Renungan Bhagavatam: Srimad Bhagavatam, Tujuh Hari Persiapan Menjelang Kematian Diri

Kala itu Maharaja Parikesit sedang berburu di hutan, hari sangat panas dan dia merasa sangat kehausan. Sang Raja masuk ashram seorang pertapa dan minta air penghapus dahaga. Sang pertapa sedang khusyuk bermeditasi, matanya tertutup dan tidak ada perhatian dengan kedatangan sang maharaja. Parikesit berkata, “Apakah Resi benar-benar bermeditasi sehingga pikiran dan indera terabaikan, ataukah hanya mencoba menghindari saya karena keangkuhan dari seorang resi? Apabila seorang maharaja yang belum mencapai kesadaran sempurna datang, apakah seorang resi tidak perlu membuka mata?”

Dalam keadaan tak nyaman karena sangat kehausan, pikiran jernih sang raja sedikit terkesampingkan. Keangkuhan seorang maharaja bangkit, dirinya mengambil bangkai ular dan meletakkannya di leher sang resi. Dan sang maharaja pun pergi meninggalkan pondok tersebut…….

Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan…….. Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke”aku”an. Kesadaran dan ke”aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke”aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke”aku”an, keangkuhan……..

 

Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan……. Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan ya Panca-Provokator – itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah. Yang kita sebut nabi, atau avatar, atau mesias, atau buddha telah menguasai kelima-limanya. Kita belum. Menguasai kelima-limanya tidak berarti tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan-setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer. Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena “tali persaudaraan “, karena “ikatan-persahabatan” yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah “Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-“Aku”-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna……

 

 

Di dalam salah satu kamar, Sringi, putra sang resi mendengar gerutuan seorang ksatria yang tidak sopan dan kemudian melihat ada ular yang dilingkarkan di leher ayahnya yang sedang bermeditasi. Putra sang resi menjadi marah, “Bagaimana etikanya seorang kesatria dapat melakukan hal demikian terhadap seorang brahmana? Tugas kesatria adalah melindungi orang-orang suci. Hal ini dapat terjadi karena Sri Krishna sudah tidak ada tak ada di atas permukaan bumi lagi. Wahai kesatria kukutuk dirimu agar digigit ular beracun dalam waktu seminggu!”

Saumika, sang resi terganggu oleh kemarahan sang putra dan membuka mata, “Wahai putraku, kau telah berdosa terhadap seorang maharaja. Akibat kesalahan kecil, kau mengutuk terlalu berat. Apabila sang maharaja mati, para penjahat akan berkembang biak, peran agama menurun dan terjadi kebingungan di masyarakat. Dan, semua kejahatan yang akan terjadi ini berasal dari ketergesa-gesaanmu dan akan membunuh kita semua. Semoga Gusti Yang Mahakuasa mengampuni  pemahamanmu yang belum matang ini.”

Sang resi berkata dengan penuh kewibawaan, “Akibat kemarahan, kau telah melupakan swadharma seorang brahmana. Kewajiban brahmana adalah untuk memaafkan. Kau tidak dapat menarik kutukanmu. Setelah berpulang, sang maharaja akan dikenang sepanjang zaman, sedangkan kau, apakah ada yang masih mengingatmu setelah kau mati nanti?”

Sang putra menangis penuh penyesalan, “Baik ayahanda, kami mohon ampun atas kesalahan kami, kami akan segera pergi ke istana dan mohon sang baginda mengetahui kutukan kami dan agar beliau dapat mempersiapkan diri.”

Sesampai di istana Raja Parikesit merasa menyesal, mengapa melakukan tindakan yang tidak perlu. Dirinya telah menganggap sang resi yang sedang bermeditasi angkuh, padahal dirinyalah yang angkuh. Orang menjadi tidak adil karena keangkuhannya. Rasa angkuh membuat orang menjadi keras kepala, merasa benar sendiri. Raja Parikesit sadar, bila keadaan ini dibiarkan makin lama ia menjadi makin keras dan akan bertindak tidak adil untuk mempertahankan pendapatnya.

