Kasihilah Diriku! Bukan Maksudku Menyengsarakanmu

 

Tersebutlah kisah tentang pemanasan dunia

Temperatur cenderung meningkat di bumi dan juga air laut di samudera

Air jauh lebih cepat menguap menjadi awan tebal di angkasa

Hujan turun menjadi lebih lebat dibanding sebelumnya

Akibat pemanasan dunia

Sebagian es di kutub meleleh juga

Permukaan air laut menjadi lebih tinggi

Kalau saja terus dibiarkan tetap terjadi

Tak sampai setengah abad banyak sekali pulau tergenangi

Manusia di seluruh dunia akan mengungsi ke tempat lebih tinggi

Kesemrawutan akan terjadi

Keributan masyarakat dunia sudahlah pasti

 

Pencairan es di kutub merubah gerakan angin di dunia

Beberapa topan dan badai sering menimpa

Masyarakat semakin sengsara

Ingin menyalahkan siapa?

Seluruh dunia harus kompak melakukan penyelamatan dunia

 

Dahulu di atas gunung dengan hutan belantara yang nyaman

Air biasa menginap berbulan-bulan

Membasahi bumi lebih lama merupakan dharma air yang harus dijalankan

Kini habis dibabat tak ada hutan di perbukitan

Kedatangan air ditolak, disuruh pergi membawa tanah bebutiran

Air yang mengalir di permukaan berwarna kecoklat-coklatan

Dilepaskan di sungai menjadikan pendangkalan

Perjalanan air pun melambat terjadi banyak hambatan

 

Di daerah datar Aku ingin segera pergi menuju tujuan

Menuju samudera raya nan luas tak terperikan

Untuk mendapatkan kelegaan setelah penat memikirkan masyarakat yang tak peduli lingkungan

Keserakahan manusia menyempitkan sungai yang kujadikan tempat perjalanan

Aku terpaksa meluap menggenangi daratan

Aku terperangkap dalam permukiman

Aku tidak ingin menggenangi aspal dan merusak jalan

Bukan maksudku merendam mobil merusak mesin kendaraan

Sumpah! Aku tidak suka juga masuk kamar tidur kamu sekalian

 

Di puncak gunung kembalikan tempat kesukaanku hutan yang rindang

Lebarkan sungai beri aku jalan yang lapang

Aku menikmati dunia yang sejuk nyaman

Sebagian dariku di kedua kutub biarlah berupa es jangan cairkan

Agar temperaturku di laut tidak naik lagi

Agar tidak terpaksa menguap menjadi awan di langit tinggi

Aku juga tak ingin permukaanku di laut meninggi

Aku tidak suka bila banyak pulau kugenangi

 

Kutunggu tindakanmu sahabatku, tindakan yang penuh kesadaran

Alam ini pada dasarnya diliputi Tuhan

Semua benda merupakan proyeksi Keberadaan

Aku ingat kata Guru kalian

Hanya pikiran insan yang bisa menjadi tempat tak ber-Tuhan

Jangan biarkan pikiranmu mengikuti ketidaksadaran

Biarkan nurani di relung hati nan suci yang mengendalikan pikiran

 

Triwidodo. Maret 2008.

Iklan

Arjuna Bertapa

 

Ambillah hikmah dari kisah di pewayangan

Arjuna bertapa di tengah hutan

Hanya Semar dan anak-anaknya yang menjadi kawan

Semua gerbang badan yang berjumlah sembilan

Ditutup semua untuk mendapat ketenangan

 

Penglihatan, pendengaran, penciuman

Pengecapan, pengucapan, hubungan badan, semua dijauhkan

Setelah semua indera terkendalikan

Masih satu yang harus ditaklukkan

Mind, Pikiran

 

Godaan pertama berujud raksasa

Mengapa harus bertapa, ditakut-takuti kesengsaraan dunia

Godaan selanjutnya kilauan emas permata

Harta sudah di depan mata mengapa tidak berselera?

