Ibu Pertiwi, Aku Bangga Menjadi Manusia Indonesia Yang Unik

Variasi Kisah Asal-Usul Genetikku

Aku begitu terperangah, membaca komik Buddha dari Osamu Tezuka, ternyata bukan hanya orang Indonesia yang berani membuat kisah yang menarik, walau belum tentu dijamin keotentikannya. Cerita otentik tanpa variasi kadang terasa kering, kurang berlembab dan tidak dapat mengetuk nuraniku. Dari segi tujuan ada benarnya juga membuat sedikit variasi. Ibarat ada orang yang suka sayur-sayuran asli dengan rasa aslinya, tetapi aku lebih dapat menikmati dan bersyukur kepada Gusti betapa enaknya sayur lodeh yang rasanya ada aslinya tetapi sudah tidak tidak asli lagi. Sepanjang aku bersyukur tidak apa-apa kan? Biarlah, bukankah ada yang bertugas menjaga keotentikan, walau keotentikan suatu tulisan itu belum sempurna, ada saja yang memasukkan ego kedalam pemaknaan tulisan sehingga dari satu tulisan yang dijamin otentik pun berkembang banyak paham yang bertentangan?

Konon Raja Dewata Cengkar adalah adalah raja yang adil dan berwibawa dan masyarakat di Medangkamulan sejahtera. Pada suatu hari, sang koki memasak sayur kesukaan sang raja dan salah satu jarinya teriris pisau dan ikut termasak. Sang Raja menikmati daging aneh baru tersebut dan mencari tahu daging apa. Mencari kenikmatan yang belum pernah dialami, akhirnya terbiasa dan karena berulang-ulang menjadi perilaku. Kalau orang menyatakan ada ‘narcotic drug adddict’, banyak orang  yang serakah dan menjadi ‘property addict’ dan dengan proses yang sama Dewata Cengkar menjadi ‘human-gulai- addict’. Baca lebih lanjut

Iklan

Salah Satu Penyebab Anak Bangsa Kurang Cerdas

Di suatu hari minggu, pulang dari jalan sehat Pakdhe Jarkoni lewat di depan rumah Bu Guru Nana dan Pakdhe jarkoni diajak diskusi Bu Guru Nana di depan rumahnya.

 

Bu Guru Nana: Tindak-tindak, jalan-jalan Pakdhe? Kelihatan segar sekali.

 

Pakdhe Jarkoni: Iya, sejak Sekolah Dasar Pakdhe sudah suka olah raga. Bagaimana murid-murid sekarang Bu Guru? Tambah kritis ya pemikirannya?

 

Bu Guru Nana: Memang tambah kritis Pakdhe, tetapi kayaknya kelebihan energi, tidak dapat tenang, dibanding dulu mungkin gizinya lebih baik ya Pakdhe? Memang tak ada yang lebih efektif untuk membangun suatu bangsa kecuali lewat pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang prima dan input makanan yang berkualitas.

Baca lebih lanjut

Nusantara Bisa Terpecah Menjadi Lima Bagian?

Pulang kuliah Wisnu langsung menghampiri Pakdhe Jarkoni dan langsung mengajak berdebat.

 

Wisnu: Selamat Sore Pakdhe. Kami baru tahu bahwa kuliah pendidikan agama itu sebetulnya bersifat umum, bukan pendidikan agama tertentu. Sehingga mahasiswa dapat menghargai agama lain bukan prejustice, praduga seperti yang terjadi saat ini.

 

Pakdhe Jarkoni: Betul! Dalam agama yang dianut Pakdhe, setiap Surat dalam Kitab Suci didahului  Bismillah hirrohmannirohim, dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, intinya kita diingatkan tentang kasih, dan supaya kasih menjiwai tindakan kita sehari-hari. Ada Hadist yang kurang lebih berbunyi: Apabila kau tidur nyenyak dengan perut kenyang, sedang tetanggamu tidak dapat tidur karena lapar, maka kau belum muslim. Agama Kristen, Katholik, Buddha juga mempunyai inti kasih. Bukankah dalam semua agama mengandung Iman, Harapan dan Kasih?