Dalam buku “Haqq Moujud Menghadirkan Kebenaran Sufi dalam Hidup Sehari-hari”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan……. Keangkuhan berada di balik segala tindakan yang jahat. Bebaskan dirimu dari keangkuhan. Bila kau tidak membebaskan diri dari rasa angkuh, kau tidak mengasihi. Bila kau tidak dapat berkorban demi kasih, lalu apa gunanya hidup ini? Berpikirlah tanpa keangkuhan, berbicaralah tanpa rasa angkuh, sadarilah ”jatidiri mu” yang berada di atas rasa angkuh. Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan Bhagavatam: Narada, Wujud Kerinduan Manusia Terhadap Yang Maha Pengasih

Bhagawan Abyasa, sang penyusun Veda, Purana, dan penulis Mahabharata suatu ajaran Veda dalam kisah yang mudah dipahami oleh masyarakat luas, ternyata sangat menghormati Resi Narada.

Pertama kali kita perlu memahami istilah Veda. Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan”, Karya Terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006 disampaikan……. Veda berarti “pengetahuan”, pengetahuan yang senantiasa berkembang; pengetahuan yang maju dan memajukan; pengetahuan yang tidak kaku, tidak baku; pengetahuan yang tidak mengerdilkan jiwa. Hanya “pengetahuan” macam itu yang dapat dipelajari setiap hari; ditekuni dan didalami dari hari ke hari. Veda bukanlah dogma dan doktrin yang tak dapat diganggu gugat. Veda bukan dogma, bukan doktrin. Veda tidak memperbudak manusia. Veda tidak menjerat jiwa, tapi membebaskan jiwa manusia. Mempelajari Veda berarti mempelajari diri; mempelajari potensi diri, kemampuan diri; melakukan introspeksi dan evaluasi diri. Pengetahuan yang dimaksud bukanlah untuk pengetahuan mengenai hal-hal di luar diri, tetapi pengetahuan mengenai segala yang ada di dalam diri. Karena itu, Muhammad tidak bertentangan dengan Isa, dengan Musa, dengan Ibrahim. Mereka berdiri bersama. Tidak ada yang lebih rendah, maupun lebih tinggi. Mereka juga berdiri bersama Siddhartha, Krishna, dan Lao Tze. Mereka semua mengajak kita untuk menengok ke dalam diri. Mereka mengajak kita setelah sebelumnya mereka sendiri melakukan hal yang sama, sehingga penemuan mereka sama…….

 

Resi Narada memainkan peran penting dalam sejumlah Purana, terutama dalam Bhagavata Purana. Sang Resi biasa bepergian mengunjungi tiga alam dan dikenal sebagai Sang Pengembara Sejati. Beliau membawa alat musik yang dikenal sebagai vina sebagai pengiring nyanyian ilahi, doa dan mantra yang ditujukan kepada Narayana, salah satu sebutan Tuhan bagi dirinya. Sebutan bagi Tuhan adalah masalah rasa; ada yang merasa dekat saat menyebut Gusti Allah; ada yang merasakan kedamaian kala menyebut Hyang Widhi; ada yang secara formal menyebut Yang Maha Kuasa dan lain sebagainya. Yang penting manusia menjadi merasa dekat dengan-Nya, dia akan bergetar kala disebut nama-Nya…….. Kita kebanyakan bergetar kala disebut nama kekasih yang kita cintai, bahkan ada yang bergetar kala disebut akan mendapatkan rejeki nomplok yang besar, atau akan mendapatkan jabatan yang sangat didambakan…… Resi Narada bergetar setiap disebut Narayana.

Sang Bhagawan memahami kebenaran dalam nasehat Resi Narada, Sang Dewaresi, sehingga beliau mulai menulis Bhagavata Purana, Kisah-Kisah Keilahian. Kala Sang Bhagawan bertemu dengan Resi Narada, beliau mendengar kisah masa lalu Sang Dewaresi di kalpa sebelumnya……. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Kegelisahan Bhagawan Abyasa Dan Kedamaian Resi Narada

Di tepi Sungai Saraswati, Bhagawan Abyasa memperhatikan riak air yang tak kunjung berhenti. Riak-riak air tersebut terjadi karena aliran sungai menyentuh batu-batu kali berwarna abu-abu. Air jernih membasahi tanaman-tanaman di tebing yang nampak hijau. Bunga-bunga berwarna merah dan kuning mekar nampak menyambut matahari pagi. Akan tetapi alam yang begitu indah kali ini belum dapat menenangkan gejolak pikiran Sang Bhagawan.

