak Siten?

buku medis meditasi

Ada sebuah kisah. Kisah tiga orang bijak dari Timur, tiga orang Majusi, tiga orang raja, tiga orang pengembara. Mereka mencari pertanda di langit maupun di bumi. Mereka mengikuti tradisi kuno membawa berbagai macam benda milik master-master yang berbeda yang telah meninggalkan badan kasatnya dalam kurun waktu 500 tahun terakhir. Orang pertama membawa sebuah jubah yang telah usang, peninggalan dari Ia Yang telah Tercerahkan, Ia Yang telah Terjaga. Seorang lainnya dari China membawa satu jilid Tao Teh Ching, Kumpulan dari beberapa ajaran Lao Tze, Jiwa Agung yang pernah lahir di China. Dan, satu orang lagi dari Mesir membawa sebuah replika yang indah dari Candi Agung Giza, yang sering disalahpahami sebagai piramid atau makam biasa. Mereka mempersembahkan semua benda tersebut pada Sang Bocah Ilahi….. Tentunya itu tidak terjadi di malam Ia lahir, itu terjadi ketika sang anak sudah bisa memilih..… Sang Bocah Ilahi langsung mendekati kotak berisi Jubah dan mencoba membukanya dengan tangan kecil-Nya…… Ketiga pengembara menangis bahagia… Mereka sudah tahu jalan hidup-Nya……. Di Tibet, untuk mencari seorang Pemimpin Rohani, para Tetua Adat juga mendatangi anak yang dipilih dan kemudian diminta mengambil beberapa benda peninggalan para Pemimpin Rohani masa lalu. Dari pilihan tersebut mereka bisa memperkirakan kehidupan masa lalu anak tersebut. Indonesia erat kaitannya dengan Tibet. Guru Besar Atisha belajar selama 12 tahun pada Guru Besar Dharmakirti dari Kerajaan Sriwijaya pada awal abad 12 dan kemudian menyebarkan ajarannya di Tibet.

 

Kehidupan Masa Lalu

Bagi seseorang yang percaya terhadap adanya hukum sebab-akibat, bahwa setiap tindakan akan menimbulkan akibat, maka akan ada perbuatan manusia yang sampai meninggal dunia belum datang akibatnya. Bagi mereka yang percaya tersebut, maka seseorang perlu lahir lagi untuk menerima akibatnya, baik akibat baik maupun akibat buruk. Menurut mereka itulah salah satu sebab ada anak bayi yang lahir dalam keluarga bahagia dan ada yang lahir dengan nasib tidak begitu baik.

Ada orang yang pada suatu tempat merasa memiliki sensasi kuat bahwa dia telah mengenal tersebut (deja vu). Ada sebuah penelitian di Srilangka tentang beberapa anak yang mengaku mengingat kehidupan masa lalunya (pastlife) sebelum usia 2-3 tahun. Pola kemiripan ini juga ditemukan oleh beberapa peneliti lainnya bahwa pada usia prasekolah beberapa anak-anak bisa melihat kehidupan masa lalunya, dan biasanya mereka mulai “lupa” setelah masuk sekolah.

 

Subconsious mind tidak mati, yang mati hanya tubuh fisiknya

Bila seseorang meninggal dunia maka, subconscious mind seseorang tidak mati, yang mati hanya fisik tubuhnya. Informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” masih hidup. Dr. B. Setyawan Ahli Bedah Syaraf dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan”, Gramedia Pustaka Utama, 2001 menyampaikan……… Setelah kematian tubuh, subconscious mind yang tidak ikut mati dan akan lahir kembali setelah mengalami proses “pengolahan”……. “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” yang tidak ikut mati membentuk synap-synap asli dalam otak bayi yang baru lahir. Demikian, otak bayi mewarisi informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” tersebut. Selanjutnya, terbentuk pula bagian-bagian tubuh lainnya sebagai pelengkap pelaksana. Bahkan, “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” bisa memilih tempat dan situasi, di mana tersedia stimulus-stimulus sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dalam arti kata lain, “kita” memilih tempat lahir. Bahkan orangtua pun pilihan kita sendiri! “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” seorang musikus bisa memilih lahir dalam keluarga yang senang dengan musik. Begitu pula, “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” seorang penjahat, bisa memilih lahir dalam keluarga di mana ia bisa melakukan kejahatan. Semuanya tergantung pada kualitas “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kita sendiri! Semasa hidup, jika kualitas “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kita masih rendah sekali, setelah kematian pun kita akan memilih lahir dalam keluarga yang anggotanya sama-sama memiliki “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kualitas rendah. Kendati demikian, ada saja pengecualian. Seorang pemilik “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” berkualitas baik, bisa memilih lahir dalam keluarga dengan kualitas rendah. Itu pun karena adanya “keinginan” yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind“. Biasanya ada keterikatan dengan keluarga tersebut. Ada keinginan untuk membantu keluarga tersebut, dan sebagainya. Baca lebih lanjut