Kancil Mencuri Ketimun

Pertarungan batin Si Kancil di lahan penuh ketimun

Agar dibedakan antara dongeng ‘Kancil Nyolong Timun’ dengan kisah ‘Kancil Mencuri Ketimun’. Kata ‘nyolong’ itu mempunyai arti negatif, sedangkan ‘mencuri’ itu kata yang agak netral, buktinya ada yang mencuri perhatian, mencuri pandang, mencuri kesempatan dan mencuri hati. Kalau dalam dongeng ‘Kancil Nyolong Timun’, Si Kancil mempraktekkan tindakan penuh tipu muslihat, mengikuti nasehat Sun Tzu, bahwa yang penting adalah hasil akhir. Maka Si Kancil dalam dongeng ‘Kancil Mencuri Ketimun’, sudah sadar bahwa walaupun hasil bisa tercapai, akan tetapi  kalau untuk memperolehnya dengan  cara menghalalkan tipu muslihat, maka pada suatu saat akan datang juga akibat dari tindakannya tersebut. Si Kancil kali ini telah memahami hukum sebab akibat, sedikit-sedikit sudah memahami Bhagavad Gita.

Kancil pada awalnya adalah hewan yang bebas, bahkan lebih bebas daripada manusia yang terbelenggu pola pemikiran lama, yang hanya merasa benar dengan kerangka pikirannya. Padahal kerangka pikiran itu terbentuk oleh sifat genetik bawaan, didikan orang tua, lingkungan, sekolah dan pengalaman. Seandainya Kancil lahir di kutub Utara, maka kulitnya akan penuh bulu tebal, dan Si Kancil telah menyadari hal itu. Sebuah SMS Wisdom terpatri dalam batinnya:  “Lebih baik hidup sehari sebagai manusia  bebas dan tak terbelenggu oleh adat istiadat yang sudah kadaluarsa daripada hidup seribu tahun dengan jiwa terbebani olehnya”. Baca lebih lanjut

Iklan

Rahasia Ungkapan “Terima Kasih” Yang Terlupakan

Cerita Para Pemandu

 

Barter hadiah persembahan

Ada seorang sahabat yang baru memanen singkong “spesial” di ladang pegunungan yang subur dan mengantarkan singkong tersebut kepada Sang Guru. Sang Guru menerima dan masuk ke dalam rumah bertanya kepada isterinya, apakah ada yang yang diberikan kepada sahabatnya. Sang istri mengatakan bahwa ia baru saja memasak ikan yang diperoleh dari kolam di belakang rumah. Selanjutnya, Sang Guru memberikan masakan ikan tersebut kepada sang sahabat. Tidak lama kemudian datanglah sahabat yang lain memberikan ayam bakar. Sang Guru menerimanya dan mengucapkan terima kasih dan memberikan singkongnya kepada sahabatnya. Alangkah indahnya sebuah masyarakat yang warganya saling berterima kasih.

 

Berterima kasih karena berhutang

Seorang Buddha berterima kasih kepada pohon Bodhi yang telah melindunginya saat beliau bermeditasi mencapai Penerangan Sempurna. Kehidupan di dunia ini pada hakikatnya mempunyai ketergantungan dengan yang lain. Itulah sebabnya dari dulu para leluhur melakukan persembahan, melakukan yadnya. Baca lebih lanjut

Yuk Beresin Diri Sebelum Kita Ngurusin Negri

Selalu ada pendekatan yang nampak berlawanan dalam mencapai tujuan, perubahan dari dalam menuju luar atau perubahan luar yang dijadikan aturan mengikat, kemudian diharapkan   dapat mempengaruhi individu-individu.

            Berapa banyak uang dihamburkan untuk membeli parfum guna mengatasi bau manusia? Bau luar ditimbulkan dari proses dalam tubuh dan kita mengatasi dari luarnya saja bukan mengatasi penyebabnya. Asupan makanan, jumlah air yang dikonsumsi akan berpengaruh dan perlu diatur agar bau tubuh tidak begitu menyengat. 

            Masyarakat mengharapkan fatwa lembaga yang dijadikan pedoman baku yang diharapkan mengarahkan pribadi-pribadi ke arah kebenaran. Di lain pihak, Nabi memulai dari pribadi, “mintalah fatwa dari hati nuranimu”. Para tokoh mengajarkan moralitas dan tetap saja kehidupan masyarakat masih amburadul. Ada benarnya pendapat yang menyatakan akhlak individu diperbaiki lebih dahulu dan masyarakat akan berkembang menjadi baik. Dari dalam ke luar atau dari luar ke dalam atau interaksi keduanya akan menjadi perdebatan yang tidak akan pernah berakhir.

            Leluhur kita dalam memilih menantu ditelisik bibit, bobot dan bebednya. Bukan asal comot dan kemudian diatur perilakunya dengan tata etika tertentu.

            Belajar dari alam, kita membuat benih padi handal yang bersertifikat, kemudian benih tersebut disebar dalam areal persawahan. Kita tidak asal menebar bibit sekenanya baru dirawat sebaik mungkin. Kita juga memulai dengan menanam bibit ikan atau hewan yang unggul untuk dikembangbiakkan.

            Para orang suci juga memulai dengan meningkatkan akhlak sahabat-sahabatnya, sebelum berkembang menjadi ajaran yang dianut masyarakat luas. Tepat sekali motto sekelompok anak muda pecinta Indonesia yang menjadi afirmasi “Yuk Beresin Diri Sebelum Kita Beresin Negri”.

            Kita tahu sumber dari ucapan dan tindakan adalah pikiran. Apabila kita hanya melihat seseorang dari tindakannya yang tidak melenceng dari pedoman atau syariat, kita akan menganggap dia orang baik. Akan tetapi kalau kita dapat melihat apa yang ada dalam pikirannya, kita akan takut. Pikirannya belum jernih, potensi keburukan yang dimilikinya hanya dibendung dengan aturan luar, dan suatu kali dapat bobol. Dan, itulah yang terjadi ketika terjadi suatu kerusuhan, potensi keburukan meledak dan terjadi anarki di mana-mana. Kita terlalu menjaga tindakan, tetapi membiarkan pikiran liar bekerja. Ibaratnya kita hanya memberikan es ke dalam air yang mendidih di panci, bukan mematikan kompornya.