Diantara desah angin yang semilir, terdengar bunyi vina berdenting pelahan. Muncul kebahagiaan Sang Bhagawan kala mendengar denting vina yang begitu dikenalnya.

Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……. Jenis musik yang kita sukai bisa menjelaskan sifat kita, karakter kita, watak kita. Sitar, vina, harpa dan biola masuk dalam satu kategori. Alat-alat itu bisa mendatarkan gelombang otak, dan menenangkan diri manusia. Para penggemar musik sitar, tak akan pernah mengangkat senapan untuk membunuh orang. Musik gendang, drum dan alat-alat lain sejenis bisa membangkitkan semangat. Bagus, bila diimbangi dengan sitar dan alat sejenis. Bila tidak, akan membangkitkan nafsu dan gairah yang berlebihan.

 

Resi Narada, Sang Putra Brahma datang mendekati Sang Bhagawan dan bertanya, “Kamu sudah menyelesaikan syair agung Mahabharata, sebuah arsip dari ratusan karakter manusia, berbagai pengetahuan tentang sifat-sifat manusia. Umat manusia di masa depan akan memperoleh manfaat dari buah karyamu. Akan tetapi, mengapa belum nampak juga kelegaan dalam rona wajahmu? Mengapa belum nampak kepuasan dari hasil amal perbuatanmu yang sangat mulia?

Seperti sebuah bendungan yang lama menyimpan air yang selalu bertambah dan menemukan pintu keluar, arus pikiran Sang Bhagawan menyembur keluar, “Wahai Resi Pengasih Umat manusia, hanya engkau yang dapat memandu aku keluar dari belitan permasalahanku, yang belum nampak juga ujung pangkalnya. Dalam keheningan meditasi aku pernah melihat masa depan umat manusia. Aku melihat kerusakan dharma, karakter manusia yang menurun derajatnya. Kedatangan Kali membuat kebejatan moral memenuhi bumi. Aku ingin meringankan penderitaan manusia di masa depan. Aku menyusun Veda dan membaginya menjadi empat kitab. Murid-muridku, Paila belajar Rig, Jaimini belajar Sama, Vaisampana belajar Yajur dan Sumantu belajar Atharva. Kemudian kepada Romaharsana kuajarkan 17 purana. Karena aku masih belum puas juga, maka aku berupaya agar kitab Veda diajarkan melalui cerita, supaya manusia memperoleh hikmah dari cerita tersebut. Oleh karena itulah aku menyusun Mahabharata. Tetapi aku belum merasakan kelegaan, belum ada kedamaian dalam diri.

Sang Putra Brahma, mendengarkan penuh perhatian. Dan keadaan menjadi hening, manakala Sang Bhagawan menunggu ucapan yang akan keluar dari Resi Narada. Arus sungai Saraswati pun mulai terdengar.  Dan, Sang Dewaresi berkata pelan, “Itu belum cukup!” Baca lebih lanjut

Renungan Tentang Dongeng Peningkat Kesadaran, Kebijakan Lama Yang Mulai Terabaikan

Sepasang suami istri setengah baya sedang memperbincangkan masa kecil mereka. Sang suami bercerita bahwa kakeknya suka bercerita tentang kisah Bagus Burham yang setelah besar menjadi Ranggawarsita, Sang Pujangga dari Surakarta. Sedangkan sang istri bercerita bahwa ibunya suka mengumpulkan anak-anak kecil dan mendongeng kepada mereka. Semua anak kecil menyimak dan minta lagi didongengkan keesokan harinya.

Sang Istri: Dongeng bukan hanya sebagai alat pendekatan kepada anak, pengantar tidur maupun pemicu gemar membaca. Terbukti ampuh digunakan sebagai pengisi waktu berharga sebelum seseorang meninggal dunia……….. Seandainya manusia tahu satu minggu lagi tahu dia akan meninggal dunia, dan dia boleh bertindak apa saja, maka dia akan melakukan tindakan apa? Kita semua sebagai manusia bila menghadapi hal yang demikian akan bingung dibuatnya. Sebuah pertanyaan yang memeras otak manusia. Tetapi otak tetap tak dapat memutuskan yang terbaik, karena otak selalu diliputi keraguan, tidak pernah mantap keputusannya. Sebuah jawaban akan disangkal oleh jawaban lainnya. Dalam hal demikian, manusia baru sadar bahwa logika, pikiran dan pengetahuan bukanlah segalanya. Manusia perlu belajar bagaimana Raja Parikesit mengisi waktunya, tujuh hari sebelum datang kematiannya………..

