Renungan Tentang Jatidiri Dalam Kisah Sang Setyawan Pada Relief Candi Penataran

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan Kisah pada Relief Candi Penataran. Salah satu kisah menceritakan tentang Sang Setyawan. Mereka membicarakannya dengan referensi buku-buku  pengetahuan tentang kesadaran karya Bapak Anand Krishna. Diantaranya buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” dan “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara”.

Sang Suami: Ada penduduk Kahyangan bernama Sang Setyawan. Setyawan berarti orang sangat setia. Dia sangat patuh dan setia dengan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Bagi dia tidak ada pekerjaan yang dipandang hina….. Tersebutlah suatu kerajaan yang bernama Puspa tan Alum dengan seorang raja yang bernama Jayati yang tinggal di istana Kerta Nirmala. Puspa tan Alum berarti tempat bunga yang tidak pernah layu selamanya. Jayati berarti selalu menang dan Kerta Nirmala berarti Kota tanpa penyakit, tanpa kejahatan. Demikianlah kerajaan tersebut tanpa kejahatan, selalu memberikan kesejahteraan dan kebenaran selau dimenangkan. Pada suatu ketika Sang Setyawan datang di kerajaan yang mulia tersebut dan sang raja sangat berkenan. Setelah beberapa lama, sang raja menjodohkan Sang Srtyawan dengan Suwistri, putrinya. Suwistri berarti istri yang baik, pasangan yang baik tingkah lakunya……  Setelah hidup bersama beberapa lama dalam keadaan bahagia, Sang Setyawan meninggalkan istrinya untuk pergi bertapa. Suwistri bersama pelayan setianya bernama Sucita mencari suaminya ke hutan belantara. Sucita berarti pikiran yang baik tanpa cela. Melihat istrinya datang dari kejauhan, maka Sang Setyawan mengubah wujudnya sebagai ular dan harimau untuk menakut-nakutinya. Tetapi Suwistri bersama Sucita tidak takut dan tetap melanjutkan perjalanannya. Kemudian beberapa pertapa muda yang sedang bekerja menggodanya dan bahkan berkelahi sesamanya, akan tetapi tidak mengubah niat Suwistri bersama Sucita untuk meneruskan perjalanannya. Sang Setyawan kemudian menciptakan sebuah pertapaan yang indah sekali. Sang Styawan mengganti nama dan wujudnya menjadi Cilimurti. Cilimurti berarti Yang Berkuasa. Suwistri kemudian diterima sebagai seorang pertapa dan diberi pengetahuan tentang kebiaraan. Akhirnya Suwustri selesai mengikuti pelajaran tentang kebiaraan. Suwistri akhirnya menjadi satu dengan Cilimurti yang ternyata adalah Sang Hyang Wenang. Dia Yang Memiliki Kewenangan Kehidupan……. Tersebutlah orang tua Suwistri, Raja Jayati bersama istrinya Dewayani pergi mencari jejak putrinya yang sedang berupaya menemukan keberadaan suaminya. Dewayani berarti seorang manusia wanita yang suci tabiatnya. Mereka kemudian mengetahui bahwa putrinya telah bersatu dengan Sang Hyang Wenang. Mereka kemudian  mengikuti jejak putrinya menjadi pertapa. Atas perintah Sang Hyang Wenang mereka diperintahkan untuk menuju Gunung Meru, Raja Jayati berada di bagian Timur sedangkan Dewayani di bagian Barat.

Sang Istri: Para leluhur mempunyai ungkapan” jagat gumelar” dan “jagat gumulung” yang penuh makna. Jagat gumelar adalah dunia yang digelar yang berkembang. Jagat gumelar tidak pernah statis tetapi selalu berubah sesuai perkembangan zaman sesuai dengan perubahan waktu dan ruang. Sedangkan jagat gumulung berarti segala sesuatu yang tergelar tersebut digulung dikecilkan sehingga semuanya menjadi berada diri kita. Sesungguhnya jagat gumelar dan jagat gumulung adalah jagat yang sama. Seseorang yang telah memahami jagat gumulung akan memahami jagat gumelar juga. Seseorang yang memahami pola-pola yang berlaku bagi jagat yang gumelar akan memahami pusat aturan yang berada di dalam dirinya. Kisah Sang Setyawan dapat direnungkan sebagai kisah yang berada dalam diri kita. Kerajaan yang dimaksud adalah diri manusia. Dalam diri yang selalu berbuat kebaikan, akan datang sinar keilahian yang membimbing menuju Ilahi. Kembali pulang, Manunggaling Kawula Gusti. Baca lebih lanjut

Iklan