            Yang dapat mengendalikan pikiran, ucapan dan perbuatan adalah kesadaran. Diawali dari kesadaran, setiap saat sadar akan apa yang dipikir, diucapkan dan yang diperbuat. Mereka yang menguasai ilmu agama pun harus sadar, bagaimana memperbaiki akhlak, dan bukan hanya memberikan aturan yang benar dan salah. Nabi mengatakan setelah perang Badar, kita akan menghadapi perang yang lebih besar, perang di dalam diri. Perang untuk menegakkan kesadaran. Dan itu merupakan perjuangan pribadi yang belum tentu nampak dari luar. Hati nurani kita sering tertutup kepentingan duniawi.

            Untuk memberesin diri diperlukan perjuangan sepanjang masa. Masyarakat yang malas akan mengandalkan pedoman di luar. Walaupun kadang-kadang suatu perbuatan berlawanan dengan hati nuraninya, karena melihat tidak ada aturan di luar, atau aturan di luar membolehkannya, maka dia meninggalkan hati nuraninya. Masyarakat yang hanya mengandalkan aturan luar adalah masyarakat yang malas. Perlu semangat untuk memberesin diri dan kemudian memberesin negri.

 

Triwidodo

Agustus 2008.

Mutiara Quotation ISHQ MOHABBAT

 

Judul : ISHQ MOHABBAT

Dari Nafsu Berahi Menuju Cinta Hakiki

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2005

Tebal : 140 halaman

 

Mutiara Quotation ISHQ MOHABBAT

 

Catatan:

Legenda adalah wahana yang luar biasa untuk memasuki wilayah rohani. Dan kali ini disajikan bagi Anda, Sasui Punhu, sebuah kisah cinta dari lembah sungai Sindhu; tepatnya di sekitar wilayah Punjab yang sekarang terbagi menjadi dua, sebagian di Pakistan, sebagian di India.

Sasui Punhu adalah penggambaran kembara rohani melalui sebuah kisah cinta insani. Dari beberapa versi, dipilih versi sufi yang salah satunya kini diulas kembali oleh Bapak Anand Krishna untuk Anda.

Buku ini adalah bagian dari trilogi:

  • Ishq Allah

  • Ishq Ibaadat

  • Ishq Mohabbat

Dengan buku ini, selami cinta yang melucuti kita dari segala kata.

 

Sasui Punhu

Apa pun yang kita lakukan sesungguhnya tak luput dari Hukum Karma. Pembicaraan kita saat ini, bahkan pikiran, ya apa yang terpikir, tindakan, ucapan, pikiran – semua menjadi sebab dan membawa akibat. Tapi, Naaun, bagaimana kalau kita menjadi pemain saja – bermain atas perintah Sang Sutradara Agung?

Betul, kau betul. Tak sesuatu pun terjadi bila Ia tak menghendaki-Nya. Dan, dengan menerima Kehendak agung itu sebagai perintah-Nya, kita terbebaskan dari hukum. Bukan Hukum Karma saja, tetapi hukum apa saja.

Orang Hindu merasa harus membela agama Hindu. Orang Islam merasa harus membela agama Islam. Orang Kristen, Kattholik, dan lainnya pun sama. Apa betul, agama harus dibela? Dan, dibela oleh manusia?

Apa benar, manusia lebih kuat daripada agama yang dianutnya? Bila ya, kenapa ia harus bersandar pada Agama? Kenapa harus percaya pada sesuatu yang lebih lemah daripada dirinya?

Dan, bila agama lebih kuat daripada manusia, agamalah yang harus membela manusia. Bukan sebaliknya.

Atas nama pembelaan terhadap agama, entah berapa tempat ibadah yang telah dihancurkan? Atas nama Tuhan, rumah-rumah-Nya malah dibumihanguskan. Kita masih belum sadar juga, tidak sadar juga…..

Ayat Allah telah turun. Lewat gelombang tsunami yang menghancurkan itu, lewat Gempa Bumi di Jogya dan Klaten, lewat Lapindo dan berbagai bencana lainnya. Ia Yang Maha Mendaur Ulang tengah berbicara dengan kita. Ia hendak menyampaikan sesuatu, tetapi kita tidak memahami.

Kemudian, ada juga yang dengan bangga mengatakan: lihat saja, semuanya hancur, Bait Allah, Rumah Tuhan saja yang masih utuh, tidak hancur. …………….Versi allah yang sungguh-sungguh lucu, sama-sama ajaib…Rumah sendiri dilindungi, umat-Nya tidak!

Dilema Naaun juga merupakan dilema kita semua saat ini. Ketika seorang tokoh menyebar-luaskan kebencia dan permusuhan antar umat dengan visinya yang sempit, pasti terjadi perpecahan dalam masyarakat kita. Apa yang harus dilakukan oleh seorang Naaun?

Hari itu Naaun bingung. Hari ini pun Naaun masih tetap bingung. Kebingungannya tidak terhadap agama, tetapi terhadap orang-orang mengenai agama… pemahaman mereka yang dianggap sebagai otoritas yang berhak memaknai agama semau mereka.

Agama yang semula diturunkan untuk mempermudah hidup manusia, memperkayanya dengan nilai-nilai yang menyejukkan, sekarang telah berubah menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan, dan tidak lagi menyebarkan kesejukan, cinta, tetapi kebencian.

 

Kadang, agama yang seharusnya mempertemukan malah memisahkan. Kadang, agama yang seharusnya menyejukkan malah menggerahkan. Kadang, agama yang seharusnya memberi rasa aman malah membawa bencana. Dan, semua itu terjadi karena “interpretasi” manusia terhadap agama, karena “pemahaman” kita tentang agama masih sempit, masih picik.

Berarti, interpretasi manusia atau pemahamannya tentang agama menjadi sangat penting. Pemahaman yang sempit membawa bencana dan menjadi serapah. Pemahaman yang luas menghasilkan rasa damai dan menjadi berkah.