Godaan terakhir bidadari cantik jelita

Nafsu birahi tersisa digoda juga

Banyak Kesatria gagal bertapa

Ketakutan akan sengsara

Selain itu banyak yang tidak berhasil juga

Disebabkan harta, tahta dan wanita

 

Dengan duduk hening menyaksikan godaan pikiran yang datang dan pergi

Sampai Bathara Guru turun dari Kahyangan menemui

Memberi senjata ampuh Pasopati

Penakluk sifat kebinatangan di dalam diri

Untuk mencapai Kebahagiaan Sejati.

 

Tidak berbeda dengan cerita Nachiketas di India

Dalam Kathopanishad tertulis kisahnya

Dewa Yama menawarkan emas permata seluas dunia

Kemudian raja mulia yang panjang usia

Terakhir musik surgawi dengan bidadari nan jelita

Semua ditolaknya

Demi kehidupan abadi yang menjadi tujuannya

 

Hanya kesatria perkasa yang tabah hati

Yakin dunia ini hanya ilusi

Berjalan mantap meniti ke dalam diri

Untuk menemukan jati diri

Kesadaran Murni

Kebahagiaan Sejati

 

Triwidodo

Februari 2008.

Tukarkanlah Semua dengan Mutiara

 

Kerajaan Allah bagaikan seorang pedagang bijaksana

Menjual semua dagangannya

Ditukar dengan sebutir mutiara

Mencari sesuatu yang lebih berharga

Yang bisa bertahan lama

Tidak dimakan kutu dan serangga

 

Guru menganjurkan pengalihan kesadaran segera

Sekarang pun kita sadar juga

Hanya saja kesadaran yang sedang mengalir ke bawah

Aliran kesadaran ini harus diubah

Sebelum habis dan musnah

Dari menuju bawah aliran diganti

Mengarah ke atas sepenuh hati

Dari kesadaran hewani masuk ke kesadaran insani

Dari kesadaran insani menuju kesadaran Ilahi

 

Proses penukaran harus segera dilakukan

Kesadaran bisa hilang lenyap dirampas keduniawian

Dunia ini tidak abadi

Tukarkan dengan Kebahagiaan Sejati

Kesadaran Murni yang Abadi

 

Triwidodo

Februari 2008.

Tuan Tanah dan Para Petani Penyewa

 

Kalian yang memiliki sepasang telinga hendaknya mendengarkan kisah ini

Demikian Gusti Yesus selalu memulai kisahnya

Demikian Guru menulis dalam bukunya

Tentang salah satu kisah berharga

Dari Injil Thomas, kisah ini bermula

 

Seorang Tuan Tanah menyewakan kebun anggurnya

Para petani bercocok tanam dan membayar dengan hasil panennya

Seorang Hamba diutus untuk mengambil apa yang menjadi haknya

Para petani malah beramai-ramai menganiaya

Dalam keadaan sekarat, Sang Hamba pulang ke rumah dan lapor kepada Majikannya

Kamu mungkin tidak dikenali mereka

Dikirimlah seorang Hamba lainnya

Dia pun mendapat perlakuan sama

Lalu Ia mengutus anak-Nya

Mereka mesti menghormati Sang Putra

Para petani mengenali dia dari ciri-ciri yang dipunyainya

Tetapi, nasib sama menimpa anak-Nya

Mereka malah membunuh dia

 

Guru berkata,

Gusti Yesus bicara tentang dirinya

Setiap Master selalu bicara dari pengalaman pribadinya

Orang yang sibuk mengutip ayat-ayat suci

Esensi agama masih jauh dari diri.

Gusti Yesus tahu persis apa yang dapat terjadi terhadap diri pribadi

Kendati demikian ia tidak akan berkompromi

Kebenaran tidak akan ditutup-tutupi

Ia menyampaikan dengan cara dia sendiri

 

Triwidodo

Februari 2008.

Kesadaran Rohani: Awal Perjalanan, Bukan Tujuan

 

Saat masih muda, masih bersemangat,

aku ingin mengubah dunia.

Aku berjuang dan berdoa:

Ya Allah, berilah aku kekuatan

untuk mengubah keadaan dunia.”

Namun, aku gagal

Dunia masih tetap sama.

 

Memasuki usia senja,

dengan sisa tenaga yang masih kumiliki,

doaku kuubah sedikit:

Setidknya, Rabb, berilah aku kekuatan

untuk mengunabh mereka

yang berada di sekitarku.”