Sang Suami: Benar Isteriku, Raja Parikesit adalah Raja Hastina pengganti Yudistira. Dia adalah putra Abimanyu dan merupakan cucu dari Arjuna. Sang Raja juga merupakan cucu luar dari Sri Krishna, karena Abimanyu mempunyai ibu bernama Subadra adik kandung Sri Krishna. Konon setelah lama memerintah kerajaannya dengan bijaksana, Raja Parikesit diberitahu bahwa satu minggu lagi dia akan meninggal dunia. Raja Parikesit segera menyerahkan tampuk pimpinan kerajaan kepada putranya. Dia pergi ke tepi Sungai Gangga menemui Resi Shuka putra dari Baghawan Abiyasa. Pilihan Sang Raja adalah menghabiskan tujuh hari tersisa untuk mendengarkan cerita Resi Shuka.

Sang Istri: Resi Shuka berkata bahwa tujuh hari sudah cukup untuk membebaskan diri dari “samsara”. Dari lingkaran kelahiran dan kematian tidak berkesudahan, yang tak ada akhirnya. Jangankan tujuh hari, sekejap pun cukup untuk membebaskan dari “samsara”. Bersoraklah dengan gembira, sebut nama “Govinda”, dan saat itu pula kau terbebaskan dari samsara. Yang dimaksud Resi Shuka bukanlah seperti burung beo yang sekadar mengucapkan ulangan kata. Bersorak dengan gembira  dan menyebut nama “Govinda” berarti menumbuh-kembangkan rasa cinta terhadap Ia Yang Maha Kuasa. Tidak takut, tidak pula menyembah-nyembah seperti budak tetapi mencintai-Nya. Resi Shuka melanjutkan……. Aku datang menemui raja untuk menceritakan tentang kemuliaan Tuhan. Ini adalah satu-satunya cerita berharga untuk didengarkan. Kisah suci ini disampaikan oleh Ayahku Bhagawan Abhiyasa dan kepadamu kisah tersebut akan kuceritakan. Aku akan menceritakan cerita Ilahi dan membuat tujuh hari sebagai hari paling agung dalam kehidupan. Cerita ini tidak hanya membantumu, tetapi membantu seluruh umat manusia untuk merasakan kemuliaan Tuhan…….. Dan, akhirnya kisah ini dijadikan buku tebal Kitab Srimad Bhagavatam, Kitab tentang Kemuliaan Tuhan.

Sang Suami: Setelah jiwa Sang Raja bertemu dengan jiwa Sang Resi. Setelah gelombang pikiran Sang Raja menyatu dengan gelombang pikiran Sang Resi dalam tujuh hari. Lompatan kuantum bagi kesadaran Sang Raja terjadi. Sang Raja sudah menjadi Pencinta Ilahi. Cinta tanpa syarat, tak terbatas, menjadi seorang pengasih, kasih sejati, kasih Ilahi. Kenikmatan tiga dunia pun sudah tidak bisa mengikat diri. Tidak mencintai karena ingin masuk surga atau karena ingin jiwanya diselamatkan,  Sang Raja mencintai karena cinta itu sendiri…….  Baca lebih lanjut

Pengantar Tulisan Kisah-Kisah dalam Ramayana

Alam tak terkendali oleh adat. Alam lebih tinggi dari adat. Adat adalah bagian dari alam. Adat bersifat sementara. Alam langgeng, abadi. Alam tak tertaklukkan oleh adat. Dan, sesungguhnya sifat dasar manusia bersifat “alami”. Sifat dasar seorang bayi bukanlah produk suatu adat. Adat dan kebiasaan adalah pemberian masyarakat dimana dia lahir. Saat baru lahir, manusia tidak memiliki adat. Tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan adat. Silakan ber”adat” dan ber “kebiasaan”, tetapi sadarlah bahwa jatidirimu melampaui segala kebiasaanmu. Manusia berada di atas adat. Adat diciptakan untuk menunjang kebidupannya, untuk meringankan bebannya, untuk dapat membuat hidupnya lebih nyaman. Saat ini, adat justru menjadi beban. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah harus diubah masih dilestarikan atas nama …… Ah, sudah ya. *1 Vadan halaman 114