 

Keyakinan Punhu sungguh luar biasa. Dan, hanyalah keyakinan seperti itu yang dapat mempertemukan kita dengan Sang Cantik, dengan Ia Yang Maha Cantik, dengan Kecantikan itu sendiri.

Tanpa keyakinan seperti itu, kita hanya dapat bertemu dengan kecantikan semu, dengan cantik-cantik kodian yang banyak kita temuai dimana-mana. Tanpa keyakinan Punhu, kita hanya akan bertemu dengan kecantikan jasmani. Kecantikan rohani tak akan kita temuai.

Yakinkah kita akan Kecantikan-Nya? Apa masih membutuhkan bukti, masih ingin mendengar kesaksian orang? Bahkan, bila kita percaya pada-Nya”karena” Ia cantik, kepercayaan yang masih membutuhkan “karena” bukanlah keyakinan. Yakin berarti tidak percaya “karena” sesuatu. Yakin berarti yakin, tanpa embel-embel “karena”.

 

Kita mengambil langkah pertama dalam perjalanan rohani saat kita menjadi saksi. Tanpa kesaksian semacam itu, kita tak dapat melangkah maju. Langkah kedua adalah yakin… yakin pada pengalaman pribadi. Sekecil apa pun pengalaman kita, pengalaman kita adalah pengalaman kita. Pengalaman kita yang “secuil” jauh lebih berarti bagi kita daripada segudang buku berisikan pengalaman-pengalaman orang alai yang kita baca.

Kita harus selesai dulu dengan segudang buku. Bacaan kita harus kita selesaikan terlebih dahulu. Bacaan itu hanya berguna sebalum kita menjadi saksi. Bacaan itu hanya bermanfaat bila kita terpicu untuk melakukan perjalanan. Bacaan itu hanyalah seperti iklan tentang suatu tempat yang indah. Dan, iklan hanyalah brguna untuk memunculkan hasrat di dalam diri kita, keinginan tunggal dan sungguh-sungguh di dalam diri kita untuk mengunjungi tempat itu – untuk menjadi saksi bagi keindahan.

Punhu sudah selesai dengan bacaannya. Ia juga sudah menjadi saksi, sudah yakin. Sekarang ia siap untuk berijtihad, berupaya untuk mewujudkan keyakinannya dalam hidup sehari-hari, itulah langkah ketiga.

Langkah pertama : menjadi saksi.

Langkah kedua: meyakini kesaksian diri.

Langkah ketiga: mewujudkan keyakinan serta kesaksian dalam keseharian.

 

Tanpa disadarinya, Punhu telah mengambil langkah keempat, yaitu menafikan segala yang menjadi penghalang bagi ijtihadnya.

Kadang, terpesona oleh kecantikan-Nya, kita melupakan Ia Yang Maha Cantik dan kita berhenti berjihad. Kita merasa sudah sampai. Ya, kecantikan-Nya pun dapat membuat kita lupa akan Yang Maha Cantik.

Dunia ini ibarat kecantikan-Nya. Alam semesta adalah kecantikan-Nya. Sementara kita terjebak dengan kecantikan-Nya; kita sibuk mengartikan kecantikan-Nya, mengejar kecantikan-Nya dengan penuh hasrat untuk memiliki-Nya. Kita lupa bahwa Yang Maha Cnatik tak dapat dimiliki karena kita tidak “maha”, belum “maha”, Yang “Maha” Dia. Kita bisa menjadi milik-Nya, tetapi tidak dapat memiliki-Nya!

Sang Cantik, Kecantikan dan kita yang terpesona oleh Sang Cantik, oleh Kecantikan, atau oleh kedua-duanya – itulah Trinitas Kehidupan, tiga sisi utama kehidupan yang menjadi dasar bagi segala sesuatu yang hidup.

Bila tiga sisi itu menjadi dasar utama bagi kehidupan, apa yang menjadi dasar bagi kematian? Jawabannya, ketiga unsur yang sama, karena kematian tidak bertentangan dengan kehidupan. Kelahiran dan kematian hanyalah ombak yang memasang dan menyurut dalam lautan kehidupan. Kematian pun sesungguhnya sangat cantik, secantik kelahiran. Matahari saat terbenam sama indahnya seperti saat terbit. Keindahan yang disebarnya pun sama.

 

Dengan menempatkan seorang makcomblang antara dirinya dan Sansui, Punhu membuat kesalahan pertama, yaitu menciptakan jarak antara pengabdi dan Yang Diabdi.

Tidak hanya perantara, Punhu juga membuat kesalahan lain dengan memamerkan kelebihan-Nya, Aku seorang pangeran, putra raja – itulah kesalahan kedua yang dilakukannya. Memang btidak secara langsung kepada orang tua sasui, tetapi itulah yang ia jual lewat makcomblangnya. Pamer adalah kecenderungan yang juga dimiliki oleh setiap orang.

Merunduk di hadapan Lal, dan melihat yang tak terlihatpada Sansui! Dengan itu Punhu menghunjam ke kedalaman. Tapi, kenapa dia harus memakai kedok?

Inilah kesalahan ketiga: Punhu berkedok. Ia bohong., tidak tampil apa adanya. Ia menutup-nutupi.

Ia berbuat begitu karena takut. Punhu masih takut ditolak. Ia tidak siap ditolak. Ia tidak dapat menerima penolakan.kedekatan dengan kasih masih diukurnya dengan penolakan dan penerimaan.

Tak cukupkah bila kita sudah dekat? Apakah kedekatan itu tak sama dengan penerimaan? Tak cukupkah kedekatan dengan Sang Kasih? Mau menuntut penerimaan seperti apa lagi? Kedekatan dengan Sang Kasih sudah merupakan bukti dari penerimaan-Nya.tapi, Punhu tidak puas, ia ingin memiliki Kasih dan itulah kesalahannya yang keempat: keinginan untuk memiliki – keserakahan!

 

Kebenaran tak pernah basi, ia tetap segar, namun pemahaman kita bisa menjadi basi. Kebenaran sebagaimana kita pahami dulu barangkali sudah tidak dapat diterima lagi sebagai kebenaran kini. Upaya untuk hari ini memaksakan pemahaman kemarin hanya menciptakan keraguan, kesangsian, kebimbangan, dan kekacauan.