Ah, aku tetap gagal.

Tak seorang pun dapat ku ubah.

 

Sekarang, ketika Malaikat Maut

sudah di depan mata,

aku hanya dapat mohon:

Ya allah, Ya Rabb,

Berlah aku kesadaran untuk

mengubah diriku!”

 

diambil dari 5 Steps to Awareness

Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Bapak Anand Krishna

Gramedia Putaka Utama 2006

Buddha, Dharma dan Sangha pada Tubuh Kita

 

Kuresapi penjelasan Guru

Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauanmu

Namun, segumpal tanah liat berada dalam jangkauanmu

Dengan mengetahui sifat tanah liat dalam genggamanmu

Kau dapat mengetahui sifat tanah liat secara keseluruhan

Dengan mempelajari sifat benda dalam jangkauan

Kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau, Yang Tak Terperkirakan

 

Berbeda bentuk, wujud, nama dan sebutannya

Patung, tungku, genteng, batu bata, asbak dan vas bunga

Tetapi intinya satu dan sama

Tanah liat juga

 

Pengetahuan Sejati adalah Pengetahuan tentang Sifat Yang Satu

Segala sesuatu dalam alam ini berasal dari Yang Satu Itu

Gumpalan tanah liat itu adalah dirimu

Dengan mempelajari diri yang berada dalam jangkauanmu

Kau dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu

 

Dalam diri terdapat beberapa lapisan kesadaran

Dari Kesadaran Fisik yang terlihat di permukaan

Masuk sedikit ke Kesadaran Energi

Berlanjut ke Kesadaran Mental-Emosional diri

Seterusnya Kesadaran Intelgensia, Nurani

Sampai akhirnya ke Kesadaran Murni

 

Apabila pikiran sesuci Buddha

Ucapan dan tindakan sesuai Dharma

Seluruh anggota badan merupakan Sangha

 

Triwidodo

Februari 2008

Asyiknya Pergi ke Pasar Duniawi

 

Teringat dahulu sewaktu ibu masih ada

Setiap hari ibu ke pasar berbelanja

Membeli keperluan sehari-hari demi keluarga

 

Menurut cerita Ibu, di pasar cukup mengasyikkan

Segala macam barang ditawarkan

Ikuti keinginan indera akan melenakan

Pulang ke rumah dengan terlalu banyak bawaan

Di rumah pun ingat ada yang terlupakan

Esok pagi ke pasar lagi, mencari yang kemarin terlewatkan

 

Di pasar pun penuh cerita yang mengasyikkan

Setumpuk gosip, segudang umpatan dan ratusan gumam ketidakpuasan

Yang senang ngerumpi mendapatkan sumber berita yang tak ada habisnya

Pekerjaan di rumah bisa saja terlupa

 

Seandainya kembali ke pasar berulang kali

Ibarat lahir kembali ke dunia berkali-kali

Selama masih terikat dan butuh sesuatu di pasar

Selama masih terikat dan penuh obsesi di dunia

Selama itu pula akan ke pasar lagi

Selama itu pula akan lahir kembali

Pasar itu-itu lagi, membeli dan mengembalikan hutang pembelian

Dunia itu-itu lagi, menyelesaikan obsesi dan membayar hutang tindakan

 

Rumah itulah jati diri

Pekerjaan di rumah itulah meniti ke dalam diri

Titik awal bermula dari rumah jati diri

Titik akhir kembali lagi ke rumah jati diri

Hutang-hutang yang harus dibayar kembali

Ditambah obsesi yang belum terpenuhi

Membuat kita lahir kembali ke pasar duniawi

 

Titik awal dan titik akhir adalah jati diri

Berulang kali ke dunia, berulang kali pula pulang ke jati diri

Selalu ingat jati diri

Ke dunia pun tidak terlena

Cukup sudah dunia yang fana

Sekedar menyelesaikan karma

Mulai melepaskan diri dari keterikatan

Semua hal dilakukan sebagai persembahan

Terima kasih Guru

Teramat mulia panduan-Mu

Berkah-Mu kumohon selalu

Dalam perjalanan meniti ke dalam diri

 

Triwidodo

Februari 2008