Merebaknya Kesadaran Dalam Episode “Goro-Goro”, Goyahnya Kepercayaan Publik Suatu Bangsa

Sepasang suami isteri sedang bercengkerama di malam yang telah larut, mereka melakukan introspeksi tentang kesehatan mereka setelah memasuki usia setengah baya. Di depan mereka terdapat buku “The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Sang Isteri: Suamiku, setelah usia memasuki setengah baya, berbagai penyakit nampak merebak, dan kita memang harus menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Yang penting pikiran tetap sadar, dan melakukan persembahan kepada Gusti setiap saat. Bukankah penuaan tubuh selaras dengan sifat alam semesta.

Sang Suami: Benar isteriku, pandangan Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) pun demikian juga. Muncul dan hilangnya sebuah peradaban pun selaras dengan sifat alam semesta. Kehidupan suatu peradaban, atau dalam skala yang lebih kecil lagi kehidupan satu kerajaan, skala lebih kecil lagi kehidupan satu pemerintahan mengalami siklus alami “lahir-tumbuh-mandek-lenyap”. Kita sendiri merasa sewaktu muda merasa berkembang kemudian semakin tambah usia pertumbuhan fisik terasa mandek dan berbagai penyakit degenerasi muncul, bermacam keluhan penyakit tubuh bermunculan, kemudian secara alami mengalami kemunduran dan akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir. Bagaimana pun, generasi muda yang lebih baik akan tampil menggantikan yang sudah tua…………. Isteriku, demikian pula kondisi negeri kita, berbagai keluhan penyakit bangsa merebak: Rekaman pembicaraan antara Anggodo Wijoyo dengan sejumlah pejabat Kejaksaan Agung dan Kepolisian yang jelas-jelas menunjukkan adanya permainan rekayasa hukum. Terjeratnya Jaksa Urip Tri Gunawan dalam kasus suap BLBI. Kemudian kasus mafia pajak Gayus Tambunan dengan pejabat Ditjen Pajak dan Mabes Polri. Daftar berikutnya, Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, Ibrahim dengan pengacara Adner Sirait terjerat kasus suap. Juga Pemilihan Deputi Gubernur Senior BI, Miranda Gultom yang menyeret beberapa nama anggota DPR. Sudah banyak elite dari 9 partai politik yang duduk di DPR terjerat korupsi. Kepercayaan publik terhadap penyelenggara negara sangat rendah. 90% responden menilai aparat berbagai instansi tidak bebas dari korupsi dan yang paling rawan di lembaga penegak hukum (Jajak Pendapat Kompas 12 April 2010). Setelah aparat penegak hukum kemudian baru para politisi di urutan kedua. Kalau dibuat inventarisasi lengkap mungkin satu halaman koran tidak cukup memuatnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Kurma Avatara Kisah Spiritual dari Patung Kura-Kura di Candi Sukuh

Bila kita masih ingin hidup “utuh” sebagai Orang Indonesia, kita harus menerima “keutuhan” bangsa serta budaya kita. Kita harus kembali pada  mitos-mitos yang telah menjadi “akar budaya” kita,  budaya Nusantara yang “mengutuhkan”! Budaya Nusantara yang masih mampu mempersatukan kita dan menyuntiki kita dengan semangat baru untuk menghadapi dan memecahkan setiap persoalan bangsa. *1 Indonesia Jaya

Menggali budaya Nusantara yang telah lama tertutup ketidak-tahuan tentang jati diri

Revolusi berarti Re-Evolusi. Menggelindingkan kembali Roda Evolusi yang seakan berhenti sekian lama. Dan, Evolusi berarti Perkembangan, Pertumbuhan, Kemajuan… Revolusi Spiritual adalah Perkembangan Nilai-Nilai Spiritual, Nilai-Nilai Batiniah dalam diri kita sendiri. Kita harus mati dan bangkit kembali. Mati sebagai individu yang tidak mengenal sejarah, tidak menghargai leluhur, tidak apresiatif terhadap budaya asal dan tergantung pada segala yang berasal dari luar. Dan, bangkit kembali sebagai Manusia Indonesia yang Utuh… Manusia Modern yang berakar pada Budaya Asal dan Sejarah Masa Lalu yang Gemilang, namun tidak hidup dalam masa lalu… la hidup dalam masa kini, dan bekerja untuk Masa Depan yang lebih Cemerlang! *1 Indonesia Jaya