Pemahamn tentang kebenaran yang ditunda penyebarannya; dan disebarkan lama setelah terjadinya pemahaman itu, mengeluarkan aroma tak sedap pula.

 

Sudah bersama sasui, kita masih saja tidak percaya terhadap kebijaksanaannya. Apa yang terjadi dengan penyerahan diri kita? Bagaimana dengan kasih kita? Pengabdian kita?

Punhu belum siap. Ia belum memiliki pengaman diri secanggih itu. Kemampuan diri Punhu tak tersembunyi dari Sasui.karena itu, berulang kali Sasui memberi peringatan supaya Punhu hati-hati. Sayang, Punhu malah menyalahpahami iktikad baik. Ia malah menuduh yang bukan-bukan.

Seorang murshid mengetahui kemampuan muridnya. Karena itu, bila terbukti belum siap, ia akan memagari si murid demi keselamatan kesadaran nya. Para murid sering menyalahartikan kepedulian sang murshid, Kok saya ditegur terus. Mereka ingin melakukan sesuatu yang mereka anggap baik bagi sang murshid. Mereka hendak menyebarluaskan pesan guru mereka, padahal bila jujur dengan diri sendiri, dibalik keinginan itu tersembunyi kepentingan-kepentingan pribadi mereka sendiri. Jiwa mereka masih mengejar ketennaran dan pengakuan dari dunia luar.

Mereka lupa bahwa sisa-sisa keliaran dan kebuasan yang masih ada di dalam diri mereka dapat terpicu kapan saja…. dan terjadilah, apa yang dikhawatirkan sang murshid… ingin menyelamatkan, mereka sendiri malah hanyu.

 

Jangankan satu malam, sedetik pun cukup untuk memerosotkan kesadaran. Apalagi bila pergaulan kita tidak menunjang kesadaran kita.

Ya, kesadaran memang rentan, very very fragile! Berapa lama yang kita butuhkan untuk mmenciptakan sesuatu yang indah? Dan, berap lama yang kita butiuhkan untuk merusaknya?

 

Ishq Hakiki

Urutannya memang demikian. Ishq Mijaazi, Ishq Hakiki dan Ishq Illahi. Dari luapan emosi dan nafsu berahi, kita menemukan sesuatu yang haqq, yang sejati, kemudian baru menuju ilahi.

Luapan emosi harus dilewati. Bila tunggu untuk menyelesaikannya, tak akan pernah selesai. Luapan emosi bagaikan laut yang luas dan tak terlihat batasnya. Kita hanya bersandar di salah satu pantainya, terserah pantai mana, silahkan pilih sendiri.

Kita bisa berhenti di Pantai Persahabatan. Kita juga dapat menemukan Pantai Pasangan, Pantai Keluarga – temukan sendiri Pantaimu. Kemnudian setelah itu, baru menemukan “Yang Haqq” – Kebenaran di baliknya, di dalamnya. Menemukan Haqq juga berarti menemukan Allah. Haqq Allah Haqq allah… Hanya Dialah Kebenaran Sejati, Hakiki… Haqq Allah, Haqq Allah, HaqqAllah……

 

Triwidodo

Juli 2008.

Mutiara Quotation Be The CHANGE

 

Judul : Be The CHANGE

Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2008

Tebal : 102 halaman

 

Mutiara Quotation Be The CHANGE

 

Catatan :

Terkesan sangar dan berani, kekerasan sesungguhnya adalah wujud dari sikap pengecut dan tidak percaya diri. Orang cerdas mengerti paradoks ini: hanya orang yang benar-benar pemberani yang akan memeluk Prinsip Tanpa Kekerasan. Buku ini menampilkan 10 Prinsip Ahimsa Mahatma Gandhi yang akan membuat hidup menjadi bermakna.

  • Prinsip Tanpa Kekerasan adalah etika tertinggi, yang merupakan tujuan seluruh evolusi. Selama kita masih melakukan kekerasan terhadap sesama manusia, kita tidak lebih baik dari binatang buas. Thomas Edison.

  • Islam adalah agama yang mengajarkan prinsip Tanpa Kekerasan. Menurut Alquran, Tuhan tidak menyukai fasad, kekerasan. Maulana Wahiduddin Khan.

  • Buku Anand Krishna ini amat membesarkan hati dan bermanfaat sebagai panduan bagi segenap anak bangsa dan umat untuk melakukan transformasi. Dr. H. Hamim Ilyas, M.A. Asisten Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

  • Selamat mencermati mutiara dari Sang Mahatma agar menjadi lebih bijak dalam menghadapi segala tangtangan yang kita hadapi. Sudharmadi WS. Dosen, Mantan Deputi Menko Polhutkam dan Staf Ahli Menteri.

  • Sebuah buku yang indah, gampang dibaca, tetapi mendalam gemanya apabila kita mau membuka hati kita. Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ.

 

Kata Pengantar

Oleh Sudharmadi WS. Dosen Tetap Universitas Diponegoro. Mantan Deputi Menko Polhutkam RI Bidang Rekonsiliasi dan Kesatuan Bangsa, 2002-2006, dan Staf Ahli Menteri hingga saat ini.

 

Sekapur Sirih

Oleh Franz Magnis-Suseno SJ. Guru Besar Tetap Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

 

Memenuhi Panggilan Sang Mahatma

Penjelasan mengenai kondisi negara Indonesia saat ini. Kekerasan yang terjadi di negara kita dan segelintir yang masih waras dan tetap berjalan pada jalur tanpa kekerasan. Kejadian 1 Juni 2008 di Lapangan Monas dengan rincian mengaenai kondisi para korban.

 

Pesan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon

Pada Hari Tanpa Kekerasan Sedunia Pertama Tanggal 2 Oktober 2007.

 

Sepuluh Butir Kebijaksanaan Mahatma Gandhi

Jangan putus asa terhadap kemanusiaan. Kemanusiaan bagaikan samudera. Beberapa tetes air kotor tidak mampu mengotori seluruh samudera.sebuah Al Qur’an dibuka secara acak oleh Gandhi, Surat An-Nissa ayat 75: dan, mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang berseru, “Ya, Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zalim ini, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.