Mengapa menulis kisah-kisah dari Mahabarata, Srimad Bhagavatam dan tentang Ramayana. Ramayana adalah kisah epik pertama yang ada dalam sejarah manusia. Srimad Bhagavatam sangat menarik, seperti hadist, riwayat, dan ada legendanya. Sedangkan Mahabharata dikatakan sangat lengkap, apa yang tidak ada dalam Mahabharata tak ada dalam dunia ini.

Menurut seorang suci, Baca lebih lanjut

Vasudewa dan Devaki orang tua Sri Krishna

Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain. Bahasa Buddha lain. Bahasa Yesus lain. Bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya berbeda-beda. *1 Atma Bodha

Membersihkan adharma

Raja Parikesit, berterima kasih atas kisah-kisah Resi Shuka tentang leluhur para Pandawa. Dan, kemudian mohon sang resi menceritakan tentang Sri Krishna Sang Avatara Agung dan Balarama yang konon adalah wujud dari Ananta, Sesha yang selalu bersama Narayana.

Resi Shuka baru saja berpikir tentang Vasudeva dan Devaki dan pikiran Resi Shuka terfokus pada Narayana yang telah mengambil suatu wujud untuk membersihkan racun yang sedang mencekik dunia. Air mata sang resi mengalir, mengingat kebesaran Narayana.

 Bila sebelumnya sang resi berkisah tentang dinasti Purawa atau Korawa, keturunan Puru putra Yayati, maka kisah dinasti Yadawa, keturunan Yadu putra Yayati telah menggetarkannya. Baca lebih lanjut

Kisah Rantideva Sang Pemberi Agung

Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasih tidak? Pendidikan agama di sekolah dasar mengembangkan rasa kasih atau justru menciptakan jurang pemisah berdasarkan agama? Mengikuti talk-show dan perdebatan di televisi berkembang rasa kasih atau justru rasa tegang, rasa benci? Profesi atau pekerjaan saya menunjang pengembangan rasa kasih atau tidak? Begitu pula dengan persahabatan saya, pergaulan saya, lingkungan saya….. Sebaliknya, bila dengan melihat kayu salib, atau kaligrafi Allah dan Muhammad, atau patung Buddha dan Laotze dan Kuan Yin timbul rasa kasih di dalam diri seseorang, maka kritikan kita terhadapnya sungguh tidak bermakna. Daripada berpolitik dan menyebarkan kebencian, lebih baik duduk diam menghadapi kaligrafi atau patung. Setidaknya bisa menimbulkan rasa kasih di dalam diri kita. Orang menganggap Anda gila, ya biarlah. Itu anggapan mereka. Hormatilah anggapan mereka. Tidak perlu membela diri. Lha mereka belum bisa melihat sisi lain kebenaran, mau dipaksa bagaimana? But again, silahkan berpolitik dan berusaha dan ber-“apa saja” bila semua itu menunjang pengembangan rasa kasih di dalam diri. *1 Narada Bhakti Sutra

Kisah Resi Shuka tentang leluhur Parikesit

Raja Parikesit, menunggu kematian, dan dalam beberapa hari ke depan maut akan menjemput. Raja Parikesit bersyukur atas kisah-kisah Resi Shuka yang membawa kedamaian, sudah ratusan kisah didengarnya, semua kisah membuka dirinya, berbagai kisah tentang leluhur, tentang karma, tentang pertentangan antara para asura dengan para dewa. Kemudian para asura yang dalam masa kemudian mewujud dalam raja-raja dunia dan kebenaran yang diwujudkan dalam para ksatriya kekasih para dewa.

Raja Parikesit termenung, baru saja Resi Shuka bercerita yang tidak lagi membicarakan peperangan antara adharma dengan dharma, tetapi peperangan antara nafsu dan kasih yang ada dalam diri manusia. Namanya saja dongeng, tidak logis sehingga dapat melampaui mind dan harus dipahami dengan rasa bukan dengan pikiran. Baca lebih lanjut