Baca lebih lanjut

Bulan Penuh Berkah Bagi Industri Televisi Dengan Tayangan Siap Saji

 

Malam itu Pakdhe Jarkoni membawa resep dokter ke apotik. Sambil menunggu obat disiapkan petugas, Pakdhe melihat tayangan televisi yang dipasang diatas rak obat. Seorang bapak-bapak di sebelahnya mengajak senyum dan berkomentar tentang tayangan televisi di bulan Ramadan1429 H.

 

Bapak di sebelah: Wah, sekarang hampir semua penyiar tivi pakai baju koko dan jilbab, apakah mereka sudah tobat dan berniat menempuh jalan yang benar di bulan Ramadan ini? Kalau melihat luarnya saja mestinya begitu ya Pak?

 

Pakdhe Jarkoni: Begini Pak, kami ingat tulisan Pak Triyono Lukmantoro, Dosen Sosiologi Undip di Harian Suara Merdeka. Industri televisi itu sangat sigap, ibaratnya seperti restoran siap saji, tidak seperti birokrat yang sebelum bertindak selalu menunggu terbitnya juklak dan juknis dulu, sehingga ketinggalan peluang berharga.

 

Bapak di sebelah: Maksud Bapak industri tivi itu seperti waralaba Mac D yang paham psikologi pembeli?

 

Pakdhe Jarkoni: Coba lihat pak, mendadak mereka semua sedemikian beragama di bulan Ramadan. Olah raga, kuis, lawak, sinetron semuanya bernuansa Islami. Benarkah itu pertobatan atau pengabdian? Menurut kami itu adalah fenomena strategi penjualan.

 

Bapak di sebelah: Jadi menurut Bapak, industri tivi beroperasi menurut logika mereka sendiri. Sehingga Ramadan diolah dan dijadikan produk yang dijual untuk mendatangkan keuntungan. Memang ada benarnya, kan waktu tayang menjadi lebih panjang.

 

Pakdhe Jarkoni: Tanpa disadari perihal menjalankan peribadatan digeser menjadi berkonsumsi berlebihan. Prinsip-prinsip restoran cepat saji ala Mc D telah mendominasi masyarakat, misalnya: pertama, prinsip efisiensi biaya sehemat mungkin keuntungan sebesar mungkin. Pada saat sahur sms premium dikirim pemirsa sebanyak-banyaknya layaknya judi, yang menang dapat hadiah; kedua, kalkulabilitas, kuantitas bukan kualitas, polesan tipis, baju koko, jilbab, kata nuansa islami, kebiasaan berbuka dan sahur para selebrities, bukan perenungan yang mendalam; ketiga, prediktibilitas, masyarakat hanya ingin cerita seperti yang diharapkan, bukan kejutan; keempat, menggantikan manusia dengan non manusia. Hampir semua tivi mematuhi rating non manusia, rating tivi AGB Nielsen, yang berdasarkan 2.080 rumah respondent tersebar di 10 kota. Bukankah itu seperti Mac Donaldisasi?

 

Bapak di sebelah: Betul Pak! Dampak eksploitasi terhadap pemirsa semakin menjadi-jadi. Seluruh waktu non tidur dianggap kerja. Jam 3-5 pagi biasanya jam mati menjadi jam tayang utama. Prime time. Selanjutnya kami dengar harga iklan juga dipatok tinggi. Misalnyai iklan sinetron Para Pencari Tuhan adalah Rp 18 juta per 30 detik.

 

Pakdhe Jarkoni: Mbok ya dibuatkan tayangan yang lebih berkualitas. Yang mencerdaskan masyarakat. Yah mau dibawa kemana negeri ini. Semoga para ksatria Nusantara cepat sadar. Mari pak, obat saya sudah jadi, saya pulang dulu, Selamat Malam.

 

Bapak di sebelah: Selamat malam juga. GBU.

 

Triwidodo

September 2008.

Tragedi Pasuruan dan Potret Materialisme Masa Kini di Nusantara

 

Sore itu Fauzi kembali silaturahmi ke rumah Pakdhe Jarkoni. Keponakan Pakdhe Jarkoni tersebut menemukan Pakdhenya sedang membaca koran. Dan terjadilah diskusi hangat di antara keduanya.