Gandhi menemukannya dengan cara untuk menolak kekerasan. Ia menolak kezaliman dengan cara yang tidak zalim.

Maulana Wahiduddin Khan: Islam adalah agama yang mengajarkan prinsip Tanpa Kekerasan. Menurut Al Qur’an, Tuhan menyukai fasad, kekerasan. Apa yang dimaksud dengan fasad dijelaskan dalam ayat 205 dari Surat Kedua. Pada dasarnya, fasad adalah tindakan yang mengacaukan tatanan sosial, menyebabkan kerugian besar baik nyawa maupun harta.

 

Butir # 1 Change Yourself

You must be the change you want to see in the world.

Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kauinginkan terjadi dalam dunia.

 

Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Jangan mengharapkan perubahan dari dunia luar. Jangan menunda perubahan diri hingga dunia berbeda. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Kalau kita tidak ikut berubah, kita menciptakan konflik antara diri kita dan dunia ini.

Pengotakan manusia berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan dan lain sebagainya lahir dari pikiran yang masih belum dewasa. Pikiran yang masih hidup dalam masa lampau, masih sangat regional atau parsial, belum universal.

Pikiran seperti inilah yang telah mengacaukan negeri kita saat ini. Kita hidup dalam kepicikan pikiran kita, dalam kotak-kotak kecil pemikiran kita, tetapi ingin menguasai seluruh Nusantara, bahkan kalau bisa seluruh dunia. Jelas tidak bisa.

Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah kita menghalalkan segala macam cara.

Berubahlah. Bila ingin menjadi pemimpin, ubahlah sikap dari penguasa menjadi pelayan. Bila masih belum mampu mengendalikan diri sendiri, jangan berharap dapat mengendalikan keadaan di luar diri.

 

Butir # 2 You Are in Control

“Nobody can hurt ne without my permission”

Tak seorang pun dapat menyakitiku bila aku tidak mengizinkannya.

 

Karna seorang bijak, seorang dermawan, seorang pemimpin yang ideal, tetapi seluruh kebaikannya itu seolah terlupakan oleh sejarah karena keberpihakannya pada Adharma, pada pelaku kejahatan.

Bila ingin menjadi seorang pemimpin, jangan memelihara virus sakit hati. Terlebih lagi jangan sampai penyakit itu dijadikan pemicu dan motivasi untuk maju ke depan. Bila kita merasa bisa disakiti, kita sungguh lemah. Perasaan itu saja sudah membuktikan bahwa kita tidak layak untuk menjadi pemimpin.

Apa yang disebut orde lama itu dijadikan referensi untuk mengadakan reformasi, maka itu pula yang terjadi. Orde yang lama mengalami re-formasi, pembentukan ulang. Bahan bakunya masih sama, adonannya masih sama, bentuknya saja yang berbeda. Cara penyajiannya saja yang sedikit lebih keren.

Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini merupakan hukum alam. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Setiap orang bertanggung jawab terhadap alam, terhadap keberadaan – terhadap Tuhan.

Janganlah sekali-kali membalas aksi kejahatan dengan kejahatan, kekerasan dengan kekerasan, karena setiap orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan menjadi jahat. Setiap orang yang membalas kekerasan dengan kekerasan menjadi keras.

Jadikanlah pengendalian diri sebagai tujuan hidup, sebagai jihad… Bersungguh-sungguhlah untuk mengupayakan hal itu, kemenangan akan selalu ada di genggaman, dan kesempurnaan dalam hidup ini akan dapat diraih. Jadikanlah pengendalian diri sebagai kebiasaan, maka perangkap dunia yang ilusif ini tidak akan membelenggu kita. Dunia yang saat ini ada, dan sesaat kemudian tidak ada, ini tidak akan memerangkap kita.

Pengendalian diri adalah kekuatan. Bila berhasil mengandalikan diri, kita akan dapat mengendalikan kekerasan dan ketakberesan di luar diri.

Orang yang berhasil mengendalikan dirinya tak akan terkendali oleh orang lain. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa digoda, tidak bisa dirayu. Ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Jadilah orang itu.

 

Butir # 3 Forgive and Let It Go

The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. An eye for eye only ends up making the whole world blind.

Seorang lemah tidak dapat memaafkan. Kemampuan untuk memaafkan hanya ada pada mereka yang kuat…. Bila pencungkilan mata dibalas dengan mencungkil mata, seluruh dunia akan menjadi buta.

 

Memaafkan berarti tidak membenci para pelaku kejahatan. Bujuklah mereka, berilah kesempatan untuk mengubah diri. Namun bila mereka tidak memanfaatkan kesempatan itu, tidak mau mengubah diri dan tetap menggunakan kekerasan, kewajiban kita lah untuk memastikan mereka dikarantina beberapa waktu.

Karena itu penjara, bui, atau lembaga pemasyarakatan kita mesti berubah menjadi Lembaga Pengembangan Diri, Lembaga Pembenahan Diri, Lembaga Pencerahan Diri. Jangan memenjarakan jiwa mereka dalam kotak-kotak baru “ penafsiran agama yang sempit”, yang selama itu sudah menjadi sumber dari sekian banyak konflik dan persoalan. Bebaskan nilai-nilai luhur keagamaan dari pemahaman kita yang sangat jauh dari keluhuran.

Banyak penafsir agama di antara kita justru membenarkan aksi balas dendam. Mereka tidak menginginkan kita melupakan kejadian-kejadian penuh kekerasan yang terjadi pada masa lalu. Mereka tidak menginginkan kita melupakan sejarah suram yang sudah tidak relevan dan tidak konstektual lagi dengan zaman kita.

 

Butir # 4 Without Action You Aren’t Going Anywhere

An ounce of practice is worth more than tons of preaching.

Satu ons tindakan lebih baik daripada berton-ton dakwah.

 

Bicara memang mudah. Melakoni sesuatu memang tidak mudah, tetapi apa arti sesuatu yang hanya dibicarakan, dan tidak dikerjakan, tidak dilakoni? Kita boleh bicara tentang keamanan bagi semua, keadilan dan kesejahteraan bagi semua, kedamaian dan kebahagiaan bagi semua, kenyataannya apa? Kita masih saja memikirkan kepentingan kelompok dan kepentingan partai di atas kepentingan umum.

