Para Pemberontak Terhadap Tatanan Masyarakat Yang Korup

Para Nabi, Mesias, Sadguru Adalah Pemberontak

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bhikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” Demikian kutipan dari buku “Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012.

 

Pikiran Masyarakat telah di-Hack

Dalam suatu diskusi tentang meditasi di Anand Ashram Jakarta, seorang fasilitator menyampaikan tentang pengalamannya melihat film “How To Hack The Human Brain” yang diputar di Anand Ashram Ubud. Kisah pertama adalah tentang sekelompok mahasiswa dalam sebuah eksperimen, sebagian mahasiswa diberi peran simulasi sebagai sipir penjara dan sebagian menjadi narapidana. Ternyata simulasi peran tersebut diberhentikan setelah 2 minggu, sebelum rencana waktu eksperimen berakhir. Para ‘sipir” menjadi semakin sewenang-wenang dan para ‘narapidana’ menjadi semakin depresi dan putus asa. Ternyata lingkungan mempengaruhi jiwa seseorang. Hanya melalui meditasi, tafakur, olah batin yang menembus lapisan-lapisan kesadaran luar, seseorang tidak terpengaruh lingkungan dan tetap mempunyai pikiran yang jernih. Itulah sebabnya Krishna, Yesus, Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru tidak terpengaruh sistem yang zalim di masyarakat. Mereka semua hadir sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, walaupun sistem tersebut sudah mapan.

Kisah kedua tentang simulasi satu orang yang berada bersama dengan 6 orang lain yang sebetulnya adalah ‘aktor’ yang mengikuti skema instruksi tertentu. Seseorang bertanya kepada ke-7 orang tersebut: “Sesungguhnya, kalau direnungkan dalam-dalam antara ibu jari dan jari telunjuk itu lebih panjang yang mana?” Orang pertama menjawab menurutnya jempol lebih panjang dari pada telunjuk. Orang kedua mengernyitkan dahi dan setelah beberapa lama mengatakan bahwa jempol lebih panjang daripada telunjuk. Orang ketiga sepakat, demikian orang keempat bahwa jempol lebih panjang daripada telunjuk. Orang yang diobservasi pada urutan kelima bingung, akan tetapi tidak mau beda dengan mayoritas dan menyatakan bahwa jempol lebih panjang daripada telunjuk. Dan dia merasa aman dan nyaman karena orang keenam dan ketujuh pun berpendapat sama. Ini membuktikan bahwa dalam kelompok masyarakat seseorang merasa lebih aman dan nyaman mengikuti pandangan mayoritas. Krishna, Yesus, Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru tidak terpengaruh sistem yang sudah usang yang sudah terpola di masyarakat. Mereka semua hadir sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah kadaluarsa dan penuh ketidakbenaran.

Kisah ketiga mempertanyakan mengapa satu orang raja dan beberapa orang ‘pasukan’ nya bisa memerintah ribuan warganya. Rupanya masyarakat tidak berani keluar dari pola yang telah dibentuk oleh penguasa, sehingga mereka menurut saja walau raja dan ‘pasukan’nya bertindak sewenang-wenang. Seorang meditator tidak akan terbelenggu oleh kemapanan sistem, dan bila sistem telah rusak dia akan mengatakan apa adanya.

 

Pola Belenggu Pemikiran Masyarakat tentang Pengadilan

Masyarakat kita telah terpola: bahwa seseorang bisa diajukan jaksa penuntut umum ke sidang pengadilan bila telah ditemukan 2 bukti; masyarakat telah terpola bahwa 3 orang hakim adalah pribadi yang jujur dan bertindak adil. Bila hakim salah memutuskan jaksa bisa melakukan banding sehingga akhirnya keputusan terakhir di tangan 3 Hakim Agung dari Mahkamah Agung dan dinyatakan sebagai keputusan final yang mempunyai kekuatan hukum. Masyarakat terpola dengan hukum formal dan dibuat tidak jeli dengan berbagai ketidakbenaran yang terjadi dibelakang kebenaran hukum formal. Baca lebih lanjut

Iklan