 

Fauzi: Pakdhe, kasihan ya, 21 wanita tewas dalam berebut zakat sebesar Rp.30.000 di Pasuruan. Apa komentar Pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Semua orang mengomentari pada bidangnya masing-masing: Yang prihatin dengan kemiskinan rakyat mengatakan inilah potret kemiskinan masa kini; Yang profesional dalam bidang keamanan mengatakan dengan berkumpulnya ribuan orang pada satu titik, sudah seharusnya melibatkan aparat keamanan; Yang mengerti ilmu agama mengetengahkan kalau bersedekah jangan ria, pamer; Yang membelanya mengatakan berbuat kebaikan harus dengan terang-terangan agar memberi contoh orang kaya lainnya untuk tergerak ikut berderma; Yang setuju dengan badan amil zakat mengatakan bahwa dalam kitab suci ada penjelasan tentang amil zakat, mengapa tidak menyerahkan ke badan amil zakat saja; Sebagian yang lain berpendapat bahwa saat ini belum dapat mempercayai badan amil zakat tersebut.

 

Fauzi: Iya, saya melihat dari sudut pandang psychologi: harga-harga naik selama puasa; orang berbuka puasa dengan makan yang lebih enak dari biasanya; minyak tanah menghilang, gas naik, harga kebutuhan pokok membubung. Begitu ada yang akan membagi zakat ya mereka berpikir, ada kesempatan ya dimanfaatkan, hanya lupa resikonya. Kalau Pakdhe pribadi akan menyoroti soal apa?

 

Pakdhe Jarkoni: Biarlah para pakar ramai bicara di koran-koran membuat koran laku. Biarlah yang hapal ayat-ayat suci menggali ayat-ayat yang sesuai. Pakdhe melihat godaan keduniawian itu begitu berat. Materalisme sudah begitu merasuk masyarakat. Materi seakan sudah di’Tuhan’kan.

 

Fauzi: Masyarakat tidak mampu berlomba-lomba mendapatkan zakat dengan saling dorong, pengin mendapat duluan dan keluar dengan bangga, tidak peduli mereka yang masih antri berdesak-desakan. Pakdhe melihat hal tersebut sebagai tanda bahwa materialisme sudah merasuk masyarakat kita?

 

Pakdhe Jarkoni: Masyarakat yang tidak percaya badan amil zakat, mempunyai keyakinan bahwa bergelimang uang itu dapat menggoda. Mereka tahu bahwa masyarakat saat ini gampang tergoda dengan materi, jadi lebih baik ditangani sendiri. Si Pemberi Zakat telah mengabaikan para wanita yang berpuasa, kehausan karena sudah antri menunggu sejak subuh. Semua berebut lebih dahulu, karena mereka tahu siapa yang lebih dahulu akan selamat, misalnya kalau pada saat akhir zakatnya habis. Bukankah itu semua menunjukkan keinginan duniawi telah menghipnotis masyarakat kita untuk berlomba mendapatkannya. Mereka memandang bahwa mereka yang tenang tidak akan kebagian. Kepentingan duniawi sudah menjadi Tuhan mereka? Itulah yang terjadi mengapa begitu banyak yang tertangkap tangan oleh KPK.

 

Fauzi: Menurut Ronggowarsito, inilah zaman edan, yang tidak ngedan tidak kebagian.

 

Pakdhe Jarkoni: Manusia mempunyai naluri animal instinct, sifat kebinatangan, dan itu diperlukan untuk dapat bertahan hidup. Makan, minum, sex, dan kebutuhan istirahat termasuk dalam naluri tersebut. Dalam keadaan kepepet, manusia dapat mengabaikan cara-cara yang lebih manusiawi. Ini adalah kesalahan kita semua: kita telah memilih pimpinan dan wakil rakyat yang kurang mampu menyelesaikan masalah; gelombang konsumerisme lewat media tivi dan media masa begitu derasnya; para pemuka agama belum juga dapat memberikan solusi nyata; Sudahlah Fauzi, kita doakan mereka yang telah menghadap Yang Maha Kuasa, kita doakan pemimpin-pemimpin kita, kita doakan pemuka-pemuka agama kita, kita sendiri memberesi diri kita sendiri lebih dahulu sehingga dapat lepas dari belenggu dunia.