Pertarungan antara kelompok Kebenaran dan Ketidakbenaran, selalu terjadi di alam ini dan juga selalu terjadi di dalam diri. Tidak ada hal baru di alam ini, hampir semuanya merupakan pengulangan. Tentu saja dengan setting yang berbeda, karena alam ini selain berputar kembali, berdaur ulang,  juga berevolusi kearah penyempurnaan. Penyempurnaan juga berarti penyempurnaan kualitas pertarungan dan bahkan lebih rumitnya latar belakang. Pertarungan dengan para teroris pun menjadi tema dunia saat ini. Baca lebih lanjut

Pengambilan Keputusan Bangsa Melalui “Rasa”

Perasaan setara membuahkan voting

Voting sudah menjadi aturan baku dari satu paham demokrasi. Suara terbanyak adalah pemenang. Prinsipnya sama dengan lembaga perseroaan para pedagang. Pemegang saham mayoritas yang berhak mengatur. Antara dunia politik dan dunia dagang memang tidak jauh beda, dasarnya adalah  soal kepentingan. Bagaimana pun perusahaan harus mencapai keuntungan. Bahkan hampir semua lembaga multilateral maupun PBB menggunakan aturan voting untuk melegitimasi keputusan.

Partai politik  mengadakan koalisi untuk mendapatkan suara mayoritas. Ada deal-deal tertentu yang tidak lepas dari kepentingan:  kepentingan pribadi, kepentingan partai, kepentingan kelompok dan kepentingan lainnya. Kepentingan negara patut dipertanyakan.

Hal ini bukan dimaksudkan untuk mengkritik sistem pemilihan, karena keputusan telah diambil dan telah dijadikan landasan bernegara, dan itu tidak lepas dari pengalaman masa lalu, akan tetapi walau bagaimana pun kebenaran harus disampaikan. Mungkin bagi masyarakat yang sudah mencapai “civil society”, masyarakat yang semuanya paham akan hak dan kewajiban bermasyarakat, keputusan lewat voting lebih sesuai. Walalu bagaimana pun kita harus belajar dari sejarah masyarakat Jerman yang pernah memberikan keleluasaan kekuasaan kepada Adolf Hitler. Baca lebih lanjut

Kebenaran Semu Akibat Belenggu Conditioning

 

Sekelompok masa melakukan tindak kekerasan terhadap sebuah kelompok lain yang sedang berkumpul dengan tujuan damai. Pemicunya adalah fatwa tentang “kebenaran”. Apakah kebenaran yang diyakini ini benar berdasarkan pandangan politis yang berujung kekuasaan ataukah suatu tindakan yang bersifat benar, tulus dan keluar dari hati nurani? Penyelesaian oleh yang berwenang pun terperangkap dalam kebenaran menurut kerangka tertentu. Kebenaran itu sebenarnya apa? Apakah kita semakin jauh terpeleset dari kebenaran dan terperangkap dalam belenggu kebenaran semu?

Ilmu medis mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan khas yang ada dalam diri manusia. Stimulus atau rangsangan yang dilakukan berulang kali membentuk synap-synap saraf baru dalam otak. Sesuatu hal yang dilakukan berulang kali menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali menjadi perilaku dan bahkan karakter. Sesudah karakter terbentuk, maka setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan berdasarkan program dari karakter tersebut. Karakter tersebut sudah menjadi bagian dari Otak Bawah Sadar manusia. Sirkuit synap-synap saraf otak hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya telah menjadi lebih permanen, stabil dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Manusia diperbudak oleh belenggu conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Meditasi mengantar kita pada penemuan jati diri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya. Kemudian, yang tertinggal adalah synap-synap baru yang masih labil, yang muncul lenyap, thoughts. Thoughts akan selalu segar. Tidak basi seperti mind. Dengan thoughts kita bisa hidup dalam kekinian.

Manusia yang serakah, berbudaya tak kunjung cukup, keadaannya sama dengan orang yang kecanduan obat-obatan. Ketagihan oleh narkotika atau oleh uang, seks dan lain-lain, mekanismenya sama : dosisnya harus bertambah terus. Ketagihan stimulus pemenuh instink hewani atau property addict persis sama dengan narcotic drug addict. Kecanduan kekerasan pun juga keadaannya tidak jauh berbeda.