Bundelan buku di atas seekor keledai, kata Imam Ghazali, tak mampu mengubah keledai itu menjadi seorang cendekiawan.

 

Butir # 5 Take Care of This Moment

I do not want to foresee the future. I am concerned with taking care of the present. God has given me no control over the moment following.

Aku tak ingin melihat apa yang dapat terjadi di masa depan. Aku peduli pada masa kini. Tuhan tidak memberiku kendali terhadap apa yang dapat terjadi sesaat lagi.

 

Seperti inilah kejujuran seorang Gandhi. Ia tidak mengaku dapat melihat masa depan. Ia tidak mengaku memperoleh bisikan dari siapa-siapa. Ia mengaku dirinya orang biasa, tidak lebih penting darpada orang yang derajatnya paling rendah, paling hina dan dina.

Gandhi tidak ragu, tidak bimbang, tidak bingung, karena ia hidup dalam kekinian. Ia bisa bertindak sesuai dengan nuraninya karena tidak menghitung laba-rugi.

Mereka yang ragu, bimbang, dan bingung adalah orang yang tidak bisa hidup dalam kekinian. Mereka selalu menghitung laba-rugi.

Untuk mengubah hidup kita kini, berkaryalah sekarang dan saat ini juga. Bahkan. Jangan memboroskan energi untuk berpikir tentang hasil karya. Bila karya kita baik, hasilnya pun sudah pasti baik. Yakinilah hal ini.

 

Butir # 6 Everyone Is Human

I Claim to be a simple individual liable to err like other fellow mortal. I own, however, that I have humility enough to cnfess my errors and to retrace my steps.

Aku hanyalah seorang manusia biasa yang dapat berbuat salah seperti orang lain juga. Namun, harus kutambahkan bahwa aku memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahanku dan memperbaikinya.

It is unwise to be too sure of one’s own wisdom. It is helathy to be reminded than the strongest might weaken and the wisest might err.

Adalah tidak bijaksana bila kita terlalu yakin akan kebijakan sendiri. Kita mesti ingat bahwa sekuat apa pun kita bisa menjadi lemah, sebijak apa pun bisa berbuat salah.

 

Menjadi “manusia biasa” adalah tujuan setiap manusia. Manusia tidak lahir untuk menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak lahir untuk menjadi malaikat atau dewa. Ia lahir untuk menjadi manusia. Manusia biasa.

Namun betapa sulitnya menjadi “manusia biasa”. Adalah sangat mudah bagi kita untuk mengaku sebagai “ini” dan “itu” – sebagai umat dari agama tertentu, sebagai alumni dari universitas tertentu, sebagai politisi dari partai tertentu.dan, betapa sulit bagi kita untuk mengaku, “aku orang Indonesia”.

Karena kita ingin menunjukkan bahwa diri kita beda. Ya, masing-masing ingin berucap, “ Akubukan orang biasa; aku luar biasa.

Jadilah manusia biasa. Pertahankanlah ke-”biasa”-an kita. Jadi pemimpin, jadi profesional, jadi apa saja, kita tetaplah manusia biasa, dengan segala kelemahan dan kekurangan kita.

Mari kita mengajak sesama anak bangsa, untuk ikut menjadi manusia biasa. Manusia yang tidak diperbudak oleh sistem, oleh dogma dan doktrin, oleh agamawan dan ruhaniwan, oleh lembaga keagamaan dan upacara keagamaan – tetapi yang berhamba sepenuhnya pada Gusti Allah, pada Hyang Widhi, pada Adi Buddha, pada Ia yang Sejati, pada Bapa di Surga.

Butir # 7 Persist

First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.

Awalnya mereka meremehkanmu, kemudian menertawakanmu, kemudian melawanmu, lalu kau keluar sebagai pemenang.

 

Ketika sedang dibombardir dengan segala macam tuduhan dan kritik, semangat kita memang bisa melemah. Tetapi jangan sekali-kali membiarkan mereka mematahkan semangat kita. Jadilah motivator bagi diri sendiri. Sesungguhnya kita tidak membutuhkan motivator di luar diri.

Bila kita percaya pada motivator di luar diri, mau tak mau kita pun akan memercayaai para provokator di luar diri. Motivator dan provokator adalah insan sejenis. Dua-duanya ingin menguasai diri kita. Untuk itu, terlebih dahulu mereka mesti melemahkan diri kita, karena hanya diri yang lemah yang dapat dikuasai.

Dunia ini ibarat medan perang Kurusetra. Di medan ini kita akan menemukan Kurawa yang berpihak pada adharma, dan pandawa yang berpihak pada dharma. Di medan ini pula kita dapat berharap bertatap muka dengan sang Sais Agung, Sri Krishna. Bila ragu, bila bimbang, tanyalah kepada Krishna yang bersemayam dalam diri. Dialah Sang Mahaguru Sejati.

Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma.

Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu.

Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas.

Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani m,anusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan.

 

Butir # 8 See the Good in People and Help Them

I look only the good qualities of men. Not being faultless myself, I won’t presume to probe into the faults of others.

Aku hanya melihat sifat baik di dalam diri sesama manusia. Karena aku sendiri tidak sepenuhnya bebas dari keburukan, aku tidak membedah orang lain untuk mencari keburukan mereka.

Man becomes great exactly in the degree in which he works for the welfare of his fellow- men.

Manusia menjadi besar selaras dengan kebaikan yang dilakukannya bagi kesejahteraan sesama manusia.

I suppose leadership at one time meant muscles, but today it means getting with people.

Barangkali otot menjadi tolok ukur bagi kepemimpinan pada masa lalu, Sekarang tolok ukuranya adalah hubungan dengan sesama manusia.

 

Bila memang demikian, kenapa kau ingin mengusir Inggris dari India? Kenapa kita tidak bisa hidup berdampingan dengan mereka?

Karena negeri ini adalah negeri kita, dan sudah sepatutnya kita sendiri yang mengurusinya. Mereka tidak perlu mengurusi kita.

Kaum penjajah tidak puas dengan hidup berdampingan. Mereka ingin berkuasa. Selalu demikian. Di India demikian; di Indonesia pun sama. Dan, hal itu melanggar dharma. Membiarkan diri kita dijajah, bukanlah dharma. Karena itu, kita mesti melawan.