 

Triwidodo

Sepember 2008.

Konspirasi Negara Adidaya Tentang Vaksin Flu Burung

 

Ketika Pakdhe Jarkoni pulang dari olah raga jalan pagi menuju rumah, sesampai di depan Puskesmas, nampak Dr. Joko sedang santai selesai menyirami tanaman. Kebetulan ada hal yang ingin ditanyakan kepada Pak Dokter, maka Pakdhe mampir sebentar.

 

Dokter Joko: Jalan-jalan Pakdhe, biar sehat dan panjang umur, kelihatannya Pakdhe awet muda saja.

 

Pakdhe Jarkoni: Terima kasih Pak Dokter, biar darahnya lancar. Pak Dokter, kami membaca koran tentang Menteri Kesehatan yang mempermasalahkan virus Flu Burung. Apakah negara kita sudah dapat membuat vaksin sendiri?

 

Dokter Joko: Memang betul Pakdhe hanya negara maju yang bisa membuat vaksin, tetapi ya jangan membodohi negara kita. Dengan menguasai teknologi, modal dan kemampuan dianggap sah merampas Sumber Daya Alam. Memang mereka mempunyai Intellect Property Right, Hak Penemuan Intelektual.

 

Pakdhe Jarkoni: Seharusnya ada Natural Source Property Right, Hak dari tempat penemuan Sumber Daya Alam, begitu Pak Dokter?

 

Dokter Joko: Iya Pakdhe. Kita disuruh WHO mengirim virus Flu Burung. Virus Flu Burung di Indonesia termasuk virus paling ganas di dunia. Tetapi ujung-ujungnya dikomersilkan. Virus itu bisa berada di Los Alamos, itu tempat senjata atom dibuat. Negara kita dapat apa? Kita ditawari vaksinnya. Kalau tidak sanggup membeli, kita akan diberi pinjaman.

 

Pakdhe Jarkoni: Untung Ibu Menteri cepat sadar ya Pak Dokter. Mereka telah berkonspirasi menyengsarakan negara miskin, bahkan menyengsarakan umat manusia. Semoga mereka sadar, setiap pikiran, ucapan dan tindakan harus dipertanggungjawabkan pada saatnya nanti. Alam mempunyai Hukum Sebab-Akibat. Gusti Allah ora Sare, Tuhan tidak tidur.

 

Dokter Joko: Betul Pakdhe, pemimpin-pemimpin kita harus cepat sadar, jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Mereka harus bertanggung jawab kepada Tanah Air. Mungkin mereka mengira selama hidup mereka mandiri, tidak merugikan orang lain, dan melakukan ibadah….. sudah cukup. Dengarkan Tanah Air yang berbicara: “Orang ini menganggap tindakannya baik, tetapi walau dia sudah paham bahwa negara tempat kelahirannya dianiaya semena-mena, dia diam seribu bahasa. Tanah Air mohon keadilan Gusti!!”

 

Triwidodo

September 2008.

Ketidakacuhan terhadap Bangsa

 

Beberapa hari Pakdhe Jarkoni tidak muncul, menengok Pamannya di Gunung Salak. Begitu nongol. Lik Darmo mampir ke rumahnya bersilaturahmi.

 

Lik Darmo: Pakdhe Jarkoni, tadinya Pakdhe kelihatan gelisah memikirkan negara, tetapi sekarang sudah nampak tenang. Mendapat ilmu apa dari Pamannya Pakdhe? Kalau kami memang tenang, karena tidak memikir kondisi lingkungan, kan kami tidak bisa merubah kondisi yang terlanjur parah Pakdhe? Emangnya Gue Pikirin!