Menurut ilmiah, kebenaran bagi yang mengeluarkan fatwa, kebenaran bagi yang mempraktekkannya dengan kekerasan adalah hasil conditioning bawah sadar. Perilaku ini dimanfaatkan oleh mereka yang mendapat keuntungan dari hal tersebut. Bahkan, sebagian oknum membuat conditioning bagi kepentingan mereka. Fatwa merupakan conditioning bagi mereka yang meyakininya.

Menurut beberapa pakar, fatwa pada dasarnya adalah sebuah konsep Islam yang perannya baru datang agak belakangan. Di masa Nabi, istilah “fatwa” secara teknis tidak pernah dikenal. Ada sebuah hadis Nabi yang cukup terkenal, yakni “Istafti qalbak” (mintalah fatwa dari hatimu), hadis ini menegaskan karakter fatwa yang personal dan individual, dan bukan proyeksi sebuah lembaga.

Setelah kerajaan Islam semakin besar, khususnya setelah memasuki abad ke-8, fatwa mulai dilembagakan dan memainkan peran penting. Dalam sejarah Islam, sering terjadi perkaitan antara agama dan politik, antara ulama dan penguasa. Di masa silam, adalah lumrah menyaksikan kerjasama antara ulama dan penguasa untuk mengefektifkan sebuah fatwa.

Menurut beberapa pakar, ketidak-beranian masyarakat mengambil keputusan dan menanti fatwa adalah gejala “ketidakdewasaan moral”. Menanyakan hukum mengenai segala sesuatu menandakan bahwa masyarakat tidak berani berpikir sendiri. Mereka memandang bahwa hukum adalah sesuatu yang tertera dalam teks Kitab Suci, sementara hasil penalaran manusia bukan dianggap sebagai suatu hukum yang mengikat. Karena orang-orang yang dianggap sebagai ahli tentang teks agama adalah para ulama, maka mereka selalu berpaling kepada ulama untuk menanyakan segala hal. Kalau sudah demikian, maka kualitas ulama itulah yang menjadi titik persoalan. Bagaimana para ulama mempergunakan hati nuraninya.

Sangat penting bagi manusia untuk mengembangkan kesadaran moral yang tinggi, mendalam, dan penuh tanggungjawab. Hal itu tak bisa lain kecuali jika masyarakat terus mengasah agar nuraninya berkembang dengan sehat. Nurani yang sehatlah yang akan menjadi pemandu bagi seorang beriman. Sehingga masyarakat dapat melaksanakan Hadis Nabi yang terkenal, “Istafti qalbaka”, mintalah fatwa pada nuranimu sendiri. Manusia tidak boleh taqlid membuta.

Manusia harus mempertanggung-jawabkan semua tindakan anggota tubuh pada hari pembalasan. Pikiran, ucapan, dan perbuatan yang telah dilaksanakan mempengaruhi dunia, dan kita tidak dapat mengembalikan dunia menjadi seperti sebelum terjadinya perbuatan kita. Kebenaran yang diyakini mestinya adalah kebenaran nurani, bukan kebenaran conditioning pikiran. Dia bersemayam dalam hati nurani hamba-Nya yang beriman, bukan dalam pikiran manusia yang penuh rekayasa. Hati nurani adalah kalbu tempat dimana tidak ada belenggu conditioning. Hari pembalasan adalah pasti, adanya sebab-akibat adalah pasti, dan kepastian itu muncul dari naluri, intelegensia hati nurani, agar manusia berintrospeksi, mengendalikan nafsu dan jiwanya kembali dalam keadaan tenang.

Dalam konteks keterkaitan ilmiah, maka hubungan antara agama dan politik harus kita waspadai sehingga ia tidak sampai berjalan pada posisi yang salah. Salah satu kriteria yang mudah dikenali agar dapat menarik batas yang mana politik yang harus dihindari adalah dengan menghindari penggunaan kekerasan. Artinya politik yang harus dihindari adalah politik yang menyangkut perebutan kekuasaan melalui penggunaan kekerasan, termasuk dengan memperalat orang lain atau suatu organisasi. Penggunakan simbol-simbol agama untuk hal demikian bisa sangat menyesatkan.

 

Triwidodo.

Juni 2008.