Memang kita tidak perlu mencari keburukan manusia, tetapi bila seseorang melakukan kejahatan, jelas kita harus melawan. Hanya saja perlawanan yang kita berikan tidak menggunakan kekerasan. Kita melawan tanpa senjata, tetapi dengan kekuatan logika, rasio, dan di atas segalanya cinta-kasih dan pemaafan.

Ahimsa juga menuntut agar mereka yang dapat membedakan kebatilan dari kebaikan, kejahatan dari kebajikan – tidak membiarkan kejahatan dan kebatilan merajalela. Ketika adharma merajalela, hadapilah adharma itu dengan segala daya dan kekuatan diri.

Fanatisme, radikalisme, terorisme adalah adharma.embunuh orang dengan dalih pembelaan agama pun adalah adharma. Menjatuhkan hukuman mati adalah urusan pengadilan; dan yang melakukan eksekusi adalah negara. Bukan rakyat jelata.

 

Butir # 9 Be Congruent, Be Authentic, Be Your True Self

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.

Keselarasan antara apa yang kaupikirkan, apa yang kau ucapkan dan apa yang kaulakukan itulah kebahagiaan.

Always aim at complete harmony of thought and word and deed. Always aim at purifying your thoughts and everything will be well.

Jadikan keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan sebagai tujuanmu. Jadikanlah pemurnian pikiran sebagai tujuanmu, maka semuanya akan beres.

 

Keselarasan adalah Rumus Utama untuk meraih Kebahagiaan dalam hidup ini. Para teroris boleh bersenang-senang, bahkan menikah dalam penjara untuk memastikan bahwa di surga dirinya tidak kesepian… tetapi, apakah mereka bahagia? Dan, bila mereka tidak bahagia di sini, di sana pun tak ada kebahagiaan bagi mereka.

Pernah saya baca dalam salah satu kitab suci: Mereka yang di sini buta, di sana pun sama. Mereka yang buta terhadap kesengsaraan sesama manusia berarti jiwamereka memang telah buta. Mereka tidak lagi mempunyai batin. Nurani mereka sudah mati. Jangankan selaras dengan hukum alam, terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan saja mereka sudah tidak selaras. Para teroris yang melakukan aksi pemboman, atau komando laskar-laskar perusak yang menggunakan atribut-atribut keagamaan itu selaras dengan siapa?

Diri seperti itu bukanlah diri manusia. Manusia dilahirkan dengan keunikan yang sungguh luar biasa. Luar biasa karena seunik apa pun juga, diri kita semua tetap selaras dengan alam, dengan semesta. Kita sedang bergetar bersama alam semesta.

Pikiran kita yang sempit telah merusak keselarasan itu. Sekarang hidup kita terombang ambing dan kita bingung. Kita mencari solusi di luar sana, padahal solusinya ada di dalam sini. Solusinya keselarasan diri. Mulailah dengan menyelaraskan pikiran, ucapan dan tindakan. Saya menambah satu lagi, yaitu perasaan, karena terbentuknya watak manusia sangat tergantung pada apa yang dirasakannya.

 

Butir # 10 Continue to Grow and Evolve

Constant development is the law of life, and a man who always tries to maintain his dogmas in order to appear consistent drives himself into a false position.

Perkembangan terus-menerus itulah hukum alam. Orang yang ingin bertahan dengan dogma-dogma (lama) untuk menunjukkan konsistensi diri, sesungguhnya berada pada posisi yang salah.

 

Kenapa orang yang seperti itu berada pada posisi yang salah? Karena, perubahan adalah hukum alam. Sementara mereka yang fanatik terhadap dogma-dogma, dan tidak memahami nilai-nilai luhur di baliknya, terperangkap oleh ego mereka sendiri. Ego yang ingin membuktikan dirinya konsisten.

Konsistensi dianggap nilai-nilai luhur, padahal tidak demikian. Apa yang konsisten di dalam dunia ini? Apa yang konsisten dalam diri kita? Setiap beberapa tahun, bahkan seluruh sel di dalam tubuh kita berubah total.

Dari zaman ke zaman, ajaran-ajaran luhur pun perlu dimaknai kembali, dikonstektualkan. Kebiasaan-kebiasaan lama mesti diuji terus apakah masih relevan, masih sesuai dengan perkembangan zaman.

Ah, tapi kita malas. Kita tidak mau berijtihad, tak mau berupaya, lalu menerima saja apa yang disuapkan kepada kita. Padahal kitab-kitab suci pun melarang kita mengikuti seseorang secara membabibuta, walaupun orang itu rahib atau mengaku sebagai agamawan atau rohaniwan.

 

Jalan Bersama Sang Mahatma

 

Idealisme Gandhi inilah yang mesti dicontohi. Jadilah seorang aktifis spiritual, bukan aktifis agamawi, karena akidah, dogma dan doktrinagama membutuhkan interpretasi dari para ahli. Celakanya, di antara para ahli pun jarang sekali ada kesepakatan.

Jadilah aktifis spiritual karena spirit, jiwa, semangat adalah milik kita sendiri. Anda tahu persis apa yang anda miliki.tidak perlu seorang ahli untuk mengetahuinya. Untuk menjadi seorang aktifis spiritual kita tidak perlu bergantung pada teks dan interpretasi. Untuk menjadi aktifis spiritual, kita perlu bergantung pada kemampuan diri – titik, itu saja.

 

Triwidodo

Juli 2008.