 

Pakdhe Jarkoni: Mohon maaf Lik Darmo, Kritik boleh kan? Panjenengan orangnya alim, hatinya lembut, tidak pernah berbuat merugikan orang lain, tetapi Lik Darmo tidak begitu peduli pada lingkungan? Di semua lapisan ada korupsi, keadilan amburadul, kekayaan alam negeri dijarah. Perusahaan Multi Nasional menggilas usaha kecil. Paklik tetap tenang, damai dan percaya kepada keadilan Tuhan. Menurut Paman kami, kedamaian Lik Darmo masih semu.

 

Lik Darmo: Terus terang saja Pakdhe, kami tidak tersinggung, wong kami memang mengikuti Sesepuh yang alim, yang mengerti tentang nature of thing, sifat alami, beliau menjelaskan secara gamblang semua persoalan di alam ini. Kami dapati di kitab-kitab suci juga demikian, apakah kami salah Pakdhe. Memang demikian adanya.

 

Pakdhe Jarkoni: Kami baru saja paham bahwa mereka yang sedang naik gunung, pandangannya terfokus ke puncak, kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka tersebut sudah memahami hukum alam dan disebut Resi. Tetapi ada Resi Drona yang hidupnya dibiayai dengan dana Korawa. Ada Resi Durwasa yang tidak bisa mengendalikan diri dan suka menyumpah orang.

 

Lik Darmo: Wah, Pakdhe ngaget-ageti, membuat kaget, apakah kami mengikuti dan mempelajari ajaran menarik yang menurut pakdhe kurang memperhatikan lingkungan? Ada ego yang kurang terdeteksi, bahwa yang penting kami dapat cepat mencapai puncak kesadaran?

 

Pakdhe Jarkoni: Mungkin saja suatu ajaran lengkap, tetapi yang dipelajari hanya tindakan-tindakan ketika naik gunung. Pelajaran ketika menuruni gunung tidak menarik kita, karena penuh resiko. Sebaiknya kita mengikuti Pemandu yang setelah mendapat pencerahan, mulai turun gunung, mereka melihat keadaan di bawah lebih jelas. Mereka melihat ketidakadilan dengan jelas. Mereka disebut Bhagawan. Kanjeng Nabi Muhammad, Gusti Yesus adalah Bhagawan, walau jelas spiritualis, perhatikan ajaran kemasyarakatannya. Prabu Kresno tidak duduk diam menjadi Resi di puncak Gunung, beliau turun ditengah masyarakat membimbing Arjuna menegakkan keadilan. Kalau semua orang mengikuti resi yang sedang naik ke puncak, maka kedamaiannya yang diperoleh masih semu. Kedamaian itu akan dimanfaatkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari kedamaian semu tersebut. Mungkin Indonesia akan habis dan terpecah-belah dan mereka belum sampai ke puncak juga.

 

Lik Darmo: Pakdhe, Pamanmu luar biasa, tetapi ada satu pertanyaan lagi. Bukankah kita tanpa belajar spiritual juga bisa melihat kondisi sekitar dan berusaha memperbaiki keadaan?

 

Pakdhe Jarkoni: Lain sekali Lik Darmo. Arjuna kalau perang berdasarkan keinginan berkuasa belum tentu menang. Arjuna mengerti spiritual dulu baru berperang, dia mengerti bahwa dia tidak bisa mati, yang mati hanya tubuhnya. Dia memahami jatidirinya setelah diajari Sri Krishna, baru berperang untuk menjalankan dharma. Landasan utama adalah spiritual dulu, baru berjuang. Kanjeng Nabi Muhammad mengajari Tauhid dulu, baru mengajak berjuang.

 

Lik Darmo: Terima kasih sekali Pakdhe, akan kurenungkan dulu, saya melihat kebenaran. Tetapi akan terjadi perubahan pandangan yang sangat drastis. Sekali lagi terima kasih Pakdhe, lain kali kita bicarakan lagi. Kami perlu minum jamu tolak angin. Tubuhku terasa greges-greges, demam, mendengarkan penjelasan Pakdhe.

 

Pakdhe Jarkoni: Baik Lik Darmo, semoga Gusti, Hyang Widhi memberikan dalan padhang, jalan yang terang. Amin. So be it.

 

Triwidodo

September 2008.