Manusia dan Keselarasan dengan Alam Semesta

 

Ribuan kalimat pun tak sempurna tuk mengungkap kecamuk perasaan

Sudut pandang terbatas tak mampu ungkap tiga ratus enam puluh derajat melingkari diri

Namun kucoba jua sebatas kemampuan

Sampaikan pandangan yang amat pribadi

 

Pesan Guru begitu sederhana

Doa ajaran Guru begitu bersahaja

Maksimalkan potensi yang ada

Bertindak selaras dengan alam semesta

Setiap saat lakukan dengan penuh kesadaran

 

Potensi diri belum juga maksimal

Sang Keledai pembawa beban buku-buku tebal

Tetap keledai juga

Belum manusia juga

Pengetahuan yang banyak menggembungkan ego manusia

Kekuasaan dan materi yang banyak melupakan jatidirinya

Makin menjauh dari keselarasan alam semesta

 

Ada saatnya

Pengetahuan yang dimiliki tidak bisa membantu

Ada saatnya

Kekuasaan dan materi yang dimiliki tidak juga bisa membantu

 

Manusia sungguh unik

Wajah setiap orang berbeda

Pengalaman setiap orang juga berbeda

Pemikiran setiap orang pun berbeda

Hanya Guru berkata,

Semuanya bisa selaras dengan alam semesta

 

Bertindak selaras dengan alam tidak mudah dilakukan

Perasaan, pikiran, ucapan dan tindakan sulit diselaraskan

Watak manusia sangat tergantung pada apa yang dia rasakan

Alam luas tak bisa diwakili sempitnya pemikiran

Bertentangan dengan nurani tanda belum selarasnya ucapan dan tindakan

 

Kata Guru solusinya bukan di luar

Solusinya di dalam

Solusinya selaras dengan alam

Pikiran berhasrat diri menjadi luar biasa

Berbeda dengan lainnya

Sungguh tidak mudah menjadi manusia biasa

Yang selaras dengan alam semesta

Yang terus memaksimalkan potensi dirinya

 

Sudahlah Guru

Kami tidak tahu

Apapun panduanmu

Guru lebih tahu

 

Triwidodo

Juli 2008 dari “Be The Change”.

Melihat Tari Topeng Monyet dan Introspeksi Diri

 

Mengamati Tari Topeng Monyet

Seekor monyet memakai celana blue jean overall, berkacamata hitam, dengan topi di kepala, dan tas sekolah dipunggungnya, mengayuh sepeda kecil dengan dada dibusungkan. Dengan penampilan luar sesuai tradisi manusia, mungkin dia sudah merasa sebagai manusia. Bunyi gendang, tepuk tangan dan sorak sorai penonton, membuat dia semakin yakin bahwa dirinya adalah manusia yang sedang menari. Tetapi……….. ketika ada kacang disebarkan didepannya, dia lupa persepsinya sebagai manusia, diambilnya kacang tersebar dan dimakannya sambil berjalan. Memperhatikan tingkah Topeng Monyet, kita perlu introspeksi apakah kita pun hanya berbaju manusia dan merasa sebagai manusia, tetapi begitu datang kesukaan dan kenikmatan di depan kita, lantas kita pun tidak berbeda dengan Topeng Monyet. Apakah setelan jas dan dasi, peci, batik, baju koko, jilbab serta seragam Korpri hanya penampilan luarnya saja, dan ketika ketika ada fulus kita berebut tanpa etika?

 

Kebutuhan Dasar Manusia

Dilihat dari sudut pandang biologis, kebutuhan dasar manusia dan hewan amat mirip dan biasa sebagai disebut instink hewani. Pertama, kebutuhan makan untuk mengatasi lapar dimana perbedaannya hanya manusia makan yang sudah masak sedangkan hewan makan yang masih mentah. Kedua, kebutuhan seks, untuk mengatasi gejolak nafsu, dimana perbedaannya hanya manusia membutuhkan surat nikah sedangkan hewan sekadar naluri suka sama suka. Ketiga, kebutuhan tidur, untuk mengatasi mengantuk, dimana manusia memilih tidur di rumah yang bagus sedangkan hewan di lubang dan goa. Keempat, kebutuhan akan rasa nyaman, sehingga untuk mengatasi rasa takut atau khawatir, binatang bisa berbuat kekerasan, bahkan membunuh.

Bila manusia dalam hidupnya hanya bertindak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya atau instinknya, ia masih seperti hewan. Bila di dalam diri sudah rasa timbul kasih baru pantas disebut manusia. Kasih dapat berarti memaafkan kesalahan orang; kasih dapat berarti memberi tanpa menerima; dan rasa kasih tidak dapat di logika karena sudah masuk ranah hati.

 

Synap saraf stabil dalam otak yang berhubungan dengan pikiran bawah sadar

Terbentuknya synap baru, disebabkan oleh perhatian pada suatu rangsangan atau stimulus, dan pengulangan atau dimunculkannya stimulus tersebut berulang kali. Dalam diri manusia, synap-synap baru merupakan hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya. Dengan begitu terbentuklah sirkuit synap-synap saraf yang lebih permanen, stabil, dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Ia diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Meditasi mengantar manusia pada penemuan jati diri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya.

 

Katarsis dan Afirmasi dapat memperbaiki pikiran bawah sadar

Perubahan diawali dengan pemahaman keadaan yang sebenarnya dan kemudian pemahaman tersebut diimplementasikan dalam tindakan sehari-hari. Tindakan berdasar pemahaman tersebut perlu dilakukan secara berulang-ulang agar menjadi kebiasaan dan untuk selanjutnya dapat merubah perilaku dan karakter. Proses pemahaman lebih efektif apabila manusia dalam keadaan tenang. Kegelisahan menyebabkan ketidak tenangan dan suasana yang tidak kondusif bagi proses pemahaman.

Agar kegelisahan dan juga trauma belenggu bawah sadar terbuang, dapat dilakukan katarsis. Setelah tindakan katarsis dan dalam keadaan tenang dapat dilakukan afirmasi yang akan merasuk ke dalam pikiran bawah sadar. Salah satu afirmasi ajaran Guru adalah mengulangi terus menerus, “Aku bukanlah Badan. Aku adalah Jiwa Abadi”. Dalam bahasa lain, afirmasi yang diulang-ulang itu disebut japa atau zikr. Tujuannya sama: membebaskan manusia dari kesadaran jasmani, dari instink hewani. Setelah tercapai pemahaman baru, maka pemahaman ini harus diupayakan untuk dilaksanakan sehari-hari sehingga menjadi bagian dari pikiran bawah sadar. Pola pemikiran lama dibuang dan diganti dengan pola pemahaman yang baru, conditioning mind diganti dengan created mind. Semoga.

 

Triwidodo.

Juli 2008.